Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 6


__ADS_3

“Terima kasih atas kerja samanya, nona Arianna,” ujar Edward menjabat tangan Arin.


Hari ini, perusahaan kosmetik milik Arin telah resmi bekerja sama dengan perusahaan keluarga Wellington yang berada di berbagai bidang industri.


“Sama-sama, pak Edward. Saya harap kerja sama ini bisa menguntungkan kedua belah pihak,” tutur Arin.


“Hal itu sudah pasti, nona,” sahut Edward.


“Kalau begitu saya permisi dulu, sampai jumpa tuan.”


Bersamaan dengan perginya Arin, Edward mendapatkan telepon dari wali kelas sang Adik, Zelleine.


“Apa lagi yang dilakukan Adikku ini?” gumamnya lalu mengangkat telepon itu.


“Halo, ada apa ya, bu?” tanya Edward pada orang di seberang.


“....”


“Baiklah, saya akan segera tiba di sana!”


Edward langsung menyambar jas dan kunci mobilnya di atas meja dan berlari keluar dari kantor. Pria tampan itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Entah apa yang ia dengar dari telepon tadi sampai wajahnya memerah padam karena emosi.


Di sisi lain, Adora yang baru tiba terkejut dengan tampilan Adiknya yang bisa dibilang tidak baik-baik saja.


Rambut Adiknya yang selalu Adora rawat kini penuh dengan lendir walau sudah dibersihkan. Baunya sangat tidak sedap, bahkan seragam mereka sangat kotor.


Mata Adora mengarah pada kotak makan siang Thalita dan Thania yang masih baik-baik saja sedangkan si bungsu, kotaknya kosong dan kotor.


“Siapa yang melakukan ini pada Adikku?!” tanya Adora sarkas.


Zelleine yang berdiri di pojokan ketakutan setengah mati. Ia takut dimarahi oleh Kakak si kembar dan Kakaknya sendiri yang sedang dalam perjalanan kemari.


“Nona, tidak seharusnya anda marah, Adik anda yang memulai duluan,” seru salah seorang wanita yang merupakan orang tua gadis yang membully adiknya.


“Buktinya?” tanya Adora dingin.


“Lihatlah, wajah putriku terluka karena Adikmu!” bentak wanita itu.


“Ck, apakah tampang Adikku seperti seorang preman?” tanya Adora santai namun menusuk bagi wanita itu.


Perkataan Adora itu sama saja dengan mengatakan bahwa putri wanita itu merupakan preman karena melakukan pembullyan di sekolah.


Adora menyeringai saat melihat Zelleine, ia yakin ketua pembullyan Adiknya ini pasti gadis kecil itu.


“Siapa namamu gadis cantik?” tanya Adora.


“Zelleine Kiara Wellington,” Zelleine mengucapkan namanya dengan mantap walau ia sedang ketakutan.


“Ooh, ternyata kau putri bungsu keluarga Wellington,” Adora tentu saja terkejut.


Dokter cantik tersebut mengelus rambut Zelleine dengan sayang lalu dalam sekejap ia tersenyum dengan mengerikan membuat Zelleine ketakutan dan mundur beberapa langkah.


“Bagaimana jika tuan besar dan nyonya Bianca tahu bahwa putri emas mereka membully teman sekelasnya? Hmm?”


Brak


Seorang pria tampan mendobrak pintu dengan keras membuat semua orang di dalamnya terkejut. Adora berdiri dan melihat siapa yang datang kali ini.


Yang datang adalah Edward. Edward sedikit terkejut melihat gadis menyebalkan yang pernah ia temui ada di sini dan mengatakan sesuatu pada Adiknya sampai Zelleine bergetar ketakutan.


“Apa yang kau lakukan pada Adikku!” bentak Edward.


“Apa yang Adikmu lakukan pada Adikku?” tanpa menjawab pertanyaan Edward, gadis itu menyilangkan tangannya di dada dan bertanya dengan nada santai.


Edward mengalihkan pandangannya pada tiga gadis kembar yang menangis. Lalu menatap Adiknya dengan seksama.


“Tuan Edward, Adik nona-” Edward mengangkat tangannya menyuruh wanita tadi diam.


“Apa yang kau lakukan Zelleine Kiara Wellington?” kali ini nada bicara Edward sangat dingin.


Zelleine terdiam tak mampu menjawab, sekarang ia sangat takut pada Kakak keduanya yang terbilang keras padanya. Apalagi jika Kakeknya tahu kejadian ini, maka bisa saja Zelleine diberhentikan dari sekolahnya.


