
Sembulan tahun kemudian...
"Mak.. Nura berangkat dulu ya..." Pamit Nura pada Emak yang sedang menguleni adonan kue di dapur.
Bilangan tahun berlalu, namun wajah Emak tak banyak berubah. Hanya ada pertambahan beberapa garis keriput saja di sekitar mata. Sementara senyuman yang sedari dulu menghiasi wajah nya, hingga kini masih setia bercokol di atas lengkungan bibir Emak.
"Hati-hati.. itu di keranjang ada seratus gorengan lagi ya, Nur," tunjuk Emak pada keranjang merah yang sudah menjadi teman perjalanan Nura menuju dan sampai di sekolah.
Kini Nura bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Sekolah yang sama yang diduduki oleh adik bungsu nya, Tio.
Tio yang cerdas berhasil lompat naik kelas dua kali. Sehingga kini adik nya itu justru menjadi kakak kelas Nura. Tahun depan, Tio akan menghadapi kelulusan.
Terhadap kenyataan ini, Nura sebenarnya merasa sedikit iri. Bagaimana tidak? Kak Eci, kakak nya yang nomor dua selalu saja meledeki Nura memiliki otak yang belet. Padahal kan, Tio nya saja yang otak nya kelewat encer, macam air terjun!
Karena itulah, Nura selalu mewanti-wanti Tio agar tak memanggil dirinya dengan sebutan Kakak di sekolah. Jadilah akhirnya teman-teman Nura tak ada yang mengetahui kalau ia dan Tio sebenarnya bersaudara.
Secara fisik pun Nura dan Tio memang tak terlalu mirip. Hanya alis tebal yang mereka warisi dari Emak saja mungkin yang menjadi persamaan kakak beradik itu.
"Iya, Mak.." Sahut Nura segera.
"Tio udah duluan?" Tanya Emak tetiba.
"Udah, Mak. Paling nebeng sama Heru, teman nya," jawab Nura kembali.
"Ya, Sudah. Hati-hati ya, Nur.." pesan Emak kembali.
Kali ini Nura hanya ber "hmm.." singkat, sebelum akhirnya mengambil keranjang berisi gorengan yang akan dijual nya di sekolah.
Ya. Sejak kelas empat SD Nura ikut membantu Emak berjualan gorengan. Ia tak malu, meski teman-teman nya sering meledeki nya dengan nama Anak Goreng.
(Dalam Bahasa Sunda, kata "goreng' juga memiliki arti "jelek". Dengan begitu, "Anak Goreng" juga memiliki arti "Anak Jelek")
Emak selalu mengajarkan,
'Jangan malu kecuali kamu berbuat kesalahan atau menjaga sopan santun mu di pergaulan. Berdagang bukan hal yang memalukan, Nur. Berdagang itu adalah salah satu cara mencari rizki yang halal. Justru lebih malu lahmereka yang mengais rizki dengan cara yang tak halal. Mereka lah yang seharusnya merasakan malu!' begitu selalu nasihat Emak.
Untuk ke SMA nya, Nura terlebih dulu harus menaiki angkot sekali.
Begitu sampai di pintu gerbang, Nura langsung melipir ke kantin. Di sana, ia menyapa sang ibu kantin yang bernama Bu Zai. Kependekan dari Bu Zainab.
"Assalamu'alaikum.. Ibu Zai.." sapa Nura dengan ramah.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. ehh, Nur. Bawa gorengan ya? Langsung taruh saja, Nur di meja yang kosong itu tuh. Ibu mau bikin nasi goreng dulu, pesanan dari Pak Mali," ujar Bu Zai.
Pak Mali adalah penjaga keamanan di sekolah.
"Iya, Bu.." sahut Nura.
Setelah meletakkan gorengan nya di bagian pinggir meja, Nura pun segera berpamitan lagi kepada Bu Zai.
"Ibu.. Nura ke kelas dulu ya. Titip gorengan nya, Bu. Kata Emak, itu ada seratus lagi," ujar Nura sebelum berpamitan.
"Iya, Neng. Oh ya, besok lusa ada pesanan gorebgan seratus lima puluh buat acara sore di riungan tetangga nya Ibu. Nanti tolong sampein ke Emak Neng ya?" Pesan Ibu Zai tiba-tiba.
"Alhamdulillah.. iya, ibu. Nanti Nura sampaikan ke Emak. Makasih ya Bu Zai.." tutur Nura dengan wajah sumringah.
"Sama-sama, Neng.."
Selanjutnya, Nura langsung pergi ke kelas nya. Di kelas 2IPA2.
Begitu sampai di meja milik nya yang berada di barisan paling depan di pinggir jendela, Nura langsung saja mendengar perbincangan heboh teman-teman nya tentang anak baru.
"Katanya sih dari luar negeri. Kemarin teman gua sempat lihat, anak nya ganteeeeeng banget! Mirip Oppa-Oppa gitu!" Seru Siska, salah satu teman kelas Nura.
"Oppa apa nih? Jangan-jangan Oppa nya Upin Ipin lagi! Ahahaha!!" Seloroh Daniel. Teman kelas Nura yang senang sekali berkelakar.
Audah menjadi aturan umum kalau ia dianggap sebagai si Anak Gorneg yang cupu. Jadi seringkali kehadiran Nura di kelas tak dianggap oleh teman-teman nya.
