
Aluna terdiam mendengar cemoohan dari Yunifer. Hatinya sakit karena dikatai seperti itu oleh orang yang sudah ia anggap Kakak sendiri.
Selama sebulan ini juga kedua Kakak angkatnya menjauhi dirinya. Sekarang ia merasa kesepian, semua orang menhindari dirinya. Ia tahu ia salah tapi seharusnya mereka mengerti perasaannya yang juga terluka.
"Permisi," seorang Dokter yang tak lain adalah Adora masuk ke dalam ruangan.
Adora melewati Aluna yang masih berdiri di depan pintu tak berkutik. Dokter itu juga di sambut baik oleh nyonya Bianca dan Yunifer.
"Apakah ada perubahan pada Edward, Dok?" tanya Yunifer dengan sinar mata penuh harapan.
Adora menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Yunifer.
"Beliau masih sama seperti kemarin tak ada perubahan," tutur Adora. "Tapi saya yakin beliau akan segera bangun dan itu tidak akan lama lagi."
Nyonya Bianca menatap putranya yang tak bergerak sama sekali, hatinya perih. Ia tak mau peristiwa yang terjadi padanya terjadi juga pada anak-anaknya, cukup dia saja yang di sakiti jangan mereka.
"Kalau begitu saya mohon permisi dulu," pamit Adora yang diangguki oleh mereka.
Aluna sedari tadi sudah pergi karena ia merasa terabaikan. Adora juga menyadari kepergian mantan kekasih Edward itu.
Adora juga memutuskan untuk pergi makan siang di restoran langganannya yang sering ia datangin bersama Charlie. Walau pun hubungannya dengan Charlie sudah berakhir, Adora tetap pergi ke restoran yang menjadi saksi di mana ia dan Charlie bertemu. Bukan untuk mengenang Charlie tapi memang di sana makanannya sangat enak.
"Eh, bukannya dia Aluna?" monolog Adora yang melihat seorang gadis yang duduk di bangku paling pojok.
Adora segera menghampiri gadis yang ternyata Aluna itu dan duduk di depannya tanpa permisi. Tak lupa juga ia memesan makanan sebelum berbincang dengan Aluna.
"Bagaimana rasanya dijauhi oleh orang yang kita sayang?" tanya Adora yang membuat Aluna tersentak kaget.
Aluna sedari tadi hanya melamun terkejut. "Kenapa kau di sini?"
"Aku? aku hanya ingin makan bukan mengganggu rasa penyesalanmu," jawab Adora dengan sindiran.
Untuk kali ini, Aluna tak membalas karena ia sedang tidak mood untuk beradu mulut. Lagi pula apa yang dikatakan Adora sepenuhnya benar, sekarang barulah ia merasa menyesal.
"Bukankah kau masih ada Charlie kenapa sedih?"
"Kau tak marah?" tanya Aluna tanpa menjawab pertanyaan dari Adora.
"Ck, aku sudah tak mencintainya, aku tidak suka mengulang kembali masa kelam itu," jawab Adora.
"Kau memang gadis hebat, aku kagum padamu," gumam Aluna.
Adora tersenyum. "Astaga, seorang ratu film memujiku, tapi terima kasih atas pujianmu itu aku memang hebat."
"Kau terlalu terang-terangan," sinis Aluna.
"Mengapa tidak?" jeda Adora sebentar. "Aku harus merasa bangga!"
Aluna terkekeh sambil berkata, "Dasar narsis!"
Adora yang melihat Aluna tersenyum juga ikut tersenyum, entah mengapa ia merasa ia sangat cocok berbincang dengan Aluna.
'Kupikir dia tak terlalu buruk,' Adora membatin.
"Hei," panggil Aluna setelah mereka hening sementara.
Adora yang menyesap minumannya yang baru datang pun menoleh. "Ya?"
"Bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Aluna ragu.
"Astaga, kau tidak tahu malu sekali," tukas Adora blak-blakan.
"Ayolah, kau kan gadis hebat masa bantuan kecil seperti ini saja tak bisa kau berikan," seru Aluna dengan nada mengejek.
Adora yang merasa tertantang segera mengiyakan. "Bantuan apa?"
