Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 29


__ADS_3

Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena "Cinta Dokter Cantik" berhenti di tengah-tengah, ini karena hp aku hilang jadi butuh waktu buat dapat akun ini balik.


Pas udah dapat aku masih nunggu waktu buat ujian akhir soalnya aku udah kelas 12, maaf banget ya. Secepatnya novel ini bakal update lagi-lagi, semoga pembacanya masih setia ya nungguinnya. Langsung aja ke ceritanya!


...****************...


Pagi-pagi Adora sudah stay dengan dress pink pastel dengan rambut terurai membuat gadis yang sudah 26 tahun itu terlihat sangat cantik.


Adora, gadis itu bersiul-siul sambil menyetir mobilnya, pikirannya melayang saat tadi malam Edward yang mabuk tak sengaja membongkar sebuah rahasia.


Flashback on


Malam penuh bintang di hari ulang tahunnya dengan rembulan yang memancarkan cahayanya dengan malu-malu. Hembusan angin menemani dua manusia berbeda gender yang asik berguling di padang rumput yang luas.


Setelah menghabiskan waktu bersama keluarganya, Edward mengajak Adora pergi ke suatu tempat dan berakhirlah keduanya di sini.


Hamparan bunga lavender di sekitar menyeruak menembus hidung kedua insan.


"Kamu tahu tempat ini dari mana?" tanya Adora tanpa melepas tatapannya dari keindahan danau di bawah mereka.


Tanpa aba-aba Edward menggenggam tangan Adora yang menganggur membuat sang empu tersentak kaget.


Adora menoleh dan bertepatan saat itu tatapan keduanya terkunci, waktu seakan berhenti. Di bawah cahaya rembulan, Edward bisa melihat wajah Adora yang entah mengapa berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya.


"Tempat ini tempat rahasiaku sejak kecil, dan kamu harus tahu bahwa kamu orang pertama yang kubawa ke tempat di mana aku berkeluh kesah," seorang Edward Wellington yang dingin dan menyebalkan begitu lembut malam ini.


Adora tersenyum lalu menyelipkan helaian rambutnya ke samping telinga, "Apakah aku sespesial itu?"


Kata-kata Adora hanyalah candaan semata, walau ia sangat berharap ia memang menjadi wanita spesial di hati Edward.


Adora tak mau berbohong akan perasaannya yang sudah tertanam di hatinya yang semakin hari semakin membuncah. Padahal ia tahu sendiri bahwa Edward hanyalah mencintai Aluna, mantan pacarnya.


'Jangan terlalu banyak berharap, Adora. Jika tidak kau akan kembali terjatuh ke lubang terdalam lagi,' lirih Adora yang merasakan perih di hatinya.


Tangan besar Edward menangkup pipinya membawa Adora ke gelora asmara di bawah syahdunya malam.


"Ya, kau spesial. Kau istimewa, aku tak tahu sejak kapan rasa ini timbul. Jujur saja selama aku tak melihatmu atau mendengar suaramu membuatku ingin selalu berada di dekatmu, barulah aku tersadar bahwa aku memang sudah jatuh cinta padamu, Adora," akhirnya, akhirnya Edward mengungkapkan rasa yang selama ini ia rasakan.


Memang sejak pertemuan pertama mereka yang tidak bisa dibilang baik menyisakan memori mendalam di ingatan seorang Edward Wellington. Walau saat itu ia masih berstatus pacar Aluna.


Setelah patah hati karena dicampakan, Adora bagai cahaya yang datang ke hidupnya membuat ia kembali ceria bahkan lebih ceria dibanding dengan Aluna.


"Aku mencintaimu," sebuah kecupan singkat mendarat di pipi kirinya yang menganggur.


Sontak saja wajah Adora memerah bagai kepiting rebus. Edward tak melewatkan ekspresi pujaan hatinya satu pun, dengan tawanya ia menoel-noel pipi yang masih memerah itu.


"Ish, jangan mengangguku," Adora memukul kuat tangan Edward.


"Kau terlihat sangat cantik jika sedang merona," kembali Edward berkata.


"Aku memang cantik," untuk menutupi salah tingkahnya, Adora berbalik membelakangi Edward.

__ADS_1


Edward segera memeluk tubuh Adora dari belakang, ia lingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping gadisnya. Gadisnya? Ya mulai sekarang Adora adalah gadisnya.


Edward meniup leher jenjang gadisnya sehingga sang gadis meremang dibuatnya.


