Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 25


__ADS_3

Edward menarik kursi untuk diduduki oleh Adora. Sekilas mereka terlihat sangat serasi tapi tidak dengan ketiga sahabat Adora yang sudah bersiap menyaksikan perang setelah reuni ini selesai.


"Terima kasih, sayang," ucap Adora.


"Apapun yang kau mau katakan saja akan aku kabulkan untukmu," balas Edward.


"Kau sangat romantis," Adora malu-malu kucing.


Rissa dengan genit menawarkan menuangkan minuman untuk Edward. Tapi, Adora langsung mencegatnya.


"Tak perlu, Rissa. Dia kekasihku biarkan aku saja yang menuangkan minumannya, kau urus saja Alvin."


Adora tersenyum senang saat melihat Alvin menatap Rissa dengan kesal dan juga Rissa geram dengan tingkah Adora yang sok cantik, kan memang benar Adora cantik.


"Sejak kapan kalian berpacaran, Adora?" tanya teman yang lain.


"Sejak satu tahun yang lalu, aku berniat melamarnya jika waktunya sudah tepat," jawab Edward.


"Puff," Athena menyemburkan minumannya setelah mendengar ucapan Edward.


"Athena, ada apa?" tanya Adora khawatir.


"Astaga, aku tak tahu jika kalian berencana menikah. Apakah paman dan bibi sudah tahu?" tanya Adeeva.


"Ah itu, sudah paman dan bibi sudah tahu tentang hal ini," jawab Adora.


Gadis itu tahu jika mereka sedang mengerjainya, tapi tak apa akan ia balas setelah reuni ini usai. Mereka bertiga akan ia beri konsekuensinya karena sudah berani menertawakannya.


Alvin dan Rissa dibuat emosi terus karena tingkah Adora yang selalu mencari masalah dengan mereka lalu berpira-pura ia yang sudah tersakiti.


'Gadis pendendam,' batin Edward.


"Mm, Rissa di mana kau membeli gaunmu?" tanya Adora.


'Aku tahu, walaupun kau punya pacar kaya tapi tidak bisa membeli gaun mahal sepertiku kan? hahaha, kau tak mampu menyaingiku, Adora,' batin Rissa.


"Hng! gaun ini dibeli di butik xxx, kainnya sangat halus dan juga mahal," ujar gadis itu angkuh dan memamerkan gaunnya.


Adora tertawa dan berkata, "Apakah kau tak mampu memilih pakaian yang sudah jadi atau belum? lihatlah gaun kurang bahan bahkan kekasihku tak mau aku memakai pakaian seperti itu, kekasihku itu orang mampu bisa membeliku banyak baju dan terjamin jika baju itu tidak kekurangan bahan."


Adeeva, Bella, dan Athena menahan tawa mendengar celotehan Adora. Rissa merasa sangat emosi mendengar perkataan Adora.


"Tentu saja, sayang," Edward mengelus kepala Adora dengan sayang.


'Pria ini, lihat saja kau!' marah Adora dalam hati.


Adora hanya berpura-pura tersenyum tapi dalam hatinya ia sudah sangat ingin mematahkan tangan Edward yang lancang mengelus kepalanya.

__ADS_1


"Cih! bukankah kau simpanan pria lain, Adora. Aku ragu jika pekerjaan doktermu tak bisa memenuhi kebutuhan hidupmu," tak mau kalah, Rissa mengejek Adora.


"Oh astaga! gajiku mungkin lebih banyak dari pekerjaanmu di bar, ayahku adalah seorang pengusaha, lalu untuk apa aku khawatir kebutuhanku," jawab Adora yang langsung membuat Edward terpana dengan jawaban gadis ini.


"Kau!" tunjuk Rissa tepat di wajah Adora.


"Iri denganku?" mengibaskna rambutnya sombong.


"Sepertinya kepalanya hampir meledak," bisik Edward sambil cekikikan kepada Adora.


"Kau lihat itu, wajahnya memerah malu, hihihi, sungguh lucu," balas Adora.


Keduanya kemudian tertawa kecil membuat keduanya seperti pasangan kekasih sungguhan.


'Semoga berjodoh,' ucap Adeeva yang mendoakan keduanya.


"Sayang, ayo pulang," rengek Rissa pada Alvin.


Mau tak mau, Alvin pun memutuskan untuk pulang bersama pacarnya. Adora dan ketiga sahabatnya menghela napas lega karena bisa mengerjai kedua orang itu.


"Beraninya bermain-main denganku? heh," gumam Adora.


