
"Akhirnya selesai juga," Adora mulai meregangkan badannya lalu mengelurkan sebuah sapu tangan.
Dengan telaten ia membersihkan noda darah yang tersisa pada pistolnya. Ia sangat menikmati aksi menyeramkannya tadi buktinya ia tak berhenti tersenyum seperti orang gila.
Tuk
Adora terkejut ketika Edward menyentil dahinya dengan kuat. Matanya menajam tapi tak membuat Edward takut malah Edward ingin rasnaya mencubit pipi gadis di depannya.
"Dasar kau pria kurang ajar!" marah Adora.
"Nona menyebalkan!" balas Edward tak mau kalah.
"Kau!" tunjuk Adora pada wajah Edward.
Bella menghela napas menyaksikan pertengkaran kedua orang itu, bisakah mereka berdua berdamai sejenak. Ia pusing dengan kasus penculikan Aluna malah ditambah harus melerai kedua orang ini.
"Berhenti! kalian bukan anak kecil lagi!" seru Bella menahan marah.
Adora dengan sigap lari bersembunyi di belakang Athena karena ia hafal bagaimana sifat Bella jika sudah sangat kesal. Bisa saja Bella membanting dirinya ke dinding.
"Kenapa harus aku?" tanya Athena.
"Kau kan adiknya Bella pasti dia tak berani menyakitimu," jawab Adora penuh keyakina.
"Maka itu ia akan lebih berani jika aku adiknya," Athena malah kabur duluan meninggalkan Adora.
"Huaaa! Athena tunggu aku!" teriak Adora.
"Jangan kabur kau!" Bella mengejarnya dengan memegang sebuah balok kayu.
Tiga pria yang masih ada di ruangan itu menggelengkan kepala lalu menyusul tiga gadis yang sudah mendahului mereka.
Tak lama setelah mereka menjauh dari gedung tua tersebut, gedung itu meledak dan tersisa reruntuhannya saja. Ini memang sudah menjadi rencana mereka untuk menghancurkan gedung itu.
****
Atap yang berwarna putih dengan semerbak aroma obat-obatan yang begitu memyengat membuat seorang gadis yang baru membuka mata merasa tak suka.
Perlahan ia mengumpulkan kesadarannya, matanya menjelajah ke seluruh ruangan yang ia tempati. Tangannya ditempeli oleh selang infus, di sofa ruangan itu terdapat dua pria yang pikirannya melayang entah kenapa.
"kakak...," kata pertama yang ia sebut setelah sadar.
Dua pria tadi menghampirinua dengan wajah panik sekaligus senang. Salah satu dari mereka memanggil dokter.
Tak butuh waktu lama seorang dokter tampan memasuki ruangan gadis itu dan mulai memeriksa keadaan si gadis. Setelah memeriksa ia mengulum senyum.
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya, dok?" tanya Ronan.
"Kondisinya mulai pulih, anda tidak perlu khawatir. Asalkan nona Aluna beristirahat dengan teratur dan makan dengan baik maka keadaannya bisa kembali pulih dengan cepat," jawab dokter Hassan.
"Baiklah terima kasih, dok. Mari saya antarkan anda," tawar Ronan.
Di ruangan itu tersisa Aluna, kepalanya terasa sakir. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sampai ia terbaring lemah di brankar rumah sakit ini.
"Ah!!!" ia berteriak keras dan langsung meringkuk ketakutan mengingat kejadian di mana ia hampir dilecehkan.
Rowan yang hendak menyentuhnya saja ditepis dengan kasar. Ia menangis sejadi-jadinya membuat Rowan panik dan segera memanggil kembali Ronan dan Hassan.
"Tolong!!" teriak Aluna histeris.
Kejadian itu seperti menghantui dirinya, ia membayangkan kalau Rowan adalah Charlie.
Hassan segera menyuntikan obat penenang pada gadis itu lalu memeriksa kondisinya.
"Nona Aluna mengalami trauma, karena kejadian itu dia sepertinya sangat takut jika pria mendekatinya," ucap Hassan.
"Apa?! padahal tadi dia baik-baik saja, dok. Bagaimana bisa sepeti ini, dok?!" Rowan berteriak marah.
