
Sejak kejadian di kapal Royan selalu memanggil Yunifer dengan sebutan mommy entah sengaja atau tidak. Terkadang ia bersama Roger datang ke kediaman Wellington hanya untuk bertemu Yunifer.
Sudah sebulan pula Adora lewati walau kenangan bersama kakeknya belum bisa Adora lupakan, jujur saja ia sudah mengikhlaskan kepergian mereka yang pergi dengan cara tragis. Sebenarnya ia tipe yang pendendam tapi apa boleh buat, balas dendam hanya akan menghancurkan hatinya saja. Jika ia sudah mengambil langkah pertama balas dendam maka selanjutnya kehidupan suram menemani langkahnya. Jangan sampai seperti itu.
Akan tetapi, bukan berarti Adora berhenti. Ia menunggu tikus-tikus kotor itu muncul ke permukaan lalu ia tunjukan bagaimana permainan sebenarnya dimulai. Biarlah mereka mengulur waktu sampai batas kehidupan mereka di depan mata.
Terkadang Adora lepas kendali dan ingin bergerak mencari keberadaan mereka. Namun, ia kalahkan egonya demi keberhasilan memuaskan.
"Jangan terlalu berpikir," seorang pria menyentil pelan dahi Adora.
Adora tersadar dari lamunannya lalu menatap garang si pelaku yang meletakan beberapa makanan yang sudah ia pesankan. Melihat makanan itu, Adora melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 13.24.
Ia mendesah lega sebab hampir saja melewatkan makan siang dan jika diketahui oleh mamanya bisa-bisa telinganya penuh dengan celotehan belum lagi omelan Evander dan Tarissa.
"Makan," Edward menyodorkan sesendok makanan ke mulut gadis itu.
Tak menolak dan langsung melahap. Ia bertanya apakah Edward sudah makan lewat tatapannya karena ia malas berbicara, untung saja Edward sudah terlatih dan mengangguk membuat senyuman terukir di bibir gadis itu.
Setelah melahap semua makanan yang dipesan oleh Edward, Adora kembali melihat dokumen-dokumen terkait pasiennya kemudian mendonggak melihat Edward yang masih asik bermain ponselnya.
"Tumben kalem?"
Edward mendelik kesal. Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di atas meja Adora yang bagiannya kosong.
"Ada beberapa perawat di depan ruanganmu," bisik Edward.
Gelak tawa lepas begitu saja dari mulut Adora mendengar bisikan Edward. Edward mengernyit bingung dengan kekasihnya.
"Hanya itu? hahahaha," tawanya belum berhenti.
"Kenapa tertawa?" Edward mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bertemu. Pria itu hendak memiringkan kepalanya guna mencium bibir kekasihnya.
Tapi apa boleh buat kala dering ponsel milik Adora menghentikan aktivitasnya. Adora mengalihkan tatapannya ke layar ponsel dan tertera nama 'mama'.
"Halo ma, ada apa?"
"..."
__ADS_1
"Mmm sudah selesai, ini aku mau pulang bersama Ed."
"..."
"Sekarang? baiklah aku dan Ed akan ke sana!"
Setelah berpamitan gadis itu membereskan perlengkapannya dan menggandeng lengan kekar Edward membuat pria itu keheranan.
"Mau kemana?" akhirnya Edward mengeluarkan suara ketika mereka sudah di perjalanan dalam keadaan hening.
Sekedar informasi saat ini Adoralah yang menyetir. Edward hanya mengalah sebab kekeras kepalaan gadisnya.
"Fitting baju."
Edward diam tak bertanya lagi. Ia tidur sebentar, melihat ke samping Adora tersenyum dan tangannya yang satu memperbaiki letak kepala Edward sebelum lehernya kesakitan nanti saat bangun.
Kurun waktu dua puluh menit mobil yang beridi dua insan itu terparkir indah di halaman depan sebuah butik terkenal dan pemiliknya adalah Bianca. Keduanya disambut dengan para pekerja yang tersenyum manis.
Edward yang masih mengantuk hanya berjalan gontai sambil memeluk erat lengan Adora. Adora biarkan kepala pria itu bersandar ke kepalanya. Mereka dituntun ke sebuah ruangan VIP.
