
"Nyanya!" teriakan dari Veziano menjadikan dirinya sasaran perhatian semua orang. Ia tak perduli dan segera memeluk kaki Adora yang menunggu dirinya bersama kedua adiknya.
"Bagaimana sekolahmu, sayang?" tanya Adora mengelus rambut Veziano.
"Sangat menyenangkan!" jawabnya.
"Baiklah, ayo ke kantor tantan. Beliau sudah menunggu kita," ajak Adora.
Dibantu sang supir Afora berhasil menjaga keselamatan ketiga anaknya. Supirnya ini juga merupakan seorang agen yang merangkap sebegai supir pribadi Adora dan anak-anaknya. Sesayang itu Edward kepada keluarga.
"Siap berangkat nona Viserra?" tanya supir bernama Leonardo.
"Siap paman! ayo berangkat!" jawab viserra semangat.
"Yo!" timpal si kecil Visenya.
****
Semua pekerja kantor menunduk hormat melihat kedatangan ibu boss mereka beserta ketiga anaknya yang menampilkan wajah datar. Viserra juga? iya, Viserra akan sangat cuek bila berhubungan dengan orang asing.
"Boss ada?" tanya Adora untuk menunjukan formalitas.
"Iya, nyonya. Tapi...," perkataan dari resepsionis itu menggantung membuat Adora penasaran dengan kelanjutan ucapannya.
"Ada apa? katakan saja, aku yang akan bertanggung jawab," suruh Adora sambil menepuk punggung Visenya yang hampir terlelap.
"Itu... di ruangan boss ada tamu," ucapan perempuan yang bekerja sebagai resepsionis itu ragu-ragu.
"Siapa tamunya?" tanya Adora lagi dengan nada tenang.
"Tuan Deri dan putrinya nona Lolytta," akhirnya jawaban yang Adora inginkan berhasil dikatakan.
"Jangan katakan bahwa aku sudah datang, kamu cukup diam saja."
Setelah berucap seperti itu, Adora menuntun kedua anaknya menuju lift yang dikhususkan yntuk para petinggi perusahaan. Ketika pintu tertutup, Veziano maupun Viserra bergelayut manja di kaki nyanya.
"Tantan selingkuh?" tanya Viserra spontanitas.
"Tidak baby! tantan tidak selingkuh, cuman tikus nakal yang ingin mengajak nyanya bermain," jawab Adora lembut.
"Tikus nakal? aku benci tikus," desis Veziano walau tak tahu maksud dari tikus itu sendiri.
"Benarkah? berarti nyanya harus menjewer telinga tikus itu agar tidak mengganggu Zian dan Rara serta Sasa," ucapan Adora melegakan hati Veziano.
Ting!
__ADS_1
Ketukan high heels terdengar di koridor yang sunyi itu. Sekretaris Edward menyambut kedatangan nyonyanya dengan senyum merekah sempurna. Raut wajah lega terpampang jelas.
"Di mana tikus nakal itu?" tanya Adora langsung.
Leoni tersenyum kala mengerti arti dari tikus nakal segera menunjuk ke dalam ruangan bossnya yang tertutup.
"Tolong gendong sebentar Sasa, dia sedang tertidur," Adora menyerahkan Visenya ke Leoni.
Leoni ini adalah sekretaris terpercaya yang sudah Adora seleksi sejak ia masih berpacaran dengan Edward, jadi ia tak khawatir menitipkan anaknya ke gadis yang betah menjomblo itu.
"Zian dan Rara tunggu di sini bersama aunty Leoni ya," pinta Adora lembut.
"Siap nyanya!" tanpa curiga mereka mengangguk kepala semangat.
Leoni segera membawa ketiga anaknya boss ke ruangan khusus sekretaris, di sana juga ada beberapa sekretaris yang sudah Adora seleksi. Leoni ini adalah seorang sekretaris utama di kantor Edward berkat kecakapannya dalam bekerja.
Tersisa Adora sendirian di koridor sepi itu yang kini sudah tersenyum menyeringai.
BRAK!!!
Pintu itu terbuka dengan tidak etisnya oleh seorang istri CEO yang disegani. Dua orang selain Edward trrsentak kaget dan langsung membentak Adora.
"Siapa kamu?! berani sekali mengganggu pertemuan penting kami!" teriak tuan Deri.
"Ya, dasar bodoh!" maki Lolytta.
Adora tak perduli dan segera mendekat lada Edward dan duduk di pangkuan suaminya dengan kedua tangan dikalungkan ke leher.
"Kapan sampai sayang?" tanya Edward lembut.
"Baru saja. Oh ya, siapa mereka? berani sekali membentak nyonya muda Wellington?!" nada Adora meninggi.
Gadis bernama Lolytta menatap kesal pada Adora yang baru datang dan tanpa tahu malu duduk di pangkuan Edward. Apalagi tangannya menjelajahi dada bidang Edward.
