Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
42


__ADS_3

Akhirnya hari ini Adora kembali pada rutinitasnya yaitu ke rumah sakit. Pasti teman-temannya sudah sangat merindukannya. Lagi pula, sebelum Evander dan Tarissa menikah beberapa hari lagi ia bisa sempatkan datang.


Dengan senandung kecil, gadis itu berjalan melewati koridor tumah sakit. Senyuman lebar para pasien dan rekan kerjanya menyambut kedatangan Adora.


Hassan yang baru keluar dari ruangan pasien VVIP terkejut melihat kedatangan. Padahal saat ia berkunjung tempo lalu ke mansion Devine, gadis itu masih mengurung diri.


"Sudah membaik adik kecil?" tanya Hassan sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan tinggi Adora. Maklumlah tingginya 185 cm dan Adora sendiri 172 cm.


"Hehe sudah kak. Aku kembali menjadi kuat," Adora berkacak pinggang dengan jas dan rambutnya berterbangan membuat ia terlihat keren seperti wonder woman.


Di balik itu Erika memegang kipas angin berukuran sedang yang terarah padanya.


"Sudahlah, selamat kembali bekerja. Kakak tinggal dulu," Hassan segera pamit.


Sepeninggal Hassan, Erika memeluk tubuh Adora erat. Adora menepuk punggung perawat cantik itu.


"Aku turut bersedih atas kepergian kakek dan ayahmu," tutur Erika tulus.


"Terima kasih, oh ayolah jangan mengajakku bersedih. Makan siang nanti ayo kita nikmati bersama-sama teman yang lain. Aku merindukan kalian semua," ujar Adora.


"Ayo!" balas Erika dengan semangat berkobar.


****


Adora mulai melaksakan operasi perdananya setelah jatuh terpuruk. Bersama rekan-rekan yang lain, gadis itu mulai bekerja.


Terhitung sudah ada dua pasien ia tangani dengan operasi usus buntu dan kangker rahim. Soal kangker rahim mengingatkan nyonya Bianca yang akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.


"Aluna!"


"Adora!"


Kedua gadis itu lantas berpelukan erat. Saat Adora berduka, Aluna tak ada di sampingnya karena gadis itu tengah mengunjungi ayah bundanya di Nepal.


"Maaf tak ada di sisimu," ujar Aluna mengelus rambut Adora penuh sayang.


Mereka berdua sudah mengambil tempat di salah satu bangku dengan Adora yang masih erat memeluk Aluna. Mendusel-dusel di leher Aluna membuat si empu terkekeh geli.


"Tak apa, kau pasti merindukan ayah bundamu. Berkat siraman rohani adik iparmu, aku berhasil bangkit."


"Siraman rohani? apa ya katanya, Deeva pernah mengatakan padaku. Ru ru?" Aluna mengetuk-ngetuk dagunya berpikir keras. "Oh iya itu dia! kau bukan diruqyah kan?"


"Ruqyah apa?"

__ADS_1


"Mengeluarkan setan di dalam tubuh atau apa ya? soalnya aku pernah dengar cerita Deeva kalau temannya di Arab pernah kerasukan setan dan diruqyah."


Adora mendelik dan mendarat pukulan di lebgan Aluna, "Kau mengatakan aku kerasukan setan?"


"Awss dasar KDRT! kalau kau marah berarti benar adanya," tawa Aluna pecah begitu saja setelah menggoda sahabatnya.


"Sopankan menggodaku?"


"Sangat sopan, hahaha!"


"Oh ya, ada keperluan apa ke sini? kau sakit?" wajah kesal berganti khawatir karena melihat Aluna datang ke sini.


"Tidak, tujuanku ke sini karena Hassan akan mengajakku ke rumah," jelas Aluna.


Memang kedua pasangan itu sudah berencana akan menikah dua minggu lagi. Bisa dikatakan Adora akan sangat sibuk sebab Evander, Aluna, dan Adeeva akan menikah secara bersusulan. Mungkin tak lama lagi dirinya menyusul mengingat Edward kemarin merengek ingin cepat menikah agar bisa berbulan madu dan menikmati waktu berdua.


Alhna tiba-tiba mencolek dagu Adora dengan kedua alis dinaik turunkan, "Memikirkan Edward ya sayang?"


Adora menyentak tangannya dengan wajah ditekuk.


