
Tak lama setelah itu datanglah seorang gadis yang memakai dress biru langit, Adora berdiri dari tempatnya dan menyapa gadis itu dengan seringaian.
“Selamat datang, nona!” sambut Adora.
“Untuk apa kau mengundangku ke sini?! Apa kau ingin aku menyaksikan kencanmu bersama pacarmu!” bentak gadis itu yang ternyata Aluna.
Charlie terkejut mendengar suara Aluna, ia menoleh dan tentu saja ia kembali terkejut begitupun Aluna. Charlie kembali menatap Adora dengan wajah penuh tanya, sayangnya Adora tersenyum miring menanggapi Charlie.
“C-charlie!” Aluna terkejut.
“Apakah kau mengenal Aluna?” tanya Charlie bersikap tenang.
“Duduk dulu, nona!” suruh Adora.
“J-jadi kau adalah pacar Dokter Adora,” Aluna tak percaya.
“Iya,” jawab Charlie dengan nada lirih.
Adora mengetuk meja dengan jari lentiknya, tatapan matanya begitu tajam. “Baiklah aku langsung saja ke intinya, mulai hari ini aku dan tuan Charlie resmi putus, tidak ada hubungan di antara kita lagi.”
Charlie kaget tentu saja, bagaimana bisa Adora mengakhiri hubungan mereka dengan sepihak.
“Tidak!” bentak Charlie sembari menggenggam tangan Adora.
“Astaga, tuan! Kau harus menjaga sikapmu di depan calon pacarmu! Ups, maksudku pacarmu,” ucap Adora dengan sengaja.
“K-kau sudah tahu semuanya?” tanya Charlie gugup.
“Ya! Semuanya tanpa ada terlewat satupun,” jawab Adora enteng.
“Charlie, kau bilang kau sudah putus dengannya?!” bentak Aluna.
“W-waktu itu aku...,” Charlie tak sanggup menyelesaikan ucapannya.
Adora menopang dagunya dan menonton pertengkaran Charlie dan Aluna, sungguh tontonan yang sangat menyenangkan. Bahkan diam-diam Adora merekam pertengkaran mereka, ia akan menunjukan kepada ketiga sahabatnya.
“Jangan bertengkar, kalian seharusnya malu bertengkar di depanku,” seru Adora.
Charlie akhirnya sadar ini adalah perbuatan Adora. Ia ingin menampar Adora namun tangan Aluna menahannya. Ternyata Adora sedang menunggu drama selanjutnya sesuai rencananya.
“Biarkan saja, Charlie, bukankah dia yang memutuskan hubungan kalian. Jadi, untuk apa kau marah?” Aluna mulai memainkan dramanya.
Charlie lalu menggandeng tangan Aluna dan mengelus pipi Aluna. Adora merasa ingin muntah menyaksikan adegan mesra di depannya.
Adora mengangkat tangannya berniat memesan, tak lama setelah itu seorang waiters menghampiri dan membagi menu pada Adora dan dua orang di depannya.
“Hmm, aku pesan ini, ini, dan ini,” ucap Adora memesan begitu banyak makanan. “Bagaimana dengan kalian? Pesan sebanyak yang kalian mau karena aku yang akan membayarnya.”
Aluna berniat mengerjai Adora jadi dia memesan banyak makanan agar uang Adora terkuras. Setelah kedua pasangan itu memesan, si waiters itu pun pergi membiarkan Adora dan pasangan itu. Adora kembali menopang dagunya dan menatap mereka berdua yang sedang bermesraan seolah-olah Adora hanya angin lalu.
Adora melihat ponselnya dan membaca pesan balasan dari sahabatnya setelah dia mengirimkan video pertengkaran Charlie dan Aluna tadi. Balasan dari mereka sungguh sangat membuat Adora ingin tertawa terbahak-bahak.
Diam-diam Charlie melirik Adora tanpa sepengetahuan orang yang ditatapnya. Mau bagaimana pun ia pernah menghabiskan waktu selama beberapa tahun bersama Adora,pastilah rasa cinta itu masih ada walaupun mereka sudah berpisah.
Tak lama kemudian, pesanan mereka bertiga sudah tiba. Adora melahap makanannya tanpa memerdulikan Charlie dan Aluna yang sengaja memanas-manasi dirinya, tapi Adora sudah bertekad untuk tak perduli, jadi dia abaikan saja sampai-sampai membuat mereka berdua kesal setengah mati.
