Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
52


__ADS_3

Ciit ciit ciit


Kicauan burung menyambut pagi yang indah bagi sepasang suami istri setelah melalui malam panas mereka sampai pukul 02.50 semalam.


Edward terbangun lebih dahulu malah menatap lamat-lamat wajah lelah istrinya apalagi tubuh polos istrinya yang hanya ditutupi selimut. Tahi lalat di bahu sang istri itu begitu imut di mata Edward.


"Sayang kau masih ingin tidur?" tanya Edward mengelus pipi wanitanya.


Adora tak membuka matanya malah berpaling karena tidurnya terusik. Ia melenguh pelan lalu kembali tidur mengundang tawa pelan dari pria di sampingnya.


Edward tak berhenti menjahili istrinya malah asik memainkan punggung polos istrinya yang kini berhadapan dengannya. Jati-jari lentik pria itu bermain sensual di punggung Adora.


"Hish... Ed berhenti!" sergah Adora cepat.


"Tidak mau!" balas Edward masih tetap mengelus punggung Adora.


Adora langsung bangun dan menatap kesal suaminya yang tersenyum tanpa beban. Ia segera berlari keluar kamar dengan diselimuti selimut tebal tersebut mengabaikan Edward yang masih terdiam mencerna situasi.


"Sayang jangan sampai tubuhmu dilihat orang lain!" teriak Edward dengan cepat memakai baju tidur yang tergeletak begitu saja di lantai.


Adora menutup pintu kamar yang baru saja ia masuki. Kamar ini begitu indah tapi sayang kosong, mendengar Edward yang mengetuk-ngetuk pintu kamar itu membuat Adora semakin kesal.


"Berhenti menggangguku! memangnya kau pikir ulah siapa aku kelelahan!" teriak Adora dari dalam kamar.


Edward diluar hanya tersenyum puas lalu berkata, "Baiklah istirahatlah!"


Adora menjatuhkan tubuhnya ke ranjang tersebut dan dalam posisi bergelung dengan selimut.


Tinggalkan wanita itu sejenak dan beralih pada suaminya yang asik merapikan ranjang mereka setelah bergelut semalaman.


Matanya tertuju pada noda merah di sprei yang menandakan bahwa Adora baru pertama kali melakukan hal ini. Padahal awalnya ia tidak berhatap lebih sebab mengingat watak Charlie yang mesum dan hampir memperkosa Aluna.


Edward geleng-geleng kepala. Mau bagaimanapun Adora ia akan tetap menerima kekurangan wanitanya, pernikahan bukan sekedar saling cinta tapi tentang bagaimana kita mengerti pasangan kita satu sama lain.


Ia mengambil sprei itu lalu dibawa ke kamar mandi. Dengan telaten seorang CEO dari Welly Group itu membersihkan bekas darah sang istri, mungkin kalau ada yang tahu dan pasti terkejut dan pingsan seketika.


Barulah ia membersihkan tubuhnya dan menyiapkan sarapan istrinya.


****


Cklek

__ADS_1


Edward berhasil membuka pintu kamar yang mendadak istrinya tinggali. Dilihatlah wanita itu asik memejamkan matanya, Edward meninggalkan nampan berisi makanan itu ke atas meja dekat televisi lalu pergi ke kamar mereka mengambil pakaian ganti sang istri.


"Sayang ayo bangun," ajak Edward menepuk pelan pipi Adora.


"Lima menit," balas Adora.


"Oke," Edward mengangguk mengerti lalu segera menyiapkan air hangat di bak mandi. Ia bermain ponsel sambil menunggu waktu berlalu.


Tak!


Edward menatuh ponselnya setelah waktu sudah pas lima menit. Tak membangunkan lagi karena pasti wanita itu akan tetap berkata perkataan yang sama.


Ia mengibaskan selimut yang dipakai lalu menggendong ala koala tubuh Adora yang tak ditutupi sehelai benang pun. Adora lantas terkejut bukan main dan segera memeluk leher Edward.


"Takut jatuh?" tanya Edward sebab pelukan Adora begitu erat.


"Malu. Aku masih malu tubuhku terekspos di depanmu semuanya," bisiknya pelan.


Edward mengangguk lalu meletakan Adora perlahan-lahan ke bak mandi. Ia begitu perhatian mencuci rambut Adora, menggosok tubuh Adora, semua ia lakukan dan tak ditolak oleh Adora. Ia hari ini malas menggerakan badan saking lelahnya ka digempur habis-habisan semalam.


