Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
44


__ADS_3

Seusai pernikahan Adeeva dan Noah serta kegiatan mempromosikan produk baru milik perusahaan Athena. Athena dengan baik hati mengajak mereka untuk berlibur di kapal pesiar yang mewah, biasa CEO cantik dan kaya raya. Belum tahu saja dia jika diatas Athena masih ada Edward.


"Saya tahu diri." --Athena Catalina Ramona.


Liburan mereka kali ini tak sedikit yang meramaikan, si kembar, Zelleine, Yunifer, Edward, sahabatnya Edward, dan beberapa orang terpandang. Tentunya beberapa orang itu sudah booking duluan sebelum Athena. Untuk Evander dan Tarissa mereka sudah berbulan madu di Nepal.


"Yeayyy!! liburan liburan!!" teriakan Thania begitu melengking untuk ukuran anak berusia delapan tahun itu.


Thalita yang asik dengan IPadnya harus terganggu dengan kebisingan yang adik keduanya buat. Rasanya pengen ia tenggelamkan tapi wajah memyeramkan kakak dan mamanya lebih menyeramkan bahkan hantu saja kalah.


Jangan tanya Thalia dan Zelleine yang asik bergelut dengan buku. Apalagi Zelleine yang sok memakai kacamata padahal kacanya tidak ada, anehnya Thalia yang dari tadi mencibir juga memakainya saat disodorkan.


Di depan sana Edward menyetir sembari melirik sebentar gadis pujaan hatinya yang asik melamun. Mungkin bayang-bayang kepergian sang kakek dan ayah Casnya masih mengguncang sedikit psikisnya. Menurut diagnosis juga, Adora belum sepenuhnya pulih tapi keberadaan orang-orang di sekitarnya mempertahankan kewarasannya untuk sementara.


"Wuaaah!!! sudah sampai," kali ini suara Zelleine yang terangkat.


Kapal pesiar yang begitu megah menyambut kedatangan mereka. Dengan segera beberapa pesuruh mengangkut barang bawaan mereka semenit setelah mobil sport itu terparkir indah.


Adora dan Edward berjalan di belakang memantau empat anak kecil yang hiperaktif. Lelah sangat, batin keduanya serempak.


****


Sehari berlalu dan mereka masih berada di atas kapal pesiar. Adora berdiri di pembatas kapal sesekali menikmati hembusan angin yang meniup-niup rambutnya yang sengaja ia geraikan.


"Anak-anak jangan berlarian!" terdengar teguran keluar dari mulut Aluna.


Adora mengagumi kecantikan alami Aluna. Walau sudah memakai jilbab panjang dan abaya yang juga panjang tak melunturkan kecantikannya. Memang ia mendapat pertentangan dari berbagai media dan para penggemarnya, tapi tekad seorang Aluna sudah bulat. Managernya Zia bahkan mengundurkan diri dan mengikuti jejaknya masuk ke agama Islam.


Pada akhirnya Aluna berhenti dari dunia perfilman dan fokus untuk masa depannya. Menata untuk lebih baik ke depannya. Sahabatnya juga mendukung apapun yang ia lakukan. Bianca dan Yunifer juga mendukung.


Beralih pada Adora yang asik menatap kagum pada Aluna tidak menyadari keberadaan Edward yang sudah memeluk erat pinggangnya.


"Jangan melamun!" buyar sudah lamunan gadis itu.


"Dari mana?"


"Mengobrol bersama pengantin baru," jawaban Edward terkesan menyindir.

__ADS_1


Adora tahu pasti kekasihnya ini menyindir dirinya agar mereka cepat menikah. Huh enak saja, belum juga satu bulan.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, kau hanya perlu berdiri di sampingku dan mengucapkan janji pernikahan," bisik Edward melanjutkan ucapannya.


"Secepat itu?!" Adora terpekik kaget sampai mereka yang ada di lantai atas kapal menatapnya aneh.


"Ada apa lagi mereka?" alis Arabella berkerut.


"Edward menjahili dia mungkin," jawab Athena yang asik melarikan pandangannya dari tatapan mata seseorang di samping sana.


Brugh


Seorang menubruk kakinya sehingga tubuh Adora sedikit lagi akan menabrak lantai. Untung saja Edward sigap menahannya.


"Huwaaa daddy!!!" tangis anak lelaki kecil yang Adora taksir sekitaran tiga tahun.


