Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 7


__ADS_3

Aluna terbelalak ketika menyadari bahwa mata pria itu mengarah pada bagian atasnya. Ia segera berdiri dan menutupi dadanya, tatapan tajam ia arahkan pada pria itu.


“Ah, maafkan aku, nona! Aku benar tak sengaja!” ujar pria itu.


“Atas dasar apa kau bilang tidak sengaja?”


“Aku benar-benar tidak, sengaja. Aku ingin bertanya padamu, dari mana kau dapatkan kalung itu?”


Aluna memegang kalungnya yang berbandul bintang dengan inisial ‘C’. Kalung itu diberikan oleh sahabatnya sebelum mereka berpisah.


“Ini kalung pemberian sahabatku? Kau mau apa?!” tanya Aluna sarkastik.


Wajah pria itu terkejut, dengan lancangnya ia memeluk Aluna membuat gadis itu terkejut dan berusaha melepas namun tenaganya tak setara dengan tenaga pria itu.


“Aku Charlie,” ujar pria tampan yang ternyata pacar dari Dokter cantik, Adora.


Mendengar nama pria itu membuat Aluna berdiri mematung dan terdiam seribu kata. Charlie, nama sahabatnya, apakah benar pria ini adalah sahabat masa kecilnya?


Aluna akhirnya tersadar dan melepas pelukan itu. “K-kau bukan Charlie! Tidak akan yang bisa mengganti Charlie!”


Charlie yang mendengar ucapan Aluna tersenyum. “Ya, tidak ada yang bisa menggantikanku di hatimu.”


Aluna masih tak percaya bahwa ia sudah menemukan sahabatnya, namun, hatinya sangat berharap bahwa ia sudah bertemu dengan sahabatnya.


“Kalung ini,” Charlie memperlihatkan kalung berbandul bintang sama persis dengan milik Aluna namun berinisial ‘A’.


‘Akhirnya kita bertemu,’ batin Aluna dengan wajah sendu. Ingin sekali ia memeluk Charlie namun ia masih marah pada Charlie yang tak mencarinya sama seperti ia mencari Charlie.


“Akhirnya aku menemukanmu, Aluna!” tukas Charlie hendak memeluk Aluna kembali.


“Jangan temui aku dulu, aku ingin sendiri,” gadis itu segera berlalu tanpa berbalik.


Charlie tersenyum miring dan berjanji akan menemui Aluna lebih cepat. Sudah sangat lama mereka terpisah dan baru sekarang mereka kembali berjumpa.


****


Adora kini terlihat sangat cantik dengan dress hijau, hari ini seperti janjinya kepada Charlie kemarin. Mereka akan berkencan dan menikmati waktu kebersamaan seharian.


Sudah sedari tadi, Charlie menunggu di bawah. Adora segera turun ke ruang tamu dan mendapati Mamanya dan Charlie. Charlie terdiam melihat penampilan Adora yang beda dari biasanya. Gadis itu keseringan memakai setelan baju biasa saja ditambah dengan jas dokternya.


“Kau sangat cantik, sayang,” puji Charlie.


“Ekhem!” nyonya Emily berdehem keras membuat Adora tersenyum malu.


“Aku dan Charlie akan pergi berkencan, Mama, apakah boleh?” tanya Adora.


Nyonya Emily tak mau mengganggu putrinya yang sedang kasmaran dengan sang kekasih hanya mengangguk mengiyakan saja.


“Tolong jaga putriku, nak,” Charlie mengangguk mendengar permintaan Mama dari pacarnya.


“Itu hal yang sudah pasti, bibi,” Charlie meyakinkan nyonya Emily.


Sebelum pergi, Adora mencium pipi sang Mama lalu masuk ke dalam mobil sang pacar. Mobil itu akhirnya melaju menuju ke tempat yang sudah Charlie siapkan untuk pacarnya.


Adora terpukai dengan pemandangan di depannya sekarang. Langit sore yang menawan, deruan air yang menepi ke bibir pantai. Suara burung-burung yang berterbangan pulang ke sangkarnya.


Banyak pasangan yang menghabiskan waktu mereka untuk melihat sunset hari ini. Adora memeluk Charlie, memang Charlie selalu membuatnya merasa sangat dicintai.


“Terima kasih, aku sangat senang,” ujar Adora.


“Sama-sama, sayang,” balas Charlie.


Keduanya bergandengan tangan menuju ke tepi laut dan duduk beralaskan tikar. Membiarkan air laut bermain dengan kaki mereka. Kemudian, Adora tersenyum jahil dan berlari ke laut. Dengan jahil, gadis itu menyipratkan air ke arah Charlie.


