
Saat ini, Adora sedang bersantai di kamarnya. Ia duduk sembari menatap satu persatu foto yang tampak berantakan di ayas ranjangnya. Foto-foto itu membuat pikirannya runyam.
Yang paling membuatnya kepikiran adalah perkataan Charlie di malam itu.
"Siapa tuan besar itu? apa hubungannya dengan kematian orang tuaku?"
Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di benak gadis cantik jelita itu. Karena itu saja pekerjaannya juga terganggu.
Selain itu, semenjak pertunangan Aluna dan Charlie minggu lalu Adora seperti di buntuti oleh seseorang. Ia juga harus waspada, ia tak tahu kapan bahaya datang.
Selama beberapa menit melamun, Adora dikejutkan dengan deringan telepon dari nomor baru. Sudah menjadi kebiasaan jika itu nomor baru maka Adora tak mengangkatnya.
Sampai sebuah pesan yang masuk ke ponselnya membuat dia mau tak mau harus menelepon kembali orang di seberang.
??? : Angkatlah! ini sangat penting!
"Halo, siapa kau? hal apa yang begitu penting sampai menggangguku?!" suara Adora terdengar kesal.
"..."
"Hah?!"
"..."
"Aku tidak mau!"
"..."
"Huh, baiklah. Kau kirimkan aku alamatnya, aku akan berkerja sama denganmu," putus Adora akhirnya.
Adora segera bersiap-siap untuk melakukan rencananya dengan orang yang meneleponnya tadi.
Adora mengenakan kemeja biru bergaris dilapisi dengan jaket kulit berwarna cokelat dipadu pula dengan celana jeans hitam membuat penampilannya seperti seorang gangster.
"Adora? mau kemana?"
Nyonya Bianca yang melihat anaknya turun pun bertanya. Karena tak biasanya Adora akan pergi keluar ketika ia sedang tidak bekerja terkecuali sahabatnya mengajaknya.
"Hehe, ada sedikit urusan, Ma," jawab Adora seadanya.
"Tapi pakaianmu?"
Adora melihat tampilannya lalu tersenyum. "Aku ingin mengendarai motor kesayanganku setelah sekian lama, Ma."
"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan."
"Iya, Mamaku sayang!" teriak Adora yang sudah berlari setelah mencium pipi sang Mama.
Adora tampak keren dan elegan ketika mengendarai motor sportnya. Motor itu adalah milik mendiang Papanya, ia sangat menyayangi motor itu sampai-sampai jika motor itu lecet maka ia akan menangis sejadi-jadinya.
"Ayo bermain," gumam Adora yang menyeringai di balik helmnya.
Adora mengendarai motornya menuju ke tempat di mana Edward pernah mengalami kecelekaan. Dan benar saja ada yang mengikutinya dari belakang menggunakan motor. Rencananya dan si dia berhasil untuk memancing si penguntit.
"Hai!" sapa seorang pria tampan yang juga baru saja turun dari mobilnya.
"Hmm," balas Adora dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Bisakah kau sedikit tersenyum padaku, gadis menyebalkan," pria itu menghampiri Adora.
"Diam kau kurang ajar! kesanmu padaku masih saja buruk lalu dengan alasan apa aku harus tersenyum padamu?" sarkas Adora.
"Tenanglah, kau ini sangat pendendam!" balas pria yabg tak lain adalah Edward.
Ketika mereka masih sibuk bertengkar, empat orang penguntit turun dari kendaraan mereka dan tersenyum sinis.
"Hoo, ayo mulai saja!" seru Edward yang dibalas anggukan oleh Adora.
Edward dalam lima belas detik langsung menjatuhkan dua orang pria bertubuh kekar. Beda lagi dengan Adora yang bar-bar dalam menghadapi lawannya.
Ia menendang bagian dada dan leher lalu membuang mereka ke jurang setelah dipastikan mereka telah tewas.
"Ayo bakar mobilnya!" seru Adora dengan semangat.
Edward yang mendengar itu menggelengkan kepala sambil mengeluarkan minyak ddi dalam mobilnya. Keduanya ingin menghilangkan bukti penguntit itu.
Setelah selesai membuat ledakan yang cukup parah, keduanya pergi begitu saja membiarkan anak buah Edward yang mengurus sisanya.
"Kau yang traktir?!" teriak Adora.
Mereka sedang dalam perjalanan ke restoran.
"Iya!" balas Edward yang juga berteriak.
Dalam waktu singkat, mereka telah sampai di sebuah restoran. Adora dan Edward masuk bersama-sama ke rstoran sehingga menombulkan suara riuh.
"Mereka sangat serasi."
"Bukankah itu tuan Edward?"
