Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
37


__ADS_3

"Kek, kenapa Dora di bawah ke sini?"



Pasalnya setelah sarapan tadi ia diajak sang kakek ke suatu tempat dan ternyata adalah perpustakaan di mansion inj yang begitu sederhana namun nyaman.


Levithen berjalan di depan Adora sambil menatap lurus ke depan. Setelah mereka berjalan sekitar tiga menit menyusuri perpustakaan sederhana itu, sebuah pintu berwarna putih dibuka.


Adora terkejut ketika ia berdiri di dekat jendela lalu menatap keluar sana. Taman bungan mawar yang begitu indah karena dirawat dengan baik, ia menelisik ke seluruh ruangan dan terdapat banyak fotonya di sana.


Foto ketika ia pertama kali berjalan, ia berulang tahun, saat memakai seragam sekolah, saat ia wisuda kuliah, saat ia pertama kali mengenakan jas dokter dan semua berkaitan dengannya.


Kakinya terdorong menuju ke meja di ruangan itu, tumpukan kertas berserakan. Coretan tinta di kertas itu membuat Adora mengerutkan alis merasa deja vu.


"Tulisannya seperti kenal?" gumamnya.


Matanya membola saat mengenali tulisan itu, tulisan di surat yang dikirimkannya pada saat di rumah sakit dan di saat ulang tahunnya.


Jadi selama ini yang mengirimkan surat padanya adalah kakeknya sendiri. Ia juga mengetahui sebuah fakta bahwa kakeknya tak pernah melepas pengawasan atas dirinya. Dari kecil sampai sekarang ia selalu dijaga tanpa ia tahu.


Levithen terkekeh melihat raut wajah sang cucu yang begitu menggemaskan, apalagi matanya yang melotot ke arah Levithen membuat ia semakin menggemaskan.


Heran juga, gadis berusia dua puluh enam tahun itu masih dilihat sebagai anak kecil oleh keluarga bundanya. Adora termasuk beruntung karena ia diratukan oleh semua orang yang ada di dekatnya.


Tak semua perempuan bisa sepertinya yang selalu dihargai dan dihormati.


"Kakek mengawasiku?"


"Bukan mengawasi, kakek menjaga dari jauh," balas Levithen mengelak.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Sudah waktunya kau mengetahui ini, kakek tak akan bisa terus-terusan menyembunyikan fakta kematian ayah dan bundamu," Adora kembali terkejut.


Apakah kematian ayah bundanya juga sudah direncanakan?


"Dulu kakek memiliki teman yang begitu baik, kita selalu bersama sampai memulai usaha dari nol. Berkat usaha kakek, kakek berhasil membuat perusahaan yang bergerak di bidang tekstil sampai terkenal di seluruh dunia. Asalnya kakek kira teman kakek itu memang baik tapi ternyata di belakang ia selalu berniat menjatuhkan kakek dengan berbagai macam cara rntahlah keberuntungan selalu memihak kakek," pria tua renta itu menghela napas sejenak.


"Ketika kakek sudah menikah dia berusaha mengambil nenekmu dari sisi kakek, tentu saja kakek marah waktu itu dan membalasnya dengan menarik saham kakek di perusahaannya. Tak hanya di situ, ia menjebak kakek lewat anaknya yang masih kecil dan hendak membunuh Audette kecil. Tentu saja anaknya dan Audette selamat."


"Siapa anak itu, kek?" tanya Adora penasaran.


"Lucas, ayah Casmu."


Lagi-lagi Adora terkejut, begitu lapangnya hati sang kakek yang mau merawat anak dari teman berkedok musuhnya. Tapi mendengar cerita Levithen, Lucas tak salah yang salah adalah ayahnya yang tega menjadikan dirinya sebagai jebakan.


"Kakek dengar terakhir kali perusahaannya hampir bangkrut karena ketidak kompentennya sehingga ia menikahkan anak laki-laki dari istri keduanya kepada seorang nona muda kaya raya, ia menyusun rencana pertemuan sampai kehidupan rumah tangga mereka. Setelah ia berhasil, dengan teganya ia memisahkan anak itu dengan istrinya," mengungkit masa lalu yang begitu pedih menurut Adora.


