Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
48


__ADS_3

Kediaman Wellington kacau balau karena menghilangnya Yunifer selama seharian. Sejak kemarin ia tak pulang ke rumah, ketika bertanya pada Roger, Roger berkata bahwa gadis itu sudah pulang.


Arabella terus-terusan menatap layar komputernya dibantu sang adik. Membobol setiap CCTV yang ada di penjuru California, mau sesusah apapun ia lakukan memikirkan kekhawatiran keluarga.


Di tengah kericuhan, Adeeva mendekat sambil menunjukan layar ponselnya pada Adora dan Aluna yang dari tadi diam.


"Lihat! saat penembakan kemarin aku melihat orang mencurigakan ini memakai masker," ujar Adeeva menzoom sesuatu di layar ponsel.


Kedua gadis itu menatap lamat orang yang Adeeva tunjukan.


"Sepertinya penculikan kak Yu dan orang itu terkait, mereka ingin bermain-main rupanya," seru Adora sinis.


"Adora!" panggil Arabella.


Adora segera berdiri dan mendekat. Di lihatlah ke layar komputer, sebuah rekaman dimana mobil Yunifer terlihat dari jarak lima meter karena memang pada saat itu tak ada CCTV terdekat makanya para penculik bisa melancarkan aksi mereka tanpa khawatir apapun.


Yunifer terlihat dibekap lalu dimasukan ke dalam mobil hitam yang berisi beberapa orang. Athena tak tinggal diam segera melcak pelat mobil itu namun yang ia dapati hanya mobil rongsokan yang ada di tempat pembuangan sampah.


"Sialan!" maki Athena.


Ting


Aluna mengecek ponselnya dan seketika membulatkan mata tak percaya. Melihat ekspresi Aluna, Adora mendekat dan bertanya.


"Ada apa, Aluna? wajahmu begitu kaget? ada maaalah lain lagi?" tanya Adora beruntun.


"Charlie tiba-tiba mengirim pesan padaku!" jawabnya membuat semua atensi menatapnya tak percaya.


Adeeva merebut ponsel Aluna dan membaca pesan dari Charlie, "Sayang aku merindukanmu."


"Akhh!! sepertinya mereka adalah pihak yang sama! bagus dengan begini kita bisa menuntas habiskan mereka semua sampai ke akar-akarnya," tawa riang keluar dari mulut Adora bak selrang psychopat.


Ia kemudian duduk di samping Arabella. Menyuruh gadis itu menzoom penampakan orang-orang yang menculik Yunifer. Mengernyit melihat tatto di lengan mereka yang sama seperti waktu itu ketika Aluna diculik oleh Charlie yang masih berstatus pacarnya.


Ia segera mencari di internet dan menemukan sebuah fakta hubungan antara tatto itu dengan sebuah organisasi dunia bawah. Sampai-sampai matanya melihat sebuah artikel mengenai seseorang yang ia duga menjadi sumber masalahnya.


Toni Danuardja, seorang pengusaha tambang berlian yang berhasil meraih peringkat lima perusahaan terpopuler sedunia ini memiliki seorang putra yang selalu terjaga identitasnya entah karena apa. Rumor yang beredar bahwa putra dari Toni Danuardja ini pernah menikahi seorang wanita dan tinggal bersamanya selama beberapa tahun kemudian menghilang. Toni diduga pernah melakukan penipuan sebanyak seratus juta dollar dan sekarang masih menjadi buronan polisi.

__ADS_1


"Rupanya seorang buronan ya, aku suka," Adora mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sambil menelisik sebuah rencana besar.


"Panggilkan Ronan ke sini, Athena! aku ingin menyuruhnya menyiapkan sesuatu!" titah Adora tak terbantahkan.


Tak butuh waktu lama, Athena menghubungi Ronan dan langsung pria itu datang tanpa bertanya apa alasannya. Di susul Edward, Noah, dan Rowan.


"Ada apa sayang? kau butuh sesuatu?" tanya Edward.


Adora melihat kantung mata kekasihnya menghitam, mungkin ka kelimpungan mencari keberadaan kakaknya yang hilang bagai ditelan bumi. Tak ada jejak sama sekali yang tertingg, mereka bermain rapi tapi bukan serigala pemburu jika tak akan berhasil menemukan mereka.


"Selidiki area blok selatan hutan tropis yang ada di sana menyimpan banyak rahasia, Ronan!" suruh Adora setelah mengingat kembali tempat penculikan Aluna waktu itu.


"Maksudmu tempat gudang tua itu terletak?" tanya Ronan memastikan.


