Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
47


__ADS_3

Malam sudah begitu larut menyisakan suara burung hantu yang terkadang bersuara di dahan pohon di tengah gelapnya malam. Sebuah mansion yang terletak di tengah hutan begitu ribut karena sedang berpesta.


Wanita-wanita yang haus nafsu birahinya mulai memanjakan lawan jenis mereka bahkan terkadang mereka bermain dengan jenis mereka sendiri. Tanpa pandang bulu mereka beradu.


"Bagaimana rencana besar kita?" tanya seorang kakek tua menyesap vodkanya.


"Lancar ayah," jawab si anak yang sejak tadi siang suka melamun.


Ayahnya menatap sang anak penasaran, "Ada apa denganmu? tak biasanya kau begini? apa ada yang kau sembunyikan?!" suaranya meninggi di akhir kalimat.


Si anak menggeleng kuat tentunya, ia mengatur ekspresi dan berpura-pura seakan menikmati pesta yang dibuat demi kelancaran rencana mereka.


Ketika waktu semakin larut. Pria tadi pamit pada sang ayah untuk ke kamar.


Kamar bernuansa abu-abu yang begitu kelam itu hanya berisi pria itu seorang. Ia menunduk mengambil sebuah kotak di bawah kolong meja, ketika ia buka ada sebuah bingkai foto berisi empat orang.


Dua laki-laki dan dua perempuan berbeda usia. Ia mengusap wajah wanita di bingkai itu dengan senyum sendu, matanya memancarkan kesedihan yang begitu mendalam. Kemudian diraihlah bingkai yang satu lagi yaitu seorang bayi perempuan yang menangis.


"Ahh apakah ayah sangat jahat? maaf... maaf...," gumamnya memeluk kedua foto itu sembari menahan tangis.


"Sayang... jika di kehidupan kedua aku berharap kita menjadi orang miskin saja agar tak ada penghalang cinta kita," lanjutnya.


Kamar yang didesain kedap suara itu tak akan menimbulkan kecurigaan sedikitpun bahwa sang pemilik tengah bersedih atas takdir kejamnya yang menjauhkan dirinya dari keluarga yang ia bina walau bahaya menantang.


Mengusap seteres air mata yang jatuh membasahi pipi drngan segera. Ia menyimpan kembali bingkai foto itu sebelum ada yang masuk ke dalam kamar.


Pria itu akhirnya merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tak butuh waktu lama akhirnya terlelap di gulitanya malam yang syahdu namun tak sesyahdu hatinya.


****


"Hmmpph!!!" berontak seorang gadis yang ada di sebuah mobil.


Mobil hitam kelam itu diisi oleh empat laki-laki dan satu perempuan. Bedanya mata dan mulut perempuan itu ditutup sempurna sampai tak menyadari bahwa ia dibawa kemanapun tak tahu.


Perempuan itu adalah Yunifer. Tadi setelah bertamu ke rumah Roger dan Royan, mobil gadis itu tiba-tiba mogok dan berencana mencoba menelpon adiknya, Edward. Belum juga ia menelpon mulutnya sudah dibekap menggunakan obat bius hjngga pingsan.


Begitu tersadar gelap yang ia lihat. Tak bisa berteriak. Apalagi kedua tangan dan kakinya diikat sangat kuat dan membuat dirinya tak bisa kabur.


"Hmphhh!!"


Yunifer berusaha keras lepas dari mereka namun nahasnya tengkunya dipukul kuat karena mereka terganggu.

__ADS_1


****


Byur


Tubuh perempuan itu, Yunifer disiram menggunakan air dingin hingga ia tadinya pingsan segera terbangun.


Tubuh diikat ke sebuah pilar di ruangan kurang cahaya, begitu gelap pikir Yunifer.


"MAKSUDMU APA?!" bentak Yunifer meludahi salah satu penjaga.


Penjaga yang diludahi menggeram kesal dan segera menjambak rambut Yunifer kemudian dibanting kepalanya ke pilar itu, darah mengucur dari belakang kepala.


Bukannya diobati penjaga itu pergi begitu saja meninggalkan Yunifer di ruangan gelap itu.


Yunifer yang agaknya takut gelap langsung dibuat gemetar.


"Ibu... Yu takut...," lirih gadis itu. "Ed Zelle, tolong kakak. Kakak takut...."


