Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 10


__ADS_3

Adora memeluk kedua orang tuanya lalu beralih memeluk ketiga Adiknya. Terdengar suara isak tangis dari si kembar karena kepergian Kakak mereka, sepertinya selama satu minggu ke depan rumah keluarga Miller terasa sunyi karena berkurangnya salah satu anggota keluarga mereka.


“Jangan lama berliburnya hiks...,” ujar Thalia sesunggukan.


“Tidak akan lama, Kakak hanya akan merilekskan pikiran. Jika ada waktu kita akan pergi bersama, ok?” balas Adora.


“T-tentu,” jawab gadis kecil itu.


“Kalian jangan terlalu merindukan Kakak, jika kalian seperti itu bagaimana Kakak berlibur dengan tenang?”


“Kakak!”


Si kembar sangat menyayangi Kakak mereka begitupun sebaliknya, mereka sudah terikat dan tak akan terpisahkan. Adora mencium setiap inci wajah Adiknya lalu menghampiri taxi yang baru saja tiba di depan rumahnya.


“Dadah, Adora pergi!” tangannya melambai-lambai sembari tersenyum sendu.


Memang berat hati meninggalkan keluarganya untuk pergi sementara, namun, ia perlu menjernihkan pikirannya dan melupakan semua hal yang membuatnya bersedih hati. Selama perjalanan menuju bandara, Adora hanya menatap keluar jendela.


Dua puluh menit kemudian, Adora telah sampai di bandara. Dari jauh terlihat ketiga sahabatnya melambaikan tangan mereka dan berteriak memanggil nama Adora. Tolong tenggelamkan Adora saja, ia sangat malu karena tingkah sahabatnya yang menjadi sorotan pengunjung bandara.


“Bisakah kalian bertiga tenang-tenang saja!” oceh Adora.


“Tentu saja tidak bisa!” seru Athena dengan semangat.


“Athena, berhentilah berteriak di telingaku, bisa-bisa aku tuli,” marah Adeeva pada Athena karena gadis tengil itu berseru di dekat telinga Adeeva.


“Teruskan, Athena,” suruh Adora.


“Sini kalian berdua!” Adeeva mengejar mereka berdua.


Bella menghela napas panjang, padahal ini di tempat umum tapi ketiga sahabatnya tak bisa menjaga attitudenya. Di mana sosok Dokter berbakat? Di mana sosok Pilot pemberani? Di mana sosok Pengusaha sukses?


“Kapan aku bisa tenang,” gumam Bella. “Hei, tunggu aku!”


Seorang anak yang melihat tingkah Adora dan sahabatnya bertanya pada Ibunya dengan polos, “Ibu, apakah ada anak kecil dengan tubuh sebesar itu?”


Adeeva mendengar pertanyaan anak itu segera mendekat dan mengelus rambut si anak lalu berkata, “terkadang menjadi dewasa itu sulit, adik manis. Kami sedikit menyesali karena tak bisa menikmati masa kecil kami, kami mohon pegertianmu karena tingkah kami kekanak-kanakan sekali. Tapi ini cara kami untuk bahagia.”


“Kau sangat bijak,” timpal Adora bersandar di tubuh Adeeva.


“Aku akan menikmati masa kecilku, terima kasih kakak-kakak cantik,” ujar anak kecil itu sambil memberikan empat permen manis.


“Sama-sama, adik manis!” balas keempat gadis muda itu menerima pemberian anak kecil itu.


“Kami permisi dulu, nona-nona,” pamit si Ibu membawa anaknya pergi.


Mereka melambaikan tangan lalu saling merangkul menuju ke pesawat karena penerbangan mereka akan segera dilakukan.


****


Di sinilah mereka berempat berada, Kepulauan Raja Ampat yang terletak di Indonesia bagian timur, tepatnya Papua. Mereka akan menghabiskan waktu berlibur dan merilekskan pikiran di tempat yang indah itu.


Setelah meletakan barang bawaan di resort yang tersedia di Raja Ampat. Mereka langsung berjalan-jalan di sekitar. Terlihat gundukan pasir putih dengan air laut yang jernih bergradasi membuat mata terasa sejuk ketika memandang.


“Pergilah masalah!” teriak Athena berlari ke laut.


“Ya, jangan kembali jika aku tak memanggilmu!” timpal Adora.


