Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 17


__ADS_3

"Kau terlahir sangat cantik, nona," ujar seorang gadis di depan cermin.


"Haha, aku tahu aku sangat cantik," ujarnya lagi dengan gaya seperti menjadi orang lain.


Dia adalah Adora yang baru saja habis berhias dan sedang memuji dirinya sendiri di depan cermin. Memang tingkat narsis seorang Dokter muda itu sangat tinggi.


Setelah puas menatap dirinya di cermin, Adora menyambar kunci mobilnya di atas meja lalu pergi setelah berpamitan pada orang tuanya.


Selama perjalanan, Adora memutar lagu kesukaannya. Matanya yang fokus ke depan dan bibirnya yang bersenandung indah.


Selama beberapa menit mengemudi, akhirnya Adora telah sampai di kediaman milik Charlie. Tempat dimana pertunangannya dengan Aluna di laksanakan.


Kediaman pria itu sudah sangat ramai karena banyak tamu yang sudah datang.


Awalnya Adora tak mau datang karena ia sibuk tapi karena Aluna menyogoknya dengan makanan enak maka dengan senang hati Adora datang. Bahkan, sejak dari rumah tadi ia sudah tak sabar.


Adora pun masuk, semua orang menatapnya penuh kekaguman karena kecantikan yang ia miliki bahkan ratu kecantikan seperti Bella pun masih kalah jika bersama Adora.


Gadis muda itu memakai short dress berwarna violet dengan rambut yang digerai membuat ia terlihat begitu cantik.


"Hei, gadis menyebalkan jangan menghalangi jalanku!"


Adora yang tadinya senang langsung kesal mendengar suara yang sangat ia kenali. Siapa lagi kalau bukan Edward si pria kurang ajar.


"Kau pikir ini jalanmu?!" sarkas Adora menatap sinis Edward di belakangnya.


"Memang bukan! tapi aku ini atasanmu jadi hormati aku!" tegas Edward.


"Cih," dengan tak sopannya Adora berjalan meninggalkan Edward yang kesal setengah mati.


Dari jauh Aluna yang melihat itu menggelengkan kepalanya pelan menyaksikan pertengkaran Adora dan Edward yang mengundang banyak perhatian.


'Semoga berjodoh,' batin Aluna dengan senyuman.


Bukannya memberi selamat, Adora lebih dulu menghampiri makanan yang sudah dihidangkan selama acara berlangsung. Padahal di tengah aula orang-orang sudah memberi selamat pada Charlie dan Aluna atas pertunangan mereka.


Setelah memuaskan diri dengan makanannya barulah Adora berjalan menghampiri dua pasangan insan yang sedang bermesraan.


"Selamat atas pertunangannya," ucap Adora.


Charlie menyeringai licik kala Adora memberi selamat pada mereka. Dengan angkuhnya ia mencium pipi tunangannya di depan semua orang. Aluna yang diperlakukan seperti itu merasa malu sekaligus kesal karena ia tahu tujuan Charlie.


'Haish, maafkan aku, Adora,' batin Aluna yang merasa tak enak.


Entah sejak kapan ia merasa kalau ia dan Adora itu cocok jika bersahabat. Adora seperti Adik kecil baginya, selama ini ia hanya menjadi seorang Adik bukan Kakak. Selain itu, ketiga sahabat Adora juga sangat menghormati dirinya apalagi Bella yang sering bermain film dengannya.


"Terima kasih telah mengundangku, makanan yang kau janjikan sangat enak," ucap Adora tulus.

__ADS_1


"Tentu saja, jika kau mau datanglah ke apartemenku, aku akan memasakanmu makanan yang enak," tawaran Aluna terdengar sangat menggiurkan bagi Adora.


"Benarkah?!" mata gadis itu berbinar.


Kala Aluna mengangguk, Adora langsung memeluk Aluna seperti ia memeluk sahabatnya. Aluna dan Charlie terkejut dengan tingkah Adora.


'Mengapa mereka bisa seakrab ini?' batin Charlie bertanya.


"Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua, sampai jumpa!"


Setelah dari situ, Adora berjalan ke pojok ruangan dan bersemayam di sana seperti penunggu. Sedari tadi ia tak sadar jika banyak mata yang terus menatapnya ingin menerkam.


"Bukankah ini adalah Adora si kutu buku dulu?"


Adora memutar mata malas melihat kedatangan teman semasa kuliahnya dulu. Mereka datang dengan gaya yang angkuh seakan mereka punya semuanya.


"Membosankan," keluh Adora.


"Kau?!" gadis lainnya berseru marah.


"Pfft, ternyata masih suka terpancing, sama seperti dulu," ejek Adora.


Gadis yang bernama Liana itu ingin sekali menampar Adora akan tetapi, tangan Ruby mencegatnya karena tidak ingin membuat kekacauan.