Charlie kesal dan mengejar gadis itu. “Jangan lari kau!”


“Ayo tangkap aku!” teriak Adora.


Keduanya sangat romantis, bagaimana tidak? Saling kejar-kejaran di air ditambah lagi dibawah sinar sang surya yang perlahan bersembunyi membiarkan bulan menguasai takhtanya.


Grep


Adora terkejut saat Charlie memeluknya dari belakang.


“Kau sudah kutangkap, sayang!”


Keduanya lantas tertawa lalu lanjut bermain, pemandangan itu membuat orang lain iri. Saking mesranya, Charlie menggendong Adora ala bridal style lalu membuangnya ke air.


“Charlie!” beralih Adora yang mengejarnya.


Keduanya sangat romantis, sampai-sampai Adora tak ingin hari ini berakhir begitu saja.


“Kita akan makan malam di restoran yang sudah ku booking,” ujar Charlie sambil menyandarkan kepala Adora di bahunya.

__ADS_1


“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Adora.


Charlie tersenyum, keduanya sudah duduk di tikar sambil menyaksikan matahari terbenam.


****


Saat ini Adora sedang berkumpul dengan beberapa pegawai rumah sakit, tahu ‘kan jika para kaum hawa kalau berkumpul pasti ada saja orang yang menjadi perbincangan mereka.


Sama seperti saat ini, mereka sedang membahas pasangan muda yang masih berusia tujuh belas tahun tadi. Pasalnya pasangan muda tersebut datang untuk mengecek kandungan sekaligus melakukan USG.


Easter, seorang Dokter kandungan yang tadi memeriksa pasangan muda tersebut angkat suara. “Aku terkejut, ku kira yang masuk adalah suami istri yang usianya setara denganku.”


“Benarkah?” tanya seorang perawat memastikan.


“Bukankah sekarang banyaknya budaya **** bebas di era globalisasi,” Adora angkat suara.


“Ucapan Dokter Adora memang benar, seharusnya pemerintah lebih memerhatikan masa depan anak-anak yang perlahan tercemar,” timpal Dokter Anna.


“Aku bahkan mengatur jadwal putriku agar ia tak selalu bermain ponsel, mereka mudah terpengaruh dengan hal negatif seperti itu,” tambah yang lain.


Ketika mereka masih asik berbincang tiba-tiba mereka dikejutkan dengan seorang perawat yang menyuruh Adora bersiap-siap karena ada pasien darurat.


Adora berpamitan pada teman-temannya dan memerintahkan pada para perawat agar menyiapkan ruang operasi.


****


Suasana ruang operasi sangat tenang dan sunyi, hanya terdengar bunyi dari monitor yang menyala. Kali ini Adora sedang membedah pasien kecelakaan lalu lintas dengan gejala pendarahan internal.


“Retrakor!”


Setelah menerima alat tersebut, Adora memfokuskan diri untuk membuka sayatan yang sudah ia buat sebelumnya, terlihat darah yang keluar dari salah satu organ yang terluka.


“Suction!”


Adora menerima alat tersebut lalu menyedot darahnya, bukannya menghilang, darah tersebut malah semakin banyak dan membuat monitor mengeluarkan bunyi yang berarti tekanan darah pasien turun.


Dengan tenang, Adora mengatasi pendarahan itu setelah Adora melakukan manuver lainnya. Dokter cantik itu menghela napas lega. Kemudian, ia melakukan tugasnya sebagai dokter bedah yaitu menjahit atau memotongnya.


Setelah semua proses operasi usai. Adora menemui keluarga pasien yang panik di luar ruang UGD. Setelah mengatakan segala hal yang berkaitan dengan operasi, Adora pamit dari situ.


Adora berjalan menuju ke ruangan yang penuh dengan pegawai rumah sakit, banyak sekali markas mereka di rumah sakit. Terdengar canda tawa menghiasi dinas malam mereka, walau begitu mereka tetap waspada.


“Ini!” seorang Dokter tampan memberikan secangkir kopi untuk Adora.


“Terima kasih,” ucap Adora.


Dari pada menggosipkan orang, Adora lebih memilih membaca pesan yang di kirim oleh pacarnya kemarin.


Charli_ku : Maaf, sayang aku masih sibuk. Bisakah kita menunda kencan kita?


Adora_manis :Baiklah


Padahal beberapa hari lalu, Charlie berjanji pada Adora bahwa ia akan mengajak sang kekasih kencan. Namun, karena suatu alasan yang tak bisa dikatakan Charlie maka janji mereka dibatalkan.


