
"Selamat pagi, Dokter!" sapa seorang wanita parubaya dengan senyumannya.
Beliau adalah pasien pertama Adora di pagi hari ini. Sekarang saatnya Adora menangani keluhan-keluhan masyarakat mengenai penyakit.
"Selamat pagi juga, silahkan duduk, nyonya," ujar Adora.
"Terima kasih, Dokter."
Adora mulai memeriksa rekam medis wanita di depannya itu. "Ada keluhan apa seusai operasi?"
"Dua minggu yang lalu saya menjalani operasi kelenjar getah bening. Kemudian, kata Dokter yang mengoperasi saya hasilnya adalah tumor jinak. Lalu, minggu lalu saya kontrol kembali masih baik tapi kemarin saya merasa timbul benjolan di area operasi saya, saya harus bagaimana, Dokter?"
Adora mengangguk paham.
"Kalau boleh tahu, Dokter siapa yang melakukan operasi pada anda?"
"Dokter Randy," jawab wanita itu.
"Hmm, baiklah. Saya permisi untuk memeriksanya kembali, ya?"
"Silahkan, Dokter."
Setelah melakukan pemeriksaan. Adora kembali ke tempatnya.
"Hal ini karena anda kurang menjaga kebersihan sehingga dapat muncul gejala seperti kemerahan, bengkak, nyeri hingga keluar nanah dari bekas operasi. Selain itu, kondisi anda baik-baik saja. Sebaiknya tetap istirahat cukup, tidak beraktivitas berat, makan-makanan bergizi, menjaga kebersihan sekitar luka, cukupi konsumsi air putih," ucap Adora panjang lebar.
"Kalau begitu terima kasih, Dokter."
Adora sedikit meregangkan badannya lalu memanggil pasien berikut yang sudah lama menunggu.
Beberapa pasien dengan keluhan mereka sudah diatasi dengan baik oleh Adora, si Dokter cantik nan jelita.
Adora kemudian pergi ke kantin rumah sakit untuk makan siang. Di sana ia juga bertemu dengan teman-teman dekatnya seperti Erika dan Dokter Anna.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Adora pada Erika.
"Baik-baik saja," jawab Erika sembari menyantap makanannya.
Anna berdehem sebentar lalu berkata, "kudengar dari para perawat katanya ada seorang pria muda yang sedang mendekatimu."
"Hohoho, jangan bilang kau sudah ditaksir oleh seseorang," Erika mendengus saat melihat wajah Adora yang penuh ejekan.
"Aku mencium aroma-aroma keasmaran, apa kau juga Adora dan Anna?" kali ini Ferdinand ikut nimbrung ke dalam perbincangan mereka.
"Aku curiga...," Adora dan Anna berucap kompak.
"Berhentilah menggodaku!" sentak Erika.
"Oh, ayolah ceritakan pada kami," Ferdinand mengambil tempat di samping Adora yang masih kosong.
"Pria itu bernama Austin, dia adalah pria yang dijodohkan denganku oleh Kakek dan Nenek. Aku kurang menyukainya karena ia terlalu di atas standar," akhirnya Erika memilih untuk menceritakannya.
__ADS_1
"Di atas standar?" beo Adora.
"Yup, dia adalah seorang pengusaha di bidang perbelajaan sedangkan aku hanya seorang Perawat, kurasa kita memang tidak berjodoh," ungkapnya sedih.
"Jangan minder begitu, dia menyukaimu makanya ia terus mengejarmu, aku dengar sudah beberapa hari ini ia selalu datang menjemput," timpal Ferdinand.
"Ucapan Ferdinand benar adanya, kau itu cantik. Kau juga bukan sembarang Perawat, kau adalah Perawat hebat yang telah membantu banyak orang," kini Adora bersuara.
"Kau harus semangat, kesempatan tak datang dua kali," timpal Anna.
Erika mengulum senyuman indah mendengar perkataan tiga temannya ini yang kisah cinta mereka juga tak semulus seperti apa yang mereka katakan barusan.
"Haish, jangan hanya mengurusiku! urusi dulu kisah cinta kalian yang kandas," serunya menusuk.
Ketiga teman Erika kemudian saling bertatapan lalu tertawa bersama sampai-sampai mereka jadi pusat perhatian.
Setelah saling berbincang dan bertukar pikiran, Adora dan Ferdinand pamit karena masih ada pekerjaan yang harus mereka lakukan.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Ferdinand saat Adora mengekorinya.
"Kau ingin memeriksa nyonya Bianca 'kan?" tanya Adora.
"Ya, kau pasti ingin menjenguk beliau."
