
Adora terbangun dengan badan segar bugar, ia tertidur saat perut sudah terisi membuat ia bisa lelap dalam tidurnya.
Beranjak lalu mencuci muka dan merapikan penampilannya. Ia keluar kamar dan melihat beberapa pelayan berlalu lalang, ia menyuruh mereka untuk mengantarkan dirinya ke tempat di mana pria tadi berada.
Selama perjalanan, Adora mengagumi keindahan mansion mewah ini.
"Sudah sampai, nona," ujar pelayan itu menunjuk pada pintu berwarna hitam dengan kualitas terbaik.
"Baik, terima kasih."
Sepeninggal pelayan tadi, dengan pelan Adora mengetuk pintu itu. Ia juga sempat menyebutkan namanya.
Belum berlalu detik di mana ia sebutkan namanya, pintu sudah dibuka oleh pria tua tadi dengan senyum merekah.
Adora dipersilahkan masuk ke dalam ruang kerja itu, hampir keseluruhan dihiasi dengan warna biru pastel. Padahal ia kira beliau menyukai warna gelap, tapi ternyata tidak.
Ia menelisik ke seluruh ruangan dan matanya berhenti pada suatu titik. Bingkai foto wanita itu, itu...
"Bunda!"
Pria itu menghentikan langkahnya ketika mendengar Adora memekik kaget termasuk dua orang di ruangan itu.
"Kenapa foto bunda ada di sini?!" suara Adora meninggi.
Iri. Adora sangat iri, mengapa pria yang sama sekali tak ia kenal mempunyai foto bundanya sedangkan dirinya? Tidak ada sama sekali. Wajah bunda di ingatannya mulau memburam karena selama dua puluh tahun ia tak lagi melihat wajah itu.
"Anda dapat dari mana?" tanyanya dengan sendu.
Levithen menuntun tangan Adora untuk di sofa. Adora menurut tak mau berdebat lagi.
Ia baru menyadari eksistensi dua orang lainnya. Mereka menatapnya penuh haru, ia heran sejak kapan ada mereka?
"Aku akan mengatakan semuanya padamu..."
***
"Daddy lihat nilaiku mendapat urutan pertama!" seru gadis berusia 15 tahun pada daddynya yang sedang bekerja.
"Mana daddy lihat. Astaga putri daddy sangat pintar, daddy bangga padamu, mommymu di atas sana pasti juga senang," Daddy itu mengecup pipi putri.
"Uhm, punya Lucas juga, cium pipi Lucas," pinta gadis itu pada anak laki-laki berusia sama dengannya.
Sang daddy juga ikut mengecup pipi anak bernama Lucas walau mereka tak sedarah, Lucas tetap menjadi anak laki-lakinya.
***
"Audette, perhatikan langkahmu jika tak ingin daddy marah," tegur seorang pemuda pada adik perempuannya, Audette Serphina Devine.
Lucas Atarah mendengus saat Audette tak memperdulikannya dan malah asik bermain di kubangan lumpur di jalan.
__ADS_1
"Audette ayolah, kau bisa terkena flu," wajah Lucas sudah memelas.
Audette terkekeh, "Ahaha, baiklah ayo pulang!" ia dengan mesra menggandeng lengan sang kakak.
Lucas tertular senyum Audette yang memesona.
"Aku sudah punya pacar kau tau?" bisik Audette padahal hanya ada mereka berdua di tengah hujan saat ini.
"Pacar? Siapa dia?" Lucas sedikit melotot tak terima.
"Robin Aditya Miller, dia tampan. Di selalu mengejar cintaku, awalnya aku tolak karena risih. Tapi, hatiku berkata lain dan akhirnya menerima dia."
"Kami tidak akan membatasimu, ingatlah untuk fokus juga pada kuliahmu saat ini," nasehat Lucas merasa sedikit tak rela jika adik kecilnya sudah dewasa.
***
"Daddy terima kasih sudah membesarkanku," tangis pecah diantara Audette maupun Levithen.
Audette sudah menyandang status istri dari Robin Aditya Miller. Mereka mengadakan pesta yang sangat meriah bahkan mengundang semua pejabat dan artis terkenal.
"Robin, daddy titipkan putri daddy padamu. Jangan buat ia menangis, bahagiakanlah dia," Levithen memeluk tubuh tegap menantunya.
"Itu sudah tentu daddy, aku akan membahagiakan Audette," Robin menyanggupi hal tersebut.
Lucas ikut memeluk Robin, ia sebagai kakak walau tak sedarah tapi ia sangat menyayangi Audette.
"Jagalah adikku," hanya itu karena ia tak sanggup.
"Ya, aku menangis karena adik kecilku sudah menikah," jawabnya jujur.
"Hahaha, kemarilah kakakku sayang," Audette merentangkan tangannya.