Sejujurnya Adora merasa sedih tapi ya sudahlah mungkin pekerjaan pria itu sangat banyak. Tak lama kemudian, dua orang Perawat masuk sembari membawa makanan untuk mereka yang ada di ruangan itu. Adora duduk manis menunggu gilirannya untuk dibagikan makanan.


“Nah, ini untuk Dokter cantik kita,” ujar Perawat bernama Camellia.


“Terima kasih, Camellia,” balas Adora.


Tanpa perduli lagi, Adora melahap makanan itu dengan cepat, takut-takut saja jika ada pasien darurat lagi. Sudah sering kali, Adora dipanggil untuk melakukan tugasnya di tengah ia menikmati makanan yang sangat enak.


Drap... drap... drap


Semua orang di situ was-was mendengar orang yang berlari menuju ke arah mereka, mata mereka tak lepas dari pintu begitu pula Adora yang tegang dan membiarkan mulutnya terbuka lebar.


“Apa pasien darurat lagi?” tanya mereka semua spontan.


Si pelaku yang membuat mereka tegang menahan tawa melihat rekan-rekannya yang merasa tegang.


“Tentu saja,” jedanya sebentar. “Tidak! Aku kesini ingin makan juga.”


“Dokter Anna!” teriak mereka kesal.


“Santai saja, Dokter Adora,” ucap Dokter Anna pada Adora dengan nada mengejek.


“Haish, tadi ku kira ada pasien darurat!” tukas Adora lalu melanjutkan makannya.


Makan malam romantis di bawah sinar bulan memang ide yang sangat bagus, buktinya ada sepasang kekasih sedang menikmati keromantisan itu. Mereka adalah Edward dan Aluna yang sedang berkencan, sudah sejak lama mereka tak berkencan dan menghabiskan waktu bersama seperti ini.


“Apa kau menyukai tempat ini?” tanya Edward di sela-sela makannya.


Aluna mengangguk pelan. “Terima kasih.”

__ADS_1


Edward mengerutkan dahinya dan menghentikan makannya sebentar lalu menatap kekasihnya.


“Ada apa?” tanya Aluna.


“Kau seperti beda dari biasanya,” ucap Edward.


Aluna terdiam dengan perkataan Edward, jangan sampai Edward tahu bahwa ia sudah berpindah ke lain hati. Selama tiga bulan terakhir ini Aluna banyak menghabiskan waktu bersama Charlie, siapa coba yang tidak jatuh cinta pada orang yang terus mengejar mereka. Hmm, pasti ada beberapa.


Namun, Aluna yang waktu itu marah pada Charlie selalu dibujuk oleh pria itu sampai akhirnya mereka berdua berbaikan dan menghabiskan waktu bersama seperti waktu kecil dulu. Charlie juga berjanji pada Aluna bahwa ia akan menebus kesalahannya di masa lampau.


“Sayang!” panggilan dari Edward membuat Aluna tersentak dari lamunannya.


“Iy-iya!”


“Hari ini kau terus-terusan melamun, apa yang kau pikirkan?” tanya Edward.


Aluna menggeleng cepat dengan menampakan senyuman manisnya. Tentu saja Edward tidak yakin bahwa gadis di depannya ini baik-baik saja.


Tangan Edward bergerak menggenggam tangan Aluna yang membuat gadis tersentak. “Ceritakan padaku jika kau ada masalah, ok?”


Aluna terdiam. Perasaan bersalah muncul di hatinya, menurutnya ia sangat beruntung bisa menjadi kekasih dari seorang Edward yang terkenal dingin dan tegas pada siapapun terkecuali pada keluarganya.


Akan tetapi, Aluna sudah bertemu dengan cinta pertamanya. Ia tak bisa berbohong soal perasaannya, ia akui saat ini ia dilema karena memilih antara Edward yang mencintainya atau Charlie yang ia cintai.


“Aku tak apa-apa, hanya saja tadi ada sedikit kesalahan dalam syutingku jadi aku kehilangan mood,” Aluna berusaha mencari-cari alasan agar Edward tak curiga.


‘Aku akan memberitahumu jika waktu sudah tepat, Edward’, batin Aluna.


“Pantas saja! Jangan pikirkan hal lain saat bersamaku,” ujar Edward.


Aluna mengangguk lalu melanjutkan makannya yang tadi terhenti begitu pula Edward. Setelah makan malam romantis mereka usai, Edward membawa sang kekasih ke tempat yang begitu indah untuk melihat bintang malam ini.