Beberapa hari yang lalu nyonya Bianca, Ibunya Edward menjalani operasi pengangkatan rahim dan sekarang beliau masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Karena hal itu juga Adora sering menjenguknya ketika ada waktu, bagaimanapun nyonya Bianca adalah idolanya sejak kecil.
Cklek!
"Permisi," ujar Adora dan Ferdinand bersamaan.
Adora menatap sinis pada pria tampan di sampingnya begitupun sebaliknya. Walau mereka pernah bekerja sama tapi permusuhan di antara mereka belum usai begitu saja.
"Edward!" tegur Yunifer.
"Dia yang mulai, Kak," tunjuk Edward pada Adora yang masih saja santai.
"Edward!" kembali lagi Edward dipelototi oleh sang Kakek.
'Dasar gadis menyebalkan,' batin Edward kesal.
'Kau kira bisa menang dariku, perempuan selalu benar' Adora tersenyum penuh kemenangan.
Setelah Ferdinand pamit pergi menyelesaikan pekerjaannya, Adora maju ke brankar yang ditempati nyonya Bianca.
"Apakah anda masih merasa sakit?" tanya Adora.
"Sedikit, terima kasih atas ucapanmu waktu itu, nona," ucap nyonya Bianca menggenggam tangan Adora.
"Itu hanyalah ucapan penyemangat dariku, anda sangat hebat karena bisa bertahan sampai ke titik ini, membesarkan ketiga anak anda sendirian. Anda adalah wanita terhebat di dunia," ucapan yang keluar dari mulut Adora memang benar-benar tulus.
"Kau memang seorang malaikat, Dokter," ucap tuan Alfred.
__ADS_1
"Ini sudah menjadi tugas saya sebagai seorang manusia," jawab Adora.
Sejak kecil ia sudah diajarkan untuk selalu membantu sesama manusia. Ia juga menanamkan pada dirinya bahwa jika ia tak menolong orang lain maka ia bukanlah manusia karena manusia adalah mereka yang mempunyai rasa kemanusiaan.
Akan tetapi, berbeda lagi jika ada yang mengusik hidupnya maka ia berubah dari manusia menjadi seorang iblis yang tak kenal ampun.
"Selamat sore semuanya!" sapa para sahabat Edward dan Aluna.
Ngomong-ngomong Aluna dan keluarga Wellington sudah berbaikan. Walau Aluna sudah berbuat kesalahan itu tapi hubungan mereka masih tetap sama. Karena mereka tahu bahwa Aluna adalah anak yatim piatu.
"Adora!"
"Aluna!"
Keduanya berpelukan erat, sudah lama mereka tak bertemu semenjak pertunangan Aluna dan Charlie. Hubungan keduanya juga sudah lebih dari teman, Aluna sangat memanjakan Adora karena ia menganggap Adora adalah Adik perempuannya.
"Aku, Kak Ronan dan Bella baru saja pulang kemarin," ujar Aluna.
"Akhirnya aku bisa memakan makananmu lagi,"Adora berseru senang.
"Makananku juga sangat enak, Dokter Adora," goda Rowan.
"Terserah, aku hanya menyukai masakan Aluna, titik!"
Semua orang di situ terkekeh mendengar ucapan Adora yang terdengar seperti rengekan anak kecil.
"Ibu, cepatlah sembuh, aku ingin memelukmu kembali," ucap Aluna mencium punggung tangan wanita yang sudah ia anggap Ibunya itu.
"Tentu saja, Aluna. Aku akan segera sembuh dan berkumpul dengan kalian semua," balas nyonya Bianca.
"Kan nyonya hebat sampai bisa mendidik anaknya terkecuali si pria itu," tunjuk Adora menggunakan dagu yang terarah pada Edward.
"Hei! memangnya apa salahku?" tanya Edward bingung.
"Salahmu? kau punya kesan buruk padaku," seru Adora berkacal pinggang.
"Itu sudah beberapa bulan yang lalu, dasar gadis menyebalkan!"
"Kau pria kurang ajar, karena aku perempuan maka perempuan selalu benar!"
"Kau!"
"Apa?! mau menantangku?!"
"Astaga, kalian ini bukan anak kecil lagi," tegur Noah menggelengkan kepalanya.
"Hehe," keduanya menyengir sembari menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.
Aluna berbisik pada Yunifer, "Kupikir mereka sangat cocok."
Yunifer terkekeh lalu mengangguk. Tidak salah juga jika Edward kembali membuka hati untuk orang lain dan tidak boleh terpaku pada masa lalu yang pedih.
__ADS_1
****
Mohon dukungannya😊😘