
"Selamat pagi, Dokter Adora!" banyak sapaan yang menyambut kedatangan si gadis cantik pagi ini.
"Pagi juga!" sahut Adora dengan senyumannya yang manis.
"Apa anda akan memeriksa tuan tampan yang ada di ruang VIP?" tanya seorang perawat cantik yang masih muda.
"Tampan? siapa?" tanya Adora heran.
"Haish siapa ya nama tuan tampan itu?" gumam perawat lain yang merupakan temannya tadi.
"Tuan Edward, Dokter," jawab Dokter Anna yang melewati mereka.
"Oh, astaga!" Adora terkejut.
'Apakah dia benar-benar tampan? menururku biasa-biasa saja'
"Dokter?!" tanya yang lain sambil melambaikan tangannya di depan wajah Adora.
"Ah iya, maafkan aku, aku memang akan memeriksanya sekarang," jawab Adora setelah tersadar dari lamunannya.
"Anda sangat beruntung bisa memeriksa tuan tampan itu," ucap mereka dengan mata berbinar.
"Hehe," Adora menyengir. "Aku pamit dulu."
Setelah itu Adora berlalu dari sana menuju ke ruang VIP milik pasien yang menjadi tanggung jawabnya sejak beberapa waktu lalu.
"Permisi," sapa Adora pada orang yang ada di ruangan VIP itu.
"Selamat datang, Dokter!" sambut tuan Alfred ramah.
"Terima kasih," balas Adora.
Di ruangan itu tak hanya ada tuan Alfred namun ada pula nona Yunifer dan sang Ibu. Ngomong-ngomong soal penculikan si kembar dan Zelleine satu minggu lalu, keluarga Wellington sangat berterima kasih pada Adora dan sahabat-sahabatnya yang telah menyelamatkan Zelleine.
"Saya akan memeriksa keadaan beliau," ucap Adora sambil memakai stetoskopnya.
Beberapa menit setelah memeriksa keadaan Edward, nyonya Bianca sudah mendekati Adora dan bertanya dengan nada penuh harapan.
"Maaf... sepertinya beliau masih nyenyak dengan tidurnya tapi keadaan beliau sudah stabil, mungkin tak lama lagi beliau akan sadar dari komanya," jelas Adora panjang lebar.
"Terima kasih, Dokter," seru Yunifer.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu," Adora harus pergi karena ia punya pekerjaan lain yang harus dikerjakan.
Setelah kepergian Adora, nyonya Bianca duduk di samping brankar dan memegang tangan Edward, air matanya mengalir deras melihat anaknya yang tak kunjung membuka matanya.
"Sayang... bangunlah...," lirih wanita parubaya itu tersedu-sedu.
"Edward pasti cepat sadar," ujar Yunifer dengan ragu.
Ia juga tak yakin kalau Adiknya akan bangun dengan cepat tapi ia percaya pada Adora.
****
Malam hari telah tiba. Di bawah terangnya sinar bulan membuat wajah seorang pria yang tak lain adalah Edward terlihat mempesona.
Di ruangan itu hanya ada Edward sendirian bersama Adora karena keluarganya sedang ada urusan mendadak dan tak bisa ditunda.
Adora juga diberi amanat oleh nyonya Bianca untuk menjaga Edward untuk sementara waktu.
Seperti sekarang, Adora sedang duduk di bangku samping brankar milik Edward sembari memainkan ponselnya.
"Haish...," keluh Adora karena merasa bosan.
Detik berikutnya, ia kembali fokus pada wajah Edward yang tampan apalagi terkena sinar bulan yang cerah. Adora menatap lekat wajah pria itu sampai kepalanya miring.
"Hei bangunlah!" panggil Adora menusuk-nusuk pipi Edward. "Sudah satu bulan! kau tak bosan dengan mimpimu itu?! karena kau aku harus datang pagi-pagi sekali hanya untuk memeriksamu."
Adora terus mengoceh sampai mulutnya kelelahan karena terlalu banyak bergerak. Sampai akhirnya gadis itu terlelap di samping Edward, gadis itu tidur berbantalkan kedua tangannya yang dilipat.
Detik-detik waktu perlahan berlalu, malam semakin larut. Hawa dingin terasa menusuk pori-pori kulit siapa saja yang berpakaian tipis.
Seorang perawat yang bertugas malam masuk ke dalam ruangan Edward dan menutup pintu jendela ruangan itu karena tak sempat ditutup oleh Adora.