****


Saat ini Adora benar-benar sangat kesal. Matanya menatap sinis ke arah Charlie yang sedari tadi melihat ponselnya terus tanpa memerdulikan kehadiran Adora.


“Apa yang kau lihat sampai mengabaikanku begitu?” tanya Adora mengetuk jarinya ke meja.


Charlie tak menjawab dan malah semakin mengabaikan keberadaan Adora. Lebih parahnya lagi, dia malah langsung memanggil pelayan dan membayar biaya makannya dan sang kekasih.


Setelah itu ia mengambil jasnya dan hendak berdiri, akan tetapi tangan Adora menahannya. Tatapan gadis itu terlihat tidak bersahabat sama sekali, Charlie pun sedikit terkejut karena Adora tak pernah seperti ini sebelumnya.


“Mau kemana? Apakah aku tidak terlihat olehmu?”


“Aku ada urusan, kau kembalilah dahulu,” ujar Charlie langsung melepaskan cengkraman Adora dari tangannya.


“Selama beberapa bulan terakhir ini kau selalu mengabaikanku! Apa yang terjadi?! Kau seperti menjadi orang lain dalam waktu singkat!” tukas Adora.


Sepasang kekasih itu sudah menjadi tontonan banyak orang yang juga sedang menikmati waktu di restoran yang biasa Adora dan Charlie kunjungi.


“Apakah salah jika aku sibuk dengan pekerjaanku?” tanpa menjawab pertanyaan Adora, pria itu malah bertanya dengan sarkastik.


“Tidak salah! Tapi apakah selama beberapa bulan ini kau pernah menghabiskan waktu denganku? Mungkin pernah tapi itu bisa ku hitung dengan jari! Kau berubah, dulu kau tak seperti ini, hargai aku sebagai pacarmu, Charlie!” bentak Adora.


“Cukup!” jeda Charlie sebentar. “Aku harus pergi!”


Adora tersenyum miris lalu terduduk lemas di bangkunya. Karena tak mau tenggelam dengan kesedihan yang tak tahu kapan akhirnya ini, Adora langsung beranjak dari situ dan pergi begitu saja.


Rasanya hatinya tak tenang, ini pertama kalinya ia bertengkar hebat dengan Charlie selama mereka berpacaran. Ia yakin sekali, sikap Charlie padanya sangat berbeda dengan dulu. Adora masuk ke dalam mobilnya, dengan kesal ia memukul stir dan menggerutu kesal.


“Arggh!”


Sekarang yang ia butuhkan adalah pelukan dari Mamanya. Dokter cantik itu segera menginjak pedal gasnya dan melaju menyusuri jalan yang penuh dengan kendaraan.


Tak butuh waktu lama, Adora sudah sampai di rumah kesayangannya. Segera setelah memarkirkan mobil di garasi ia langsung mencari keberadaan Mamanya, hatinya saat ini sedang kalut. Ternyata nyonya Emily ada di taman belakang sedang menikmati hamparan bunga krisan yang ia tanam sendiri.


“Mama!”


Wanita itu tentu saja terkejut saat Adora memeluknya dengan tiba-tiba. Namun, tak bisa dipungkiri kalau ia khawatir dengan Adora, biasanya Adora tak seperti ini terkecuali ia ada masalah yang membuatnya kesal. Maka, hanya pelukan seorang Ibu saja yang bisa menghilangkan rasa kekesalan itu.


Tangan sang Mama bergerak mengelus surai coklat Adora dan bertanya, “apa yang membuat putriku kesal, hmm?”


“Aku bertengkar dengan Charlie...,” lirih Adora.


Nyonya Emily tersenyum. “Pertengkaran itu hal yang biasa dalam sebuah hubungan, sayang.”


“Aku tahu, Mama. Tapi apakah normal bila dia selalu mengabaikanku, sudah beberapa bulan terakhir ini dia selalu sibuk!” tukas Adora.


“Mungkin pekerjaannya sedang bermasalah, ingatlah kalian harus saling pengertian agar cinta kalian tetap utuh,” balas nyonya Emily.


“Hmm, baiklah aku akan meminta maaf padanya, aku terlalu egois,” ucap Adora pada akhirnya.


“Sekarang tersenyumlah,” suruh nyonya Emily.

__ADS_1


Adora lantas tersenyum dan mencium pipi sang Mama. “Terima kasih, Mama!”


Kini, posisi duduknya berubah. Ia duduk dan meletakan kepalanya di pangkuan Mamanya lalu bersama-sama menikmati hembusan angin yang terus menderu menghempaskan ribuan kelopak bunga pohon apel di tengah taman.


__ADS_2