Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
38


__ADS_3

Sudah terhitung hampir sebulan Adora tinggal bersama kakeknya yanpa mengkhawatirkan pekerjaannya sebagai soerang dokter. Levithen benar-benar mengurus semuanya dengan baik dibantu oleh cucu menantunya, Edward.


Terkadang Gerry san keluarga yang lain datang mengunjungi dirinya. Ada pula Evander yang sudah membawa pacarnya ke rumah untuk dikenalkan kepada keluarga, Adora yang paling antusias menyambut kakak iparnya.


"Akhh bosan!" teriak Adora sampai menggema di penjuru kamar.


Belum sempat ia merasa tenang, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari lantai bahwa. Adora was-was lalu segera berlari ke bawah.


Terlihat semua bodyguard di mansion menghadang beberapa orang berpakaian hitam di depan sana. Para pelayan kocar-kacir melindungi diri.


Tanpa Adora tahu seseorang di belakangnya, tapi jangan salah sangka insting Adora bak macam betina. Ia dengan sekali gerakan membanting tubuh pelayan pengkhianat itu dari anak tangga kelima di bawah. Bunyi tulang beradu terdengar memuaskan.


Karena sebulan cuti membuat sisi gelap Adora ibaratkan sebagai setengah psychopat itu kembali hadir. Ia berjalan dengan santai meraih sebuah guci mahal di samping tangga, gadis itu mengangkat guci itu lalu dibantingnya ke lantai hingga menimbulkan suara yang sangat keras.


Berjalan sambil menenteng pecahan guci itu ia mulai melawan satu-persatu anak buah musuh kakeknya. Ia tahu akrena tak mungkin tak ada angin tak ada hujan mansion Devine di serang.


Begitu bringasnya Adora menancapkan ujung guci yang pecah dan tajam ke kepala, perut dan kaki lawannya membuat mereka yang melihat terkejut dan tak mampu berkata. Darah mencecer di mana-mana.


"Audette sekali dia," gumam Levithen dan Lucas saling bertatapan lalu tertawa.


PRANG!!!


Jendela kaca ditembak secara terus-menerus sehingga banyak peluru menewaskan pelayan di sana. Adora marah dan langsung meraba kantongnya, siapa bilang ia tak persiapan. Kantongnya sudah ia selipkan pisau lipas kesayangan yang terus ia asah.


Andaikan pisau itu ditempelkan dengan perlahan ke jari. Seseorang masuk dengan ratusan anak buahnya membuat mereka semua kelimpungan. Mata Adora tidak tertuju pada orang itu tapi orang yang diam di belakang mereka semua.


Ia dengan tatapan kosong dan raut wajah datar tak berekspresi membuat senyum tercetak jelas di bibirnya.


Srek!


Dengan santainya Adora mencabik-cabik tubuh lawannya bahkan wajah mereka sudah tak terbentuk. Ia melihat di sana kakeknya, ayah casnya dan kakaknya juga membantu dirinya melawan mereka yang menang jumlah.


Lucas yang pernah memegang kendali sebuah gangster sudah menelpon teman-temannya untuk datang menolong. Para bodyguard sudah ditumpas habis menyisakan mereka berempat dengan luka. Beberapa pelayan sudah diselamatkan karena mereka adalah orang-orang yang tidak boleh terlibat walaupun loyalitas mereka terhadap keluarga Devine tak usah diragukan.


Sriiing

__ADS_1


Adora berjalan menyeret sebuah katana yang terpajang di ruang keluarga. Dalam sekali tebas ia membuat kepala dan badan wakil ketua orang-orang bajing*n tadi terpisah.


"Berani sekali kau ingin membunuh kakak kesayanganku?" geram Adora menendang kepala tak bernyawa itu sampai menggelinding ke depan seseorang yang diam memperhatikan.


Mereka tersisa 30 orang, mau bagaimana lagi? empat orang setara dengan puluhan orang apalagi gadis satu-satunya di antara mereka yang sangat iblis.


"Kakak!" Lucas berseru marah dengan urat menonjol.


Adora menautkan alis tak mengerti, apakah orang yang Lucas maksud adalah kakak tirinya yang selalu menjadi boneka ayahnya sendiri.


"Kau begitu bahagia ya adik," orang itu menodongkan senjata. Tak ada binar di matanya, hanya kekosongan yang Adora tangkap.