"Maaf karena aku kau kelelahan," ucap Edward berbaring di paha Adora.


"Tidak apa-apa. Ini kewajibanku melayanimu."


Ini yang Edward suka dari sosok Adora. Pengertian dan selalu bijak dalam menanggapi permasalahan yang ada di sekitarnya. Bangga memiliki wanita seperti Adora dalam menemani sisa hidupnya.


****


Baru kemarin rasanya Adora melepas status lajangnya tapi sekarang ia sudah kerepotan mengurusi bayi besar Wellington ini. Adora yakin ibu mertuanya sekaligus idolanya pernah mengatakan kalau Edward itu begitu dewasa.


Tapi apa ini?!


Lalu siapa makhluk yang tengah merengek padanya sembari memeluk kakinya. Padahal Adora cuman pamit sebentar ke taman belakang tapi ia dicegat dengan alasan Edward ingin bermanja padanya.


"Ed! aku hanya ke taman belakang bukan kabur," desis Adora kesal.


"Tidak usah! aku masih mau manja padamu," Edward menggeleng kuat.


"Sayang dengarkan aku," Adora menangkup pipi Edward dan menatap dalam ke iris mata biru itu. "Sejak kemarin kita sudah menempel kuat sekali. Biarkan aku keluar dari kamar ini, aku bahkan belum menyapa para pekerja."


Sejak kedatangannya ke rumah ini, Adora belum pernah bertegur sapa dengan pekerja di rumah ini sebab dikurung terus oleh Edward dengan alasan rindu atau apalah.

__ADS_1


Tak mau mendengarkan rengekan manja Edward, Adora berjalan keluar kamar. Belum satu langkah ia ambil, tubuhnya sudah oleng ke belakang dan berhasil mendarat di ranjang empuk milik mereka.


Edward menindih tubuh istrinya membuat Adora tak bisa bergerak. Matanya berputar pasrah saat sang suami mendusel-dusel di dadanya, ingin menolak tapi pasti akan pria itu menangis.


"Yaudah sekarang tidur," Adora mengelus rambut panjang suaminya.


Edward juga menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh istrinya. Apalagi wangi semerbak tubuh Adora membuat ia tenang dan candu, Edward suka.


"Sayang rambutnya mau dipotong?" tanya Adora sebab ia risih dengan rambut panjang itu.


Edward yang hampir terlelap mendonggak kemudian mengangguk. Apapun ia lakuakn asalkan istrinya senang.


"Beneran? gak papa aku potong rambutnya sayang?" tanya Adora memastikan.


Lagi dan lagi Edward hanya mengangguk. Matanya memberat mencium wangi tubuh Adora.


"Dulu aja pas pertama ketemu sinis-sinisan sekarang malah sayang-sayangan. Dasar menyebalkan," gumam Adora kembali mengingat pertemuan pertama dan kedua dengan Edward yang tidak bisa dibilang baik.


Ia memastikan bahwa Edward sudah tidur dan dengan pelan memperbaiki cara tidur Edward yang begitu berantak.


"Ayo kabur," monolog Adora setelah berhasil lepas dari cengkeraman Edward.


Edward membuka matanya mendengar suara Adora. Ia belum sepenuhnya terlelap jadi pastinya ia mendengar perkataan yang barusan Adora lontarkan.


"Sayang...?" rengekan kembali terdengar membuat Adora menghela napas sabar.


Ia beranjak mengambil ponsel dan novel yang ada di atas meja televisi di kamar mereka. Kemudian kembali berbaring membiarkan Edward memeluk erat tubuhnya sembari kepala pria itu berada di bawah ketiak Adora.


Belum lama Adora merasa tenang Edward meracau tak karuan dengan peluh membanjiri wajahnya.


Adora menepuk pelan pipi Edward sampai pria itu tersadar dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu kenapa sayang, hmm?" tanya Adora pelan.


"Hiks... ada penyihir yang bilang kalau aku jahat, hiks... masa aku dikutuk."


Mendengar jawaban Edward sontak tawa Adora meledak. Ia kira mimpi buruk apa?! ternyata hanya ini.


"Kamu gak jahat. Dunia yang jahat," hibur Adora mengecup lama kening suaminya agar ia kembali tertidur.


****

__ADS_1


__ADS_2