Keduanya bermain air dengan riang, keindahan Raja Ampat membuat otak mereka yang penuh dengan ragam masalah kini terasa ringan. Bahkan, Bella yang biasanya kalem kini berubah menjadi tak terkendali.


“Haaah!” teriak Adora melepaskan semua kerisauannya.


Mereka berlari-larian di sekitar pantai, merasa bahagia? Jawabannya tentu! Banyak turis yang datang ke sini. Terlihat beberapa orang warga lokal yang tak jauh dari tempat mereka. Adora menghampiri mereka.


“Excuse me, may we join?” tanya Adora.


Seorang wanita yang lebih tua menepuk tempat di sebelahnya menyuruh mereka duduk di sampingnya. Adora dan sahabatnya pun bergabung, warga lokal di sini sangat ramah.

__ADS_1


“Want to hear a story, ladies?” ternyata di antara mereka ada yang fasih berbahasa Inggris.


“Of course,” jawab Adeeva bersemangat.


“The name Raja Ampat comes from the legend of a woman who found seven eggs. Four eggs hatch into the king of the four main islands, namely Waigeo, Batanta, Salawati, and Misool. While the other three eggs hatch into woman, ghosts, and stones,” gadis yang fasih berbahasa Inggris itu menceritakan asal usul Raja Ampat.


“Wow, i really like legends like this,” ujar Adeeva dengans semangat.


Mereka lalu saling berkenalan dengan warga lokal, kedatangan mereka ke Indonesia ini memang tak sia-sia, mereka bersyukur karena bisa banyak belajar dari negara yang dilalui garis khatulistiwa ini.


Hari ini adalah hari keempat, para gadis itu berjalan-jalan di Raja Ampat, terlalu sayang untuk pulang, namun di sini bukan tempat mereka. Mereka juga banyak berkenalan dengan teman-teman turis dan warga lokal yang sangat ramah. Mereka juga melakukan snorkeling dan diving, mereka tentu saja terpukau dengan spot fenomenal milik Raja Ampat.


Ketika asik berjalan-jalan, keempat gadis muda itu terkejut dengan suara teriakan yang melengking. Mereka segera mencari asal suara dan mendapati seorang wanita parubaya yang terjatuh tak berdaya sedang dikerumuni oleh orang banyak.


“Call the Doctor quickly!” teriak seorang turis yang juga panik.


Adora segera menembus kerumunan dan memangku wanita itu dan memanggilnya namun tak ada sahutan sama sekali. Ia segera memeriksa keadaan wanita itu, Adora adalah seorang Dokter profesional jadi dia tahu apa yang harus dia lakukan.


‘Di dalam tubuhnya tidak ada oksigen jadi tubuhnya berubah menjadi biru, ini jelas sianosis,’ batin Adora yang panik.


*Sianosis: perubahan warna kulit menjadi kebiruan karena oksigen dalam tubuh rendah.


Sepertinya ada makanan yang mengganjal di saluran pernapasannya. Dengan cepat Adora melakukan penanganan darurat dengan menekan perut wanita yang menjadi pasien daruratnya itu dengan sekencang mungkin, cara ini disebut dengan hemilich manuever.


Karena tak berhasil, Adora membuka sesuatu di saku celananya, yaitu sebuah pisau bedah yang selalu ia bawa kemana-mana untuk perlindungan diri. Perlindungan diri seorang Dokter bedah memang berbeda.


“Kamu ingin membunuh Ibu saya?!” bentak seseorang yang dipastikan anak dari wanita itu.


Bella segera menenangkan anak dari pasien Adora dan mengatakan bahwa Adora adalah Dokter bedah yang profesional. Anak itu membiarkan Adora menyelamatkan Ibunya, harapannya ia gantungkan kepada Adora.


Adora lalu membolongi lubang pernapasan di tengah leher yang dinamakan dengan trakeostomi darurat. Dalam waktu 30 menit, Adora harus cepat menyelesaikan operasi bedah dadakannya sebelum wanita itu meninggal dan dia dituduh membunuh.


Anak wanita itu sudah tak bisa bersabar melihat Adora mulai menyayat leher sang Ibu langsung berteriak. “Cepat hentikan!”


“I will save him! Please wait!” teriak Adora dengan wajah memerah.


