Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
39


__ADS_3

Evander masih dalam keadaan memeluk adiknya, kini ia kehilangan ayah dan kakeknya. Sebelumnya ia sudah kehilangan bunda dan ibunya seakan takdir tak merelakan ia bahagia.


Langkah kaki mendekat pada mereka, tampak di sana Edward, Bella, Athena dan Adeeva dengan wajah tak dideskripsikan.


"Adora," Edward mengambil alih tubuh Adora dari pelukan Edward.


"Hiks... Ed, kakekku dan ayah Cas dibunuh," gumamnya dengan suara terendam.


"Tenanglah, ssst mereka pasti bahagia bisa bertemu dengan keluargamu yang lain di sana," Edward dengan sayang mengelus punggung yang bergetar itu.


"Kak, siapa?" tanya Adeeva langsung.


"Wilson Orse."


Deg


Salah satu dari mereka terdiam mendengar nama yang baru saja disebutkan itu, masa lalu yang menyakitkan menyapa ingatan. Ia lihai dalam menyembunyikan emosinya sampai tak ada yang menyadarinya.


"Adora, kami akan terus ada di sisimu," ujar Bella membelai pipi Adora lembut.


"Hei di mana Adora yang jahil?" Athena menampung pipi sahabatnya di tangannya.


"Kau begitu cantik saat menangis?" godaan Adeeva semata-mata hanya untuk menghibur agar gadis itu jangan terlalu terlarut dalam kesedihan teramat dalam.


****


Sejak pulang dari pemakaman, Evander tak melihat batang hidung adiknya sedikitpun ia tahu gadis itu pasti masih merasa terpukul atas kepergian kakek dan ayah mereka.


Di sisi lain, Adora menatap jauh ke langit yang dihalangi oleh jendela. Ia duduk menumpukan wajahnya di lutut dengan binar wajah yang meredup.


Padahal ia baru bertemu dengan kakek dan ayahnya sebulan lalu setelah dua puluh tahun terpisah. Ia masih ingin menerima kasih sayang yang harus ia dapati.


Pikirannya melayang kejadian kemarin di mana pria misterius kemarin yang tega membunuh kakek dan ayahnya. Ingin sekali Adora mencabik-cabik tubuh itu lalu tersenyum menikmati.


Tok tok tok


Seakan tuli, Adora tak memdengar sama sekali karena pikirannya berlalu lalang entah kemana. Sampai pintu dibuka oleh orang di sana.

__ADS_1


Pria berkemeja putih dan celana cokelat itu menatap sendu gadis yang kehilangan semangat hidupnya itu. Ia berjalan mendekat lalu duduk di depan gadisnya.


"Ed, sejak kapan ada di sini?"


Barulah lewat beberapa menit Adora tersadar bahwa ada Edward di depannya.


Edward mengusap peluh di dahi Adora, kamar gadis itu memang sengaja tidak dinyalakan ACnya makanya terasa panas.


"Ayo makan, sejak tadi malam kau belum mengisi perutmu," ajak Edward.


Adora menggeleng.


"Aku tak nafsu makan," tolak Adora halus.


Edward berdecak menahan kesal teramat sangat pada kekasihnya. "Kak Evan sangat khawatir padamu, ayolah sayang."


"Katakan padanya aku tidak apa-apa," Adora benar-benar malas mengunyah saat ini. Menggerakan bibir dan mengeluarkan suara saja sudah menguras tenaganya saat ini.


Lagi dan lagi Edward berdecak, kali ini decakannya lebih keras. Ia lantas menggendong tubuh Adora ala koala lalu menuju ke ruang makan di mana Evander sudah menunggu.


"EDWARD!!" teriak Adora kesal.


"Turunkan aku!" rengek Adora.


"Tidak!" tegas Edward.


"Hmph!" Adora menyerah lalu memeluk leher Edward mengarahkan wajahnya ke leher Edward.


Di ruang makan, Evander sangat berterima kasih karena akhirnya Adora keluar dari kamar. Setelah Edward menurunkan adiknya dari gendongannya, ia sambut Adora dengan pelukan hangatnya.


"Maafkan kakak karena tidak bisa menjaga mereka," ujarnya.


