
"Nyanya!" sentakan dari Viserra membuat Adora terkejut.
Wanita itu masih dalam keadaan memgantuk dan berusaha membuka matanya melihat anak keduanya berusaha mendekat padanya namun, tangan kekar tantannya menahan dirinya.
"Sst, Rara diam atau Sasa akan terbangun," tegur Edward pelan.
"Hng! mau nyanya," balas Viserra.
Edward mengangguk lalu menggendong Viserra menuju ke nyanya-nya yang tengah memeluk kakaknya. Adora merentangkan tangan mengambil alih Viserra dari tangan suaminya.
Veziano terusik me mendengar suara cempreng adiknya berdecak malas dan tanpa sengaja mundur dan mengenai Visenya.
"Huwaa... nyanya," tangisnya meledak.
Veziano linglung dan tak tahu harus berbuat apa. Melihat itu Edward cepat tanggap dan mengambil alih Veziano ke gendongannya dan mendekatkan Visenya ke Adora.
Cup!
Veziano memberi ciuman di pipi Visenya dan menepuk-nepuk pantat adiknya berharap adiknya kembali tertidur dan benar saja tak lama kemudian ia tertidur.
"Anak tantan pintar," Edward mengelus kepala putra tunggalnya.
Memang seperti ini kehidupan keluarga mereka, Viserra dan Visenya yang lebih dekat dengan nyanya mereka dan Veziano lebih dekat dengan tantannya. Veziano yang jutek bisa merengek manja pada Edward jika ia ingin sesuatu.
****
Pagi kembali menyinari dengan ditemani sinar mentari yang sayup-sayup kelihatan di ufuk timur. Kediaman Adora dan Edward sudah ribut sejak tadi berkat Visenya yang bangun lebih dulu.
"Nyanya," ia memanggil pelan Adora ketika tak melihat sang nyanya.
Edward segera menggendong putri bungsunya dan menenangkan gadis kecilnya.
"Sayang, nyanya sedang menyiapkan sarapan. Sasa tantan mandikan dulu ya," ujar Edward menghujami kedua pipi gembul Visenya dengan ciuman.
"Tantan...," Viserra dan Veziano berseru kompak.
"Ah kedua anak tantan yang ini juga sudah bangun. Ayo turun dan tantan mandikan kalian bertiga," ajak Edward.
Dengan dibantu kakaknya, Viserra berhasil turun dan berjalan keluar kamar dituntun Veziano mengambil handuk mereka.
Sedangkan Edward bersama Visenya yang tentunya di gendongannya menyiapkan air hangat untuk ketiganya. Bapak idaman sekali tuan Edward kita.
"Tantan! ayo mandi!" seru Viserra setelah tersadar dari acara ngantuknya.
__ADS_1
"Mbi... mbi oreee!!!" ini suara si kecil Visenya dengan tawanya.
"Ke sini!" suruh Edward. "Hati-hati."
Edward melepas semua pakaian anaknya dan segera membersihkan tubuh ketiga anaknya walau sedikit rewel. Dan ia berhasil, membalut tubuh basah mereka dengan handuk.
"Ayo hati-hati licin, tantan akan diamuk oleh nyanya jika kalian lecet," ujar Edward.
Veziano menuntun tangan adik perempuannya, Viserra dengan pelan.
Di ranjang sudah tersedia pakaian ganti ketiga anaknya. Edward mendandani ketiga anaknya, ini memang rutinitasnya selama beberapa tahun dan memiliki tiga buah hati hasil keringat mereka.
Veziano dengan seragam sekolah sekolah dasarnya, Viserradengan seragam TK-nya, dan Visenya dengan balutan gaun selutut pula berwarna violet. Tak lupa Edward sendiri sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Sayang....," kata-kata Adora terhenti melihat ketiga anaknya sudah rapi di tangan suaminya. "Waah anak-anak nyanya terlihat tampan dan cantik."
Edward menaikan sebelah alisnya, "Lalu bagaimana dengan suamimu?"
Adora mencubit hidung suaminya sembari terkekeh pelan. Masih cemburuan ternyata.
"Veziano siapa yang paling tampan setelah Zian?" tanya Adora sekaligus menggendong tubuh kecil putranya.
"Tantan! tantan sangat tampan nyanya!" serunya senang.
Di tangan Edward sudah ada kedua putrinya yang bergelayut manja di lehernya. Pemandangan di pagi hari yang menyegarkan para pekerja mereka.
