Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 14


__ADS_3

Kini Adora sedang pusing memikirkan menghilangnya Adik-adiknya. Sebenarnya apa yang terjadi?


Peristiwa yang terjadi selama satu bulan ini seperti potongan puzzle yang masjh dalam keadaan acak. Mungkin jika di satukan maka akan menjawab semua pertanyaan yang hinggap di benak Dokter muda itu.


"...Ra."


"Adora!" panggil Adeeva dengan lantang.


Adora terkejut dengan panggilan itu dan langsung tersadar dari lamunannya.


"Aku memanggilmundari tadi tapi kau tak merespon? ini bukan saatnya kau melamun," ucap Adeeva.


"Maaf... aku terlalu khawatir pada mereka," balas Adora lirih.


Di tengah kekalutan Adora dan Adeeva, Bella berteriak spontan membuat Athena yang sedang duduk memperhatikan terkejut.


"Aku menemukan lokasinya!"


"Di mana?" tanya ketiga gadis lainnya dengan panik.


Setelah meyakini bahwa lokasi Adik-adiknya ada di sebuah gedung tua yang terletak di pinggiran kota, Adora dan ketiga sahabatnya langsung membuat strategi agar mereka tak kewalahan saat berhadapan dengan Lawan mereka nanti.


Setelah mengatur strategi, mereka mulai bergerak. Adora dan Athena berkendara menuju ke gedung tua itu menggunakan motor sport miliknya yang sudah lama tak pernah ia pakai.


Dalam waktu setengah jam keduanya sudah sampai di depan gedung tua itu. Kedatangan mereka disambut oleh dua orang pria yang sedari tadi berjaga di depan pintu gedung itu.


"Apakah kalian ingin bermain-main dengan kami?" tanya salah satunya dengan menatap penuh nafsu pada Adora dan Athena.


"Ck, membosankan!" gerutu Athena.


"Mau kubereskan?" tanya Adora memiringkan kepalanya.


"Silahkan saja," jawab Athena lalu bersedekap dada menunggu tindakan Adora.


Dalam sekejap kedua orang itu mati karena pisau bedah milik Adora mengarah tepat pada jantung mereka. Gadis itu hanya melempar pisau dan mereka tumbang, lemah.


"Ayo masuk!" ajak Adora.


Mereka berdua pun masuk ke gedung tua yang sudah tak berpenghuni itu.


"Di mana kalian menyembunyikan Adik-adikku?!" bentak Adora sembari mencengkram kerak baju seorang lelaki.


"Kau pikir aku akan takut padamu, hahaha!" tawanya begitu mengejek.


Pria itu tak tahu bahwa dua gadis di depannya adalah Dewi kematiannya. Mereka sudah berani mengusik kehidulan seorang Adora. Mereka harus menerima akibat atas perbuatan mereka sendiri.


Tanpa berkata-kata lagi, Adora langsung membanting kepala pria itu ke lantai. Darah segar membanjiri lantai yang semula kotor debgan debu kini ternodai darah segar.


Adora dan Athena kembali menelusuri gedung itu lebih dalam lagi. Tentu saja perjalanan mereka tak semulus itu karena masih ada beberapa orang yang menghadang jalan mereka.


"Ternyata kau adalah Kakak dari anak-anak tadi, aku sangat terkesan," ujar seorang pria berlagak sombong.


"Di mana Adikku?!" kini Adora sudah tak tenang lagi.


"Mereka baik-baik saja," ia sengaja menjeda perkataannya. "Jika kau juga baik-baik saja."


"Kurang ajar!" maki Athena langsung menerjang pria itu.


Tak hanya itu, ia bahkan mencekik leher pria itu. Tenaga Athena sangat besar sampai bisa membanting tubuh pria itu ke dinding.


Adora juga mulai beraksi, tangannya yang sudah terbiasa mulai bermain di tubuh para pria. Ia mematahkan leher mereka, menendang tulang kering sala satunya lalu melempar mereka dari ketinggian.