“Jawab Kakak!” bentak Edward.


“Jangan membentaknya,” suara Adora terdengar menantang.


Si kembar dan semua orang di situ terkejut dengan sikap Adora yang masih membela Zelleine yang sudah menyakiti Adiknya.


“Kau tak usah ikut campur!”


“Jika kau selalu membentaknya, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang peragu dan tidak percaya diri!” kali ini Adora sudah marah besar.


Dia adalah seorang Dokter jadi ia tahu walaupun ia bukanlah Dokter anak. Edward terdiam dan merasa malu. Selama ini ia tak pernah membentak sang Adik di depan umum selain ketika hanya mereka berdua atau dengan Kakaknya. Ia mengusap wajahnya kasar lalu mendekat Zelleine yang sudah bergetar ketakutan.

__ADS_1


Zelleine yang menderita agrophobia langsung pingsan di tempat membuat semua orang terkejut. Adora segera memeriksa keadaan gadis kecil itu sedangkan Edward dan si kembar merasa bersalah.


‘Zelleine...,’ jauh di lubuk hati si kembar, mereka menginginkan sosok Zelleine yang keras kepala menjadi teman mereka.


‘Maafkan Kakak’. Edward marah pada dirinya sendiri. Ia berjalan mendekat pada Adiknya Adora.


“Tolong maafkan Zelleine, ku mohon,” pria itu berlutut.


Thalita menepuk pundak Edward. “Kakak tenang saja, kami memaafkan apa yang dilakukan Zelleine pada kami.”


Beralih pada Adora yang sudah selesai memeriksa kondisi Zelleine. Ia menghela napas lega karena kondisi gadis kecil di dekapannya itu tidak terlalu buruk hanya perlu banyak istirahat.


“Sebaiknya kau meminta maaf kepada Adikmu setelah dia sadar,” ucap Adora.


“Terima kasih,” untuk pertama kalinya Adora mendengar ucapan terima kasih dari pria yang sudah ia cap kurang ajar itu.


“Ya,” singkat, padat, dan jelas.


“Untuk kalian semua di sini, maaf karena Adikku membuat kekacauan terutama Dokter dan para nona Miller,” ucap Edward.


Adora dan ketiga Adiknya hanya mengangguk saja. Adora menyuruh agar Edward segera membawa Zelleine pulang dan dia yang akan menyelesaikan masalahnya, Edward yang keras kepala tentu saja tak mau namun melihat tatapan sinis gadis menyebalkan itu akhirnya ia mengiyakan saja.


“Dokter Adora, maaf karena kelalaianku mendidik anak-anak--” ucapan ibu Lily terpotong oleh Adora.


“Tidak apa-apa, anda sudah berusaha keras, mungkin karena kesalahan orang tua yang terlalu memanjakan anaknya,” ucap Adora.


“Maksud kamu apa, nona?!” bentak salah satu dari mereka.


“Anda pasti punya otak ‘kan? Masa ucapan saya tadi tidak bisa anda cerna,” Adora tersenyum miring. “Saya harap kepala sekolah bisa mengambil tindakan lebih lanjut.”


“Ya, nona, saya selaku kepala sekolah akan menskors siswa yang telah membully teman mereka,” ucap bapak kepala sekolah tegas.


“Terima kasih, kalau begitu saya dan Adik-adik saya pamit,” Adora menunduk hormat lalu bersama ketiga Adiknya pergi meninggalkan ruangan itu.


****


Edward terduduk di samping ranjang dengan wajah lemas dan khawatir. Ia menoleh pada sosok gadis kecil yang belum terbangun dari pingsannya, rasa bersalah mulai menghantuinya setelah kejadian di sekolah tadi.


“Sayang, makanlah dulu, sejak pulang tadi kau belum makan,” nyonya Bianca mendekat dan membujuk putranya itu.


“Tidak, Ibu. Sebelum Zelle sadar aku tidak akan makan,” tolaknya ke sekian kalinya.


Yunifer dan Kakeknya hanya menghela napas panjang melihat tingkah Edward yang keras kepala.


“Kakek benar, seharusnya Zelle mengikuti sifatku saja jangan anak nakal itu,” timpal Yunifer.


Terjadi pergerakan di selimut yang dipakai oleh Zelleine. Rupanya gadis kecil tadi itu sudah sadar dari pingsannya. Ia masih mengedipkan matanya untuk mengetahui keberadaannya saat ini.


“Zelle,” lantas Edward memeluk Adiknya dengan erat.


“Kakak...,” tiba-tiba terdengar isakan tangis dari sang Adik.


