
Beberapa tahun kemudian....
"Hiks...."
"Ah, adik kau menangis?" seorang gadis kecil berusia lima tahun gelagapan melihat adiknya menangis sebab ulahnya.
Iya, dia berulah setelah berulang kali ditegur Nyanya-nya. Dengan tubuhnya yang mungil, ia membawa adik bungsunya yang baru saja menginjak usia tiga tahun ke pangkuannya.
"Aku minta maaf adik. Rara minta maaf," ucapnya mengecup puncak kepala adiknya yang botak.
"Hiks... oneta!" tangisnya semakin menjadi saat tak melihat boneka penguinnya.
Gadis yang memanggil dirinya sendiri sebagai Rara segera celingukan mencari keberadaan boneka sang adik yang tadi adiknya sendiri lemparkan sebab kesal padanya.
"Viserra Daenara!" geram seseorang.
Rara menoleh berbarengan dengan adik kecilnya yang masih menangis.
"Ehehe, Rara nakal kakak. Maaf," ungkap Rara atau tepatnya Viserra Daenara E. Wellington kelihatan menyesal.
Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu mendekat pada kedua adiknya lalu memberikan boneka si bungsu pada pemiliknya. Ia menghapus jejak air mata adiknya.
"Sudah makan?" tanya Veziano Jahaera E. Wellington, anak sulung dari pasangan Edward dan Adora.
Kedua adiknya mengangguk antusias. Si bungsu, Visenya Alysanne E. Wellington atau sering dipanggil Sasa merentangkan kedua tangannya mau digendong oleh Veziano.
Veziano lantas menggendong Visenya. Didekapnya sedangkan satu tangannya menarik lembut tangan Viserra, mereka menaiki tangga diikuti dua pelayan di belakang mereka memastikan keselamatan tuan muda dan nona-nona muda mereka.
Hari ini Nyanya dan Tantan sibuk dan akan pulang larut. Veziano sebagai anak sulung tanpa disuruh segera memperhatikan kedua adiknya, ia di usia kecil begini sudah paham bahwa kedua orang tuanya bekerja demi mereka. Mungkin kelewat jenius makanya ia berpikir sedikit dewasa.
Veziano menidurkan Visenya ke ranjang kedua orang tuanya. Ia gendong kembali Viserra yang kesulitan karena ranjang nyanya dan tantan sangat tinggi.
__ADS_1
Viserra tidur di samping kanan Visenya sedangkan Veziano tidur di samping kiri. Ia juga dengan perhatian meletakan satu bantal di belakang tubuh Viserra agar adiknya itu tidak terjatuh.
Dua pelayan diam memperhatikan dan tak berani menyela tingkah tuan muda mereka yang kelampau dewasa di mata mereka. Jika tuan dan nyonya mereka melihat ini mungkin Edward sudah berteriak tak jelas membanggakan putra sulungnya.
Dengan tangan mungilnya, Viserra menepuk-nepuk pantat Visenya yang kini memeluk dirinya. Veziano ikut memeluk kedua saudarinya yang begitu ia sayangi seperti nyanya-nya.
Tak butuh waktu lama ketiganya terlelap dalam mimpi. Tanpa sadar dua pasutri memasuki kamar mereka setelah dipastikan ketiga anak mereka sudah tertidur.
Sengaja mereka menunggu diluar dan melihat kegiatan anak-anak mereka. Dan ya, mereka terlihat bangga karena Veziano mereka.
"Mengapa ia harus sedewasa ini?" gumam Adora menatap wajah damai ketiga anaknya.
Edward yang kini berbaring di sebelah Viserra ikut mengangguk membenarkan. Veziano terlalu dewasa, ia khawatir masa kanak-kanak putra sulungnya terenggut, ia tentu saja tak mau.
"Nyanya," Veziano mengerjab pelan kala mendengar obrolan singkat kedua orang tuanya.
"Ah, kenapa putra nyanya bangun. Tidurlah lagi," bisik Adora pelan mengecup dahi Veziano yang kini menghadap padanya.
Veziano memeluk erat tubuh nyanya. Sama seperti tantannya yang posesif, bisa dibilang Veziano berkali-kali lipat lebih posesif dari Edward. Edward sampai bingung dibuatnya.