Di sana sudah ada Emily dan Bianca yang asik bertukar obrolan sampai kedatangan anak mereka saja tak digubris. Adora dengan pelan mendudukan tubuh Edward di sofa lalu ia juga ikut duduk. Lagi-lagi Edward tertidur dengan kepala diletakan di ceruk leher Adora.
"Akhirnya kalian datang, Adora biarkan anak itu tidur saja. Kau coba dulu gaun yang sudah kusiapkan," suruh Bianca.
Dengan pelan Adora menyandarkan kepala Edward ke sandaran sofa lalu berdiri masuk ke ruang ganti.
Lima menit setelahnya, gadis itu keluar dengan gaun putih memanjang di bagian belakangnya. Tidak terlalu terbuka tidak juga tertutup, belahan dadanya sedikit diperlihatkan dengan bagian bahu yang sedikit menjulang. Gaun itu mengembang dan tampak indah di pakai oleh Adora.
Edward mengerjap mendengar keributan ibu dan calon ibu mertuanya. Sampai ia terdiam melihat pesona yang menguar dari calon istri yang anggun. Matanya menajam menangkap belahan dada Adora yang terlihat.
"Apa-apaan gaun ini?!" desisnya marah.
Bianca berkacak pinggang dan berdiri di depan Adora saat anaknya hendak mendekat. "Mau apa kau? gaun ini sudah final!!"
"Tidak!"
"Ya!"
__ADS_1
"Tidak!"
"Ya!"
Mengabaikan sepasang ibu dan anak yang tengah beradu mulut itu Adora berputar di depan mamanya yang selalu menginginkan dirinya memakai gaun pengantin dan sekarang terkabul.
"Ed, lihatlah aku sangat cantik. Aku mau yang ini saja," bujuk Adora menampilkan puppy eyesnya yang berhasil membuat Edward luluh.
"Sskarang giliranmu, nak Edward," titah Emily mendorong sang menantu ke ruang ganti.
****
Duduk sambil memakan es krim yang dibelikan oleh Edward yang sedari tadi diam menyaksikan tingkah kesayangannya.
Dor!
Es krim yang Adora pegang terjatuh sebab tembakan tiba-tiba itu. Kaca di belakangnya pecah, untung saja kepalanya tidak terkena berkat Edward yang gesit menundukan kepala keduanya tadi.
Adoda memincing seakan mengintai mangsa yang berani mencari gara-gara padanya. Ahh apa sudah waktunya masuk ke permainan inti, batin Adora semangat.
Dor!
Tembakan kedua berhasil dihindari. Cafe yang tadinya ramai kini dipenuhi hiruk pikuk para manusia yang melarikan diri guna menjauh dari tembakan itu. Hingga tembakan ketiga berhasil mengenai seorang pria yang tengah berlari.
Tak berbasa-basi, Adora mengambil sarung tangan yang memang ada di jasnya. Dibantu Edward, Adora segera melakukan pertolongan pertama untuk membuka peluru yang untungnya tidak terlalu dalam. Di tengah situasi genting, dokter cantik yang berbakat itu begitu serius menikmati pertolongan pertama.
Seusai membuak peluru tersebut Adora segera membalut luka pria itu. Hebatnya lagi laki-laki itu berusaha bertahan walau hampir pingsan melihat bercak darah apalagi darah yang terciprat ke wajahnya.
Edward melihat ke seriap arah dan senyuman miring terbit di bibirnya. Mengambil sesuatu di saku jasnya dan...
Dor!
Berhasil. Edward meniup ujung pistolnya dan senyuman menyeramkan itu tak luntur melihat seorang penembak yang mengincar calon istrinya itu terkapar dengan kepala bersimbah darah, melihat rekan-rekannya yang segera kabur membuat Edward yakin bahwa hari-hari mereka tidak akan tenang ke depannya.
'Sialan! tikus-tikus itu membuatku harus menunda pernikahanku lagi?!' batin Edward menahan amarah.
"Ed!" panggil Adora.
__ADS_1
Sebuah ambulan susah terparkir di depan mereka dan beberapa petugas medis segera menangani pasien yang tertembak. Mereka berterima kasih banyak karena Adora sudah membantu menyelamatkan nyawa seseorang.
****