Beberapa waktu berlalu, Adora sudah selesai dengan makanannya. Ia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya. Sekali lagi, Charlie dibuat terkejut dengan black card yang ada di tangan Adora, itu miliknya. Sejak kapan black card itu ada di tangan Adora. Sebenarnya beberapa waktu lalu ia mencari black cardnya itu.
“Terima kasih, nona kau sudah membantuku memesan dengan sangat banyak,” ucap Adora.
“K-kau!” tunjuk Charlie dengan amarahnya.
“Ck! Ini ku kembalikan kartumu, aku memang membayar dengan tanganku tapi bukan uangku, nona,” ujar Adora melempar black card itu pada Charlie.
Aluna terkejut ketika tahu bahwa uang yang ia pakai untuk memesan makanan sebanyak itu bukan milik Adora tapi milik Charlie, pacarnya. Charlie akan sangat marah karena pria itu sangat tidak suka uangnya dihamburkan.
“Dadah, aku pergi dulu, karena tugasku sudah selesai! Hahaha!” Adora berdadah ria lalu dengan gaya elegannya memakai kaca mata hitam tak lupa tawanya yang menggelegar.
Permainan sudah selesai sekarang Adora sudah bebas dan leluasa. Ia kembali berstatus single, sungguh menyenangkan. Malam ini menjadi saksi bahwa Adora sudah tidak akan kembali lagi ke pelukan Charlie si pria brengsek.
Ia mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat dimana sahabatnya telah menunggunya. Selama perjalanan Adora bersenandung kecil menikmati angin malam yang berhembus, ia juga langsung melepas sanggul di kepalanya dan membiarkan rambut coklatnya terbang terbawa angin.
__ADS_1
“Akhirnya kau sampai,” Adeeva menyambut Adora dengan pelukan hangatnya.
“Tentu saja, aku sudah selesai dengan urusanku,” balas Adora.
“Kau memang sangat luar biasa bisa bermain cantik, aku bangga,” Bella mengangkat jempolnya.
“Ya, kau memang Dr. Adora Serafina Miller, Sp. B(K), FACS, FACEP, FAAEM,” ucap Athena dengan menyebut gelar Adora di dunia kedokterannya.
Sontak Adora memukul kepala gadis itu. “Kau terlalu berlebihan!”
“Tapi kau memang hebat, Adora,” sahut Athena kemudian.
“Sudah sudah, ayo kita habiskan malam ini bersama!” ajak Bella dengan semangat menggebu-gebu.
Tadi siang mereka sudah berjanji untuk menghabiskan waktu semalaman di tepi bukit. Di tempat inilah mereka selalu bermain sejak kecil, Ayah dari Bella dan Athena membuatkan mereka rumah pohon di tepi bukit itu agar mereka bisa menginap di sini.
Dari rumah pohon itu juga bisa melihat indahnya bulan dan bintang pada malam hari, sedangkan di bawah rumah pohon itu terdapat hamparan bunga yang tumbuh liar. Mobil mereka tadi mereka parkirkan di sebuah villa milik orang tua kandung Adora. Pertanyaannya kenapa mereka tak menginap saja di villa?
Jawabannya, sudah sangat lama mereka tak mendatangi rumah pohon itu karena sibuk dengan cita-cita yang harus mereka gapai.
Adora dengan santainya merebahkan tubuhnya dan kepalanya berbantalkan paha Adeeva sedangkan Athena dan Bella tengah duduk membiarkan kaki mereka melayang di udara.
“Bagaimana kalau kita beryanyi?” tanya Bella.
“Hmm, boleh juga, aku akan memainkan gitarnya,” Adora berseru semangat.
Kini, Adora mulai memetik senar gitar dengan jari lentiknya diiringi dengan suara merdu ketiga sahabatnya. Bernyanyi dibawah sinar bulan dan bintang memang sangat menyenangkan, lebih menyenangkan lagi jika mereka bersama seperti ini. Rasanya begitu tenang karena jauh dari keramaian kota.
“Ayo berlibur!” ajak Adeeva setelah mereka sudah bernyanyi beberapa lagu.
Adora yang sedang asik bermain dengan Athena bertanya tanpa menoleh, “Kemana?”
“Ke Indonesia, aku pernah melakukan penerbangan kesana,” jawab Adeeva. Tidak lupa ‘kan kalau Adeeva adalah seorang Pilot.
“Aku pernah mendengarnya, bukankah negara itu yang selalu mencuri perhatian para turis asing?”