"Kasihan, Dokter Adora. Beliau selalu berusaha keras untuk orang-orang di sekitarnya," ucap perawat itu sebelum menghilang di balik pintu.
Cklek!
Yunifer baru saja selesai dengan urusannya pun datang mengunjunngi sekaligus menjaga Adiknya yang masih terbaring lemah di brankar.
__ADS_1
Bibirny mengulum sebuah senyum melihat pemandangan di depannya, Edward yang masih tenang di alam bawah sadarnya sedangkan Adora yang tertidur lelap.
"Untung saja aku secepatnya kesini, jika tidak akan sangat kasihan Dokter Adora," ucap Yunifer mengelus rambut gadis itu.
Namun, Adora sama sekali tak merasa terganggu dengan elusan itu malah ia merasa keenakan karena badannya menjadi sedikit lebih rileks.
Ketika sedang asik memerhatikan wajah cantik milik Adora, Yunifer tak sadar jika ada pergerakan kecil dari jari-jemari milik Edward.
Perlahan tapi pasti, pria tampan yang sudah tertidur selama sebulan penuh itu membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan yang begitu bersih dan rapi serta bau obat-obatan menelusup ke hidungnya.
"A...ir," ucapnya terbata-bata dengan suara hampir tak di dengar.
"Edward!" seru Yunifer dengan antusias membuat Adora terbangun.
"A...ir," ucap Edward sekali lagi.
"Ah, iya!" dengan cekatan Yunifer langsung membantu Edward meminum airnya.
"Astaga beliau sudah sadar!" Adora tampak terkejut. "Aku akan panggilkan, Dokter!"
Yunifer mengangguk begitu saja. Akan tetapi, selang beberapa menit, Adora dan Yunifer baru sadar sekarang.
"B-bukankah anda adalah Dokter?" tanya Yunifer bingung.
"Ya ampun!" Adora menepuk jidatnya dengan kuat.
Dengan segera ia langsung melakukan pemeriksaan terhadap Edward. Di kala Adora melakukan pemeriksaan, Yunifer segera mengabari keluarga dan sahabat Edward tentang Edward yang sudah sadar.
****
"Ke mana anak itu? seharusnya ia sudah sampai saat ini," gerutu seorang gadis berhijab sambil memegang kopernya.
Gadis itu adalah Adeeva yang baru saja kembali dari penerbangannya ke India. Ia sudah menyuruh Bella, sahabatnya untuk menjemput dirinya di bandara tapi Bella belum kunjung datang.
Tiba-tiba mobil sport berwarna biru berhenti di depan Adeeva, Adeeva mengerutkan dahinya. Ini bukan mobilnya Bella, pikirnya.
Ketika jendela mobil diturunkan, Bella menyembulkan kepalanya keluar dengan senyum tengil.
"Dari mana kau?!" tanya Adeeva kesal.
"Hehe, maaf mobilku mogok tadi," ucap Bella setelah keluar dari mobil sport itu.
"Jadi?" masih dalam keadaan kesal, Adeeva bertanya.
Pria yang disebut namanya kemudian ikut keluar juga. "Hai, nona Adeeva!" sapa Ronan ramah.
"Hai juga, tuan," balas Adeeva seadanya.
"Kalau begitu anda tidak keberatan naik ke mobil saya?" tawar Ronan sopan.
"Jika tidak merepotkan anda, saya minta tolong antarkan saya."
"Tentu saja, biar saya bawa kopernya!" Ronan langsung membantu memasukan koper milik Adeeva ke bagasi mobilnya.
"Terima kasih."
Setelah itu mereka masuk ke mobil. Di dalam mobil, Bella banyak bertanya mengenai penerbangan sahabatnya ke India. Mereka sudah terpisah selama saru minggu karena pekerjaan.
"Apakah Adora dan Athena tahu?" tanya Adeeva.
"Tidak, biarkan ini menjadi kejutan untuk mereka," jawab Bella.
"Mm, nona-nona maaf menyela sedikit, apakah boleh kita ke rumah sakit dulu karena saya ingin menjenguk sahabat saya di sana," ucap Ronan sembari serius mengendarai mobilnya.
"Tentu saja!" jawab Bella dan Adeeva kompak.
Dalam waktu dua puluh menit akhirnya mereka bertiga telah sampai di rumah sakit tempat Adora bekerja.
"Bukankah ini tempat Adora bekerja?" tanya Adeeva.
