
"La... la... la," Adora bersenandung prlan sambil membereskan perlengkapannya sebelum pulang.
Ia sangat senang karena akhirnya ia bisa pulang setelah seharian berkerja. Tapi, sebelum pulang ia akan mampir sebentar ke ruangan Aluna dan mengecek keadaan gadis itu
"Hai dokter!"
"Hai Adora!"
Banyak sapaan yang terlontar dari orang-orang untuk dokter cantik itu. Sesampainya di depan pintu ruang inap Aluna, Adora melihat Edward yang menarik rambutnya frustasi.
Dengan jahil dia melihat wajah Edward dari bawah sehingga membuat pria itu terlonjak kaget.
"Astaga! apa yang kau lakukan, Adora?" tanya Edward kesal sambil mengelus dadanya.
"Pfft, hahaha!" Adora tergelak.
"Ada apa? kenapa kau tertawa?" tanya Edward heran.
Bukannya menjawab, Adora malah menggeleng dan duduk di samping Edward.
"Apakah Aluna masih sama dengan yang lalu?" tanya Adora serius.
"Ya, ia tak mau siapapun menyentuhnya terkecuali kalian," jawab Edward bersedih.
Adora menepuk pundak pria itu dan mengulas sevuah senyum. "Dia pasti akan kembali seperti semula, kok."
Edward kemudian tersenyum karena diberi semangat oleh Adora yang kadang akur kadang juga tidak akur dengannya.
"Ya," jawab Edward kemudian mengingat sesuatu. "Ah, iya sepertinya dia mencarimu tadi, aku hampir saja lupa."
"Baru saja?" tanya Adora.
"Hmm," dehem Edward.
Adora pun pamit kepada Edward dan masuk ke dalam ruangan. Matanya tak menemukan keberadaan Aluna. Ia kemudian memanggil nama gadis itu tapi tak ada sahutan.
Sampai ia melihat pintu balkon ruangan itu terbuka, Adora langsung berjalan ke sana dan menghampiri gadis yang tengah melamun.
Adora menepuk pundak Aluna sehingga membuat gadis itu terkejut.
"Sedang apa?"
"Aku bosan berbaring terus jadi kuputuskan untuk ke sini saja," jawab Aluna yang menikmati terpaan angin.
"Apa kau masih trauma dekat dengan pria selain kak Hassan?" tanya Adora to the point.
__ADS_1
Aluna terdiam tak menanggapi, ia bingung. Tadi saat Edward masuk ke ruangannya saja ia langsung masuk ke dalam selimut.
Tiba-tiba air matanya jatuh membasahi pipi. "Aku masih takut, aku takut jika dia datang."
Lantas Adora memeluk tubuh Aluna dan mengelus punggung gadis itu. Ia dan Aluna sama-sama wanita jadi pasti ia tahu apa yang dirasakan oleh Aluna. Jika itu dirinya mungkin ia akan sama seperti Aluna sekarang, tapi Adora tidak akan mengizinkan siapapun menyentuhnya tanpa seizinnya.
"Sudah... jangan takut karena ada aku dan semua orang yang menyayanginmu," ujar Adora.
"Ma-maafkan aku... jika saja aku tak merebut dia darimu maka kau akan selalu bahagia, ini balasan atas perbuatanku...," Aluna masih saja terus menangis.
Adora segera menangkup pipi gadis itu lalu menatap dalam mata biru milik Aluna, tersirat kesedihan mendalam di sana.
"Jika bukan karena berkatmu, aku tak pernah tahu watak asli si brengsek itu, aku sangat senang karena kau melepaskan aku dari tali hubungan yang brrisi kemunafikan."
Keduanya langsung saling berpelukan dan menumpagkan rasa yang terpendam. Aluna meluapkan unek-unek yang terus menerus mengganggunya setiap malam.
Seorang Aluna Learnatha yang terlihat tegas dan berani kini tak berdaya di hadapan seorang gadis yang belum lama ia kenal. Jujur saja ia merasa nyaman ketika bersama dengan Adora dan ketiga sahabatnya, rasanya seperti menemukan kebahagiaannya yang dulu sirna begitu saja ketika kedua orang tuanya mrninggal.