"Hari itu, hari di mana Robin, Audette dan kau akan pergi berlibur. Tanpa kami tahu salah satu pelayan di sini adalah mata-mata dan teganya dia menyabotase mobil yang kalian pakai, di perjalanan terjadi kecelakaan tapi syukurlah kalian selamat. Bukannya berhenti ia malah mengirim sebagian anak buahnya untuk mengepung kalian di waktu yang sama. Aku terlambat datang dan akhirnya sebuah beton menindih kaki ayahmu dan puluhan pisau bersarang di tubuh bundamu."


"Di-di mana ak-aku saat itu?" tanya Adora tak mampu menahan dirinya.


"Ayahmu, Robin menyembunyikanmu di semak-semak sekitar sana, saat kutemukan kau sudah pingsan," jawab Levithen berusaha merendam tangisnya yang semakin menjadi.


"Jika waktu itu kau tak disembunyikan...," Levithen tak mampu melanjutkan perkataannya jika teringat bagaimana tragisnya kematian putri dan menantunya.


"Jadi... hiks... kecelakaan itu bukan hiks... kecelakaan biasa hiks...," gumam Adora menutup wajahnya.


"Iya... kakek menyesal karena terlambat...," sekarang Adora tahu mengapa ia tak bertemu dengan kakeknya dua puluh tahun lamanya, ternyata karena rasa bersalah yang selalu menghantui.


Adora memeluk tubuh kakeknya yang mulai rapuh, menepuk-nepuk punggung yang bergetar itu.


"Ini bukan salah kakek, ini takdir dan ini juga karena terlalu banyak orang jahat di dunia ini," ucap Adora. "Hapuslah rasa bersalah itu pelan-pelan karena hanya akan ada penyesalan pada hati kakek, ayah dan bunda juga pasti tidak akan menyalahkan kakek."

__ADS_1


"Terima kasih," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Levithen.


Sejak tadi, Lucas berdiri mendengar tanpa keduanya sadari. Ia mengepalkan tangannya erat, ia masih ingat bagaimana kejamnya ayah kandungnya yang tega melemparkannya bersama Audette ke hutan belantara yang penuh dengan hewan buas.


Waktu itu hampir saja ia dan Audette dilahap habis oleh harimau. Berkat, ibu angkatnya sekaligus ibu dari Audette penjinak hewan buas mereka akhirnya selamat dan dia berakhir menjadi anak angkat Levithen dan menyandang nama Devine di belakangnya.


"Terima kasih mommy dan daddy karena kalian aku bisa merasakan manisnya kebahagiaan," gumamnya dengan wajah penuh senyuman lalu pergi meninggalkan kedua insan di dalam sana yang masih saling menghibur.


****


Adora dibuat kesal dengan kejahilan yang kakaknya lakukan. Evander kembali tertawa nyaring melihat wajah adora yang ditekuk sebab Evander yang memakan cakenya.


"Ish kakak!!!" teriak Adora memukul dengan punggung tegap kakaknya.


"Kwan akwu cwumwan mwinta sedikit," balas Evander sambil mengunyah.


"Telan dulu makanannya," seru Adora saat pria itu cegukan.


"Ututu adikku yang manis sedang mengkhawatirkanku," Evander mencubit pipi sang adik.


Setelah perdebatan sengit antara kakak beradik itu keduanya langsung berpindah ke ruang keluarga sambil menonton televisi sedangkan Evander sebagai asisten kakeknya memeriksa perkembangan perusahaan sang kakek. Walau ia hanya seorang asisten tapi kewenangannya terhadap perusahaan hampir setara dengan Levithen sendiri. Betapa sayangnya Levithen kepada Evander walau tak ada hubungan darah.


"Kakak apakah kau tak berniat menikah dan memberikan aku keponakan yang manis?" tanya Adora iseng.


"Aku sudah punya pacar tapi belum kukenalkan saja," jawaban tak terduga Evander membuaf Adora cukup terkejut.


Adora selama ini kakaknya ini anti perempuan ternyata ia bisa juga mencintai.


"Namanya siapa? astaga aku ingin bertemu dengannya!" seru Adora kesenangan.


"Jika ada waktu aku akan pertemukan kalian," Evander mengecup pipi Adora gemas.

__ADS_1


****


__ADS_2