"Kau Dokter penanggung jawab Edward 'kan?"
Adora mengangguk pelan.
"Tolong beritahukan aku setiap kau memeriksa dirinya, aku ingin tahu keadaannya," ucap Aluna dengan suara kecil.
__ADS_1
"Kau sudah lebih dari tidak tahu malu," sarkas Adora.
Lagi-lagi Aluna tertawa menanggapi ucapan Adora. Baginya perkataan Adora seperti angin lalu saja.
"Huh, baiklah," akhirnya Adora memutuskan untuk membantu gadis di depannya.
Sudah lama ia melupakan kejadian ia diselingkuhi karena Aluna. Entah karena apa ia bisa melupakan hal itu dan bersedia membantu Aluna yang sudah menyakiti dirinya, padahal Adora adalah seorang pendendam. Ia tak akan melupakan orang-orang yang telah mengusik kehidupannya.
"Aku pergi dulu, terima kasih sudah menemaniku," ucap Aluna yang bersiap-siap pergi.
"Kutekankan padamu ya, aku ke sini karena ingin makan bukan menemanimu," sungut Adora.
"Anggap saja begitu, sampau jumpa!" Aluna melambaikan tangan pada Adora. Tak lupa sebelum pergi Aluna mengelus rambut Adora dengan senyuman yang begitu manis.
Setelah kepergian Aluna, Adora memegang surainya dan menatap aneh ke luar pintu.
"Dasar gadis aneh," gerutunya.
****
Saat ini Adora sedang duduk santai di balkon kamarnya. Ia sedang memikirkan sesuatu yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya.
"Seperti ada yang janggal, tapi apa?"
Kecelakaan Edward ini seperti sudah di rencanakan sejak lama. Siapa di balik semua ini?
Tak lama kemudian, Adora berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju ke lantai bawah di mana Mamanya berada.
"Mau kemana, sayang?" tanya nyonya Emily.
"Ke kantornya Athena," jawab Adora.
"Kalau begitu hati-hati di jalan, jangan lupa juga jemput Adik-adikmu," sahut nyonya Emily.
"Tentu saja, Mama. Kalau begitu aku pergi dulu."
Adora langsung meluncur dengan mobil kesayangannya. Seperti biasa Adora akan melewati jalanan yang jauh dari keramaian. Ia juga ingin mencari tahu lebih rinci mengenai kejadian waktu itu.
Ketika Adora melewati jalan tersebut masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tak ada bedanya.
Dari pelat mobil itu ada sedikit bercak darah, Adora mengerutkan dahinya. Sepertinya darah ini memang sudah sangat lama terbukti dari baunya yang amis.
Tanpa pikir panjang Adora mengambil plat itu dan menaruhnya di sebuah kantong hitam lalu pergi dari tempat itu. Adora merasa seperti ada yang mengintainya dari jauh, sebaiknya ia pergi sebelum ia juga yang menjadi sasarannya.
****
"Ada yang bisa kami bantu, nona?" tanya seorang gadis yang bertugas sebagai resepsionist.
Adora yang baru saja tiba di kantor milik Athena sangat di sambut baik oleh karyawan di sana walaupun mereka tak kenal siapa Adora.
"Hmm, di mana ruangan nona Athena?" tanya Adora dengan ramah.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan beliau?"
"Ya," jawab Adora singkat.
"Kalau begitu anda bisa naik ke lift itu menuju ke lantai delapan, di sana ada sekretaris Presdir anda bisa meminta bantuannya."
"Terima kasih, aku permisi dulu," Adora segera pamit dari tempat itu menuju ke ruangan pribadi Adora.
Setelah sampai, Adora di tuntun oleh sekretaris Athen mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Nona, ada yang ingin bertemu denganmu!" ucap si sekretaris dari luar.
"Persilahkan dia untuk masuk!" suara itu terdengar dari dalam.
Adora langsung masuk dan meminta agar sekretaris itu membiarkan dia dan sahabatnya berbincang empat mata.
"Ada apa? apa hari ini jadwalmu kosong?" tanya Athena yang duduk di sofa meletakan kepalanya di pangkuan Adora.
