
Aluna berdecak malas saat mereka sibuk tanpa melibatkan dirinya. Memukul lengan Adora menjadi jalan ninjanya meminta pekerjaan, mau bagaimanapun orang-orang itu mengganggu kesayangannya.
"Ada apa dengan kau Aluna? main pukul pukul saja," celetuk Adora kesal.
"Apa kerjaanku? aku bisa memainkan pisau," tuntutnya.
"Kau akan bersama Adeeva menggunakan Helikopter, kau tak diizinkan terjun langsung," ini Athena.
"Kenapa?!"
"Kak Hassan akan mengambek selama berhari-hari pada kita," cetus Adeeva.
"Ooh pantas saja."
Saat ini Adora dan Athena sudah mengenakan pakaian serba hitam diikuti Edward, Noah, Rowan, dan Evander. Adora dan Athena saling membagi senjata.
Noah segera mencium kening istrinya saat wanita itu menuju ke atap apartemen di mana helikopter sudah disiapkan.
"Aku pergi assalamualaikum!"
"Let's play the game!" ujar Adora penuh seringaian.
Adora dan Athena memberhentikan mobil di pinggir jalan hutan tropis lalu keduanya berjalan masuk. Yang lain akan menyusul karena tak bagus jika mereka menyerbu sekalian, biarlah mereka kewalahan dulu.
"Ronan, matikan semua CCTV di hutan ini agar aku dan Athena tidak bisa dilacak," suruh Adora di earphonenya.
"Tapi...," balas Ronan.
"Itu perintah Ronan bukan permintaan," sembur Athena kesal.
Akhirnya keduanya berjalan santai setelah dipastikan semua CCTV yang sengaja diletakan oleh pihak musuh dkbuat mati. Tak ada pengintai di sekitar sini karena mereka sibuk berpesta di sana tanpa tahu bahwa ada bahaya yang mendekat.
***
Zester berjalan mengendap-endap memasuki ruang bawah tanah dan akhirnya ia berhasil masuk tanpa ketahuan. Semua orang di mansion bersorak dan sambil meminum berbagai macam alkohol sampai mabuk.
"Nak...," suara Zester melirih.
Yunifer yang melamun dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang menatapnya sendu. Debaran jantungnya tak bisa menyembunyikan rasa rindu yang membuncah ketika mata mereka bertemu.
"A...yah...," dengan lemas ia memanggil sesosok pria yang selalu ia rindukan sejak kepergiannya.
Zester mendekat lalu melepas ikatan pada tubuh putrinya. Ia putrinya yang ia tinggalkan karena paksaan ayahnya.
Tubuh lemas Yunifer terjatuh ke pelukannya. Matanya menajam ketika mendapati darah kering di belakang kepala sang anak.
__ADS_1
"A...yah... ini... ayah?"
"Iya sayang ini ayah. Maafkan ayah, maaf karena meninggalkan kalian. Ayah bodoh, ayah...," Zester tak mampu menyelesaikan kata-katanya.
Ia peluk tubuh princess kecilnya yang selalu ia banggakan yang kini telah dewasa tanpa seorang ayah.
"Aku rindu...," Yunifer menyuarakan isi hatinya.
Dengan lemah ia memeluk tubuh tegap ayahnya. Tangis haru menghiasi sepasang ayah dan anak itu. Yunifer begitu merindukan sosok ayahnya yang menghilang tanpa kabar dan sekarang akhirnya ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya.
"HAHAHA!"
Tawa menggelegar menghancurkan suasana haru mereka dan pelakunya adalah Toni Danuardja.
"Aku tak menyangka akhirnya kamu masuk ke jebakanmu, jika tahu putraku menjadi sandungan dalam batu loncatanku, sebaiknya waktu itu aku membunuhmu bersama ibumu seperti aku hendak membunuh kakakmu, Lucas," ucap Toni merasa geram dengan darah dagingnya.
Zester berdiri di depan Yunifer guna menjadikan dirinya tameng agar anak sulungnya tidak kembali terluka karena keteledorannya sebagai seorang ayah.
"LIHAT SEKARANG! KAU MEMBANGKANG PERINTAH AYAHMU HANYA KARENA ANAK ITU?!" bentak Toni melampiaskan amarahnya dengan menembak kaki putranya sendiri.
Dor
Zester mengerang namun tidak menyurutkan tekadnya untuk melindungi Yunifer.