"Iya," jawab Bella.
Di sisi lain, ruangan Edward kini penuh dengan kebisingan karena kedatangan seorang gadis.
"Semoga cepat sembuh, tuan," ucap Athena.
"Terima kasih, nona Athena," jawab Edward dengan ramah.
"Proyek kerja sama kita berkembang pesat," tutur Athena dengan semangat menggebu-gebu.
__ADS_1
"Apakah kau sudah menemukan model untuk produk itu?" tanya Edward.
Athena mengangguk antusias. Kemudian, Edward kembali bertanya, "Siapa?"
"Arabella, si ratu kecantikan!" seru Athena dengan bangga.
Ia sangat bangga ketika menyebut nama sang Kakak yang pernah menjadi Ratu kecantikan di Australia selama tiga tahun berturut-turut.
"Hai nona cantik!" di tengah-tengah pembahasan mereka, Rowan menyapa Athena.
"Si--," perkataan Athena terhenti ketika melihat pria di sampingnya.
"Ya?" Rowan kebingungan.
"Bukankah kau adalah tuan Ronan, beraninya kau menggodaku?" Athena hendak melayangkan tinjunya ke wajah Rowan.
"Nona!" seru Edward, Noah, dan Rowan kaget
"Athena?"
Athena langsung menoleh ke arah pintu di mana ada tiga orang yang menatapnya dengan heran. Dengan sekejap Athena bersikap sangat anggun.
Bella terkejut kala melihat wajah Ronan dan Rowan yang terlihat sama persis begitu pula Athena dan Rowan, bukan hanya itu mereka yang ada di ruangan itu berada dalam situasi kebingungan kecuali Ronan.
"Anda dan tuan Ronan?" Athena bergantian menunjuk Ronan dan Rowan.
"Kau dan Arabella?" Rowan juga terlihat bingung.
"Haha, Rowan adalah Adik kembarku, nona," jelas Ronan. "Dan nona Arabella dan Athena adalah anak kembar juga sama seperti kami."
"Pantas saja saat aku bertemu denganmu tasanya familiar ternyata kau Adik dari Ratu kecantikan," tutur Edward.
"Siapa dia?" tanya Rowan pada gadis berhijab di samping Bella.
"Oh dia adalah sahabatku," jawab Bella.
Cklek!
Adora baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ruang koas dan baru akan memeriksa keadaan Edward. Namun, ketika membuka pintu ia dibuat terkejut karena ruangan itu penuh dengan manusia-manusia.
"Mm, ada apa ini?" tanyanya bingung.
"Halo, sayang," Bella, Adeeva, dan Athena melambaikan tangan mereka pada Adora.
Adora terkejut lalu kembali senang. Dengan cepat ia melakukan pemeriksaan terhadap Edward, hari ini juga ia tak mencari masalah pada Edward karena malas.
"Tumben kau diam, nona menyebalkan?" kali ini Edward yang mulai.
"Hmm, sepertinya kau butuh dibedah ulang?" ujar Adora dengan senyum mengerikan.
"H-hei! aku atasanmu!" balas Edward ketakutan kala melihat Adora meraba saku jasnya.
"Atasan?"
"Dia adalah pemilik rumah sakit ini," jawab Ronan.
"Ck, hanya pemilik! kau pikir bisa menekanku dengan itu?" tanya Adora sarkas lalu memukul kepala Edward.
"Dokter macam apa kau memukul kepala pasien?"
"Terserah, hng!" Adora berpaling.
Beberapa orang yang ada di ruangan itu menghembuskan napas kasar melihat pertengkaran dua sejoli itu.
"Selamat siang!" sapa Dokter Hassan.
"Kakak!" seru keempat gadis itu berlari mendekat pada Dokter tampan itu.
"Apakah pekerjaanmu sudah habis?" tanya Hassan pada Adora.
"Yup, tuan kurang ajar itu adalah pasien terakhirku di hari ini," jawab Adora antusias.
"Tuan kurang ajar?" beo Hassan.
"Haha, ayo pergi, Kak. Pasti Ummi dan Abi sudah menunggu kita," Adeeva langsung menggandeng tangan Hassan.
"Terima kasih," Athena pergi setelah berkata begitu.
Sedangkan Bella sudah menyeret tangan Adora sebelum gadis itu mencari masalah lagi.
__ADS_1
****
Mohon dukungannya🥰😘🙏