
Tiga orang pria menatap risau pada seorang gadis yang tengah diperiksa oleh dokter. Belum ada tanda-tanda ia akan sadar dari pingsannya.
"Apakah Dora-ku baik-baik saja?" sergah Levithen cepat.
Setelah mendengar penjelasan sang dokter yang mengatakan bahwa Adora kelelahan dan keterkejutan tentang maaa lalu orang tuanya membuat serpihan ingatan secara beruntun itu berakibat pada pikirannya.
"Dora-ku...," Levithen takut sangat takut jika saja hal yang menimpa putrinya kembali terjadi pada cucunya.
"Daddy, daddy harus istirahatlah dulu. Dora biar Samara atau Evan yang jaga," saran Lucas.
"Tapi...," Levithen dengan tatapan sayunya menggeleng pelan.
"Ayolah kakek, kakek sudah tua sudah bau tanah dan bisa terkena penyakit jika tidak banyak istirahat. Evan yang akan jaga adik," usir Evan tak halus.
"Anak ini, ck," Levithen berdecak kesal kemudian menuruti kemauan cucu laki-lakinya.
Dengan diantar oleh putranya menyisakan Evan dan Samara beserta Adora yang masih nyenyak dalam tidurnya.
***
"Hiks.... bunda...," isak tangis Adora setelah terbangun dari mimpi panjangnya.
"Maafkan Dora karena melupakan bunda hiks... bunda... ayah...," tangisnya semakin menjadi-jadi.
Malam sudah begitu larut, Adora menahan tangisnya agar tak membangunkan semua orang tapi ia gagal, seorang pria yang sedari tadi menunggunya bangun sampai tertidur terusik.
"Astaga, Dora! apa yang terjadi? apa Dora mimpi buruk? hmm?" Evander panik setengah mati.
Dengan sigap ia membawa tubuh mungil yang bergetar itu ke pelukannya. Ditepuk-tepuklah punggung sang adik sambil membisikan penghiburan.
Bukannya berhenti Adora malah semakin menangis membuat Evander yang sedari tadi siang menemaninya kelabakan. Evander begitu terkejut ketika Adora membalas pelukannya begitu erat dengan wajah ditenggelamkan ke dadanya.
"Kakak...," dunia Evander terasa dijeda sementara mendengar satu kata yang keluar dari mulut sang adik.
"Kau memanggilku?" tanya Evander tak pasti.
"Kak Evan, aku merindukanmu... aku sangat kejam karena melupakanmu," deras kian mengucur air mata si gadis.
"Tidak, kau tidak kejam sayang. Hanya dunia yang terlalu kejam memisahkan kita berdua," dengan sendu Evander berucap.
"Padahal kakak bisa membenciku yang seenaknya melupakanmu," Adora akhirnya mendonggak dengan mata sembab, menatap penuh kasih pada sang kakak.
Tangan Evander mengelus kepalanya, "Kakak tidak bisa melupakanmu karena kamu adalah adik kakak tersayang. Lagi pula kecelakaan yang menimpamu itu yang membuat kau kehilangan sebagian ingatanmu."
Adora kembali menjatuhkan diri ke pelukan hangat seorang kakak yang selalu ia tunggu. Tapi, ternyata ia benar-benar melupakan bahwa ia mempunyai seorang kakak yang begitu menyayanginya.
__ADS_1
"Apakah... kakek akan membenciku?" pertanyaan Adora berhasil membuat dua orang yang baru masuk setelah mendengar kabar bahwa ia sudah sabar menghentikan langkah mereka.
"Dora...," Levithen hanya memanggil tak mampu bergerak, ia seakan terpaku pasa bumi.
Melihat kedatangan kakeknya, Adora melepas pelukan kemudian bangkit dan menubruk tubuh renta sang kakek. Dihiruplah aroma yanv menguar dari tubuh tua itu, aroma kesukaannya sampai selama ini.
"Kakek.... maafkan cucumu yang... durhaka ini... Dora nakal dan melupakan kakek," tangis Adora semakin menjadi-jadi.
"Tidak jangan meminta maaf, kau tidak salah. Yang salah di sini adalah kakek karena ridak mampu menjaga keluarga kakek."
Levithen mengusap air mata cucunya, "Andai saja waktu itu kakek datang sedikit lebih cepat maka kita akan hidup dengan harmonis dan kau tidak akan terpisah dari kakek."
