Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 11


__ADS_3

Sinar mentari terasa menusuk dan semilir angin yang terasa begitu menyegarkan membuat seorang gadis yang masih bermalas-malasan di ranjangnya tak merasa terganggu. Sepanjang malam melayani pasien membuatnya kehilangan setengah dari tenaganya, dialah Adora.


Memang ini bukan yang pertama kali, tapi ia berharap ia bisa menikmati waktu santai hari ini. Biasanya di saat seperti ini pria itu selalu mengajaknya kencan.


“Argh!!” teriak Adora terbangun dari tidurnya dengan perasaan marah.


Sepertinya Dokter muda yang cantik itu sedang memimpikan sesuatu yang buruk sehingga ia berteriak seperti itu.


“Sialan! Mengapa harus wajah pria itu yang muncul di mimpiku? Apalagi tadi Edward si kurang ajar itu malah mengejekku,” monolog Adora.


Perhatian Adora teralihkan dengan ketukan di luar kamarnya, ia berjalan sempoyongan menuju ke pintu kamarnya. Saat pintu terbuka menampakan Mamanya yang menyambut siangnya dengan senyuman manis.


“Selamat siang, anak sulung Mama!” sapa beliau dengan senyum merekah.


“Selamat siang Mama, maaf karena aku tak membantu ama di dapur,” ujar Adora sambil membiarkan Mamanya masuk ke dalam kamar.


“Hahaha, tidak apa-apa, sayang. Masih ada bibi yang membantu Mama, lagipula kau baru saja pulang tadi pagi.”


“Terima kasih, Ma, oh iya ada apa Mama ke kamarku? Biasanya Mama berteriak dari bawah saja,” Adora sedikit bingung dengan Mamanya yang berbeda dari biasanya.


Wajah wanita parubaya itu terlihat sangat bahagia, tapi Adora tak tahu apa penyebabnya. Biasanya jika sang Mama ingin memanggilnya maka ia akan berteriak dari lantai bawah, Mamanya punya suara yang menggelegar jika mendengar teriakan sang Mama maka Adora langsung terbangun.


“Nah, itu dia!” seru nyonya Emily dengan semangat yang menggebu-gebu.


Adora menautkan alisnya penasaran. “Hmm?”


“Kemarin saat kau sedang bekerja, Papa dan Mama mendapat kabar gembira,” tutur sang Mama dengan senyum yang tak luntur.


“Kabar gembira apakah itu, Mama?” tanya Adora bersemangat.


“Perusahaan Papa berhasil bekerja sama dengan Welly Grup!”


Adora pun melompat kegirangan mendapat kabar gembira itu, siapa sih yang tidak tahu dengan Welly Grup, perusahaan raksasa di dunia yang menduduki nomor satu dalam pasar bisnis. Lebih hebatnya lagi Welly Grup dipimpin oleh pengusaha muda yang berhasil membawa keuntungan besar.


“Tunggu! Bukankah CEO dari Welly Grup adalah Edward Wellington?!”


Adora yang tadinya tersenyum bahagia seketika murung lalu duduk sembari menopang dagunya. Hal itu membuat nyonya Emily terheran-heran melihat ekspresi putrinya yang langsung berubah ketika mengetahui identitas pemilik perusahaan raksasa itu.


“Ada apa, Adora? Apakah kau bermasalah dengan tuan Edward?”


“Dia yang punya masalah padaku, Ma,” dari situ Adora mulai menceritakan semua peristiwa pertemuannya dengan Edward pada Mamanya.


Nyonya Emily terkekeh setelah mendengar cerita putri sulungnya, ia juga mengetahui bahwa yang membully anak kembarnya adalah adik dari Edward. Sebenarnya ia sangat marah ketika tahu bahwa anak kembarnya dibully, namun, ia sudah lama melupakan kejadian itu. Lagi pula anak-anaknya tidak mempermasalahkan kejadian itu lagi.