“Ada apa sayang?” tanya Yunifer mendekat.


“Maafkan aku... hiks... hiks...,” mungkin saja gadis itu masih takut dengan bentakan Kakaknya.


Edward berbicara tanpa melepaskan pelukannya, “Tidak apa-apa sayang, maafkan Kakak juga karena membentakmu.”


Akhirnya kedua Kakak beradik itu beralih memeluk Kakak sulung mereka dan menangis bersama. Hal ini sudah biasa bagi Yunifer, Yunifer selalu saja menjadi penengah di antara mereka.


Setelah puas menangis barulah Zelleine sadar akan keberadaan sang Kakek yang menatapnya tajam. Gadis itu takut dengan sosok Kakeknya saat ini, jari-jarinya saling bertautan pertanda bahwa ia sedang gugup.


Tuan besar berjalan mendekat dan mengelus surainya lalu berkata, “jangan ulangi lagi, kau tahu akibatnya!”


“Terima kasih, Kakek!” seru Zelleine melompat ke pelukan sang Kakek.


“Hahaha, kau masih saja bertingkah imut,” tawa pria parubaya itu menggelegar.


“Sepertinya Ibu tidak dibutuhkan,” nyonya Bianca angkat suara dengan nada ketus.


Zelleine tersenyum begitu pula kedua Kakak dan Kakeknya, ia berlari dan memeluk Ibunya yang masih terlihat sangat cantik. Aroma sang Ibu sudah menjadi candu baginya.


“Maafkan Zelle, Ibu,” ujar Zelleine yang benar-benar merasa menyesal.


Nyonya Bianca berlutut dan mendekap putri bungsunya dengan erat. “Ibu sudah memaafkanmu, tapi bagaimana dengan para nona Miller? Ibu tidak mengajarkanmu melakukan perbuatan keji itu, sayang. Bagaimana jika Dokter Adora marah besar dan tak mau melakukan operasi pada Ibu?”


“Maafkan Zelle, Zelle janji tidak akan melakukan hal itu lagi! Tapi, Ibu akan melakukan operasi apa?”


Hanya si bungsu saja yang tidak mengetahui penyakit yang di derita oleh sang Ibu. Yang ia tahu hanya keadaan Ibunya yang tidak baik-baik saja. Mendengar kata operasi, ia langsung terkejut. Bagaimana jika ia tak akan bisa melihat Ibunya lagi.


“Sebenarnya Ibu terkena kanker rahim setelah melahirkan mu, tapi sekarang Ibu akan bertahan untuk anak-anak, Ibu,” ujar nyonya Bianca.


“Hiks... hiks... Ibu harus bertahan,” sahut Zelleine sesunggukan.

__ADS_1


“Ibu tidak janji tapi Ibu akan berusaha!”


Tuan besar yang melihat semangat putri tunggalnya langsung tersenyum. Ia sangat berterima kasih pada Adora yang telah menyadarkan putrinya walau lewat kata-kata.


Di hari ketika Adora mengantar nyonya Bianca pulang, tuan besar berdiri tak jauh dari mereka sehingga ia bisa mendengar perbincangan singkat mereka.


Yunifer dan Edward juga sangat senang karena semangat ibu mereka kembali. Sejak kehilangan sosok ayah di usia dini membuat mereka kehilangan kasih sayang seorang Ayah sekaligus kasih sayang seorang Ibu.


Namun, sekarang sampai selamanya Ibu mereka akan selalu bahagia sampai akhir hayatnya, itu adalah janji yang terpatri di hati mereka masing-masing.


****


Saat ini, Adora tengah tertidur nyenyak setelah pulang dari rumah sakit pukul tujuh pagi tadi. Sejak semalam, rumah sakit disibukan dengan banyaknya pasien kecelakaan yang datang silih berganti.


Kemarin juga, Adora tak beristirahat. Maka hari ini ia akan menghabiskan waktunya dengan tidur sampai puas. Ia sudah menjelaskan situasinya pada keluarganya agar ia tak diganggu dengan banyak alasan.


Namun, sayang sekali bunyi ponselnya terdengar menghantui tidur Adora yang sangat nyenyak. Dengan terpaksa gadis itu mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


“Halo, Kak. Aku sangat lelah...,” ujar Adora dengan mata terpejam.


“Sayang, ini aku, Charlie,” ujar seseorang di seberang.


Mata Adora yang tadinya terpejam kini terbuka lebar dang langsung duduk.


“Apakah kau lelah? Padahal aku ingin mengajakmu kencan hari ini, sudahlah,” terdengar suara Charlie yang memelas.