Ya. Bisa dibilang, Nura adalah salah satu anak paling tak populer di SMA Tunas Bangsa. Mungkin karena yang bersekolah di sana kebanyakan adalah anak-anak yang berasal dari keluarga menengah ke atas.
Sementara kehidupan ekonomi keluarga Nura sudah langsung terlihat jelas dari aksi nya menitipkan jualan gorengan emak ke kantin. Ia dianggap miskin di mata kawan-kawan nya yang lain.
"Hh.."
Nura menghela napas letih. Sebenar nya, ia merasa sedih juga sih. Karena di kelas ini. Ia tak memiliki teman untuk berbagi cerita. Teman nya yang akrab saat kelas Satu kini masuk ke jurusan IPS. Nama nya Yana.
Ia sedikit berharap, semoga saja Anak Baru yang akan pindah ke kelas nya nanti memiliki cara pandang yang berbeda, tak seperti teman-teman nya di kelas ini yang memandang seseorang dari status sosial keluarga nya.
Nura merutuk kesal dalam hati.
'Lagipula, yang kaya itu kan orang tua atau nenek mereka! Bukan nya mereka! Coba mereka disuruh mencari uang sampai bisa sekaya orang tua mereka, belum tentu bisa juga kan?!' rutuk Nura tanpa suara.
Sambil memandang keluar jendela, Nura kembali ikut mencuri dengar perbincangan teman-teman di kelas nya.
__ADS_1
"Danil! Jangan bercanda melulu dong! Gua serius nih!" Omel Siska pada Daniel.
"Duh, Ma! Gak bisa dibercandain banget sih, Lo, Sis! Cepet keriputan lho nanti!" Sumpah Daniel dengan cengiran yang masih berhias di wajah nya.
"Sialan Lo!" Umpat Siska seraya melempar buku ke arah Daniel.
"Ehh. Itu buku gue!" Tegur Ayu, teman akrab nya Siska.
"Ups.. sorry ya, Ay.. itu sih tuh! Si kuDaniel!" Tuding Siska menunjuk Daniel.
Wakah Daniel pun seketika mengerut. Ia paling tak suka bila Siska sudah meledeki nya dengan panggilan kuda nil itu.
"Asem Lo, Ah, Sis! Main nya ledekan nama melulu! Gak boleh tahu!" Omel Danil seraya kembali ke meja nya.
Tak sampai lima menit lagi memang bel masuk akan berbunyi.
"Lha emang nama lo gitu kan?" Seloroh Siska tak merasa bersalah.
"Iya. Tapi kangan di embelin pake awalan 'ku' juga dong! Gak enak tahu didengar nya. Muka ganteng kayak gini, masa iya dipanggil kuda nil!" Rutuk Danil berlanjut.
"Idih.. muka Lo tuh pas-pasan, Nil. Mana bisa dibilang ganteng! Kalau mau lihat yang ganteng, nanti deh puas-puasin lihatin anak baru yang bakal datang hari ini ke kelas kita!" Ujar Siska dengan percaya diri.
"Halah.. aibuk amat ngomongin ganteng ai anak baru. Belum tentu juga dia ganteng kan? Kalau dia jelek, gimana? Gue gak yakin Lo masih sibuk puji-puji dia deh!" Balas Daniel tak mau kalah.
"Sudah.. sudah.. jangan ribut terus ah. Kalian berdua selalu aja ribut kalau udah ketemu. Mending sekalian nikah aja deh sana!" Komentar Chika, sang primadona kelas, sekaligus juga saingan berat Nura dalam merebut juara kelas.
Chika adalah anak Pak Bupati di wilayah ini. Dengan oaras yang cantik, otak yang smart, dan juga sikap humble/ramah, tak aneh bila Chika menjadi siswi terpopuler di SMA Tunas Bangsa.
Barisan para siswa yang menyukai Chika atau menjadi secret admirer nya sangatlah panjang. Belum lagi siswa dari sekolah lain yang sudah mengenal pesona Chika.
Karena kebetulan Chika juga menjabat sebagai ketua tim cheerleader di sekolah mereka.
Rambut ikal sepanjang pinggang, dengan sedikit sapuan warna kemerahan pada rambut nya, serta tumbuh tinggi semampai dan kulit putih mulus, membuat penampilan nya saat melakukan aksi cheer terlihat sangat mempesona.
Nura bahkans ering merasa iri dengan segala kesempurnaan yang ada pada Chika. Tanpa sadar Nura langsung menunduk dan melihat ke arah kulit tangan nya yang cokelat.
'Hh.. kulit hasil main panas-panasan kayak aku, mana bisa putih bersih kayak kulit nya Chika. Apalagi dia kayak nya sering pakai hand body lotion. Sementara aku, untuk bisa mandi pakai sabun batang lekboy aja udah alhamdulillah banget..' keluh Nura dalam hati.
Sesaat kemudian, Nura langsung menegur dirinya sendiri.
'Astaghfirullahal 'azhiim.. barusan aku ngeluh ya? Duh.. maaf ya Allah.. itu refleks gak disengaja. Nura bersyukur kok dengan kondisi Nur yang sekarang..' cakap Nura bermonolog dalam hati.
__ADS_1
Tak berselang lama, bel masuk pun berbunyi nyaring. Dan semua siswa SMA Tunas Bangsa pun bergegas masuk ke kelas nya masing-masing.
***