“Ya ampun, hanya karena dia yang tak menghargaimu lantas kau membencinya?”


“Bukan begitu,” perkataan Adora terhenti. “Mama...,” rengek Adora membuat sang Mama kembali terkekeh pelan.


“Sebentar malam tuan Edward mengajak kita sekeluarga untuk makan malam di kediamannya, apakah kau mau ikut?” tanya nyonya Emily.


Adora hanya mampu mengangguk lesu, bagaimanapun ia adalah anak sulung jadi ia harus hadir ke acara makan malam bersama sebentar nanti. Jika ia tak hadir, hal itu akan membuat kedua orang tuanya malu.


“Baiklah, sayang, segeralah bersiap-siap dan turun sarapan,” ucap Mamanya sebelum menghilang dibalik pintu.


Lantas Adora langsung melaksanakan perintah Mamanya apalagi perutnya sudah minta diisi sejak tadi membuat ia tak tega jika menyambung tidurnya yang harus terganggu dengan dua pria tadi.


****


Tok tok tok


Edward baru saja bersiap-siap dan kini ia sedang berdiri di depan kamar sang Adik yang sedari tadi tak keluar. Tampak pintu terbuka dan menampakan gadis kecil dengan rambut pirang menjuntai kebawah dipadu dengan gaun hijau toska menambah kesan cantiknya. Akan tetapi, Edward menyadari raut wajah Zelleine yang terlihat murung seperti memikirkan sesuatu.


“Ada apa, hmm?” tanya Edward berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang Adik. Tangan lelaki itu bergerak mengelus pipi tembem Adiknya yang masih murung itu.


“Bagaimana jika si kembar tak mau memaafkanku?” tanya Zelleine dengan suara lirih yang hampir tak terdengar.


Edward memeluk tubuh mungil Zelleine dan mengusap rambutnya yang menjuntai kebawah. Ia juga khawatir akan hal itu, tapi ini juga kesalahan Zelleine yang merasa tak yakin dengan kemampuannya sendiri.


“Kakak juga tak tahu tentang hal itu. Ingatlah bahwa kau harus bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan, jangan takut.”

__ADS_1


Dengan ragu Zelleine mengangguk mengiyakan, tak lama setelah itu mereka berdua turun kebawah menghampiri Kakek mereka yang duduk berbincang bersama Ibu dan Kakak mereka.


“Waah, anak bungsuku sangat cantik,” puji nyonya Bianca.


“Hehehe, ‘kan aku memiliki gen dari Kak Yunifer!” ucap Zelleine dengan bangga.


Edward yang duduk di samping sang Adik mendelik kesal. Selalu saja Yunifer yang dibanggakan, pikirnya.


"Sepertinya Edward kesal dengan ucapanmu, Zelle," tuan Alfred atau tuan besar angkat bicara.


Zelleine menoleh pada Kakak keduanya dan terkekeh melihat wajah sang Kakak yang memelas karena tak dipuji.


Nyonya Bianca mengulas sebuah senyuman manis melihat anak-anaknya. Kemudian ia menoleh pada gadis di sampingnya yang sedari tadi tak bersuara. Gadis itu adalah Aluna.


Keluarga Edward belum tahu bahwa Aluna berselingkuh bahkan Edward sendiri. Ia masih ragu untuk memutuskan hubungannya dengan Edward, buka karena masih mencintai Edward, akan tetapi karena ia tidak ingin kehilangan kasih sayang seorang Ibu yang diberikan oleh nyonya Bianca.


Sebenarnya ia tak mau datang ke acara makan malam ini, tapi nyonya Bianca memaksanya untuk datang. Mau tak mau Aluna harus datang.


Nyonya Bianca menggenggam tangan Aluna dan bertanta, "Ada apa?"


Aluna segera menyembunyikan rasa tidak nyamannya karena berbohong dengan senyuman.


"Aku tidak apa-apa, Ibu," balas Aluna.