"Nyo-nyonya muda!" Deri gelagapan saat tahu bahwa wanita yang ia bentak tadi merupakan istri dari Edward.
Nama Adora memang terkenal sebagai salah satu nyonya Wellington serta sebagai seorang dokter. Tapi, wajahnya memang dirahasiakan sebab kecemburuan Edward yang tak ingin memperlihatkan kecantikan istrinya ke khalayak ramai.
"Sikap tidak sopan apa itu? jadinya seperti ******," ucap Lolytta sarkastik.
Edward menggertakan gigi kesal sedangkan Deri mencengkeram kuat tangan putrinya. Jika begini dipastikan dalam hitungan menit perusahaan yang ia bangun dengan uang haram gagal sudah. Itu tidak bisa! begitu pikir Deri.
"Lolytta jaga ucapanmu!" bentak Deri.
"Ayah baru saja membentakku?! seharusnya yang ayah bentak itu si ****** itu?!" marah Lolytta kembali.
__ADS_1
"Ma-maafkan putri saya, tuan dan nyonya!" Deri memohon dengan wajah memelas.
"Hei ******! memangnya kau siapa?! kau tidak tahu siapa aku?! aku adalah calon istri dari Edward, aku bahkan sedang mengandung anaknya, lihat saja jika ia sudah menceraikan istrinya kau akan kuhukum!" perkataan Lolytta tadi memicu amarah Edward namun Adora menepuk pundaknya menenangkan.
Adora turun dari pangkuan Edward lalu menatap penuh intimidasi dari kaki lalu naik ke rambut. ia berdecak kesal dan dalam satu kali kedipan mata, kakinya yang dibaluti high heels mennedang tepat di perut Lolytta sampai gadis itu terpental jauh dan menabram guci mahal di ruangan itu.
Lolytta merasakan sakit yang luar biasa di punggung dan perutnya. Pasal hamil itu ia hanya berbohong.
"Dengar ******! aku adalah istri dari Edward Wellington, satu-satunya wanita yang selalu mengisi hatinya. Tikus sepertimu jangan bermimpi menjadi cinderella, dasar pemalas!" bentak Adora kembali menampar pipi Lolytta berulang kali sampai sudut bibirnya robek.
Adora berbalik menatap Deri yang masih tercenggang melihat putri kesayangannya sudah dibabat habis oleh Adora.
"Dan kau! berani sekali kau datang membawa putri jelekmu untuk menggoda suamiku! jika mengikuti kata hati kalian akan kupotong lehernya satu-satu tapi sayang, aku malas."
Wanita itu meludah di samping Lolytta yang merasa ketakutan setelah dihajar oleh istrinya Edward tersebut.
Edward menyeringai puas setelah melihat penderitaan gadis yang menjengkelkan itu. Edward egosi? ya dia egois juka itu menyangkut keluarganya!
"Segera pergi atau kalian yang kubuat tak melihat dunia lagi."
Mendengar pengusiran dan ancaman keluar dari Edward, Deri segera menyeret Lolytta keluar dari ruangan itu dengan wajah menahan malu.
Edward berjalan mendekat pada Adora dan mendekapnya dari belakang. Ia benci pada mereka yang mengatakan istrinya ******, istrinya ini sangat cantik dan tak pantas dikatakan ******.
"Seharusnya tadi aku mencabiknya lebih dulu," ujar Edward merasa bersalah.
Adora membalikan tubuhnya lalu mengangkat wajah Edward. Menatap mata biru laut suaminya yang begitu teduh, Adora berjinjit dan mencium rakus bibir suaminya dan tentu saja dibalas oleh Edward. Kedunya berciuman hingga hampir dua puluh menit dan harus terhenti ketika suara Veziano.
"Tantan! nyanya!"
Keduanya segera melepaskan pangutan bibir mereka sebelum dipergok oleh anak-anak. Edward merunduk sambil merentangkan tangan.
Veziano dan Viserra melompat ke gendongan tantan mereka. Sedangkan Leoni menyerahkan Visenya ke Adora.
"Terima kasih Leoni sudah menjaga mereka," ucap Edward dan Adora bersamaan.
Leoni mengangguk dan pamit undur diri menyisakan keluarga kecil tersebut.
"Maaf tantan lalai dan membiarkan tikus nakal masuk ke kehidupan kita. Tantan berjanji akan selalu bersama kalian semua," ujar Edward.
"Ya tantan!" seru Viserra dan Veziano lantang.
"Tan!" timpal Visenya yang juga sudah terbangun.
"Nah ayo makan siang!" Adora segera menyuruh cleaning service untuk membersihkan ruangan sedangkan mereka akan makan siang di kanting perusahaan bersama para karyawan.
__ADS_1
****