Adeeva mengangguk menjawab pertanyaan dari Bella. Bella pernah mendengarnya dari salah satu teman sesama artisnya yang juga berasal dari Indonesia, temannya itu selalu menceritakan keunikan Indonesia yang selalu membuatnya penasaran.
“Bagaimana denganmu, Bella?” Adeeva menatap Bella yang sedang melukis.
“Boleh juga,” jawab gadis itu.
“Baiklah, kita berempat akan berlibur ke Indonesia!” ucap Adora.
“Indonesia! Tunggu kami!” teriak Athena.
Walaupun mereka berada jauh dari kota tapi di dekat mereka ada jalan raya, ketika Athena berteriak membuat beberapa pengendara mobil maupun motor terkejut dengan teriakan itu.
“Ambillah cuti kalian dulu, setelah itu kita akan menentukan tanggal kepergiannya, okey?”
Ketiga sahabatnya mengangguk mendengar penuturan dari gadis berhijab itu. Sudah sangat lama mereka tak berlibur bersama-sama, mungkin enam tahun lalu.
“Ayo tidur! Ini sudah larut!” suruh Bella.
****
Sejak pertemuannya dengan Charlie semalam membuat Adora tampak tak fokus dengan apa yang dilakukannya. Sama seperti sekarang, ia hampir saja memotong jarinya jika Mamanya tak menghentikannya.
“Ada apa denganmu, sayang?” tanya nyonya Emily.
“A-aku tidak apa-apa,” jawab Adora.
“Apakah kau memikirkan pria itu?”
Pertanyaan nyonya Emily itu menyentak Adora, ia terdiam. Bukankah sudah seminggu berlalu dan ia sudah berjanji bahwa ia tidak akan menangisi perpisahannya dengan Charlie. Tiba-tiba setetes air mata membasahi pipinya, ia baru sadar ternyata selama seminggu ini ia terlalu memaksakan dirinya.
Memaksakan untuk tetap terlihat tegar dan berusaha terlihat baik-baik saja, kakinya yang sudah tak mampu menopang tubuhnya pun terjatuh. Nyonya Emily sangat khawatir dengan keadaan putrinya.
“Mama... hiks... hiks...,” ujar Adora.
“Mama tahu kau merasa terpukul dengan semua ini, bersabarlah, sayang,” tangan nyona Emily mengelus rambut Adora.
__ADS_1
“Aku hiks... terlalu berpura-pura hiks...,” ucap Adora.
Kini ia telah melanggar janjinya untuk tidak menangisi kepergian Charlie, untuk sekali ini saja ia ingin melampiaskan semuanya.
“Mengapa dia mengkhianatiku?!” ucap Adora histeris.
“Dia jahat! Hiks..., Mama aku hiks... masih mencintainya.”
Bagai tertusuk sembilu, nyonya Emily tak bisa tak merasa sedih menyaksikan anak sulungnya yang lemah tak berdaya. Ia tahu bahwa Adora sangat mencintai Charlie, dan masih ada rasa di lubuk hatinya tapi Adora harus berusaha untuk melupakan itu semua.
“Mama tahu kau masih mencintai dia, tapi berusahalah untuk melupakannya, anggap saja dia telah tiada,” ujar nyonya Emily.
“Tidak semudah itu, Ma! Mama pikir mudah melupakan orang yang kita cintai! Andaikan Mama bertukar posisi denganku maka Mama akan merasakan penderitaanku, itu tidak mudah!” bentak Adora.
Untuk pertama kalinya, Adora membentak sang Mama. Nyonya Emily sangat terkejut dengan bentakan putrinya, hatinya terasa sangat sakit. Selama ini masalah apapun yang dihadapi Adora, ia tidak pernah seperti ini.
“Hanya karena seorang pria yang sudah mencampakanmu membuatmu melampiaskan amarahmu pada Mama, Adora Serafina Miller? Mama tahu Mama egois menyuruhmu melupakan Charlie tapi ini demi kebaikanmu!” bentak sang Mama.
Adora bungkam, hanya pria brengsek itu ia berani membentak Mamanya sendiri. Ia sudah gila dan menjadi anak durhaka. Adora tak memerdulikan sang Mama dan langsung berlari pergi ke kamarnya. Nyonya Emily memijat pelipisnya karena merasa pusing dengan perubahan sikap Adora.
“Biarkan saja dia sendiri dulu,” monolognya lalu melanjutkan aktifitasnya untuk memasak.