"Baguslah," balas nyonya Bianca.


Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Seorang pelayan di rumah itu segera membukakan pintu untuk tamu di luar sana.


"Selamat datang, tuan Gerry!" sambut Edward setelah tahu tamunya adalah rekan kerjanya.


Edward menautkan alisnya ketika melihat gadis di samping nyonya Emily yang tak lain adalah Adora. Gadis itu menatap nyalang Edward.


'Ada apa dengan gadis menyebalkan itu?' batin Edward bertanya.


"Silahkan duduk!" tuan Alfred mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Bagaimana ini?" gumam Aluna yang takut rahasianya dibongkar.


"Kau kenapa, Aluna?" tanya nyonya Bianca.


Aluna menggeleng pelan menanggapi pertanyaan dari wanita yang sudah ia anggap Ibunya sendiri itu.


"Oh iya, kenalkan ini keempat putri saya," ujar tuan Gerry di sela-sela perbincangan.


"Astaga, ternyata Dokter Adora adalah anak anda, tuan?" tuan Afred terlihat tak percaya.


"Ya, apakah anda mengenalnya?"


"Tentu saja, tuan. Dokter Adora adalah Dokter yang akan bertanggung jawab atas operasi Ibu," jawab Yunifer.


"Sebuah kehormatan bisa melayani nyonya, nona," balas Adora dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


Setelah berkenalan, keadaan hening tak ada yang bersuara. Edward segera mendorong Zelleine menuju ke si kembar.


"Sebelumnya saya mewakili keluarga Wellington meminta maaf karena tindakan kekanakan Adik saya, Zelleine," ujar Edward.


Tuan Gerry dan nyonya Emily diam tak berkutik, jujur saja mereka marah waktu itu saat tahu anak kembar mereka di perlakukan dengan tidak pantas oleh teman sekelas mereka.


Edward yang menyadari perubahan dari wajah tamunya segera mendorong Zelleine dan menyuruhnya agar meminta maaf atas keasalahannya.


Dengan ragu Zelleine berjalan mendekat, ia takut jika ia tak dimaafkan.


"M-maafkan aku atas tindakanku selama ini!" seru Zelleine dengan wajah menunduk.


"Kami sudah memaafkanmu, Zelleine," balas Thania dengan tulus.


"Kuharap kau tak mengulangi kesalahn yang sama lagi ke depannya," tambah Thalita.


Zelleine yang berbinar mendengar balasan mereka langsung mengangguk mantap. "Aku berjanji hal itu tak tak akan terulang lagi!"

__ADS_1


"Siapapun dan dimanapun?" tanya Thalia.


Lagi-lagi Zelleine menanggapinya dengan anggukan kepala yang mantap. Ia sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu, cukup sampai sini saja ia berperilaku buruk.


Setelah meminta maaf pada si kembar, Zelleine dengan ragu menghampiri Adora membuat Adora sendiri kebingungan.


"Maafkan aku, Dokter, kumohon selamatkan Ibuku," ucapan dari Zelleine membuat Adora tersentak.


Adora tak mungkin setega itu sampai harus melupakan tugasnya hanya karena masalah pribadi. Sedetik kemudian ia tersenyum dan mengelus surai pirang milik Zelleine.


"Tenang saja, nona kecil. Aku ini adalah Dokter profesional yang tahu membedakan masalah pribadi dan pekerjaanku," tutur Adora.


"Terima kasih, Dokter!" seru Zelleine dengan semangat.


Setelah Zelleine meminta maaf pada kedua orang tua si kembar, perbincangan mereka dilanjutkan dengan membahas tentang bisnis. Tentu saja Adora merasa bosan tapi ia harus mrnjaga tata krama agar orang tuanya tak merasa malu.


"Ayo kita mulai makan malamnya," ajak nyonya Bianca pada tamunya.


