
Suara riuh terdengar begitu jelas di area syuting yang terletak di sekitar hutan. Tak jauh dari sana ada sebuah rumah tempat para artis dan staff beristirahat.
Bella, Aluna dan Ronan sedang berbincang mengenai apa saja yang lewat di benak mereka.
"Kapan kau akan menikah dengannya?" tanya Ronan pada Aluna.
"Maksudmu Charlie?" bukannya menjawab Aluna malah kembali bertanya.
"Iya, memangnya siapa lagi pacarmu kalau bukan dia?" tukas Bella kesal.
"Hehe, aku tidak tahu. Aku sudah pernah mendiskusikan tentang hal ini padanya akan tetapi ia tak menanggapi, beberapa hari belakangan ini ia juga jarang menemuiku," jelas Aluna.
Ronan yang mendengar itu merasa emosi. Demi pria itu saja Aluna rela meninggalkan orang yang menyayanginya.
"Aku berharap semoga hubungan kalian selalu baik-baik saja," ujar Bella.
Mau bagaimanapun Aluna sudah menjadi sahabatnya dan sudah ia anggap saudara. Ia tak mau juga jika Aluna di khianati seperti Charlie mengkhianati Adora.
"Terima kasih," ucap Aluna tulus.
Setelah berbincang cukup lama, Aluna pun pamit pulang karena hari ini ia sudah berjanji akan memasakan makanan untuk Adora yang sudah menghantuinya sejak kemarin.
Sesampainya di tempat parkir, Aluna segera naik ke mobilnya. Namun, tak di sangka ada orang lain di mobilnya.
"Siapa kamu?!" tanya Aluna sarkas.
Ia sudah mengunci mobilnya sebelum pergi lalu mengapa ada yang bisa masuk ke mobilnya. Sepertinya mereka adalah pencuri.
"Kau tak perlu tahu aku siapa!" setelah berkata begitu, pria asing itu langsung membekap hidung dan mulut Aluna menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Aluna yang awalnya sudah memberontak kini tak sadarkan diri karena reaksi obat bius yang sudah bekerja.
Hari ini adalah hari sial Aluna, tempat parkiran sangat sepi karena para staff sedang beristirahat. Mak, tak ada yang melihat hal yang menimpa Aluna saat ini.
Tiba-tiba muncul sebuah mobil berwarna putih. Pemilik mobil putih itu menyuruh rekannya untuk memindahkan Aluna yang sudah pingsan ke mobilnya. Taka lama setelah itu mereka pergi begitu saja membiarkan mobil Aluna yang pintunya terbuka.
Di sisi lain, Bella sedang duduk menyesap minumannya dan matanya menemukan bros kesayangan Aluna. Bros dengan ukiran bulan itu terjatuh di samping sofa, ia mengambil bros itu.
"Pantas saja tadi ia panik mencari bros ini," gumam Bella.
Ronan yang baru saja dari toilet melihat gadis itu sedang memegang sesuatu.
Dia pun bertanya, "Apa itu?"
"Astaga, kau mengejutkan aku!" kesal Bella.
"Maaf, tapi apa itu?"
"Ini bros kesayangan Adikmu, apa kau tidak tahu? dia kehilangan ini tadi," jawab Bella.
Ronan mengangguk lalu kembali bertanya saat melihat Bella keluar dari ruang istirahat. "Mau kemana?"
__ADS_1
"Menyusul Aluna, mungkin saja ia belum pergi," jawab Bella lalu pergi begitu saja.
Bella menyusuri jalanan yang penuh dengan tumbuhan liar iti dengan bersenandung riang. Langkahnya terhenti ketika melihat pintu mobil Aluna terbuka.
"Kemana dia?" tanya Bella ketika tidak melihat sosok Aluna.
"Aluna!! Aluna!! Luna!!" Bella berteriak memanggil nama gadis itu.
Beberapa menit terlewat namun, tak ada sahutan sama sekali. Pikiran Bella mulai melayang membayangkan apa yang terjadi pada Aluna. Detik berikutnya ia di hampiri oleh semua orang yang mendengar teriakannya.
"Bella? ada apa?" tanya Sutradara yang bernama pak Li.
"Iya, mengapa mau berteriak memanggil nama Aluna? bukankah dia sudah pulang?" timpal Ronan.
Bella panik dan menjawab, "Aluna hilang, tadi ketika aku ke sini, aku melihat pintu mobilnya terbuka tapi tak ada dirinya, setelah kulihat-lihat hanya ada pisau ini yang jatuh."