Melihat itu, Levithen ikut memeluk kedua anaknya penuh air mata. Ayah mana yang tak menangis melihat putri mereka menikah.
***
"Dia adik Evan?" tanya Evan kecil sambil melihat bayi perempuan yang sangat cantik dan imut.
Audette mengelus kepala botak Evander. "Ya dia adik Evan. Evan mau bantu bunda jagain Dora?"
Evander mengangguk semangat.
"Iya, Evan akan menjaga adik Evan."
Audette menatap kakaknya, "Dia mirip denganmu, kak."
"Tentu saja, keponakanku sangat cantik."
"Dia mirip denganmu, Audette," kali ini Levithen menggendong cucu perempuan membuat ayah dari cucunya mendengus.
"Penuhilah kemauan daddy yang keras kepala ini Robin," Lucas tertawa pelan melihat wajah adik iparnya.
__ADS_1
***
Levithen memeluk tubuh putrinya yang bersimbah darah dan wajah memucat. Tak jauh dari mereka Robin, menahan rasa sakit sambil berjalan menyeret satu kakinya yang sudah tak berfungsi yang tadi ditindih beton.
"Daddy...," panggilnya lemah. "Apakah Audette...."
"Jangan khawatir Robin, putriku pasti selamat," sergah Levithen dengan nada suara parau.
Robin duduk dengan lemas sambil mencium punggung tangan sang istri. Ia berharap-harap cemas akan keselamatan cintanya, putri kecilnya masih membutuhkan bundanya.
Audette menatap daddy dan suaminya, tak lama kemudian Lucas bergabung dengan mereka dengan deraian air mata setelah menumpas para bedebah yang mengusik keluarganya.
"Jaga Dora-ku, berikan hak asuhnya pada kak Emily karena dengan begitu ia yak kehilangan figur sosok ibu," Audette berujar dengan sisa napas yang mulai sedikit.
"Tidak, kau akan selamat!" bantah Lucas dan Levithen bersamaan.
"Daddy aku mencintaimu, terima kasih. Aku akan menyusul mommyku di atas sana. Kak Lucas titipkan salamku pada putraku, Evan," Audette memgalihkan tatapannya pada sang suami yang sedari tadi diam.
"Sayang, jangan menangis. Aku mencintaimu begitu mencintaimu," ucap Audette dengan sisa tenaga menyempatkan mencium bibir suaminya untuk terakhir kali.
Di menit berikutnya, Audette tertidur selamanya menyisakan luka mendalam untuk orang terkasihnya.
Merasa sakit ditinggal sang istri, akhirnya Robin berwasiat sama pada daddy mertuanya dan menyusul istrinya dengan tragis. Ia menikam perutnya sendiri menggunakan pecahan kaca yang begitu tajam.
***
"Apakah tuan tidak menyayangi Adora?" tanya Emily pada pria parubaya itu.
Levithen tersenyum simpul lalu menatap penuh kasih pada gadis kecil berusia enam tahun yang asik bermain dengan Evander.
"Aku menyayanginya sangat menyayanginya bahkan lebih dari diriku sendiri, tapi... Audette menitipkannya padamu agar Dora-ku tak kehilangan sosok ibu dari hidupnya," jawab Levithen.
"Kami akan berjanji selalu melindungi Adora," Gerry juga menatap sayang keponakannya.
Levithen mendekat pada dua cucunya.
"Dora," panggilnya sendu.
Adora kecil menoleh, "Iya kakek, kenapa?"
"Dora ikut dulu sama paman dan bibi ya. Kakek janji akan menjemput Dora, ada yang harus kakek urus," pinta Levithen memeluk tubuh mungil itu.
"Kenapa Dora pergi?" Evan kecil bertanya sedih.
"Uhm, kenapa Dora pergi. Apa karena Dora nakal? atau karena kakek sudah tak menyayangi Dora?" Adora kecil belum mengetahui apa yang terjadi menangis sejadi-jadinya.
"Bukan begitu sayang, kakek sangat menyayangi Dora. Sebelum meninggal, bunda menyuruh kakek untuk mengantarkanmu pada paman Gerry dan bibi Emily. Kakek akan menjmeput setelah itu," Levithen mencium kedua pipi cucu perempuannya.
"Benarkah bunda bilang begitu? kakek harus janji menjemput Dora," Adora memeluk tubuh sang kakek.
Nahasnya, di dalam perjalanan mobil milik Gerry yang berisi Emily dan Adora terlibat kecelakaan hingga Adora mengalami amnesia karena benturan di kepalanya. Ia melupakan sebagian ingatannya, melupakan janjinya dengan sang kakek. Emily dan Gerry juga mengalami luka yang sangat parah melebihi Adora tapi tak sampai hilang ingatan.
__ADS_1
***