
Pagi hari disambut dengan riang oleh Adora yang kembali mendapat ingatannya. Mandi lalu mengganti pakaian. Barulah setelah itu gadis bersurai panjang itu turun ke bawah dituntun oleh Samara.
"Samara, maafkan aku karena melupakanmu selama ini," di tengah perjalanan gadis itu berucap.
Samara di sampingnya tersenyum, "Anda tidak perlu meminta maaf karena kecelakaan yang menimpa anda adalah sebuah musibah yang tidak dapat dhindari mau bagaimanapun."
"Terima kasih lagi karena sudah merawatku waktu kecil," entah sudah ke berapa kalinya, Adora berterima kasih begitu.
"Jika anda ingin membalas budi pada saya, cukup hiduplah dengan baik dan bahagia karena kebahagiaan anda adalah kebahagiaan wanita tua ini," Kata-kata itu membuat hati Adora terenyuh.
Sesampainya di ruang makan, Adora menyaksikan tiga pria yang sedang berdebat. Entah apa yang mereka perdebatkan. Adora acuh saja lalu mengambil tempat di sisi kiri Levithen.
"Dora kau lihat masa ayah tidak bekerja," adu Evander pada adiknya.
Adora menaikan satu alisnya, ada apa dengan mereka? pikirnya.
"Dia ingin menguasaimu seharian penuh," timpal Levithen menatap sengit putranya.
Lucas mengendikan bahu acuh dan mengeluarkan senyum miring andalannya bermaksud mengejek kakek dan cucu itu karena ia bisa bermain dengan putrinya dengan bebas.
Terdengar tawa pelan Adora, "Memangnya kenapa? kan kakek dan kakak punya pekerjaan."
Lagi-lagi Lucas semakin angkuh karena dibela Adora.
"Tapi--" hendak menolak namun, decakan Lucas menyuruh mereka segera melakukan sarapan membuat suasana ruang makan kembali hening hanya denting sendok dan garpu beradu dengan piring yang terdengar.
***
"Dora apa kue favoritmu biar ayah Cas buatkan," Lucas mengelus kepala gadis cantik itu.
"Pai apel," seru Adora semangat. "Memangnya ayah Cas bisa membuatnya? Dora tidak yakin." Terselip ejekan di perkataannya.
Lucas mencubit hidung Adora pelan.
"Apa gunanya ayah Cas dulu menjadi koki pribadi bundamu," ia membanggakan dirinya.
"Woah! benarkah, aku ingin seperti ayah Cas," timpal Adora semangat.
"Memangnya kau bisa memegang pisau?" tanya Lucas tak yakin.
"Pisau operasi," tawa Adora meledak membuat ayah Casnya mendelik.
Adora yang awalnya hanya tahu sedikit masakan kini semakin gencar belajar dari Lucas yang memang sangat ahli seperti seorang koki di restoran bintang lima.
"Ayah Cas sangat pintar!" teriak Adora kegirangan meluhat pai apel sudah tersaji di depannya dengan tampilan yang menarik.
__ADS_1
"Oh tentu saja," Lucas mengecup puncak kepala anak gadisnya.
Mansion yang semula seperti tidak berpenghuni kini semakin veria dengan kedatangan nona muda Devine itu.
Mereka berdua menikmati pai apel buatan Lucas di pinggir kolam. Lucas menceritakan segala hal mengenai masa kecil dirinya dan Audette, pertemuan Audette dan Robin, lalu masa kecil Evander dan Adora.
"Sedangkan nama aslimu ialah Adora Serafina Devine Miller, kau menyandang dua nama keluarga besar itu," Adora mengangguk sambil terus menyuapi sesendok pai ke mulutnya.
Pipinya yang menggembung membuat Lucas tersenyum puas. Ia berterima kasih pada mendiang adik dan adik iparnya yang sudah memberi hadiah terbaim sepanjang.
Katakanlah Lucas itu lebay tapi itu benar adanya. Ia begitu menyayangi Adora layaknya ia menyayangi Evander. Dua anak itu sama di matanya.
"Ekhm!"
Deheman keras terdengar di sisi pintu.
Keduanya menoleh, Lucas menampakan senyum penuh kemenangan sedangkan Adora melanjutkan aksi makannya yanpa terganggu dengan kedatangan kakek dan kakaknya.
"Aa," Evander menyodorkan wajahnya dengan mulut terbuka. Posisinya sedang berlutut di depan Adora.
