
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua orang menyambut dengan sukacita hari ini sebab hari ini adalah hari pernikahan antara Edward Wellington dan Adora Serafina Devine Miller.
Sang pengantin wanita sudah merasakan gugup teramat sangat sejak kemarin. Adora hari ini dengan resmi akan melepas status singlenya dan menjadi menantu kedua Wellington setelah ayah mertuanya, Zester yang juga sudah kembali bergabung bersama keluarganya.
Dengan gaun putih yang pernah ia testing waktu itu sampai Edward terpana kini duduk menunggu waktu saja.
Di kamarnya yang mewah tak semewah kamar yang ada di kediaman Devine. Sebab Edward menyewa ballroom hotel yang bergerak di bawa perusahaannya. Acara pernikahan ini digelar dengan megah namun elegan. Kamar ini terasa sesak dengan keberadaan para sahabat, saudara, dan ibu-ibu. Saking banyaknya tak bisa dijabarkan.
Adora terkekeh mengingat kembali percakapannya dengan Edward beberapa hari lalu yang merengek ingin bertemu. Karena kemarin mereka tak diizinkan bertemu, sekedar saja tidak! tega sekali.
Katanya mencontoh pernikahan Noah dan Adeeva yang tak bisa bertemu selama seminggu lamanya. Padahal itu adat Jawa, salah satu provinsi di Indonesia tapi mereka terobsesi sekali membuat Adora dan Edward yang saling merengek.
"Mama, aku gugup," keluh Adora tak bisa meregangkan tubuhnya.
Emily terharu dan memeluk erat putrinya yang memang tak sedarah dengannya. Tapi, mengasuh dan membesarkan putri dari kakak iparnya itu selama dua puluh tahun lamanya mau tak mau membuat hati Emily sudah berpaut pada putri angkatnya.
"Putri mama yang cantik. Terima kasih sudah menjadi putri mama," ujarnya dengan mata berlinang.
"Mama jangan berkata seperti itu. Bahkan bunda yang menyuruh mama merawatku, padahal bisa saja aku merepotkan mama. Aku yang seharusnya berterima kasih atas kasih sayangmu selama ini," balas Adora ikut sedih.
Ingatannya kembali berputar ke kenangan dua puluh tahun lalu saat ia terbangun dalam keadaan hilang ingatan sebagian membuat ia melupakan sosok kakek dan orang-orang Devine saat itu. Yang ia tahu hanyalah anak angkat dari mama Emily dan papa Gerry serta kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
"Hei jangan menangis Adora! bisa-bisa make up yang kubuat luntur seketika," ketus Athena.
Iya, Athena yang bertugas sebagai MUA Adora. Selama mereka bersahabat, Athena memang selalu mengajukan diri menjadi MUA. Jangan khawatir karena dia ahlinya.
"Haha, astaga kau nakal sekali Athena! Lihat air matanya naik kembali," tutur Arabella.
Adora menatap sinis dua sahabat jomblonya, "Jangan meledekku dasar jomblo."
Semua orang di kamar itu mengudarakan tawa mereka kala menyaksikan wajah cemberut si kembar Ramona yang menggemaskan.
Tok tok tok
__ADS_1
Ketukan pintu itu terbuka menampakan Gerry bersama Evander yang tersenyum sambil mengulurkan kedua tangan mereka bersamaan sesuai permintaan Adora.
Gadis itu menyambut uluran tangan kedua pria itu lalu berjalan bergandengan sampai ke altar pernikahan. Semua mata hanya tertuju pada bintang utama yang begitu cantik.
Rekan-rekan yang ada di rumah sakit tempatnya bekerja bahkan semuanya diundang tanpa terlewat. Sesampainya di altar pernikahan, Gerry dan Evander sama-sama memberikan kedua tangan Adora ke Edward yang akan menjadi suami kesayangan mereka.
Beberapa saat kemudian....
Tepuk tangan meriah kala kedua pasangan sudah mengucapkan ikrar pernikahan. Semua orang mengbarapkan kebahagiaan mereka dan resmi membuat seluruh wanita di California patah hati berjamaah.
Pria seperti Edward laku sekali di pasar pernikahan kini sudah menyandang status suami dari Adora, si dokter cantik.