Selang dua jam kemudian reuni itu pun berlangsubg lancar walau ada sedikit masalah tadi. Bahkan, Edward masih menemani kekasih palsunya karena ia akan menagih bayarannya karena sudah membantu Adora berakting.


"Sampai jumpa," Adora dan ketiga sahabatnya melambaikan tangan pada teman-teman masa sekolah mereka.


Edward menarik lengan Adora membuat gadis itu kesal.


"Siapa bilang kau boleh pergi?" seringaian licik terbit di bibir Edward.


'Astaga, aku sudah berbaik hati padanya tapi dia mengajakku untuk berkelahi?' batin Adora.


Adora berbalik ingin bertanya pada sahabatnya tapi mereka sudah pergi, sudah begitu dengan entengnya mereka menyuruh Adora untuk semangat.


"Haish... baiklah baiklah. Jadi, tuan yang baik hati apa kau ingin sesuatu atas balasan telah membantuku tadi?" tanya Adora berusaha sabar.


"Hmm, sangat mudah," jawab Edward.


"Huh! apa itu?"


"Malam ini ada pesta dengan rekan bisnisku yang mengharuskan membawa pasangan Kuharap kau menjadi pasanganku di pesta itu. Dan satu lagi, aku tak terima penolakan," ujar Edward tegas.


Setelah berkata begitu ia berjalan duluan meninggalkan Adora yang masih kesal dengan ucapannya tadi.


"Ayo pulang, pestanya masih nanti malam!" seru Edward.


"Aku--," belum juga Adora menyelesaikan perkataannya, Edward sudah menarik tangan gadis itu.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu pulang."


Akhirnya, Adora mengikuti perkataan Edward. Ia sudah terlalu lelah hari ini jadi ia putuskan untuk patuh saja dulu pada, lain kali jika ia bertemu ia akan mencari masalah lagi.


Selama perjalanan, keadaan hening. Edward melirik ke sampingnya, ia terkekeh saat melihat Adora sudah terlelap ke dalam mimpinya.


"Kalau tenang seperti ini kan menyenangkan," gumam pri itu lalu fokus mengendarai mobil.


****


"Mama papa, aku pergi dulu ya," pamit Adora pada kedua orang tuanya yang sedang menonton televisi dj ruang keluarga.


"Iya, sayang," jawab keduanya kompak.


"Hati-hati ya, mama sudah meminta agar tuan Edward menjagamu dengan baik," ucap nyonya Emily.


"Oh ayolah, ma. Kenapa mama harus menyuruh tuan Edward menjagaku? memangnya aku masih kecil?"


"Hmm, kau masih kecil," timpal papanya.


"Kau kan pergi dengannya maka aku memintanyaagar menjagamu, apa ada yang salah?"


Adora langsung pergj setelah diizinkan oleh kedua orang tuanya. Di luar sana mobik sport milik Edward sudah menunggu dengan pria tampan berjas hitam semada dengan dress yang dipakai Adora tengah bersandar di mobil.


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Adora.


"Ya, ayo masuk!" dengan sopan Edward membukakan pintu untuk partner pestanya itu.


Untuk sementara mereka tak terlibat pertengkaran karena terlalu fokus pada satu titik.


Selama perjalanan juga, Adora banyak bertanya sedang Edward dengan banyak kesabaran menemani gadis itu berceloteh riang.


Sesampainya di tempat pesta, Adora berakting menjadi seorang gadis polos sehingga ia banyak disukai oleh rekan bisnis Edward. Edward juga senang karena dengan bantuan Adora ia bisa memenangkan beberapa kerja sama penting.


"Kau cukup berguna," ucap Edward saat keduanya sedang bercakap-cakap di pojok ruangan.


"Terserah," balas Adora cuek.


Gadis itu tak mau diganggu ketika ia sedang menikmati makanannya.


Adora terkejut saat tangan Edward mengusap sudut bibirnya. Bagaimanapun Adora adalah gadis norma, detak jantungnya berpacu bagai kuda yang berlari di medan perang. Wajah Edward sangat dekat dengannya membuat ia merasa gugup apalagi wajah Edward sangat tampan membuat dirinya terpesona.


"Ada sisa kue di pinggir bibirmu, bisakah kau dewasa sedikit," tegur Edward.


Adora dengan santainya mendorong wajah Edward lalu melanjutkan makanannya. Yang orang lain lihat adalah pasangan yang sangat serasi.


****

__ADS_1


Sampai jumpa... oh ya mampir ya ke ceritaku yang lain😉


__ADS_2