Adora menyuapi sang kakak pai kesukaannya walau ada sedikit rasa tak rela karena pai apel itu sudah mau habis.
"Evan jangan ganggu adikmu makan!" Lucas memukul lengan kekar anaknya.
"Bagaimana hari-harimu, Dora?"
Adora tersenyum pada Levithen sampai matanya menyipit.
"Sangat menyenangkan!!" seru Adora penuh semangat.
Seorang pelayan pria mendatangi mereka kemudian menunduk sebentar.
"Makan siang telah siap," setelah dia berujar seperti itu Evander mengibaskan tangannya untuk disuruh pergi.
"Nah kakek dan kakak kalian bersiap-siaplah untuk makan siang aku dan ayah cas akan menunggu di ruang makan," Adora masih dengan ekspresi penuh semangat mendorong punggung Evander yang sedari tadi bergelayut manja di lengannya.
Melihat cucunya kesulitan, Levithe memegang kerah baju cucu laki-lakinya lalu menyeretnya begitu saja membuat wajah Evander ditekuk.
"Ayo," Lucas mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati adora menyambut tangan itu. Keduanya menuju ke ruang makan lebih dulu mengabaikan dua orang yang misuh-misuh menuju ke kamar mereka untuk sekedar membersihkan diri.
***
"Mama, terima kasih sudah merawatku selama ini," ucap Adora pada mamanya di seberang.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Mama bahkan sangat senang merawat, mama bersyukur karena ingatanmu bisa kembali. Kasihan tuan Levithen yang selalu menunggumu," mendengar cerita sang mama dari ponsel membuat Adora begitu merindukan sosok mamanya.
"Iya, aku akan kembali sebulan lagi. Kakek sudah mengurus cutiku jadi kuharap kalian berkunjung ke sini."
"Apa kau sudah melupakan papamu, sayang?" tiba-tiba Gerry bersuara.
"Haha, tidak mungkin. Aku sangat merindukan papa."
"Di mana keberadaan tiga kurcaci, ma?" sudah lama Adora tak mendengar suara tiga adiknya.
"Mereka ke sekolah. Kau tahu, Thalita paling cengeng diantara mereka bertiga, ia selalu menggerutu karena kau tak pulang-pulang," Adora tertawa pelan membayangkan wajah adik sulungnya.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Edward, Adora?" kali ini Gerry yang bertanya.
"Baik-baik saja, kami menunda pernikahan kami terlebih dahulu."
Selama satu jam lewat beberapa menit, Adora melepas rindu dengan keluarganya menggunakan ponselnya. Mau bagaimanapun, sudah begitu lama ia melupakan eksistensi sang kakek gara-gara amnesia sialan!
Merasa bosan Adora bangkit keluar kamar dan celingak-celinguk. Seorang pelayan yang melihat itu mendekat dan bertanya, "Nona, ada yang nona butuhkan?"
Adora mengangguk.
"Tunjukan kamar bunda!"
"Maksud anda mendiang nyonya Audette?" pelayan itu memastikan.
"Hu'um!"
Kemudian, pelayan tersebut mengantarkannya ke ujung lorong di mana terdapat sebuah pintu berukiran perak. Sangat berkelas, pikir Adora.
Cklek
Baru saja masuk, netra biru sudah disuguhi dengan interior kamar sederhana namun luas. Ternyata sang bunda juga pecinta kedamaian.
Merek benda-benda di sini adalah merek kelas atas dan berkualitas sangat bagus. Mata Adora terpaku pada satu titik di mana sebuah bingkai berisi keluarga kecilnya. Ada bunda, ayah, dan Adora kecil di sana.
Adora mendudukan dirinya di ranjang luas itu dan masih menelisik setiap sudut kamar. Kakinya menendang-nendang sehingga mengenai sesuatu.
Adora berjongkok dan mengeluarkan sebuah kardus berukuran sedang dari bawah ranjang. Kardus itu penuh debu saking lamanya tidak dibuka sepertinya kakeknya juga tidak mengetahui keberadaan kardus ini.
Terdapat banyak benda-benda kuno. Adora baru tau fakta tentang bundanya yang suka mengoleksi benda-benda kuno. Tanpa tau kegunaan benda itu, Adora kembali menutup kardus dan berbaring di ranjang itu sampai terlelap.
***
__ADS_1