Edward memiringkan kepalanya lalu meraup bibir manis Adora yang sidah dipoles. Keduanya tenggelam dalam ciuman mereka sampai-sampai Adora mengalungkan tangannya di leher Edward mengabaikan kecanggungan yang keduanya timbulkan.
Bahkan, pendeta yang menikahkan mereka harus berlalu sebelum wajahnya memerah menyaksikan dari dekat ciuman sepasang suami istri itu.
"Haa...," setelah melepas pangutan bibir mereka, Adora meraup rakus udara karena ciuman itu berhasil membuat pikirannya melayang.
Adora menatap tajam pria yang kini menjadi suaminya. Sukanya mengambil kesempatan.
Seusai mengucap janji suci pernikahan. Ballroom hotel dibuat ricuh oleh pertengkaran Athena dan Ronan.
"Hish... Ronan berhenti menggangguku!" teriak Athena kesal memukuli punggung pria itu.
"Harusnya kau mau berbagi dengan calonmu!" dengus Ronan.
"Untuk apa berbagi denganmu?! siapa juga yang kau maksud calonku, sialan!"
Rowan menyeret adiknya menjauh dari Athena sebelum adik singa betina itu mengamuk dan menghancurkan pesta pernikahan tuan muda Wellington yang asik bersama istrinya padahal ini masih di depan khalayak ramai.
"Aunty!" Yunifer terkejut dengan panggilan Royan yang mendekat bersama daddynya.
"Yes baby?" Yunifer melepas sendok yang ia genggam tadi lalu menggendong tubuh mungil Royan dibawalah ke pangkuannya.
__ADS_1
Roger duduk di sebelah keduanya membuat semua berbisik-bisik bahwa keduanya sangat serasi.
"Mau jadi mommyku!" seruan Royan membuat wajah Yunifer dan Roger memerah malu.
"Kak Yu mau Royan!" seru Adora dan Edward di atas panggung dengan semangat.
"Diam Kalian!" bentak Yunifer merasa malu.
Zester senantiasa menggendong zelleine dan merengkuh pinggang Bianca mendekat dan menaik turunkan alisnya.
"Edward masih belum berproses membuatkan cucu, bagaimana jika kamu jadi mommy Royan saja? dengan begitu ibu dan ayah memiliki satu cucu," goda Zester diangguki Bianca.
"Ayah ibu juga jangan menggodaku," rengek Yunifer.
Royan yang melihat semburat malu masih ada di wajah kedua manusia berbeda jenis kelamin itu tertawa terbahak-bahak. Sejak kepergian mommy kandungnya, daddynya seakan sudah tak ada semangat hidup. Kini, semua berbeda setelah kedatangan Yunifer di hidup mereka, walau sekedar sebagai aunty.
Royan kecil ingin menjadikan Yunifer sebagai mommynya dan memberikannya kasih sayang yang sempurna daripada digantikan oleh daddynya memerankan dua peran sekaligus.
Ketika semua orang asik menikmati drama yang dibuat Royan. Diam-diam Edward menggendong tubuh Adora ala bridal style lalu pergi ke kamar mereka. Bukan berarti Gerry dan Emily tak melihat, mereka terkejut lalu kemudian saling bertatapan dan tertawa.
"Menantu kita tak sabaran sekali," bisik Emily.
"Iya, sepertinya pembuatan cucu kita bukan proses lagi," timpal Gerry.
Benar saja setelah sampai di mobil. Mobil? iya mobil, Edward langsung mengendarai mobil sport berwarna putih itu ke rumah barunya yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai. Adora mendesah lega setelah mengabari orang-orang di ballroom hotel bahwa ia sudah dibawa lari suami tidak sabarannya.
Adora menatap kagum rumah yang akan ia tinggali dan akan ia bangun keluarga bersama Edward. Matanya kembali tertuju ke para pelayan yang telah berbaris rapi menyambut kedatangan tuan dan nyonya mereka.
"SELAMAT DATANG TUAN DAN NYONYA!!" sapa mereka menunduk kemudian tegak kembali.
Edward membantu menenteng gaun istrinya yang begitu panjang sampai ke kamar pengantin. Malam ini Adora harus ekstra bekerja melayani suaminya yang sudah tersenyum manis sambil memeluk dirinya.
__ADS_1
"Semangat Adora," gumam gadis itu mengundang tasa Edward.