Ia berusaha kembali tenang agar operasinya ini berjalan dengan lancar dan tidak ada korban jiwa sama sekali. Orang-orang di sana langsung diam, keadaan pun hening tak ada yang berani berbicara.


Adeeva paham akan kesulitan Adora lalu mendekat dan menghapus keringat sahabatnya, untung saja Adora tak terganggu dengan sentuhan Adeeva yang tiba-tiba. Akhirnya mata Adora melihat makanan yang menghambat pernapasan wanita itu, ia akan memperbesar lubang pernapasannya.


“Hose!” teriak Adora.


Seorang dari para warga segera memberikan selang pada Adora, Adora tersenyum lalu mengambil selang itu dan memasukannya ke lubang yang ia buat di leher wanita itu dengan hati-hati.


“Ku mohon bernapaslah,” gumam Adora.


“Huuh!” terdengar suara napas wanita itu yang selamat walaupun keadaannya tidak terlalu stabil.


Beberapa waktu lalu, Dokter yang dipanggil telah tiba dan kagum akan kesiagaan gadis muda itu. Akhirnya ia dan Adora bekerja sama mensterilisasikan luka sayatan itu. Suasana kembali ribut dengan orang-orang yang kagum akan keprofesionalan Adora sebagai seorang Dokter.


“Bagaimana keadaan Ibu saya, Dokter?” tanya anak wanita itu.


“Kondisi beliau mulai stabil hanya butuh perawatan intensif, ini juga berkat Dokter Adora,” jawab Dokter yang baru datang tadi bernama pak Randy.


Pria yang merupakan anak wanita itu menjabat tangan Adora sangat berterima kasih, ia juga meminta maaf karena menuduh Adora melakukan tindak kejahatan.


“I’m sorry about earlier and i’m very grateful to you for saving my Mother’s life, i will repay your kindness, lady,” ucap pria itu.


“You’re welcome, sir, this is also my duty as a Doctor. No need, i helped her sincerely” balas Adora.


“Please accept,” mohon pria itu.


“Alright, thank you, sir.”


Setelah wanita tadi dan anaknya pergi ke rumah sakit, Adora dipeluk oleh warga lokal dan para turis dai manca negara. Mereka sangat senang dan menjamu Adora dan ketiga sahabatnya dengan banyak makanan enak.


Saat sedang asik makan, Bella mendengar lantunan nyanyian yang mengena di hatinya. Ia langsung mendekat dan menonton orang-orang yang sedang asik memainkan alat musik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

__ADS_1


“Apa itu?” tanya Bella menggunakan bahasa Indonesia yang tak terlalu fasih.


“Itu adalah tifa, alat musik masyarakat Papua,” jawab salah satu dari penonton.


Mereka menampilkan tari-tarian dan nyanyian yang mengubah suasana yang tegang menjadi senang. Bahkan Athena dan Adora bergabung menari bersama para warga lokal. Sedangkan, Adeeva merekam peristiwa ini bersama Bella yang asik bermain dengan anak-anak setempat. Liburan kali ini membawa banyak kenangan.


****


Kini, Adora dan sahabatnya sudah menunggu di pesawat selama dua jam, namun, pesawat tak juga lepas landas membuat para penumpang terheran-heran. Athena sedari tadi menyerocos tak karuan karena ia sudah menunggu sangat lama. Para penumpang mulai mempeributkan hal ini.


Para Pramugari juga tak tahu kenapa sampai akhirnya hal yang tak diinginkan terjadi. Terjadi pembajakan di dalam pesawat dan para penumpang maupun pramugari disandera. Mereka hendak merampok di dalam pesawat. Sepertinya mereka adalah para ******* dari negara lain yang datang ke sini bersembunyi di Indonesia.


“H-halo,” seorang remaja terlihat gugup ketika menelepon Polisi.


Salah satu dari pembajak melihat itu dan membanting ponselnya ke lantai sehingga membuat kericuhan di dalam pesawat. Remaja itu duduk tepat di depan Adora dan Adeeva.


“Don’t you dare call the Police!” bentak pembajak itu.


Tak butuh waktu lama berita pembajakan itu terdengar ke pihak kepolisian. Para Polisi segera meluncur ke tempat kejadian, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Karena didesak oleh Polisi, mereka menodongkan senjata pada remaja tadi di depan pintu pesawat, mereka mengancam akan menembak mati remaja itu.