Mendengar suara sang kekasih yang seperti anak anjing membuat Adora tak tega dan memutuskan untuk menunda tidurnya.


“Aku sedikit lelah, tapi tak apa-apa, aku akan bersiap-siap sekarang juga.”


“Tidak, kesehatanmu lebih penting, beristirahatlah! Kita tunda kencan hari ini, bagaimana jika besok?”


Adora terdiam sejenak lalu mengecek jadwalnya untuk besok. ‘Hmm, sepertinya besok aku sedang kosong.’


“Baiklah, besok! Kau tidak sibuk ‘kan?”


“Tidak, kau tenang saja, sayang.”


“Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu hari ini,” Adora sangat sedih karena melewatkan kencan dengan pujaan hatinya.


“Tenang saja, Adora-ku. Masih ada besok dan hari-hari selanjutnya, sekarang tidurlah, aku akan menemanimu lewat telepon ini.”


“Kau sungguh romantis,” lantas Adora kembali melanjutkan tidurnya.


Setelah dengkuran halus terdengar, Charlie yang ada di seberang sana memutuskan telepon dan membiarkan kekasihnya beristirahat.


Di hari dan waktu yang sama, Aluna baru saja melakukan syutingnya. Gadis itu berprofesi sebagai artis. Ia juga dijuluki sebagai ratu film, ia bisa menjadi seorang artis berkat bakat dan usahanya. Dia sudah membintangi banyak film, namanya sangat tersohor di seluruh negeri. Banyak yang ingin melakukan kontrak dengan gadis cantik itu.


“Apa jadwalku selanjutnya, Zia?” tanya Aluna.


“Sudah tidak ada lagi selama beberapa hari ke depan,” jawab managernya, Zia.


“Hmm, baiklah. Kau pulanglah, aku ingin kembali ke apartemenku,” titah Aluna.


Zia mengangguk dan pamit pergi membiarkan Aluna yang masih rehat sejenak. Sudah beberapa hari ini ia tak pulang ke rumah, pasti kedua kakaknya mencari dirinya.


Aluna segera mengendarai mobilnya menuju ke apartemennya. Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Aluna sudah terparkir di parkiran yang tersedia. Ia segera naik lift dan menuju ke tempatnya.


“Ranjangku!” teriak Aluna melompat ke ranjang empuknya.


“Betapa aku merindukanmu, kau tahu? Aku selalu dihantui oleh bayang-bayangmu, sayang,” monolog Aluna sambil mengelus seprai berwarna biru langit itu.


Perlu diketahui, Aluna adalah gadis yang sangat menyukai rebahan. Ia suka bermalas-malasan, tentu saja sifatnya yang itu hanya diketahui oleh dia dan Kakaknya.


Matanya berhenti pada sebuah bingkai foto yang berisi seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Aluna segera duduk di tepi ranjang dan mengelus foto itu.


“Di mana kau? Aku merindukanmu, sudah bertahun-tahun sejak kita berpisah, apakah kau tak ingin mencariku?” air mata Aluna langsung menetes begitu saja.


Gadis itu meringkuk dan menangis sejadi-jadinya, ia sudah berusaha untuk tetap kuat. ‘Kali ini saja aku ingin menangisimu!’


Foto anak lelaki itu adalah sahabat masa kecilnya yang terpisah dengannya karena satu alasan. Sejak saat itu, Aluna selalu merasa kehilangan. Ia selalu mencari keberadaan sahabatnya namun nihil.


Suara tangisannya berhenti kala perutnya berbunyi minta makan. Dengan langkah lesu, gadis itu berjalan menuju ke dapur kesayangannya. Wajahnya yang murung bertambah murung karena tak ada bahan yang bisa dimasak, hanya sebutir telur.


“Malangnya nasibku...,” ujarnya.


Dengan terpaksa, Aluna membuat telur goreng. Setelah mengisi perutnya sedikit, Aluna pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-harinya. Dengan kemeja hitam dan celana jeans membuat tampilannya sangat santai.


Sesampainya di supermarket, ia berjalan mengelilingi setiap rak. Sampai sesuatu terjadi, kakinya tidak sengaja tersandung sebuah mainan mobil-mobilan yang membuatnya kehilangan keseimbangan.


Brugh


Aluna terkejut karena ia tidak merasakan sakit setelah terjatuh. Ia mengintip sedikit dan melihat wajah tampan seorang pria yang ada di bawahnya, posisi keduanya sangat intim.

__ADS_1


__ADS_2