"Turunkan pistolmu, bastard!" bentak Levithen menghadang di depan tubuh Lucas.


"HAHAHA dasar pak tua sialan! dia bukan anakmu, dia hanya anak yang kau pungut!" orang itu akhirnya menunjukan emosinya.


Dor!


Ia melepas satu tembakan dan peluru itu berhasil bersarang di dada kiri Levithen. Mulut pria tua itu mengeluarkan darah, ia tidak tumbang berusana melindungi anak laki-lakinya, dulu ia gagal melindungi anak perempuannya kini ia tak mau gagal lagi.


"Kakek!!"


Mereka berlari mendekat, Adora segera melakukan pertolongan pertama tapi ia tahu ia agaknya percuma sebab bisa saja peluru itu menembus terus ke organ vital kakeknya. Ia tak mau kehilangan lagi, tidak!!


"Uhuk!!" batuk Levithen dengan wajah terkejut. Apakah ini akhirnya?


"Ah drama apa ini? membosankan sekali?!" bentak orang tadi marah.


"Sialan!! Kau pria sialan!!!" maki Adora dengan mata berlinang.


Orang itu tersentak melihat air mata turun deras dari mata Adora mengingatkan ia akan dirinya di masa lalu yang tega meninggalkan dua putrinya dan satu putra.


Ia benci tangisan wanita, benci sangat benci.


Memejamkan matanya setelah membidik salah satu dari tiga di antara mereka yang masih baik-baik saja mengabaikan Levithen yang napasnya mulai satu dua.

__ADS_1


Dor dor


Kali ini dua tembakan dilepas mengenai kepala dan perut Lucas. Adora yang menjerit paling keras, ia berteriak memanggil nama ayah dan kakeknya.


Evander diam, Evander hanya mampu menangis. Ia lemah memang sangat lemah karena pengecut tak bisa melindungi ayah dan kakeknya. Dulu bunda dan ibunya sekarang dua orang penting lainnya ikut direnggut darinya pula.


"Jangan menahanku pergi," cegah Lucas saat Adora hendak melakukan pertolongan pertama seperti Levithen.


"Tidak! aku masih ingin ayah Cas!" marah Adora ingin melawan.


"Kumohon jangan... aku merindukan mommy, Audette dan tentunya istriku, Evan sayang jagalah adikmu karena setelah ini tak ada ayah Casnya lagi...," keadaan Lucas paling parah.


"Iya ayah...," hanya itu yang bisa Evander ucapkan. Dia memberikan kecupan terakhir di dahi sang ayah yang selalu merawat dirinya.


Dikecup pula punggung tangan yang selalu memberi tepukan semangat padanya.


"Ayah...," suara Adora terendam oleh tangisannya.


"Ayah mencintai kalian berdua, bahagialah," hanya itu yang mampu Lucas ucapkan. Lucas beralih menatap Levithen yang menatapnya tajam.


"Bodoh! dengan aku pergi kau bisa menjaga mereka tapi apa ini?!" bentak Levithen.


"Terima kasih... sudah mau mengangg...apku an...ak," detik itu pula Lucas menghembuskan napas terakhirnya.


"Evan, ketahuilah perusahaan sudah kubalik namanya menjadi namamu karena Adora tak mau meneruskannya, aku tak merasakan sakit yang berarti. Aku harus meninggalkan kalian berdua karena Tuhan memanggilku dahulu, aku pergi dan aku mencintaimu," setelah mengucapkan salam perpisahannya Levithen ikut menyusul Lucas ke alam yang berbeda.


"Hiks... kakek... ayah... hiks...," Adora membanting kepalanya ke lantai dan mencengkeram erat dadanya. Pedih!


Evander menghentikan aksi kejam adiknya dan membawa adiknya ke pelukannya. Kini ia harus melaksanakan wasiat kakek dan ayahnya. Tersisa Adoranya.


"Kakak," Evander berusaha menahan air matanya karena jika ia memangis lalu dimanakah Adora akan bersandar?


"Membosankan," pelakunya langsung melempar senjatanya lalu pergi begitu saja meningglkan kekacauan dan keterpurukan di mansion megah tempat tragedi kembali terjadi menimpa Devine.


****

__ADS_1


__ADS_2