Adora adalah tipe gadis yang tak suka direndahkan apalagi jika ketenangannya diusik. Yang paling penting jangan sampai keluarga yang sangat dicintainya disakiti oleh orang lain, ia yang ramah bisa saja menjadi seekor singa betina yang tak kenal takut.


"Adora awas!" teriak Athena saat melihat seorang pria hendak menusuk Adora dari belakangnya.

__ADS_1


Sayangnya usaha pria itu gagal karena Adora dengan cepat menyadari dan menghindarinya, dia juga membalikan mata pisau itu ke arah pria tadi hingga tertusuk tepat di lehernya, darah segar muncrat ke tangan Adora tapi Adora biasa-biasa saja.


"Aku menemukan mereka!" teriak Bella tiba-tiba.


Jika ada yang bertanya dari mana Bella berasal, menurut strategi mereka. Adora dan Athena yang akan mengecoh musuh sedangkan Bella menyusup lewat pintu belakang sedangkan Adeeva akan berjaga dari jauh, biar bagaimanapun Adeeva jangan sampai terlibat lebih jauh.


Adora dan Athena segera mengikuti Bella yang sudah menemukan koordinat si kembar dan Zelleine melalui ponselnya.


Sesampainya di sebuah ruangan yang sangat gelap, ketiga gadis itu bersikap waspada.


Tap tap tap


Terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.


"Siapa di sana?!" tanya Athena sarkas.


Tak ada jawaban sama sekali, sampai akhirnya lampu di ruangan itu menyala membuat ketiga gadis itu terkejut dan menatap tajam seseorang yang duduk di sebuah kursi di depan mereka.


"Hahaha, aku tak menyangka kau datang secepat itu, nona!" tawa pria itu menggelegar di ruangan itu.


"Lepaskan Adikku, bodoh!" bentak Adora.


"Cih! apa kau kira segampang itu?" ucap pria itu dengan tawa meremehkan.


Tanpa menunggu lagi, Adora melayangkan pisau andalannya dan mengenai lengan orang itu.


"Biad*b!" maki pria tersebut melihat lengannya yang sudah mengalir darah segar dengan sedikit kehitaman.


"Ups, aku sudah mengoleskan racun di pisau itu," ucap Adora tanpa rasa bersalah.


"Kau!"


Detik berikutnya beberapa orang berpakaian serba hitam mengepung ketiha gadis itu. Di masing-masing tangan mereka terdapat senjata api.


"Cih, apa kau menyindir dirimu sendiri?" tanya Bella sinis.


"Bunuh mereka sekarang!" titah pria itu.


"Baik ketua!"


Adora mengeluarkan senjata andalannya yaitu dua belati yang terukir namanya dengan indah. Adora adalah gadis yang sangat lihai memainkan berbagai jenis senjata tajam. Ia sudah mengasah kemampuannya itu sejak berusia sepuluh tahu, waktu yang sangat mudah untuk seorang gadis kecil.


Bella dan Athena langsung bergerak dengan menrmbak tepat di kepala dua pria. Tak sampai di situ, Bella menendang aset berharga milik mereka, mematahkan tangan mereka.


Lain Bella lain juga dengan Athena, dia menembaki mata dan mulut pria yang jadi mangsanya, setelah itu ia mencungkil matanya dan menggelindingkan di tanah membuat beberapa dari pria tadi merasa merinding.


Di sisi lain Adora menyayat tubuh dua pria yang sudah tumbang karena tendangannya yang super kuat. Memdengar langkah kaki yang mendekatinya, ia langsung menusuk tepat di jantung milik si pria, tak hanya itu ia juga memotong daging pria itu sekecil-kecilnya.


Dalam waktu satu jam, pasukan berjumlah dua puluh orang itu mati di tangan tiga gadismuda.


Darah orang-orang itu menodai wajah dan baju yang mereka kenakan.