"Kau tidak merindukan paman, nak?" Lucas iseng bertanya agar Levithen jangan dulu menceritakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya.
Mungkin saja setelah dihantam ingatan masa kecilnya secara beruntun membuat fisik Adora akan sangat lelah terlepas dari profesinya sebgaai seorang dokter.
Adora memeluk Lucas, anak angkat sang kakek yang selama hidupnya selalu menjaga bundanya.
"Terima kasih karena kalian tidak membenci Dora yang sudah tega melupakan kalian," gadis itu berbicara dengan menunduk yak mampu menatap wajah mereka karena terlampau malu.
Levithe menampung pipi Adora di kedua tangannya. Mata biru itu menatap dalam netra Adora.
"Kami tak membencimu sama sekali dan jangan berterima kasih. Mau kau melupakan kami sekalipun kami akan selalu mengingatmu, Adora."
Bagaimana bisa? Ia melupakan keluarga yang begitu dekat dengannya.
Ia menarik selimut sebatas dada kemudian mengecup pipi putri dari sang adik yang sudah ia anggap adik.
"Tapi," Adora hendak menolak akan tetapi tatapan memohon dari ketiga pria itu membuat ia tertawa pelan.
"Besok kita lanjutkan acara temu kangen ini, karena fisik dan pikiranmu lebih penting, sayang," Lucas berujar.
Setelah kepergian ketiga pria itu, Adora meraba nakas dan menggenggam ponselnya.
Edwarddddd:
Sayang!!! mengapa tidak menjawab telponku?
Apa kau baik-baik saja?
Sayang
Apa kau sudah melupakanmu?
Hiks...
__ADS_1
Kau jahat
Adora.... Dora nakal
Telepon aku atau aku akan melacak keberadaanmu sekarang!
Adora lantas menelpon sang kekasih, belum berlalu detik itu telepon tersebut diangkat oleh orang di seberang.
"Hiks... kau melupakanmu?!"
Adora menjauhkan ponselnya dari telinga saat Edward terisak sambil nadanya naik satu oktaf.
"Hiks... aku akan... mencarimu...," masihbdalam keadaan terisak Edward berkata.
Hanya tawa pelan Adora yang terdengar membuat bunyi bising di seberang, Adora yakin sekali itu suara bantal yang ditinju atau dipukul. Kembali Adora meledekan tawanya, kali ini semakin keras. Sedetik kemudian ia mengatupkan mukut rapat, bisa-bisa ia dikira kesurupan.
"Jangan hiks... tertawa hiks...," kali ini terdengar cegukan.
"Ya ampun, Edward aku kira kau gentleman!" desis Adora tajam.
"Aku hanya begini padamu! Di mana kau sekarang?!"
"Di rumah kakekku, ceritanya panjang."
"Tapi hiks... kau baik-baik saja...?"
"Ya aku baik-baik saja, kau juga jaga diri baik-baik sampai aku kembali."
"Apakah pernikahan kita ditunda dulu?" Edward masih terisak pelan.
"Maafkan aku tapi sepertinya begitu, atau jika kau mau kita percepat saja," saran Adora.
Tak tahu saja Adora jika Edward sudah mengembangkan senyumnya kala Adora berucap seperti itu.
"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu. Lagi pula pasti kakekmu sangat merindukanmu. Nikmatilah saktumu di sana, sayang," tak mungkin Edward yang sudah tahu permasalahan kecil keluarga Adora malah memisahkan kembali mereka hanya keegoisan dirinya.
"Benarkah?!" tak percaya, Edward itu keras kepala dan selalu ambisius.
"Ya, aku tidak ingin kau berpisah kembali dengan mereka."
"Terima kasih sayangku."
Padahal Adora berpikir Edward akan mempercepat pernikahan mereka. Tapi ternyata tidak, pria itu masih memikirkan dirinya. Ah, Adora sangat bahagia karena sosok Edward yang pengertian. Malam itu keduanya terus bercengkerama sampai keduanya tidur tanpa mematikan sambungan telepon.
Samara membuka pintu untuk memastikan apakah nona muda mereka sudah tertidur atau belum. Ia terenyuh melihat wajah yang sangat mirip dengan Audette itu.
__ADS_1
***