Mereka semua bersama-sama menuju ke ruang makan keluarga Wellington. Di ruang tamu hanya tersisa Aluna dan Adora yang tak bergeming.


Adora akhirnya berdiri dan berjalan mendekat pada Aluna dan membisikan sesuatu padanya.


"Tenang saja, nona aku tidak akan membongkar perselingkuhanmu dengan pria itu, tapi ketahuilah kau harus mengatakannya atau tidak akibatnya akan fatal," bisik Adora pada Aluna.


"K-kau!" tunjuk Aluna di depan wajah Adora.


"Ya, kenapa?" tanya Adora dengan santainya.


Aluna yang kesal langsung pergi dari hadapannya, kemudian, Adora menyusul dari belakang sebelum ia dianggap tak sopan karena terlambat bergabung.


****


Adora mengedarai mobilnya dengan bersennadung kecil menikmati udara segara di pagi hari. Sengaja ia ambil jalanan yang sepi ini agar ia merasa sedikit kedamaian sebelum bekerja.


Ketika asik menyetir, mata Adora terhenti pada mobil di depannya yang berjalan ugal-ugalan. Sepertinya pengemudinya sedang mabuk, dengan perlahan Adora mengikuti mobil itu dari belakang.


Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan yang tak tahu datang dari mana. Adora langsung menginjak rem mobilnya sampai kepalanya terbentur di stir mobil.


"Dari mana asal tembakan itu?" monolog Adora dengan perasaan yang bertanya-tanya.


Namun, ia simpan dulu pertanyaan itu di benaknya karena tembakan tadi terarah pada si pengemudi di depannya. Mungkin karena menyadari ada yang mengincarnya, si pengemudi segera menghindar sehingga ia kehilangan keseimbangan dan mobilnya menabrak pohon yang ada di pinggir jalan.


Adora berlari mengecek kondisi si pengemudi, ia terkejut saat melihat si pengemudi adalah orang yang ia kenal. Dia adalah Edward yang menjadi korban dari kecelakaan ini.


Penampilan pria itu urak-urakan dengan darah yang mengalir di bafian perutnya, kemeja putih yang dipakai Edward pun dipenuhi dengan darah karena tembakan kedua yang terdengar mengenai perutnya saat ia sudah melemah.


"Tuan Edward!" seru Adora segera melakukan pertolongan pertama.


"Nona... menye...," belum juga menghabiskan kata-katanya ia sudah tak sadarkan diri lagi.


Kebetulan beberapa pengendara motor yang lewat, Adora minta bantu mereka agar mengangkat tubuh Edward ke mobil Adora.


"Nona, sebaiknya anda menemani tuan itu di belakang, biarkan saya saja yang menyetir," tawar salah satu dari mereka.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih, tuan" balas Adora.


Akhirnya mobil Adora dalam perjalanan ke rumah sakit dengan seorang anak muda yang menyetir sedangkan Adora memangku kepala Edward.


Adora juga sudah mengabarkan ke rumah sakit agar menyiapkan ruang operasi.


Dalam waktu lima belas menit, akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit. Beberapa perawat langsung meletakan tubuh Edward di brankar dan membawanya ke rumah.


Tak lupa juga Adora berterima kasih pada anak muda tadi yang mau mengantar mereka.


Adora langsung melakukan operasi penyelamatan pada Edward yang sudah resmi menjadi pasiennya. Pihak rumah sakit juga sudah mengabarkan pada keluarga pasien.


Di sisi lain, seorang gadis yang baru mendapat kabar buruk dari wanita yang sudah ia anggap Ibunya sendiri terkejut. Dialah Aluna.


Mantan kekasihnya, Edward mengalami kecelakaan setelah semalam mengetahui bahwa Aluna selingkuh di belakangnya. Aluna terduduk dan menangis menyesali keputusannya yang ingin menyembunyikan hubungannya dengan Charlie sampai ia siap memberitahukannya pada Edward.

__ADS_1


__ADS_2