"Aku sangat heran, dulu kamu begitu sombong karena berpacaran dengan senior Charlie tapi sekarang kau hanya berduka karena dibuang begitu saja, haha," ucap Ruby.


"Lihatlah wajahmu itu! aku sangat senang melihat kau terpuruk seperti ini," timpal Liana.


"Sudah selesai?" tanya Adora.


"Kau pikir bisa lari dari sini?"


"Dasar pikun! apakah kalian tidak ingat dulu tangan kalian kupatahkan karena mengusikku?" ucap Adora. "Aku sangat senang karena kalian begitu memperhatikanku, tapi apa kalian tahu konsekuensinya?"


Liana dan Ruby segera berlalu dari situ sebelum Adora kembali mematahkan tangan mereka.


"Bodoh! siapa juga yang mau melakukan itu di sini?" Adora menggelengkan kepalanya pelan.


Karena Adora tidak terlalu menyukai tempat yang ramai maka ia berjalan keluar dari tempat pesta menuju ke taman belakang kediaman Charlie.


Sewaktu masih berpacaran dengan Charlie, Adora beberapa kali datang ke sini. Tak bisa dipungkiri bahwa taman belakang ini begitu indah ketika terpapar sinar bulan.


Adora terus menyusuri taman itu sampai ia berhenti di satu titik yang membuat jantungnya berpacu dengan kencang. Matanya membulat sempurna dengan lidah yang kaku tak mampu berbicara.


"Tuan besar sangat marah," ucap seorang pria yang wajahnya tertutup oleh jubah hitam.


"Katakan padanya! jangan mencoba mengancamku karena aku bisa memberi tahu pada Adora bahwa dialah yang membunuh orang tua Adora," balas pria lainnya.

__ADS_1


Adora mendengar hal itu dengan jelas. Kala ia melihat baik-baik siapa lawan bicara si pria yang memakai jubah itu. Postur tubuh itu sangat ia kenali.


"Charlie," gumam Adora yang terkejut.


Dengan segera ia pergi dari tempat ity. Namun, nahas kakinya tak sengaja tersandung akar pohon sehingga terjatuh dan menimbulkan bunyi yang keras.


"Siapa di sana?!" seru dua orang tadi.


'Bagaimana ini?' Adora panik sendiri.


Tiba-tiba seorang membantu Adora berdiri.


"Tuan Edward?" beo Adora yang masih dalam ekspresi terkejut.


Terdengar langkah kaki yang perlahan mendekat, Adora dan pria yang ternyata Edward kalang kabut.


"Aku tahu ini semua rencanamu, 'kan?!" bentak Edward.


Adora bingung, ada apa lagi dengan manusia satu ini? rencana apa?


"Apa maksudmu? dasar gila!" umpat Adora.


"Heh! pura-pura tidak tahu?" jeda Edward sebentar. "Bukankah kau yang menyuruh pacarmu, Charlir merebut pacarku 'kan?! kau sangat dendam padaku lalu ingin membuatku terpuruk kan?!"


Plak!


Tamparan dari Adora membuat Edward terkejut dan membeku di tempat. Bagaimana tidak? gadis itu menamparnya dengan sekuat tenaga.


"Apakah kau berpikir ada gadis yang rela memberikan pacarnya pada gadis lain?! jaga mulut kotormu itu!" balas Adora dengan emosi yang memuncak.


Dia tidak rela jika dituduh seperti itu. Tak ada gadis yang ingin pacar mereka di rebut. Jika ada pasti gadis itu gila.


Karena emosi, Adora langsung meninggalkan Edward yang masuh dalam keadaan marah karena baru pertama kali ia ditampar oleh seorang gadis. Bahkan Ibu dan Kakaknya tak pernah menamparnya meskipun semarah apapun mereka.


Jauh dari sana, Charlie dan temannya menyeringai melihat pertengkaran Adora dan Edward. Charlie segera menyuruh temannya untuk pergi dari sjni sebelum ada yang melihat.


Charlie berjalan menghampiri Edward yang masih diam di tempat.


"Haha, wajahmu membuatku puas, Edward," tawa Charlie menggelegar.


Edward menatapnya penuh permusuhan dengan tangan terkepal. Rasanya emosi dalam dirinya meledak-ledak.


"..." Edward langsung melenggang pergi dari sana.


"Kau akan melihat kehancuranmu sendiri, Edward. Hari itu tak akan lama lagi, kau akan sangat menderita, hahaha," ucap Charlie setelah tinggal ia sendiri di sana.


Sedangkan Adora, ia sudah mengendarai mobilnya dan pergi dari perjamuan. Ia juga sudah tak berpamitan pada Aluna, padahal tak tahu saja bahwa Aluna sangat mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


****


Mohon dukungannya🙏🥰😘


__ADS_2