Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 26


__ADS_3

"Akhirnya selesai juga," ujar Adora sambil bersandar.


Wajahnya terlihat lelah karena seharian harus melakukan akting yang bukan passionnya. Namun, apa daya ia sudah meminta tolong pada Edward jadi sekarang ia sudah membalasnya.


"Sepertinya tadi kau hanya tahu makan saja, kenapa lelah?" nada bicara Edward terdengar sangat menjengkelkan di telinga Adora.


"Bisa diam tidak?" sinis Adora. "Aku lelah berakting, hidupmu penuh drama."


"Tolong sadar diri, nona menyebalkan!" ketus Edward.


"Nyenyenye," Adora tampak tak perduli.


Selama perjalanan keduanya tak berbicara sama sekali karena asik dalam pergulatan batin mereka. Sampai akhirnya, Adora meminta berhenti di sebuah toko kue yang sudah menjadi langganannya.


"Kau ingin membeli kue?" tanya Edward yang masuk bersama Adora.


"Hmm," dehem Adora.


"Selamat datang, nona Adora!" sapa para pelayan.


"Iya," balas Adora ala kadarnya.


Matanya mulai menjelajahi kue-kue enak yang ada di etalase, sampai akhirnya ia memilih sebuah kue berlapis cokelat.


"Biar aku yang bayar," ucap Edward membuka dompetnya.


"Tidak usah, bukankah kita sudah impas," tolak Adora. "Kau membantuku dan aku membantuku."


"Tak apa-apa, kita 'kan teman," ujar Edward seraya tersenyum manis.


"Haha, baiklah aku terima niat baikmu," putus Adora akhirnya.


Seorang pelayan menghampiri dua orang itu dan bertanya, "Apakah ada yang bisa saya bantu, tuan dan nona?"


"Tolong bungkuskan dua kue ini," suruh Adora.


"Baik, nona. Mohon ditunggu."


Setelah beberapa saat kemudian, kue yang sudah Adora pesan ada di tangan gadis itu. Edward langsung mengeluarkan kartu debitnya dan membayar tagihan. Barulah mereka berdua pergi.


"Ini," Adora menyodorkan satu kue pada Edward.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untukmu karena sudah membantuku, walau sudah impas tapi tak apalah," jawab Adora.


"Aku tak suka makanan manis, tapi akan kuambil dan keberikan pada pada Zelle, pasti dia senang."


...****************...


Adora saat ini sedang menemani Adeeva di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dengan tempatnya bekerja. Sedangkan Arabella dan Athena masih sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Adora...," ucap Adeeva dengan suara sendu.


Adora menautkan alisnya bingung, tak biasanya sahabatnya yang satu ini terlihat menyedihkan. Kantung mata yang hitam dengan wajah kusam yang terpampang jelas di wajah gadis itu menandakan bahwa gadis muslim itu sedang berada dalam masalah yang serius.


"Ada apa?" tanya Adora seraya menggenggam tangan Adeeva.


Sambil menunduk Adeeva berkata, "Ummi dan abi akan menjodohkanku dengan seseorang."


Mata Adora membulat sempurna. Ia sangat paham situasi Adeeva saat ini yang dilema. Jika ia menolak perjodohan ini maka ia sudah durhaka pada orang tuanya tapi jika ia tetap melanjutkan bisa saja ia akan sengsara nantinya karena menikah tanpa cinta.


"Aku harus bagaimana? apa aku tolak saja? atau aku harus menerima perjodohan ini," kata Adeeva dengan wajah muram.


"Usiamu sekarang dua puluh enam, kan?"


Adeeva mengangguk pelan.


"Tapi...," masih ada keraguan dalam diri gadis itu atas perjodohan ini.


"Tapi apa? kau takut pria yang dijodohkan denganmu bukan pria baik?"


Adeeva terdiam mendengar ucapan Adora yang tepat sekali.


"Hei dengarkan aku." Adora menangkup wajah Adeeva di ekdua tangannya lalu kembali berkata, "Percayalah pada Tuhan-mu, bukankah kau pernah bilang Dia selalu menolong hambanya."


Adeeva kembali dibuat terdiam oleh ucapan Adora. Adora benar, bukankah ia masih mempunyai Allah yang selalu mendengar keluh kesahnya setiap saat. Ya, seharusnya Adeeva tidak boleh merasa berkecil hati karena perjodohan ini.


"Kau benar Adora! aku harus semangat!" seru Adeeva kembali semangat.


"Kapan pertemuan kedua keluarga?" tanya Adora sambil menyesap minumannya.


"Sebentar malam."


"Pufft!" Adeeva terkejut saat Adora menyemprotkan minumannya, untung saja tak mengenai Adeeva. "Kau bilang sebentar malam? aku harus bersiap-siap untuk bertemu dengan calon suamimu itu agar aku tahu seperti apa dia!"


Adeeva terkekeh mendengar ucapan Adora yang menggebu-gebu.

__ADS_1


"Jangan lupa ajak juga Bella dan Athena."


Setelah membahas perjodohan Adeeva, kedua gadis itu mengganti topik pembicaraan mereka tentang pekerjaan masing-masing.


"Nona Adeeva, nona Adora!" seorang pria berjalan mendekat kepada mereka.


"Tuan Noah."


Yup, pria itu adalah Noah yang tak sengaja bertemu dengan mereka karena dirinya sedang membahas bisnis bersama rekan kerjanya.


"Boleh aku bergabung?" tanyanya sopan.


"Ya, silahkan duduk," Adora mempersilahkan.


"Apa anda ada perlu di cafe ini?" tanya Adeeva.


"Ya, tadi aku baru saja membahas bisnis dengan rekanku dan kami baru saja selesai, tolong jangan terlalu formal padaku, panggil saja aku Noah," jawab Noah.


"Hmm, baiklah. Kalau begitu panggil saja kami Adora dan Adeeva tanpa nona, kau paham?!"


'Haish... auranya seperti Edward saja' batin Noah yang melihat kemiripan sikap antara Adora dan Edward.


...****************...


Adeeva tampak anggun dengan gamis berwarna toska dipadu dengan warna jilbab yang sama pula. Ia tak memakai riasan apapun, akrena ia sudah terbiasa tampil natural.


Malam ini adalah pertemuan pertamanya dengan sang calon suami. Hmm, tentu saja ditemani oleh ketiga sahabatnya yang siap menghajar jika mereka tahu bahwa calon suami sahabat mereka bukanlah pria baik, itu kalau 'jika'.


"Waah, Adeeva sangat cantik," puji Athena mengelilingi tubuh Adeeva.


"Berhentilah bersikap begitu, Athena. Jangan merusak pemandangan!" tukas Arabella tak suka.


"Hei, kak! diamlah kau! setiap hari kau terus mengomel tak jelas! sana carilah pria dan menikah saja!" balas Athena kesal.


"Berani-beraninya kau!" Arabella menggertakan giginya kesal mendengar ucapan adiknya.


"Apa?!" tantang Athena.


Adora dan Adeeva saling bertatapan lalu menggelengkan kepala mereka menyaksikan pertengkaran anak kembar dari keluarga Ramona itu.


...****************...


Maaf, baru update soalnya sibuk banget๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2