"Ya aku butuh dalam waktu sepuluh menit. Kita tak ada waktu mereka sudah mulai bekerja."


Dengan segera Rona dengan keahliannya yang melebihi kemampuan kedua sahabat kembar Adora mulai bergerak. Bukan waktu sepuluh menit yang ia butuhkan hanya empat menit akhirnya ia bisa menyusuri seluruh hutan tropis bahkan sisi tersembunyi sekalipu.


"Adora! aku menemukannya!" seru Ronan semangat.


Ia memperbesar layar ketika melihat sebuah mansion megah di tengah hutan. Di depan mansion itu penuh dengan kendaraan yang bisa dipastikan bahwa mansion itu berpenghuni.


"Halo kak," sapanya tak menunggu lagi.


"Iya, Dora. Apa kau butuh sesuatu? kakak drngar putri sulung keluarga Wellington diculik? sudah menemukan titik terang?" cerocos Evander dari seberang membuat seulas senyum terbit di bibir si gadis.


"Ya, titik seterang bintang sirius," jawab Adora penuh makna.


"Waw, apa maksudmu?"


"Segeralah datang ke apartemen Athena! kau akan tahu, ah iya titipkan kak Rissa ke rumah mamah saja, ia akan disambut dengan baik," suruh Adora.


"Sepertinya hadiah bagus menanti kita adikku."


Sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh Evander. Adora saat ini memandang keluar sana yang begitu bebas, burung-burung yang tengah terbang bebas mencari mangsa kini ditembak oleh beberapa pemburu dan Adora membayangkan bahwa ia yang akan menjadi pemburu itu.


"Kenapa melamun?" sebuah tangan melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


Edward meletakan kepalanya di ceruk leher Adora. Semalaman ia tak bisa tidur sebab memikirkan kakaknya yang entah sudah makan atau belum. Apalagi adik bungsunya yang terus menerus merengek ingin bertemu dengan Yunifer.


"Ayo bermain-main," ucap Adora tanpa menjawab pertanyaan Edward.


"Bermain di ranjang?" Adora menatap ekspresi wajah polos yang dibuat-buat kekasihnya itu sebal.


"Mulutnu ingin disambal? diamlah dulu. Keadaan sedang genting malah berpikir mesum," desis Adora kesal.


Edward tertawa pelan, bagaimana bisa kekasihnya begitu menggemaskan? Rasanya ingin ia culik saja.


"Dora!"


Mendengar kedatangan Evander yang sangat cepat membuat Adora tersenyum senang. Ia ke dapur mengambil segelas air lalu memberikannya pada Evander dan segera diminum sampai tandas.


Barulah ia duduk di trmpat Ronan tadi sambil memperbesar tangkapan layar yang berhasil Ronan dapatkan.


Mansion itu kini ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Di setiap lengan kanan mereka terdapat tatto yang sama. Kemudian gadis itu membandingkan sosok yang bersembunyi di balik pohon mengenakan masker dengan orang yang membunuh kakek dan ayah Casnya.


"Orang yang sama di hari itu," gumamnya terdengar oleh sang kakak.


"Ah sialan sekali! kalau begini aku akan sangat puas bermain dan mencabik-cabik isi perut mereka itu," Evander menutup wajahnya yang kini menampilkan senyum psychopat andalannya.


Jiwa Evander memang terganggu hingga sangat menyukai melihat darah di mana-mana. Untunglah Tarissa kenal betul suaminya ini.


"Tunggu, siapa itu?!" suara Edward agak meninggi ketika melihat foto orang yang menjadi dalang pembunuhan kakek Levithen dan ayah Lucas?


"Entahlah, identitasnya masih di rahasiakan. Sepertinya dia putra si bajingan itu," jawab Adora mengepalkan tangannya.


'Sangat familiar sekali,' batin Edward merubah tatapannya menjadi sendu namun segera ia tutupi.


"Toni Danuardja?" tanya Adeeva memastikan.


"Ya."


"Jangan tunda waktu lagi dan ayo bergerak! Adeeva tolong siapkan helikopter seperti biasa, kita pakai senua jalur dan untuk Bella dan Ronan pantau terus pergerakan mereka!" pinta Adora segera masuk ke dalam kamar Athena dimana semua senjata mereka disembunyikan.


"Kenapa Bella dan Ronan?!" tanya Rowan tak suka.

__ADS_1


Noah menepuk bahu sahabatnya, "Nyonya Adora sudah bersuara, kita terima saja!"


****


__ADS_2