****
Hari ini adalah hari reuni teman-teman kelas Adora semasa sekolah. Sebenarnya Adora tak ingin datang karena malas bertemu dengan mantannya dulu yang sangat brengsek tapi tidak bisa mengalahkan Charlie.
"Sayang, apakah kau sudah siap?" tanya nyonya Emily sembari mengetuk pintu kamar putrinya.
"Sudah, ma," jawab Adora.
"Tentu saja, gen-ku adalah gen paling istimewah," balasnya menyombongkan diri.
Entah dari mana sifat kenarsisan Adora itu. Tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi sampai membuat kedua orang tuanya merasa aneh sendiri.
Di sinilah Adora berada, sebuah restoran bintang lima. Tentu saja mereka sudah membooking restoran ini. Adora yakin bahwa ini adalah tindakan Alvin, mantannya yang ingin memamerkan kekayaannya.
"Haish..., dia ingin sombong pada lawan yang salah," ujar Athena kesal.
"Lihat saja nanti siapa yang dipermalukan, hehehe," Adora membuat ketiga sahabatnya menatap dirinya dengan sinis.
"Hooo."
"Bukankah ini gadis yang selalu bersembunyi di balik baju panjangnya," seru seorang gadis yang mengejek Adeeva karena berhijab.
"Haha, biarkan saja daripada dirimu yang memakai pakaian yang belum jadi," ejek Bella.
"Hahaha," tawa Adora dan Athena.
Adeeva? gadis itu tetap tenang dan diam tak mau berbicara. Ada kaki tangannya yang membantu dirinya berbicara, buang-buang tenaga saja.
__ADS_1
"Kalian!" tunjuk gadis bernama Rissa itu.
"Ada apa sayang?"
Orang yang sangat malas Adora temui yaitu Alvin langsung datang ketika mendengar keributan apalagi melihat Adora yang sangat cantik.
"Mereka mengejekku," ucap Rissa manja.
"Iuuuh," Adora dan Athena saling bertatapan sambil memasang wajah jijik.
"Apakah kau sudah punya pacar, mantanku yang cantik?" tanya Alvin meremehkan.
"Huh! kau kira aku tak punya pacar, lihat saja nanti ketika ia datang kau akan takut," jawab Adora tanpa berpikir panjang.
Ketiga sahabatnya menepuk dahi mereka melihat Adora yang tak tahu situasi ketika ingin menyombongkan diri.
'Astaga, aku baru ingat kalau aku sudah single, huaaa. Bagaimana ini?' Adora baru sadar dengan perkataannya.
"Haha, aku tahu kau berbohong tak mungkin ada orang yang suka dengan gadis kasar sepertimu," tawa Alvin dan Rissa membuat Adora emosi.
Adora celingak-celinguk dan mendapati seorang pria tampan sedang berjalan dengan elegan. Ia langsung berlari dan menggandeng tangan pria itu.
"Tolong bantu aku, aku mohon," mohonnya memasang wajah memelas.
Si pria yang tak tahu apa-apa masih terdiam dan hanya mengikuti gadis yang tak asing itu.
"Ini pacarku, lihat dia sangat tampan bukan?"
'Gadis menyebalkan ini?' pria itu adalah Edward yang datang berkunjung ke restoran yang bernaung di perusahaannya.
"Tuan Edward?! kau kira kami akan percaya," ujar Alvin yang masih tak percaya.
"Tak mungkin tuan Edward mau dengan gadis sepertimu," seru teman-teman yang lain.
'Hmm, aku akan membuatmu membalas budiku,' batin Edward tersenyum samar.
Tiba-tiba Edward merangkul pinggang Adora membuat semua orang terkejut termasuk Adora. Gadis itu ingin memberontak tapi sekarang ia harus berakting dulu.
"Apakah mereka membuatmu kesal, sayang?" tanya Edward mulai terjun ke dalam akting yang telah dibuat oleh Adora.
"Iya, mereka mengejek sahabatku, Adeeva, sayang," Adora dengan lihai berperan sebagai gadis menyedihkan.
"Aku tak yakin jika mereka baik-baik saja," bisik Adeeva pada Bella dan Athena.
"Aku juga curiga," balas Bella dan Athena kompak.
__ADS_1
****
Sampai sini dulu ya....👋