"Aku rasa kecelakaan tuan Edward ini seperti sudah direncanakan, karena itu aku ingin meminta bantuanmu untuk menyelidiknya," tutur Adora langsung pada intinya.
__ADS_1
"Aku rasa juga begitu, walau tak di pungkiri beliau juga berkendara dalam keadaan mabuk, tapi pasti ada dalang dari semua ini," timpal Athena yang juga memikirkan hal yang sama.
Dengan bantuan Athena, akhirnya Adora menemukan titik terang masalah ini. Dalam penyelidikan Athena, Adora meneliti sebuah video yang baru saja Athena dapatkan.
Video itu adalah rekaman CCTV satu bulan lalu pasca kecelakaan Edward. Tak ada keanehan sampai akhirnya Adora menemuka sesuatu. dari arah jam satu ada sebuah pohon, di belakang pohon itu terlihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam sedang berbincang.
"Lihat itu!" tunjuk Adora.
Athena kemudian memperbesar gambar yang ditunjuk Adora. Dan dugaan Adora benar, di situ ada dua orang berpakaian serba hitam namun, yang lebih menganehkannya lagi terdapat tato bunga mawar di lengan kiri salah satu dari mereka.
'Dia?' batin Adora yang terkejut.
"Apa kau melihat sesuatu?" tanya Athena yang menyadari perubahan pada wajah Adora.
"Tidak, tapi siapa mereka?"
"Hal seperti ini sebaiknya Kak Bella yang melanjutkannya, kau tahu 'kan Kakak sangat ahli dalam hal itu," ujar Athena.
"Baiklah, terima kasih sudah membantuku."
"Kau ini seperti siapa saja," balas Athena.
"Mau makan siang bersamaku di rumah?"
"Ide bagus, ayo!" tanpa menunggu balasan Adora, Athena langsung keluar dari ruangannya.
"Astaga, anak itu," Adora tersenyum melihat tingkah Athena yang sangat imut.
Sekretaris Athena heran melihat Bossnya yang terlihat senang. "Anda ingin kemana, nona?"
"Aku akan pergi bersama sahabatku, tolong kau urus sisanya," jawab Athena menepuk bahu sekretarisnya.
"Baik, nona!"
Adora kemudian menyusul sahabatnya yang sudah duluan menaiki lift.
"Ikut aku menjemput si kembar dulu," ucap Adora.
"Baiklah."
Mobil milik Adora pun melaju di jalan raya yang dipenuhi dengan banyaknya transportasi. Dalam waktu sekitar dua puluh menit, mereka sudah sampai di gerbang sekolah si kembar.
Terlihat sekolah sudah sepi tapi tak melihat di mana si kembar berada. Adora memutuskan menelepon sang Mama menanyakan apakah Adik-adiknya sudah pulang atau belum.
"Bagaimana?" tanya Athena setelah Adora selesai menelepon Mamanya.
"Belum, aku akan coba menanyakannya pada Papa," jawab Adora kemudian.
Kedua gadis itu mulai merasa cemas karena tak melihat keberadaan Adik-adiknya padahal dilihat dari keadaan sekolah seharusnya mereka sudah pulang sedari tadi.
"Papa, apakah Adik-adik ada di kantor, Papa?"
"..."
"Aku datang menjemput mereka tapi mereka tak ada, Mama juga bilang mereka tak ada di rumah."
"..."
"Baiklah, aku akan coba menanyakan pada nyonya Bianca mungkin saja mereka pergi bersama Zelleine."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Adora memutuskan teleponnya dan kembali menelepon nyonya Bianca.
Sayangnya, jawaban dari nyonya Bianca membuat Adora cemas setengah mati pasalnya Zelleine juga belum pulang.
Sampai akhirnya Athena menemukan kalung milik salah satu dari si kembar. Adora melihat kalung dengan permata jingga itu, itu kalung milik Thalita.
"Sepertinya mereka dalam bahaya!" seru Adora panik.
"Aku akan menghubungi Kak Bella dan Adeeva!"
Kini, keduanya kalang kabut karena kesimpulan keadaan sekarang adalah si kembar dan Zelleine diculik entah oleh siapa.
__ADS_1
****
Jangan lupa tinggalin jejak ya, karya pertama akuš„°