
Rumah orang tua Hassan kini diramaikan dengan kedatangan sahabat-sahabatnya Adeeva dan Hassan. Mereka berduka cita saat mendengar bahwa Aluna akan masuk Islam mengikuti agama calon suaminya.
Seorang pria paru baya memakai sorban dan berjubah kini berusaha mengajari lafadz syahadat. Dituntun Adeeva dan uminya, Aluna belajar pelan-pelan.
"Asyhadu an la ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadur rasulullah," akhirnya percobaan ke-lima kalinya gadis itu berhasil.
Adeeva segera memakaikan kerudung untuk Aluna. Ia senang salah satu sahabatnya mengikuti jejaknya. Setelah kembali dari Nepal, gadis itu melakukan khitan. Rasanya memalukan khitanan di usia sebesar ini. Tapi tidak ada kata terlambat untuk kembali pada Allah.
"Alhamdulillah!" seru sekeluarga Adeeva menyambut Aluna.
Sebagai rasa suka cita umi dari Hassan Adeeva membuatkan mereka masakan spesial dibantu para gadis-gadis.
"Sst," Edward mengode Aluna dengan alisnya.
Aluna menoleh dan menaikan satu alisnya, "Apa?"
"Selamat!" ia mengangkat satu kepalan tangannya dengan senyum manisnya.
"Ya kau juga semangat mengejar Adora. Gadis nakal satu itu butuh perhatian lebih," Edward tertawa pelan melihat ekspresi wajah Adora yang ia tujukan usai memdengar perkataan Aluna.
"Hei, mau kutelan kalian berdua?" ancamnya tak serius.
"Memang muat, Adora?" tanya Rowan penasaran.
"Muatlah! kau juga mau kutelan?!" jawab Adora sarkas.
Arabella meraup wajah Adora kasar lalu mencubit kedua pipi Adora yang kembali tembem seperti biasa.
"Bwerhwentilah!" suruh Adora berusaha menjauhkan tangan Arabella.
Bukannya berhenti Aluna, Adeeva, dan Athena memainkan pipinya secara berjamaah. Adora segera menggelengkan kepalanya kuat agar semua tangan itu terlepas dari wajahnya.
Kala sudah terlepas ia berlari bersembunyi di belakang tubuh umi Diora.
"Umi lihat gadis-gadis nakal itu. Mereka menganiayaku," adunya pada umi Diora.
"Sudah sudah! ayo makan malam," ajak umi Diora.
Meja makan yang panjang begitu ramai diisi para manusia-manusia kelaparan apalagi Athena yang berebutan kursi dengan Adora. Padahal selama mereka menginap di rumah Adeeva, umi Diora sudah menyiapkan tempat mereka. Ya namanya anak kecil mana mau diatur.
__ADS_1
****
Adora duduk di tangga sambil menatap mereka yang berlalu lalang. Membawa ini itu untuk dekorasi pernikahan kakaknya, besok adalah hari h-nya. Padahal kakaknya yang menikah tapi Adora yang deg-degan. Merasa malas ia langkahkan kaki menuju ke kamar Tarissa yang batang hidungnya tak terlihat sama sekali.
"Kak Rissa! aku boleh masuk?" tanya Adora setelah mengetuk pintu.
Terdengar suara gedubrak dari dalam kamar sana, Tarissa keluar menggunakan piyama merahnya dengan wajah bantal. Adora tebak pasti kakak iparnya baru bangun.
"Silahkan masuk Dora," ia tersenyum manis.
Adora terkekeh lalu mengelus bahu Tarissa.
"Kakak lanjut tidur saja, hari ini kakak harus istirahat ekstra untuk esok hari. Aku tidak mau melihat wajah kelelahan kakak nanti ya," Adora meminta dengan wajah menggemaskan di mata Tarissa.
"Baiklah, kau mau bergabung tidur denganku?" tawar Tarissa.
"Mmm, baik! kakak ya yang menawariku," gadis itu masuk lalu ikut berbaring di ranjang Tarissa.
Tarissa tersenyum dan menutup pintu kemudian kembali berbaring. Ia elus kepala Adora penuh sayang sampai gadis itu ikut tertidur. Mereka tidur dengan damai mengabaikan para pelayan yang kesana kemari mendekorasi rumah ini untuk acara yang besar.