"Benarkah, aku tak menyangka ia sudah mempunyai pacar."
"Apalagi pacarnya sangat cantik."
Adora melenggang meninggalkan Edward yang berjalan santai sembari bersikap sok keren ya tapi memang keren.
"Sepertinya aku harus melakukan operasi plastik," ujar Edward kala ia duduk.
"Untuk?" Adora menautkan alis bingung.
"Agar ketampananku ini tidak menyihir semua wanita," jawabnya percaya diri tingkat tinggi.
"Kanker narsismu sudah di stadium akhir," keluh Adora.
Gadis cantik itu tak menyadari jika ia menyindir dirinya sendiri. Bisa dikatakan jika keduanya sebelas dua belas tak ada bedanya.
Sekejap sudah keadaan kembali hening di anatar keduanya. Mereka sibuk dalam pikirannya masing-masing.
"Tamparanmu waktu itu sungguh sangat menyakitkan," ucap Edward.
"Hehe, maafkan aku, aku juga tak menyangka dengan perkataanmu waktu itu."
Untuk pertama kalinya Edward melihat senyuman dari gadis yang ia cap menyebalkan itu. Ternyata senyuman milik Adora sangat manis.
"I-iya, aku juga minta maaf, waktu itu pikiranku sedang kacau jadi tidak tahu harus berkata apa, hanya kata-kata itu yang lewat di pikiranku," jawab Edward yang benar-benar jujur.
__ADS_1
"Aku maklumi, tapi...."
"Tapi apa?"
Adora memandang sinis pria di depannya. Masa ia tidak tahu apa yang diinginkan Adora.
"Aku ingin makan! kapan kau memesan makananku?" seru Adora dengan tidak sabaran.
"Makanya bilang dari tadi!" balas Edward menahan sabar.
"Ya habisnya kau banyak bicara. Aku menghabiskan sedikit tenagaku karena menolongmu!"
"Hei, ini juga demi kebaikanmu bukan hanya aku!"
"Seharusnya aku tidak perlu terlibat dalam perkelahian tadi, kau 'kan laki-laki bukan banci."
Edward yang tadinya senang karena kelembutan Adora kini merasa sangat kesal melihat perubahan pada sikap Adora yang terbilang sangat tidak biasa baginya.
Keduanya terus beradu mulut sampai menimbulkan kericuhan.
"Hei kalian! jika ingin berkelahi jangan di sini!"
Adora dan Edward memandang sinis orang yang berteriak pada mereka tadi. "Memangnya ini tempatmu!"
"Y-ya b-bukan milikku t-tapi seharusnya k-kalian menghargai pengunjung lain," walau takut orang itu masih memberanikan diri.
"Baiklah, aku akan memesan restoran ini," balas Edward yang tak mau kalah.
Bugh
Edward meringis sakit ketika tangan Adora melayang mengenai kepalanya dengan kuat.
Setelah memukul Edward, Adora membungkuk pada semua orang yang ada di restoran itu berniat meminta maaf.
"Semuanya, maafkan aku dan temanku karena mengganggu kenyamanan kalian!" ucap Adora lantang.
Mereka semua yang ada di situ menganggukan kepala. Ada juga yang merasa lega setelah mengetahui bahwa Adora dan Edward hanya berteman. Padahal aslinya keduanya adalah musuh yang bekerja sama.
"Kenapa kau memukul kepalaku?" tanya Edward yang masih merasa sakit.
"Aku tidak suka kalau ada yang menekan orang lain dengan kekuasaan," jawab Adora yang sedikit menyinggung.
Edward pun manggut-manggut menanggapi ucapan Adora. Detik berikutnya ia memanggil pelayan dan memesan makanan untuk dirinya dan untuk Adora sebelum gadis itu kembali mengamuk seperti singa kelaparan.
"Apa kau juga mendengar apa yang dikatakan Charlie waktu itu?" tanya Adora di tengah keheningan.
"Hmm, tunggu apa yang Charlie maksud itu orang tuamu?" jawab Edward sambil kembali bertanya.
"Kau tidak perlu tahu tentang hal itu, kuharap kau bisa menutup mulutmu tentang yang kau dengar," balas Adora.
Edward mengiyakan saja karena ia tahu tak baik jika terlalu banyak ikut campur dalam masalah orang lain. Meskipun ia sangat penasaran tentang apa yang dikatakan Charlie di malam itu.
Sama halnya dengan Adora, Edward juga merasa seperti perkataan pria itu berhubungan dengannya. Makanya ia sedang berusaha mencari tahu sampai ke akar-akarnya.
****
Mohon dukungannya🥰😘
__ADS_1