"Mental nona Aluna sangat lemah sehingga kejadian itu membekas di pikiranny, saya sarankan sebaiknya anda menjaga jarak darinya karena bisa saja akibatnya lebih parah jika anda memaksakan diri," jawab Hassan tetap tenang.
Bugh
"Saya mohon permisi dulu," pamit Hassan.
"Silahkan, dokter."
Hati kedua saudara kembar itu terasa teriris ketika melihat keadaan adik mereka yang tidak baik-baik saja.
'Andai aku datang lebih cepat dia pasti tidak seperti ini,' batin keduanya bersamaan.
****
Sudah dua hari ini tapi tak ada perubahan pada Aluna, gadis itu masih tetap melamun terkadang juga ia menangis frustasi sambil menarik rambutnya. Jika sudah begitu maka Hassan harus bertindak untuk menenangkan.
Di antara banyaknya orang terdekatnya, hanya Hassan yang merupakan dokter penanggung jawabnya sajalah yang bisa menyentuhnya.
Kini, Yunifer dan nyonya Bianca sedang menemani Aluna di ruangannya sedangkan Edward dan ketiga temannya tak berani masuk jika mereka memaksa maka Aluna tak segan membanting semua yang ada di atas nakas.
Di tengah keheningan, terdengar langkah kaki yang saling bersahut-sahutan. Dari balik dinding muncul empat gadis dengan seragam mereka masing-masing berjalan cepat.
Tanpa permisi mereka langsung langsung masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Aluna yang saat itu sedang disuapi oleh nyonya Bianca langsung ceria ketika melihat kedatangan mereka. Senyumnya mengembang sempurna.
"Hai," sapa keempat gadis itu.
"Hai juga, ke mana kalian setelah hari itu?" tanya Aluna.
"Aku punya jadwal penerbangan ke Afrika," jawab Adeeva.
"Aku harus mengurus peluncuran produk baruku," jawab Athena.
"Aku melakukan pertemuan dengan penggemarku," jawab Bella.
Aluna bergantian menatap Adora yang asik tersenyum sendiri. "Aku mengurusi hama-hama kecil."
"Hama-hama kecil?" beo Aluna.
"Bukan apa-apa, maksudku meneliti bakteri haha iya bakteri," jawab Adora canggung saat Bella memelototi dirinya.
Setelah itu, mereka saling berbagi cerita membuat Aluna yang beberapa waktu lalu takut mulai tenang dengan keberadaan mereka. Bahkan, Yunifer sering menggoda keempat gadis itu.
"Permisi," Hassan masuk ke dalam ruang inap Aluna.
"Kakak, kenapa kau ada di sini?" tanya Adeeva polos.
"Kak Hassan sepertinya akan membantingmu sekarang," bukannya Hassan yang menjawab tapi Athena.
"Hng!" Adeeva menatap sengit Athena.
Hassan tersenyum lalu mulai memeriksa keadaan pasiennya. Adora yang melihat bahwa Aluna tenang-tenang saja diperiksa oleh Hassan terheran. Bukankah Edward mengatakan bahwa Aluna sangat takut dekat dengan laki-laki karena kejadian hari itu, lalu kenapa bisa begini?
"Kenapa nona Adeeva memanggil anda kakak? apakah anda berdua saudara?" tanya Yunifer.
"Iya, aku dan kak Hassan saudara kandung dan juga kakak jangan memanggilku nona, aku sudah memanggilmu kakak maka kamu harus memanggilku Adeeva saja," jelas Adeeva panjang lebar.
"Baiklah, gadis cantik," balas Yunifer.
"Aku juga cantik kan?" tanya Athena pada Yunifer.
"Tentu saja! kalian semua adalah gadis cantik," jawab Yunifer dengan senyum gemas.
"Bagaimana kondisi putriku, dokter?" tanya nyonya Bianca.
"Kondisi nona Aluna sudah mulai membaik, mungkin jika kita berusaha sedikit lagi maka traumanya akan hilang dengan perlahan, nyonya," balas Hassan.
Setelah saling bertanya jawab mengenai keadaan Aluna, Hassan pamit pergi karena masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan. Adora dan para sahabatnya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka lalu memutuskan untuk menemani Aluna di sini bersama Yunifer dan nyonya Bianca.
__ADS_1
****
Sampai jumpa🤗🥰