****
Tarissa terlihat begitu cantik dengan gaun biru mengembang dan rambut yang dibuat sedemikian rupa. Ia yang memang cantik semakin dibuat cantik lagi dengan penampilannya hari ini.
Tok tok tok
"Kakak ini Adora!"
"Masuklah!"
Adora dengan dress biru kida selutut dan rambutnya disanggul rapi. Penampilannya bahkan hampir setara dengan pengantin wanita.
"Astaga kau cantik sekali kak," pekik Adora berjalan memutari tubuh Tarissa.
"Kau ini berkacalah, kau juga cantik," Tarissa memeluk lengan Adora.
Tak lama kemudian, mama dan papa dari Tarissa masuk dan menuntun tangan Tarissa menuju ke altar pernikahan. Adora senantiasa mengikuti.
Gadis itu membiarkan tokoh utama bersama papanya menjadi pusat perhatian sedangkan dirinya duduk di samping Edward yang sedari tadi menatapnya intens.
__ADS_1
"Kau cantik," bisik Edward.
"Tentu saja, Adora selalu cantik tiada tara," balas Adora tak kalah narsisnya.
"Ya," respon Edward biasa saja membuat Adora mendelik kesal.
Di depan sana terlihat Evander mengambil alih tangan Tarissa dari papanya. Semua orang berbahagia saat mereka sukses mengucapkan janji pernikahan. Acara dilanjutkan dengan makan siang, di sela-sela mereka makan siang sang MC acara mengungumkan akan melempar buket bunga pengatin lantas para gadis-gadis yang belum menikah berjejer rapi.
Hap!
Adora yang tengah duduk menikmati manisnya dessert tak menoleh tapi tangannya menangkap buket bunga itu membuat tamu undangan bersorak senang. Siapa yang tidak tahu tentang hubungan antara Adora dan Edward, bahkan semua orang selalu mendukung mereka.
****
Beberapa fotografer menggumamkan ketertakjuban terhadap lima insan di depan mereka. Bagaimana tidak? orang-orang penting itu berkumpul di satu tempat yang sama.
Agenda Adora hari ini adalah syuting iklan. Iya syuting? aneh! padahal ia seorang dokter bukan bintang film tapi atas desakan Athena yang memproduksi produk terbaru perusahaannya maka ia mengajak keempat sahabatnya untuk ikut mempromosikan produknya.
Athena si pemilik perusahaan, Arabella si artis terkenal, Aluna si ratu film, Adeeva di pilot yang cantik dan terakhir Adora si dokter berbakat. Bukankah itu perpaduan yang sangat indah.
Take pertama harus gagal karena Athena dan Adora yang tidak bisa berakting dan malah tertawa bersama-sama.
"Haduuh cuacanya hari ini sangat panas bisa-bisa...," Adora menghentikan ucapannya berusaha mengingat-ingat naskahnya dan berakhir mengendikan bahu.
"ADORA!!" seru Arabella dan Aluna kesal.
"Tenanglah aku lupa! sungguh," gadis itu mencari aman.
"Banyak sekali alasanmu," ucap Adeeva menyindir.
"Aku hanya tahu merawat pasien bukan berakting!" dengusnya kesal.
Mereka kembali berakting bersama. Kali ini Adora mengganti perannya menjadi dokter yang sudah menguji klinis produk Athena. Ia tak main-main lagi karena bisa-bisa ia dilempar dari gedung olrh Arabella dan Aluna yang sudah sangat terpamcing emosinya.
Perlu diketahu bahwa kedua sahabat Adora itu punya kesabaran setipis tisu malah ia berbuat ulah. Bahkan, sutradara mereka harus menahan tawa melihat aksi kelima gadis ini.
Setelah berkali-kali gagal, mereka duduk sambil menyesal jus lemon yang disediakan. Sedangkan, Athena duduk sambil membayangkan uang yang aman terus mengalir berkat sahabat-sahabatnya. Kalau begini kan Athena jadi tidak tega untuk tidak memanfaatkan sahabatnya.
"Lihatlah senyum jelek itu!" Adora melempar boneka penguin di sampingnya ke Athena.
__ADS_1
"Aku diam karena aku kalem," balasan Athena membuat mereka mendengus dibuatnya.
****