Adora memberi isyarat pada ketiga temannya dengan anggukan kepala. Adora, Bella, dan Athena bertugas menyelamatkan penumpang sedangkan Adeeva bertugas menjaga para Pramugari dan Pilotnya.


“Aku ingin ke toilet,” ucap Adeeva.


Para pembajak itu mengangguk mengiyakan saja, tidak tahu saja mereka jika di antara para penumpang ada orang yang harus mereka waspadai. Salah satu dari mereka yang menyadari bahwa ada gerak-gerik mencurigakan langsung dipatahkan lehernya oleh Adora. Adora juga mengambil senjata laras panjang di tangannya.


Dengan cekatan dua anak kembar Ramona langsung menjatuhkan empat pembajak sekaligus. Tak sampai di situ, dua orang pembajak yang berada di ruang kemudi pesawat terlempar keluar dengan tidak elit, pelakunya adalah Adeeva.


Tak berhenti sampai di situ saja, Adora menendang pembajak yang menyandera remaja tadi keluar pesawat. Untung saja pembajak itu tak mati, hanya terluka di seluruh tubuhnya. Perkelahian sengit pun terjadi, mereka juga dibantu oleh seorang pria yang sangat Bella kenal.


Masih tersisa dua orang lagi yang belum tertangkap, dari arah belakang dua orang itu hendak menusuk Adora dengan pisau. Namun, mereka kalah cepat dengan Adora yang sudah berpindah di samping mereka, ia membanting salah satunya ke lantai lalu menendang tepat bagian dada yang satunya lagi.


Aksi penyelamatan itu disambut dengan tepukan meriah dari para penumpang maupun Pramugari. Remaja tadi pun memeluk Adora dan berterima kasih pada penyelamatnya itu. Para Polisi juga sangat mengapresiasi tindakan pemberani empat gadis dan seorang pria dari negara asing itu.


Karena tak ada masalah lagi, pesawat akhirnya lepas landas. Keadaan di dalam pesawat kembali hening seperti semula. Ada yang mengobrol dan ada yang tidur selama perjalanan di udara.


****


“Nona Arabella!” panggil pria yang tadi membantu para gadis dengan aksi heroik itu.


Bukan hanya Bella yang menoleh namun sahabatnya juga ikut menoleh. Bahkan Athena malah meledek sang Kakak dengan berasumsi bahwa pria itu adalah pacar Kakaknya.


“Kita berjumpa lagi,” ujar pria itu menjabat tangan Bella.


“Ya, tuan, senang bertemu denganmu,” balas Bella.


“Ekhem,” dehem Adora.


Bella pun tersadar bahwa masih ada sahabatnya, ia pun mengenalkan tuan tampan itu dengan sahabatnya.


“Tuan Ronan, ini Adik kembar saya Athena dan sahabat saya Adora dan Adeeva,” ujar Bella memperkenalkan mereka.


“Ronan, nona-nona,” pria bernama Ronan itu menjabat tangan nona-nona di depannya terkecuali Adeeva yang notabenenya seorang muslim.


“Salam kenal juga, tuan,” balas ketiganya kompak.


“Anda berempat sangat hebat tadi waktu di pesawat,” puji Ronan.


“Terima kasih, tuan. Karena mendesak kami jadi tidak bisa menjaga image kami sebagai gadis elegan di depan anda,” ujar Bella.


“Anda semua sangat keren!” pujinya sekali lagi.


Adora menyenggol tangan Bella, ia memprediksi bahwa Ronan ini menyukai sahabatnya, Bella. Karena menurut dari cerita Bella, mereka berdua pernah bermain film bersama dan makan malam bersama.


“Apakah anda semua ini sudah dijemput?” tanya Ronan.


“Kami akan memesan taxi, tuan,” jawab Adora.

__ADS_1


“Kalau tidak keberatan, apa anda bersedia naik ke mobil saya?”


Dengan tak tahu malunya, Athena langsung naik dan menyuruh sahabatnya ikut naik juga. Ya sudahlah, pikir mereka bertiga. Ronan tersenyum tipis menyaksikan hubungan persahabatan Bella dan sahabatnya.


__ADS_2