"K-kalian adalah I-iblis!" teriak si ketua yang masih bertahan.


Bella berjalan mendekat padanya dan berkata, "Hoo, apa kau sudah takut?"


"S-siapa bilang aku takut?!"


"Untuk apa bertanya, Kak. Apakah kau tak melihat celananya sudah basah," seru Athena dengan nada mengejek.


"Katakan di mana kau sembunyikan Adikku?" tanya Adora dengan nada dingin.


"D-di ruangan itu," tunjuk pria itu pada sebuah ruangan dengan pintu yang dikunci.


"Bagus, kau sangat patuh," puji Adora dengan seringai licik.

__ADS_1


"T-tolong lepaskan aku," pinta pria itu dengan susah layah, nafasnya sudah tersenggal-senggal karena racun dari Adora tengah menggerogoti dirinya.


"Masa bodoh!" balas Adora lalu berbalik.


Di belakangnya, Bella dan Athena yang mengikuti. Adora kemudian membuka pintu ruangan yang ditunjuk oleh pria tadi setelah ia mengambil kunci darinya.


Cklek


Ketika pintu terbuka, Adora terkejut melihat seorabg gadis kecil yang meringkuk ketakutan sedang ditenangkan oleh seorabg gadis lain, sedangkan dua lainnya sedang berpikir bagaimana caranya kabur dari ruangan gelap yang dipenuhi bau-bau tak sedap.


"Sudah berapa jam mereka di sini?" tanya Adora pada Bella.


"Tiga jam," jawab Bella.


"Kurang ajar, beraninya mereka mengurung Adikku di ruangan kotor ini!" marah Adora sembari memukul dinding di sampingnya.


"Kakak?!"


"Ibu Dokter?!"


Si kembar kemudian berlari memeluk Kakak mereka dengan erat. Adora mengelus punggung ketiganya dan menenangkan mereka.


"Kakak sudah di sini, tenanglah," ujar Adora.


"Kami tahu pasti Kakak akan menyelamatkan kami," ujar Thalia senang.


Setelah saling melepas rindu dengan Adiknya, Adora berjalan mendekati Zelleine yang masih merasa takut dan memeluknya.


"Sudah tenanglah, kau sudah diselamatkan," ucap Adora menghapus air mata Zelleine.


"Hiks... terima kasih, Ibu Dokter," balas Zelleine dengan sesunggukan.


"Sama-sama."


Tiba-tiba terdengar lengkah kaki beberapa orang, Adora dan ketiga sahabatnya langsung waspada dan memasang ancang-ancang.


"Zelle!" panggil tiga orang pria yang sangat Adora ken.


"Astaga kukira musuh ternyata anda adalah sahabat tuan Edward," ucap Adora lega.


"Maaf karena terlambat menyelamatkan mereka, kami sudah merepotkan anda," tukas Ronan.


"Ya, tak apa-apa," balas Adora. "Kalau begitu saya pamit dulu."


Ngomong-ngomong, si kembar, Bella dan Athena sudah pergi sebelum sahabat Edward itu datang jadi mereka tak sempat bertemu.


"Tunggu!"


"Ya?" Adora menatap mereka bingung.


"Di mana Adik anda dan apakah anda menghabisi orang-orang ini sendiri?" tanya Noah.


"Adik saya sudah dibawa oleh sahabat saya, saya dan sahabat saya yang menghabisi mereka," jawab Adora.


"Terima kasih, Dokter!" tukas ketiganya.


"Hmm, nona Zelleine sampai jumpa lagi," pamit Adora sembari melambaikan tangan kepada Zelleina yang sudah berada di gendongan Rowan.


"Sampai jumpa lagi Ibu Dokter, terima kasih atas hari ini," balas Zelleine.


Adora pun pergi meninggalkan gedung itu setelah melihat pria yang menjadi dalang penculikan Adiknya mati mengenaskan.


****


Mohon dukungannya🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2