Dengan suara serak basahnya Edward berucap, "Kau belum membalas perasaanku, sayang."


Adora menoleh dan pipinya dengan cepat dikecup oleh Edward.


"Edward berhenti mengecup pipiku!" teriak Adora kesal.


"Oh kau tak mau di pipi, di bibir saja bagaimana?" tanya lelaki itu sengaja.


"Astaga, mau ku operasi mulutmu," ancam Adora.


"Jangan ibu dokter," bukannya berhenti ia malah lanjut menghujami pipi Adora dengan bibirnya.


"Berhenti Edward!" kesal Adora.


"Balas dulu perasaanku," titah Edward.


"Tidak!"


"Sayang!"


"Tidak!"


"Ayolah sayangku, atau kau mau aku lakukan lebih dari ini jika tak kau katakan!"


Adora mencubit lengan kekar yang masih saja memeluknya itu.


"Edward turun!"


"Tidak mau!"


"Baiklah, AKU JUGA MENCINTAIMU!" teriak Adora tepat di wajah tampan pria itu dengan mata terpejam. Ia malu.


Dengan pelan Adora membuka matanya, ia mendengus kesal saat melihat senyum kemenangan tercetak jelas di bibir sexy Edward. Edward menyatukan dahi keduanya dan menatap dalam netra biru yang begitu memikat itu.


"Kau tidak terpaksa mengatakannya?"


"Tidak, aku jujur," jawab Adora dengan pasti.


Pria itu bangkit begitu pula Adora, bisa dikira sedang bercinta jika ketahuan nanti.


"AKH!" Adora kembali dibuat terkejut saat tubuhnya didudukan ke pangkuan Edward.


Ia menyadarkan kepalanya ke dada Adora dan memeluk erat pinggang Adoda seakan tak mau berpisah walau sedetik saja.


"Kalau begitu kita berpacaran?" tanya Adora secara gamblang.


Edward mendonggak dan menggeleng, "Siapa bilang?"

__ADS_1


Bugh


Tinjuan mendarat di bahu Edward sehingga ia meringis.


"Lalu untuk apa kau ungkapkan perasaanmu padaku?!" marah Adora.


"Hahaha, dengarkan sampai habis sayang. Aku ingin langsung menikahimu lalu mengurungmu agar tak ada yang bisa melirikmu lagi."


Wajah Adora kembali memerah.


"Jangan mengada-ngada!"


"Kenapa?"


"Bukankah itu terlalu cepat?"


"Kalau begitu kita bertunangan dan sebulan kemudian menikah, setuju?" Edward menawarkannya dengan suara penuh rayuan.


"Baiklah, jika kau mencampakanku aku akan menebas habis organ reproduksimu tuan Edward Wellington!"


Edward tak menjawab, matanya terus terarah pada bubir sexy merah delima milik gadisnya. Begitu menggoda, pikir Edward.


Tanpa ba bi bu Edward lantas mencium dan ******* bibir Adora.


"Hmmph!" Adora hendak menjauhkan diri akan tetap gerakan Edward lebih cepat, ia menahan tengkuk Adora.


"Haaah... Edward kurang... ajar," maki Adora dengan napas satu dua.


Bibirnya terasa bengkak. "First kiss?"


"Ya! aku tak pernah berciuman dengan mantan iblis itu! Dan kau malah merebutnya, seharusnya suamiku yang mendapatkannya,"


Adora memukuli bahu dan dada bidang Edward berkali-kali dengan pelan.


"Aku kan suamimu nanti," Edward menyeka bekas air liurnya di pinggir bibir gadisnya.


"Itu harus!" Adora memeluk leher Edward erat dan tanpa sadar ia merasa nyaman lalu tertidur di pangkuan Edward.


Dari jauh, seseorang menyaksikan kejadian itu dari awal sampai akhir. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri.


"Berbahagialah sayang... tapi untuk sementara aku harus memisahkan kalian," ujar orang itu dengan deraian air mata.


"Tuan mereka sudah pulang sebaiknya anda juga kembali, di luar dingin. Kesehatan anda harus diprioritaskan," seru ajudannya membuyarkan lamunannya.


"Ayo kembali!"


Flashback off


"ARGGH!! Edward kau membuatku gila," ucap Adora senyum sendiri. "Apakah aku harus menikahinya malam ini saja?"


Adora menggelengkan kepalanya karena terlintas pikiran mesum. Ada-ada saja.

__ADS_1


...****************...


Maaf banget ya baru update🙏🙏


__ADS_2