"Ayah...," Yunifer terkejut melihat darah yang mengucur deras dari kaki kanan ayahnya.
Dor
Kaki kiri Zester kembali menjadi sasaran tembakan peluru. Yunifer tak mampu menahan tangis, ia beursaha meredam tangisnya yang semakin menjadi.
Zester sudah tak mampu berdiri dan segera membawa anaknya ke pelukan hangatnya. Dengan segenap jiwa raganya ia melindungi sang putri, walau memang dari dulu ia tidak bisa dibilang sebagai ayah yang baik.
"Apa aku harus membunuh mereka sekaligus, Lion?" Toni menoleh pada bawahan setianya.
Lion mengangguk, Zester cukup mengganggu di matanya.
"Bagaimana ini? riwayat hidupmu akan kucatat sebagai anak durhaka karena mengkhianati ayahmu sendiri," Toni mengacungkan senjata ke ayah dan anak itu.
Mengabaikan kericuhan yang terjadi di luar sana. Hingga...
BRAK
Muncul dua gadis yang Toni sangat kenali salah satunya.
"Astaga, daram besar terjadi di sini," seru Adora mengangkat senapan laras panjangnya. Dia tak main-main dalam membalaskan dendamnya. Apalagi melihat kakak ipar dan ayah mertuanya? disiksa seperti ini?!
__ADS_1
"Uwaah tuan Toni Danuardja kelakuan macam anjing apa ini?! ah aku juga tak habis pikir ada anjing di hutan tropis ini?!" ejek Adora.
"Haha, anjingnya siap menggonggong, Adora. Lihat itu!" Athena ikut menertawakan. "Aduh, ada bawahan setia si anjing bangsat! halo om Lion. Lama tak berjumpa."
Likn menggeram kesal dan ingin sekali menembak kedua gadis itu tapi terlambat, sebuah ledakan kecil sudah menghantam tembok di belakang mereka.
DUARRR
Tembok itu runtuh seketika membuat semua orang melongo tak percaya ketika melihat dua orang gadis di helikopter menampilkkan senyum manis mereka.
"Halooo tuan Toni! dan om Lion bodoh!" sapa Adeeva dan Aluna kompak.
Ada yang aneh dari helikopter itu. Yaitu muncul empat bocil kematian, siapa lagi kalau bukan si kembar dan Zelleine.
Zelleine langsung melompat karena jarak mereka yang dekat. Ia berlari memeluk sosok ayah yang tak pernah ia lihat biar sekalipun.
"Ayah!!" ia teriak sambil menampilkan senyum manisnya.
Zester terpaku melihat pertumbuhan putri bungsunya, dengan tangan kaku ia rentangkan tangan kepada Zelleine. Dan hap dua putri kesayangannya berhasil ada di pelukannya.
Toni hendak menembak kembali cucu-cucunya tapi tembakan Edward berhasil mengenai tangannya.
"Berani sekali si bangsat melukai ayahku?" aura disana didominasi oleh Adora dan Athena.
Aluna yang ada di helikopter segera turun dan mengobati kedua kaki Zester. Ia sudah belajar sedikit dari Adora sebab suasana semarang tak memungkinkan untuk Adora melakukan pertolongan pertama.
Prang
Sebuah botol whisky Adora pecahkan lalu berjalan penuh amarah pada Lion yang menjadi pelaku pembunuhan keluarga Divine.
Tanpa aba-aba, Adora menancapkan pecahan kaca itu ke dada Lion membuat sang empu meringis kesakitan.
Toni sudah diurus oleh Edward dengan menyeret kaki pria tua itu.
Srekk
Luka besar nampak di dada Lion. Semua orang menatap ngeri-ngeri sedap pada kelakuan Adora.
Belum lagi Evander yang kembali mencincang jari-jari Lion sampai darah segar menciprat mengenai semua pakaiannya. Ia kembali menyayat kepala Lion. Luka yang ditorehkan oleh kedua saudara Divine hanya mampu membuat yang lain menonton sesekali meringis.
"Hei Lion kampret! kau dengan teganya menembaki kakek dan ayah Casku, maka terimlaha pembalasanku yang belum ada apa-apanya ini," seru Adora menusuk belati berulang kali ke bagian jantung.
"Arggh... bunuh saja aku...," ucap Lion yang merasakan skait luar biasa.
"Bunuh? semudah itu?" Evander merobek kulit Lion lalu mengeluarkan seluruh organ tubuh pria tua itu.
__ADS_1
****