Adora segera mengangkat anak itu tapi Yunifer jauh lebih cekatan. Ia memberi tatapan memelas pada Adora agar membiarkannya menggendong anak itu.


Anak itu mendonggak mendapati wajah manis Yunifer yang berusaha menghiburnya, ja tersenyum ceria.


"Tunggu... wajahnya...," pikiran empat gadis itu sama dan....


Seorang pria berusia tiga puluh dua tahun berlari dengan celana hitam panjang dan kemeja biru yang lengannya dilipat sampai siku. Pria itu mendekat dan hendak mengambil alih anak yang merupakan putranya.


Tapi anak itu menolak dan merengek meminta untuk tidak dilepaskan pada Yunifer. Yunifer tak tahu harus berbuat apa, langkah yang ia ambil hanya menepuk-nepuk pelan punggung mungil itu sambil menyenandungkan sebuah lagu.


Tak butuh waktu lama anak itu tertidur. Mungkin sekitar lima belas menit ia dinyanyikan lagu tidur. Adora menepuk pelan lengan Edward yang malah asik selonjoran sambil Zelleine yang duduk di pangkuannya. Keduanya hampir saja dibuat tidur.


Ternyata sejak kecil saat ibu mereka sudah sakit-sakitan Yunifer lah yang mengurus mereka dari pagi sampai malam dibantu sang kakek. Jadi, lagu pengantar tidur Yunifer begitu berpengaruh.


"Gendong Zelleine tidur di kamar," bisik Adora.


Ia masih ingin mengingat-ingat sajah pria itu. Pria yang sedari tadi menatap lamat Yunifer yang menidurkan anaknya. Yunifer ingin mengembalikan anak itu ke daddynya namun pelukannya terlalu erat.


"Maafkan saya... bisakah anda menjaganya sebentar," pinta pria itu.


"Baiklah...," walau ragu Yunifer menerima permintaan itu. Ia juga menyuruh agar seseorang menggendong Zelleine ke kamarnya dan orang itu adalah Rowan.

__ADS_1


Padahal sudah menggendong Zelleine tapi ia masih mampu menarik tangan Athena yang asik meminum jusnya. Arabelle menyuruh si kembar mengikuti mereka, ia ini sebenarnya posesif pada adiknya. Rowan belum ia seleksi baik-baik.


Pria itu duduk di salah sayu bangku memanjang yang kosong. Sampai ia mengedipkan matanya saat melihat Adora yang tak lepas tatapannya.


Edward yang masih dalam keadaan hah hoh hah hoh melotot tajam melihat tatapan intens Adora. Tangan besar Edward menutup mata Adora membuat gadis itu tak terima.


"Kak Rogerd!" pekik Adora, Arabella, dan Adeeva bersamaan membuat semua orang terkejut.


"Kak Rogerd sudah lama tidak bertemu," Arabella sudah memeluk tubuh Rogerd yang duduk mencerna kemudian tersenyum.


Adeeva berjalan santai, "Kak Rogerd lama tak bertemu bagaimana kabarnya?"


Rogerd tersenyum tipis, ia hafal betul di antara mereka berempat satu lagi kurang, Adeeva paling kalem dan dewasa selalu menjadi penengah.


Ia menunggu dua orang lagi tapi satunya tidak kelihatan. Melihat ke samping seorang gadis kerah bajunya ditarik ke belakang oleh orang yang Rogerd duga pacarnya.


"Huwaaa kak Rogerd...," ronta Adora.


Edward beralih memeluk pinggang ramping gadis itu. Enak saja gadisnya mau memeluk pria duda itu ia takut Adora kecantol. Padahal mah tidak sama sekali, nama di hati Adora hanya Edward Wellington.


"Dia pacarmu?" tanya Rogerd.


"Ya, calon suami lebih tepatnya!" jawab Adora antusias. Ia berhasil terlepas dari tangan Edward.


Yunifer sudah menjauh berkat suara berisik gadis-gadis itu sebab bisa membangunkan anak di pelukannya. Mommyable sekali.


"Kudengar kau sudah menikah, Adeeva?" tanyanya lagi.


"Ya, beberapa hari yang lalu," jawab Adeeva menggandeng lengan suaminya, Noah.


Ia memincing dengan tatapan mengejek pada Arabella yang sudah seperti cacing kepanasan, bergerak kesana kemari mencari alasan.


"Di mata kekasihmu?"


Arabelle menyengir, "Bel--"


"Aku."

__ADS_1


****


__ADS_2