"Tidak, maaf nyanya dan tantan membohongi kalian. Nyanya dan tantan hanya ingin melihat bagaimana Zano mengurus adik Zano. Ternyata Zano-nya nyanya begitu bijak," jawab Adora memberi pujian pada anaknya diakhir.
"Zano tidurlah, tantan tahu kau pasti lelah,'" suruh Edward lembut sambil menarik selimut sampai menutupi dada ketiga anaknya.
"Iya tantan," kembali ke alam mimpinya kemudian.
Adora tak menyangka setelah badai dan segala macam bencana dalam rumah tangga menimpa keluarga kecilnya ia bisa bertahan sampai ke tahap ini. Tahap di mana ia menjadi seorang ibu dari tiga anak, ah tidak! ibu dari empat anak, satunya Edward.
Di usia menginjak tiga puluh enam tahun bukannya bersikap dewasa Edward malah suka merengek membuat Adora kadang kesal sampai mengancamnya akan mengunci sang suami di kamar terpisah.
Mungkin prahara menimpa mereka tapi Adora tetaplah Adora dan Edward tetaplah Edward. Kedunya terus berbagi masalah hingga masalah seakan takut mendekati mereka lagi.
__ADS_1
Sebuah kisah dua tahun setelah menikah tepatnya kala itu Veziano sudah berusia satu tahun delapan bulan, Adora melihat seorang wanita dengan pakaian kurang bahan mendekati suaminya yang asik makan.
Ia waktu itu pamit membereskan popok Veziano dan ketika kembali hal tadi yang ia lihat. Moodnya hancur seketika walaupun ia tahu bahwa Edward sama sekali tak tertarik.
Edward mendengar bunyi kursi dan menajam saat melihat wajha masam Adora. Lantas ia mendorong tubuh wanita itu sampai terantuk ke ujung meja membuat wanita itu meringis kesakihan. Bukannya menyeret istrinya pergi, Edward malah mendekat dan merengek di lengan Adora.
Mereka jadi pusat perhatian kal itu membuat Adora malu setengah mati. Ia cium seluruh inci wajah suaminya.
"Tidak apa-apa. Wanita itu akan diurus Athena, kau jangan merengek ya," pinta Adora yang kesusahan menggendong Veziano yang ikut rewel seperti tantannya.
Adora kelimpungan, ia baru saja menjadi seorang ibu dan pengalamannya belum sebanyak mama dan ibu mertuanya.
Melihat Adora kelimpungan, Edward mengambil alih Veziano dan ajaibnya ia tenang seketika. Berjalan sambil menggendong dan merangkul kedua mataharinya, Edward melupakan kehadiran wanita yang berusaha menggodanya.
Lebih teganya lagi, ia menginjak jari-jarinya wanita itu dan membuat si wanita berteriak histeris kala dirasa jarinya patah. Adora mendapat laporan dari Athena yang bertugas mengeksekusi si wanita.
Semenjak saat itu tak ada lagi yang berani mendekati Edward maupun Adora. Jikalau ada, palingan tinggal nama atau menjadi peserta rumah sakit jiwa VIP.
Adora tertawa mengingat kejadian hati itu, tepatnya delapan tahun lalu. Wajah Edward saat itu begitu menggemaskan, Edward menggeleng pelan melihat tingkah istrinya yang asik tertawa sendiri.
"Sayang tidurlah," suruh Edward.
"Iya iya dasar bayi besar," Adora kesal karena acara bernostalgianya harus hancur.
"Hmm, tidurlah sebelum bayi besar ini menerkammu!" ancaman Edward berhasil membuat Adora memejamkan matanya dan ikut menyusul anak-anak mereka ke alam mimpi.
Edward mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.
"Awasi mereka! jangan sampai menganggu ketenanganku dan keluargaku!"
Belum juga mendapat balasan, pria itu sudah mematikan sambungan secara sepihak. Jika sudah berkumpul bersama keluarga begini, Edward malas memegang atau diganggu oleh pekerjaan. Ia pintar membagi waktu bekerja dan waktu pribadinya agar keluarganya tidak merasa tersisihkan.
__ADS_1
"Bisa berabe kalau singa betina trio V marah besar." --Tantannya trio V.
****