Di sisi lain, Adora duduk di tepi ranjang sambil termenung, entah apa yang merasukinya sehingga ia berani bersikap kurang ajar pada Mamanya. Kata-kata Mamanya itu benar, ia seharusnya berusaha melupakan walau itu terlihat tak mudah, ini demi kebaikannya.
‘Apa mungkin aku berubah? Hanya karena pria itu aku berubah? Aku sangat bodoh! Bodoh! Bodoh! Kau gadis bodoh!’ Adora bergulat dengan batinnya sambil tangannya menjambak rambutnya sendiri. Ia terus memaki-maki dirinya sendiri.
Tok tok tok
Adora hanya menatap nanar pintu kamarnya tanpa berniat membuka pintu itu. Dari luar tuan Gerry yang baru saja tiba karena mendengar istrinya yang sangat khawatir pada Adora sejak kejadian tadi.
“Adora, Papa akan masuk!” ujar tuan Gerry segera membuka pintu kamar putrinya.
Terlihat Adora yang berpenampilan berantakan tidak seperti biasanya yang selalu tampil rapi. Tuan Gerry menatap sendu putrinya, ia menghampiri Adora dan membawa gadis itu ke pelukannya.
‘Maafkan aku Kakak, aku tak becus menjaga putri kita, ini kelalaianku,’ batin tuan Gerry menahan tangis.
“Papa...,” suara Adora begitu lirih.
Gadis itu memeluk erat sang Papa dan menangis dalam pelukannya. “Maafkan aku....”
“Menangislah,” suruh tuan Gerry.
Selama beberapa menit larut dalam kesedihan, Adora sudah agak baikan sekarang. Tuan Gerry tersenyum sendu lalu menghapus air mata putrinya. Ia menyuruh Adora duduk di depan maja rias putrinya lalu merapikan kembali rambut putrinya yang sudah amburadul. Adora tersenyum, kali ini air matanya kembali menghujami pipi.
Ia terlalu sibuk dengan yang lain sampai melupakan cinta pertamanya yang sedang berdiri di belakangnya itu. Charlie hanyalah cintanya yang kedua, sedangkan Ayah dan Papanya adalah cinta pertamanya, mereka yang selalu berada di sisi Adora, yang mengobatinya ketika dia terluka, yang menghiburnya ketika ia menangis.
“Lihatlah putri kecil papa yang sudah tumbuh dewasa ini, bukankah dia sangat cantik,” tuan Gerry memandang pantulan sang putri di cermin dengan wajah bengkak.
“Terima kasih, Papa,” Adora berbalik dan memeluk tubuh tegap sang Papa.
“Kau harus semangat!” seru tuan Gerry mengangkat tangan kanannya yang terkepal.
Adora tertawa lalu melakukan persis seperti yang Papanya lakukan, kemudian keduanya tertawa. Adora sangat berterima kasih karena pada Papanya karena bisa membuatnya kembali tersenyum disaat ia sedang sedih.
“Mama iri,” ujar nyonya Emily yang baru masuk.
Sejak tadi dia sudah berdiri di depan kamar Adora dan mendengar pembicaraan Suami dan putrinya itu. Ia tak ingin putrinya berlarut-larut dengan kesedihan.
“Mama!” lantas Adora berhambur ke pelukan wanita itu. “Maafkan Adora karena sudah membentak Mama.”
“Mama sudah memaafkan kamu, sayang. Mama tahu kamu hanya bersikap seperti itu karena emosi sesaat,” ujar sang Mama.
Tak lupa juga tuan Gerry juga ikut memeluk istri dan putrinya, Adora merasa malu karena tidak menyadari bahwa ada yang selalu ada untuknya yang tidak pernah meninggalkannya walau sebesar apapun itu kesalahannya.
“Aku ikut!” seru tiga gadis kembar yang baru saja pulang sekolah.
Akhirnya keluarga harmonis itu saling berpelukan dan memberi semangat satu sama lain. Sampai kapanpun, keluarga akan selalu berada bersamamu walau apapun yang kau lakukan. Mereka yang akan menemanimu, menjaga dan melindungimu.
“Sudahi pelukan kita ini dan ayo turun makan!” titah nyonya Emily.
“Mama, kami baru saja bergabung,” rengek si kembar yang masih mau berpelukan seperti ini.
__ADS_1
Merasa tak puas, Adora meledek ketiga Adiknya sehingga terjadi aksi kejar-kejaran di rumah itu. Lain anak-anak lain juga dengan Papa mereka yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan, ia menggendong sang istri ala bridal style menuju ke ruang makan. Begitulah keharmonisan mereka.