"Sudah sekian kali kakak berkata begitu, sekarang tersisa kita jadi kuharap kakak jangan meninggalkanku lagi."


Edward berusaha menahan diri agar tak melepas pelukan kedua saudara tersebut, ketahuilah saat ini ia sedang terbakar api cemburu.


"Ayo makan!" tanpa menunggu, Adora menyeret dua pria tersebut untuk duduk di tempat mereka masing-masing.

__ADS_1


****


Masih sama seperti biasa. Rutinitas Adora di mansion peninggalan kakeknya ini hanya makan tidur lalu seharian mengurung diri di kamar, seakan kamar adalah tempat teraman yang hakiki.


"Hiks... kakek... ayah Cas... hiks...," tangis gadis itu dalam gelapnya malam. "Apakah karena Dora nakal jadi Dora ditinggal secepat ini?"


Tak lama kemudian ia meraung-raung sendirian sambil menarik rambutnya sendiri. Kamar luas itu didesain kedap suara membuat teriakan maupun raungan tak akan terdengar keluar.


Adora yang merupakan seorang dokter yang selalu mengatasi permasalahan para pasiennya kini tak tahu merawat dirinya sendiri sampai ia mengalami depresi ringan. Perlahan nafsu makannya menurun, duduk merenungi selama berjam-jam, tak melakukan aktifitas apapun membuat semua orang di mansion khawatir.


Sudah berulang kali Evander mencoba masuk ke kamar gadis itu dan berakhir ia diusir dengan cara dibentak. Rasanya memang sakit, tapi mau bagaimana lagi adik kesayangannya itu masih membutuhkan waktu untuk sendiri.


Jauh di lubuk hatinya, Evander merasa tak tenabg takut Adora berpikir bunuh diri karena muak dengan dunia.


Evander yang serius menangani dokumen setelah kepergian sang kakek, CEO perusahaan tekstil yang beliau dirikan sendiri ini sudah berpindah tangan sesuai dengan wasiat si pemilik.


Ia dikejutkan dengan dering telepon di atas meja, sambil terus meneliti setiap kata di dokumen yang ia pegang, tangannya yang satu lagi bergerak menggeser ikon hijau di layar.


"Nak Evan, bagaimana kabar Adora?" seseorang di seberang bertanya khawatir.


Evander menghela napas sambil menghentikan kegiatannya. Berdirilah ia menatap jauh ke jalanan perkotaan yang padat akan lautan kendaraan.


"Tadi pagi setelah sedikit sarapan ia langsung naik ke kamar, saya tidak tahu harus bagaimana lagi?" kepada sosok Emilylah, Evander mengeluhkan semuanya.


Emily di seberang tersenyum getir mendengar perkembangan putri sulungnya yang beljm bisa menerima semua yang terjadi.


"Tante mohon jaga dia, tante tahu kau juga pasti merasa terpukul tapi ini memang sudah ketentuannya," hibur Emily.


"Tentu saja akan kujaga Dora, tante dan terima kasih selama ini tante sudah bersedia meluangkan mendengarkan ceritaku," tulus sekali Evander mengatakan hal itu.


Setelah berbincang sedikit dan telepon itu terputus. Evander menyambar jas dan kunci mobilnya, ia merindukan adik kecilnya di mansion yang semakin hari semakin tertutup. Ia sebagai kakak tentu saja tak mau terjadi apa-apa pada gadis itu.


Setengah jam kemudian, Evander telah sampai di rumah. Ia melempar jas ke sembarangan arah, biarkan saja para pelayan yang mengurusnya. Saat ini yang terpenting adalah sang adik.


Menggunakan kunci cadangan akhirnya pintu putih itu terbuka menampakan seorang gadis yang lagi-lagi duduk melamun menatap ke luar sana.


Perlahan Evander mendekat, bibirnya menyunggingkan senyum tipis kala melihat wajah damai gadis itu dalam tidurnya. Dikecuplah kening itu lalu menggendong Adora ke ranjang.

__ADS_1


Evander pamit ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sangat gerah. Jika sudah bersih-bersih ia akan kembali menemani adik kecilnya yang manis itu. Tanpa tahu kerutan yang tiba-tiba muncul di dahi sang adik apalagi peluh membanjiri wajahnya.


****


__ADS_2