
Adira meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah selama seharian berkutat dengan alat-alat medis dan pasien yang tanpa habisnya.
Menyambar jas kebanggaannya dan tas slempangnya, gadis dengan tinggi semampai itu segera berlari menuju ke parkiran. Malam ini ia akan berjalan-jalan bersama keempat sahabatnya.
Namun, perasaannya tiba-tiba tak enak dan merasa kalau ada yang mengikutinya dari tadi.
"Siapa yang berani bermain-main denganku," gumam Adora menyadari ada yang mendekat.
Ingin melawan tapi terlambat mulutnya sudah dibekap oleh sebuah sapu tangan yang diberi obat bius. Tanpa menunggu waktu seseorang menggendong tubuh gadis itu dan membawanya ke mobilnya, ia dengan pelan meletakan kepala Adora ke pangkuannya.
"Kamu sama sepertinya," ujar pria itu mengelus rambut Adora.
CCTV di parkiran rumah sakit sudah ia sabotase dengan mudahnya. Dengan cepat mobil yang nomor platnya tidak terbaca itu melesat jauh meninggalkan pusat kota.
...****************...
"Euggh," seorang gadis yang tak lain adalah Adora melenguh saat ia terbangun di tempat asing.
Sebuah kamar dengan interior klasik dan bernuansa merah maroon itu sangat sangat asing di mata Adora.
Ia teringat bahwa statusnya saat ini sedang diculik oleh orang misterius. Tapi apa ini? Ia diberikan kamar yang begitu indah melebihi kamar di rumah ayahnya.
Cklek!
Seorang pelayan wanita tersenyum melihat ia sudah terbangun.
"Selamat malam nona," sambut sang pelayan dengan ramah.
"Di mana ini? Siapa kau?!"
Pelayan itu tak mempersulikan cercaan pertanyaan dari Adora. Ia beranjak ke kamar mamdi menyiapkan perlengkapan untuk 'nona muda' yang akan ia layani selama beberapa hari ke depan.
Adora bangkit perlahan karena sisa obat bius tadi sedikit membuat kepalanya terasa pening. Ia bersandar di dinding mengabaikan rasa sakit di kepala sambil memasang wajah datar.
"Di mana ini?"
Pelayan yang tak lagi muda itu menunduk memberi hormat lalu mengangkat kepalanya.
"Selamat datang di kediaman tuan Levithen Devine, nona muda Devine."
"Apa-apaan itu?! aku seorang Miller bukan Devine!" bentak Adora.
__ADS_1
Tersadar bahwa di depannya adalah orang tua membuat Adora menyesali karena membentak pelayan tua itu.
"Maafkan aku," ujarnya.
"Tidak apa-apa nona muda, betapa saya merindukan anda apalagi ibu anda," balas pelayan tua bernama Samara itu.
"Ibu? Oh ayolah jangan bercanda, ibuku sudah lama meninggal."
"Anda akan segera mengetahui itu dari tuan besar." Ia berhenti sejenak. "Bagaimana kalau anda mandi terlebih dahulu?"
Adora mengangguk dan masuk ke kamar mandi yang sayangnya begitu luas membuat ia kembali terpukau.
"Sebenarnya apa maksud pelayan tadi? Ada hubungan apa ibu dan tuan besar mereka?" monolognya penuh tanda tanya.
30 menit Adora habiskan untuk mandi sekaligus mengganti pakaiannya. Bahkan, kamar ini penuh dengan pakaian perempuan yang ukurannya sangat pas di tubuhnya.
"Nona ini saya Samara," ketukan pintu terdengar kemudian Samara berucap dari luar.
"Ada apa?" tanya Adora.
"Ayo turun makan malam, sejak siang anda tertidur," ajak Samara.
Adora berdecak kesal, "Memangnya siapa yang membuatku begitu?"
Selama perjalanan ke ruang makan, ia terkesan dengan interior bergaya Eropa klasik ini. Seperti sebuah istana modern yang didesain sedemikian rupa.
Ia mengambil tempat sambil melihat para pelayan meletakan satu persatu makanan di atas meja makan. Anehnya semua makanan itu merupakan kesukaan Adora.