"Dasar bodoh! sana ke rumah kak Hassan!" usir Adora masih kesal.


Sedari tadi Aluna selalu saja menggodanya bahkan sepanjang jalan menuju ke ruangan Hassan. Padahal dengan senang hati Adora mengantarkan gadis itu tapi yang ia terima godaan setan.


Hassan melepas kacamata yang bertengger di matanya menatap gemas salah satu adiknya dan calon istrinya.


"Hei, malam ini jika tak sibuk mampir ke rumah. Aku akan berpindah agama," suruh Aluna.


"Baik."


Benar adanya Aluna, si ratu film yang status agamanya adalah Kristen kini akan masuk agama Islam. Bukan sekedar cinta kepada Hassan, seakan hidayah Allah menuntunnya. Entah karena apa, hatinya rindu datang ke pelukan Tuhannya agama Islam, Allah.


"Semangat, aku dukung keputusanmu," Adora memberi semangat.


Aluna memeluk Adora erat dan memberi kecupan selamat tinggal sebab gadis itu akan kembali bekerja.


"Aku pamit, babayyy kak Hassan dan Aluna!"


Seperti anak kecil, Adora berjingkrak-jingkrak. Tanpa sadar tubuhnya terhuyung ke belakang sebab menabrak benda keras. Ia tak merasakan sakit tapi seperti melayang. Mata yang tadinya terpejam terbuka secara perlahan-lahan.


"Ed!" pekik Adora melihat wajah tengil Edward.


"Selamat siang cantik," sapa Adora memberi ciuman singkat di pipi Adora.

__ADS_1


"Kenapa di sini?"


"Tidak boleh?"


"Boleh sangat boleh. Tapi apakah kau yakin pekerjaanmu sudah selesai?"


"Sudah sayangku."


"Jika aku menerima lapran dari sekretarismu lagi, lihat saja aku akan marah."


"Baiklah. Sekarang waktunya makan siang."


"Aku selesaikan dulu satu pasienku. Tunggulah aku di ruanganku, oh iya kita akan makan siang bersama para rekanku."


Adora berlalu lergi membuat Edward mengha napas pasrah. Gadis itu sibuk sekali di hara pertama masuknya. Padahal kan jauh di lubuk Edward, ia begitu merindukan berduaan dengan kekasihnya. Jika bisa ingin sekali pria itu menculik Adora lalu membawa ke KUA dan melaksanakan pernikahan singkat di sana.


Lagi-lagi itu hanya angan-angan semata. Ia tahu Adora tak mau melangkahi Evander. Edward menatap punggung gadisnya sambil menahan emosi mengingat wajah menyebalkan Evander yang mengejeknya belum bisa menghalalkan Adora.


Edward masuk ke ruangan Adora. Bersih dan rapi seperti orangnya yang begitu memerhatikan penampilannya. Adora akan melakukan operasi selama dua jam, tak mau menguap saja pria bertubuh tegap itu berbaring di sofa ruangan.


Dua jam kemudian...


"Hahaha, terima kasih... aku akan datang ke sana bersama kalian," Adora berucap sambil sekalian berpamitan pada rekannya.


Begitu masuk. Ia melebarkan senyumnya melihat wajah teduh dan damai Edward. Adora membayangkan setiap pagi ia akan disuguhkan pemandangan seperti ini jika mereka sudah menikah. Hal itu membuat wajah gadis itu merona.


"Apa yang kau pikirkan sampai wajahmu memerah?"


Adora terkejut melihat pria itu sudah terbangun dari tidurnya.


"Ti-tidak ada!" tukas Adora cepat. Ia merutuki dirinya sendiri karena berpikir yang tidak tidak di saat ia masih berstatus kekasih.


"Dasar mesum!" celetuk Edward.


"Apa kau bilang?!" teriak Adora kesal. "Kau yang mesum suka mengambil kesempatan dalam kesempitan, dasar pria menyebalkan."


Edward malah menyudutkan Adora ke dinding, mengukung Adora adalah posisinya saat ini. Ia menyeringai melihat wajah ketakutan Adora.


"Jangan takut, sayang. Kita akan melakukannya jika sudah sah," Edward meniup wajah Adora.


Harum mint menyeruak menyapa hidung Adora. Adora mendorong wajah Edward yang begitu dekat dengannya, jika ada yang masuk dikira mereka sedang ciuman.


****

__ADS_1


__ADS_2