Mendengar kabar itu, Ronan langsung merebut pisau dengan lambang tengkorak. Ia sepertinya kenal denfan lambang ini.
Semua orang panik mengetahui bahwa Aluna hilang. Bella segera menenangkan mereka dan juga ia berkata bahwa jangan dulu memberitahukan hal ini pada Polisi. Ia yakin jika mereka melibatkan Polisi dalam hal ini maka keadaan Aluna dalam bahaya apalagi mereka tak tahu apakah Aluna benar-benar di culik atau memang ia sengaja meninggalkan mobilnya di sini.
"Kau tunggu di sini aku akan menelepon Noah untuk melacak keberadaan Aluna," suruh Ronan.
"Baiklah," jawab Bella akhirnya.
Tanpa menunggu lama Bella segera menelepon Adora untuk mengabarkan hal ini padanya.
"Halo Adora!"
"Gawat! Aluna diculik!"
"Jangan bercanda, Bella. Apa kau sedang tidak ada bahan bermain sampai ingin membohongiku?"
"Dasar bodoh! aku tak bercanda!" marah Bella.
"Bagaimana bisa? baiklah, apakah sudah melacak keberadaannya?"
"Tuan Noah sedang melacaknya, kau segeralah bersiap karena musuh kali ini mungkin tak bisa di anggap remeh."
"Baiklah, aku tutup telepon ini, aku juga akan mengabarkan pada Athena dan Adeeva."
"Hmm."
Setelah sambungan telepon terputus, Bella kemudian menyuruh seorang staff untuk mengantar mobil milik Aluna ke rumah Ronan dan Rowan.
****
"Apakah kau sudah menculiknya?"
"Ya, Tuan! dia ada di ruangan sebelah."
"Bagus, kau boleh pergi! aku akan memanggilmu ketika sudah saatnya!"
__ADS_1
"Baik, tuan!"
Seorang pria dengan tubuh kekar di padu dengan seringaian licik itu terlihat sangat bersemangat karena ia bisa menghancurkan kehidupan musuhnya secara perlahan-lahan.
"Hahaha!" suara tawanya menggema di ruangan yang gelap gulita itu.
Di tempat lain tepatnya ruangan sebelah pria tadi terdapat seorang gadis cantik yang di ikat seperti binatang.
Rambutnya kini basah begitu pula baju yang dipakainya, bahkan pakaian dalamnya terlihat membuat siapapun merasa ingin mencicipi tubuh gadis itu.
'Di mana ini?'
Pertanyaan itu yang ia tanyakan ketika melihat ruangan gelap dan kotor itu. Tiba-tiba saja ada yang mencengkram dagunya dengan kuat, detik berikutnya mata gadis itu terbelalak sempurna melihat pria di depannya.
"Charlie!" seru Aluna dengan mata berbinar.
"Ya, sayang," jawab pria yang ternyata Charlie itu.
"T-tolong aku!" Aluna terlihat ketakutan.
Charlie tersenyum licik lalu tertawa terbahak-bahak menanggapi permintaan Aluna yang terlihat menyedihkan.
"C-charlie?"
Charlie berdiri dan melambaikan tangan pada Aluna, ia juga menyuruh anak buahnya untuk menyiram Aluna dengan air dingin.
"Charlie," panggil Aluna dengan suara yabg mulai melemah.
Tanpa menoleh Charlie pergi begitu saja sehingga membuat Aluna tak percaya.
"Kenapa? bukankah kau pernah mengatakan kalau kau mencintaiku, kenapa kau melakukan ini semua?"
"Hahaha, kau kira Bos benar-benar mencintaimu? dia hanya memperalatmu untuk mendapatkan tujuannya," tawa anak buah Charlie begitu riang.
Byur!
Aluna tersenyum tipis mendengar perkataan mereka, ternyata selama ini perasaannya yang tulus hanyalah sebuah permainan. Ia kira dengan meninggalkan Edward maka ia bisa mendapatkan yang lebih baik dari pria itu ternyata yang ia dapatkan hanyalah sampah.
"Maafkan aku...," ucapnya lirih sebelum pingsan kembali.
"Astaga, mengapa ia sudah pingsan? padahal siksaannya cuman segini?"
Anak buah Charlie menatap liar tubuh Aluna yang terekspos begitu saja walau masih tertutup dua lapis pakaian.
"Andai saja Bos mengizinkan kami menyentuh tubuh itu, maka aku akan sangat bahagia."
Setelah berkata seperti itu, mereka pergi begitu saja meninggalkan Aluna yang mengigil kedinginan.
****
Mohon dukungannya🥰
__ADS_1