Kalau tahu begini seharusnya Yunifer tidak keluar dulu. Padahal sudah diperingati oleh Edward dan Adora agar selalu berhati-hati, tapi ia ceroboh.


"Sialan! siapa sebenarnya yang menculikku?!" teriaknya frustasi.


Darah terus menetes. Merasa pusing yang teramat sangat akhirnya gadis bersurai blonde itu pingsan kembali.


Beberapa orang memasuki ruangan yang ditempati oleh Yunifer itu. Salah satu dari mereka adalah si pemimpin sekaligus ayah pria semalam.


Ia membelai pipi gadis yang baru saja pingsan itu.


"Hahaha lihatlah wajahmu sangat mirip dengan wanita sialan itu!" tawa jahat mengudara membuat anak buahnya merinding.


"Siapa namanya?" tanya lelaki tua itu pada salah satu anak buahnya.


"Yunifer, bos," jawabnya takut-takut.


"Oh rupanya itu nama cucu sulungku? bagaimana ya jika putraku yang jahat itu melihat anaknya diculik," Toni, nama bos mereka mengangguk paham.


Matanya menajam melihat bercak darah di pilar tempat yunifer diikat. "Siapa yang membuat ini?!"


Penjaga tadi segera mengajukan diri dengan ragu, sebab kemarahan sang bos begitu menyeramkan bagi mereka semua.


"Sa-saya bos!"

__ADS_1


"Apa kau sudah gila?! aku tak sudi pilar ini harus kotor darah anak dari wanita sialan itu!" bentaknya.


"Ma-maaf bos!"


"Jangan ulangi atau kepalamu balasannya," berujar seperti itu lalu pergi begitu saja.


Beberapa penjaga di sana begitu tergiur melihat betapa idealnya tubuh Yunifer walau dirinya hanya seorang pembuat kue. Tapi, mereka tak ingin menyentuhnya sebelum diperintah.


Di sisi lain, pria semalam yang menangis mendemgar bahwa seorang gadis telah diculik axuh tak acuh.


"Zester!" panggil Toni.


"Ya ayah," pria bernama Zester itu menoleh sebentar lalu kembali menatap ke televisi.


"Apakah persiapannya berjalan lancar? aku tak akan menerima keluhan apapun lagi!"


Zester mengangguk kemudian masih tak memerdulikan eksistensi ayahnya membuat si ayah merasa geram lalu pergi begitu saja. Tak lama kepergiannya datanlah pemuda lainnya yang kembali membuat Zester jengah.


"Halo paman!" sapanya mengambil tempat di samping Zester.


"Hmm."


Charlie mantan Adora sekaligus Aluna itu mengerutkan alis bingung. Tak biasanya rekan kerjanya ini menanngappinya sesingkat ini, apakah ada masalah yang Zester alami? atau ada yang ia sembunyikan? Charlie menepis pikiran tak bermutu itu dari pikirannya.


Zester melupakan masalahnya sejenak.


"Tidak."


Terserah mereka mau siapa yang diculik sekalipun Zester tak akan perduli. Ia ke.bali fokus.


"Yunifer, kau tahu? kakaknya Edward Wellington," walau tak mendapat balasan yang memuaskan, Charlie tak menyerah.


Zester terdiam sebentar dengan ekspresi tak disangka-sangka sedetik kemudian ia menormalkan ekspresinya agar tak dicurigai bahwa sampai sekarang ia tak berani melupakan keluarga kecilnya.


Putri kecilnya yang kini sudah dewasa berada di sini, di neraka dunia yang selalu menjeratnya. Menarik kakinya ke lubang penderitaan selamanya.


'Aku harus menyelamatkan Yu. Aku tahu pemikiran ayah! dia pasui tidak akan membiarkan Yu tenang,' batin Zester.


Yunifer adalah putri kecilnya bersama Bianca. Kemarin ia juga bersedih karena bertemu dengan putra tubggalnya yang dulu pernah memohon-mohon dengan tangisan agar tak ditinggalkan. Bayi kecil itu kini sudah tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan.


Ah Zester adalah ayah terburuk bahkan tak pantas disebut ayah sebab meninggalkan istri dan anaknya atas perintah ayahnya, Toni. Entah waktu itu mungkin otaknya sudah dicuci hingga ia mau-mau saja meninggalkan keluarga yang sudah ia bina.

__ADS_1


Satu kata mewakilinya saat ini, MENYESAL!


****


__ADS_2