Visenya beralih gendongan ke Adora sebab tantannya akan ke kantor, Veziano dan Vjserra ke sekolah. Edward dan kedua anaknya memberi kecipan untuk nyanya dan adik bungsu mereka lalu masuk ke dalam mobil.
Rumah kembali sepi setelah kepergian tiga orang itu. Adora belum bekerja di siang hari sebab shiftnya di malam hari, jadi ia menemani Visenya bermain. Sekedar pemberitahuan bahwa wanita itu sudah mandi.
"Sasa ayo jalan ke sini," suruh Adora melatih kakinya putrinya agar bisa berjalan.
Visenya memang tak seperti balita-balita yang lain yang baru beberapa bulan sudah bisa berjalan. Anak bungsu dari pasangan Adora Serafina Devine Miller dan Edward Wellington ini lahir secara prematur makanya mengalami sedikit keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
"Atih... atih," celoteh gadis kecil itu berusaha menggapai tangan Adora.
Di belakang Visenya terdapat seorang pelayan yang menjaga agar nona muda mereka tidak terjatuh.
Hap!
Adora lantas memeluk tubuh mungil Visenya kala Sasa-nya itu hendak jatuh. Visenya sendiri tertawa senang karena berhasil digapai nyanya. Adora sudah setengah jam membantu melatih Visenya untuk berjalan lalu membawa anaknya ke taman belakang menghirup udara segar.
Pohon-pohon yang ditanam menghiasi taman belakang kediaman mereka. Adora membiarkan Visenya merangkak di atas rumput tipis yang kering sambil sesekali menghentikan gadis kecilnya yang ingin mengunyah segala sesuatu yang ada di tangan mungilnya.
__ADS_1
Visenya mengangkat daun kering yang baru saja gugur, "Nya! mam!"
"Tidak sayang. Itu bukan makanan, itu daun," dengan perlahan Adora menjelaskannya.
Visenya menatap lamat daun yang ia pegang, "Aun?"
"Iya, daun yang jatuh dari pohon," jelas Adora lagi.
Visenya mendonggakan kepalanya guna melihat arah telunjuk nyanya-nya ke pohon rindang yang menaungi mereka dari panasnya sinar mentari.
"Aun ohon!" seru Visenya menggoyangkan kedua tangannya ditemani gelak tawa.
Adora menggigit bibirnya gemas melihat tingkahh Visenya. Rasanya ia pengen menggigit pipi bakpao Visenya yang memerah.
"Sasa kemarilah, panas matahari menyentuh kakimu," Adora membawa putrinya ke pangkuan.
"Ari?" Visenya menatap lama cahaya matahari yang sepertinya sudah semakin tinggi.
"Ma-ta-ha-ri," eja Adora dengan gerakan mulutnya yang begitu kentara.
"Ari!" seru Visenya kembali tertawa.
Adira mengangguk dengan senyum mengembang. Pipi gembul itu dihujami ciuman oleh Adora sampai Visenya harus mendorong kepala nyanya sebelum pipiny habis.
Hari semakin siang zan waktu sudah menunjukan bahwa Viserra sebentar lagi pulang sekolah. Adora segera bersiap-siap bersama Visenya untuk menjemput Viserra dan Veziano lalu meluncur ke kantor Edward.
****
Gadis kecil dengan rambut dikepang satu memegang erat tasnya sembari menggoyangkan kedua kakinya. Ia menoleh sebentar ketika melihat mobil berhenti di depan gerbang atau mengecek keberadaan kakaknya.
Di sampingnya seorang guru menemaninya dan teman-teman yang lain. Satu-persatu mereka sudah dijemput kini tinggal dirinya dan beberapa anak lainnya.
Tak lama kemudian, mobil sport berwarna biru navy berhenti. Ia berdiri dari duduknya dengan senyum mengembang, ia tahu pemilik mobil siapa itu.
"La!" seruan itu dari bayi kecil di gendongan Adora.
Iyap, yang menunggu tadi adalah Viserra.
"Selamat siang nyonya Adora!" sapa guru bernama Lily.
"Selamat siang juga bu Lily, terima kasih sudah memerhatikan anak saya," ujar Adora tulus.
Soal sekolah Viserra ini sekalian dengan sekolah Veziano yang digabung menjadi satu. Tingkat penjagaan dan kualitas sekolah ini nomor satu di California membuat Edward membayar mahal atas pendidikan kedua anaknya, berapapun akan ia keluarkan menyangkut keluarganya.
__ADS_1
Bahkan, beberapa anak buahnya ia tempatkan agar memantau keselamatan Viserra dan Visenya dan segera mengambil tindakan jika mereka dalam bahaya.
****