"Di mana tuan besar kalian?" tanya Adora yang sangat penasaran.
"Maaf nona muda, tuan besar berhalangan hadir di makan malam ini karena sibuk," seorang pelayan pria yang tua membungkuk di depan Adora.
Brak
Semua tersentak kaget saat Adora menggebrak keras meja makan itu dan hampir saja piring di atas meja terjatuh.
"Kenapa? bukankah dia yang menculikku?! Lalu apa alasannya? sibuk?! Kurang ajar!" Adora mengamuk lalu pergi begitu saja, selera makannya langsung hilang.
Padahal ia sudah menyiapkan banyak pertanyaan yang akan ditanyakan kepada penculiknya. Samara dan Baron, pelayan tadi saling bersitatap melihat temperamen nona muda mereka yang persis seperti tuan besar mereka.
Adora menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang besar itu sambil menekuk wajahnya. Ia baru teringat sesuatu, bangkit dan mencari-cari tasnya.
__ADS_1
Dapat! Ia juga mendapat ponselnya.
"Kalau ia berniat jahat padaku seharusnya ia tak menaruh tas beserta ponselku di sini, sebenarnya apa tujuan beliau?"
Baru saja mengaktifkan ponselnya, terdapat banyak missed call dan pesan dari orang-orang terdekatnya membuat Adora terkejut.
"Halo...." sapa Adora di seberang.
"Nak kau di mana? apa kau baik-baik saja? Halo... sayang, kau masih di sana?" cerca Emily dari seberang.
"Ah iya ma, aku baik-baik saja. Berjanjilah suatu hal padaku."
"Akan mama turuti."
"Jangan mencariku, sudah pasti aku baik-baik saja. Anggap saja anak kalian ini sedang mengunjungi kerabatnya."
"Huft... baiklah...." helaan nafas pasrah terdengar.
"Tolong beritahukan pada Edward juga, aku ingin memberitahukannya secara langsung tapi aku sangat mengantuk," belum apa-apa Adora sudah kembali tertidur di ranjang tanpa memutuskan sambungan telepon.
"Tidurlah yang nyenyak, nak...."
Belum lama sejak Adora terlelap dalam mimpinya, seseorang masuk dengan mengendap-endap kemudian duduk secara perlahan di pinggir ranjang.
Pria itu diam memandangi wajah cantik gadis kesayangannya. Bibirnya mengukir sebuah senyuman mengingat memori lama yang begitu indah.
Tangannnya terulur mengelus wajah ayu itu kemudian menyampirkan rambut ke samping wajah agar ia bisa menikmati keindahannya.
"Bagaimana bisa kalian begitu mirip?" monolognya penuh haru. "Aku begitu merindukanmu, sejak kamu lahir...."
Air mata membasahi pipinya, tak sanggup ia melanjutkan ucapannya barusan.
"Bahagialah, kumohon berbahagialah agar aku juga bahagia, nak...."
Setelah mengutarakan maksud kedatangannya ke kamar sementara Adora, pria itu meninggalkan kamar Adora dengan hati bercampur aduk. Senang dan sedih bersatu.
Ia berjalan ke ruang kerjanya, duduk kemudian memandangi sebuah figura berisikan dua orang wanita dan salah satunya menggendong gadis berusia enam tahun.
Mengusapnya penuh derai air mata, "Dia sudah menginjak usia dewasa tanpaku, aku sangat menyesal karena baru bisa menemuinya sekarang. Andaikan waktu itu aku bisa menyelamatkan kalian."
Perasaan menyesal selalu hinggap di benaknya, menghantui kehidupannya sejak ia kehilangan dua orang tersayang terlebih ia harus berpisah dengan gadis kesayangannya.
__ADS_1
"Sera-ku sayang... aku menyesal... kenapa waktu itu aku harus terlambat...," ia terisak di malam itu sambil diterangi cahaya rembulan.
Burung hantu di dahan dan rembulan menjadi saksi bisu pria yang tegar itu menumpahkan seluruh tangisannya. Tak ada kata yang terucap setelah itu sampai ia kemudian terlelap dengan sendirinya.