Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 19


__ADS_3

Adora mengambil langkah dengan cepat menuju ke ruang operasi. Ketika ia baru saja tiba di rumah sakit, ia sudah kedatangan pasien gawat darurat.


Di ruang operasi sudah terdapat Erika dan Camellia yang bertugas membantu Adora dalam menjalankan operasi kali ini. Pasuen kali ini adalah penderita usus buntu yabg harus segera dioperasi.


"Kita akan melakukan operasi usus buntu menggunakan laparoskopi!" seru Adora pada rekan-rekannya.


Operasi ini akan berjalan selama satu jam. Erika dan Camellia bergerak cepat memasang selang di lengan pasien untuk menyalurkan obat dan cairan. Kemudian, mereka menyuntikan obat bius total pada infus yang dipakai pasien.


Adora langsung membuat satu sampai tiga sayatan di sekitar pusar sebagai akses masuk alat yang akan digunakan. Dokter cantik itu kemudian memasukan selang kecil ke salah satu sayatan untuk menyalurkan gas karbo dioksida, agar perut pasien mengembang dan organ dalam perut pasien terlihat jelas. Lalu, memasukan laparoskop di sayatan yang lain dan memeriksa kondisi organ di dalam perut.


Detik berikutnya, apendiks atau usus buntunya diikat menggunakan benang operasi, lalu dipotong. Jika apendiks sudah pecah, bagian perut akan dibasuh dengan air garam.


Setelah semua prosedur operasi apendiks telah dilakukan Adora dibantu rekan-rekannya mulai menyedot air bilasan, darah, dan cairan tubuh lain di sekitar area yang dioperasi menggunakan penyedot khusus.


Adora kemudian mulai menjahit sayatan yang telah ia buat dan menutupnya dengan perban agara tidak terjadi infeksi.


Maka operasi kali ini lagi-lagi berhasil. Pasien kemudian dibawa ke ruang pemulihan untuk dipantau oleh Dokter lain mengenai tanda-tanda vital pasien meliputi tekanan darah, denyut jantung, dan laju napas pasien. Usus buntu atau apendiks yang sudah diangkat dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.


Adora langsung keluar dari ruang operasi berniat mengabarkan pada keluarga pasien.


Ketika ia keluar, ia melihat wanita parubaya dengan pakaian lusuh sedang memangku kepala seorang anak perempuan dan mengusap kepala anak itu. Raut wajah wanita itu terlihat suram tak ada senyum.


"Permisi, apakah anda ibu pasien?" tanya Adora sopan.


"Ah, I-iya Dokter. Bagaimana keadaan anak saya, apakah dia akan baik-baik saja?" suara wanita tua itu terdengar putus asa.


Adora tersenyum dan membalas, "Anda tenang saja, nyonya. Anak anda sudah diselamatkan dan anda tidak perlu khawatir, setelah ini pasien akan dirawat untuk beberapa hari di rumah sakit."


Wajah wanita itu yang tadinya senang kini berubah sedih ketika mendengar kata-kata terakhir Adora.


"Dokter, bisakah saya langsung membawa anak saya pulang, saya tidak punya banyak uang untuk membayar biaya rumah sakit," ujarnya kemudian.


Adora menepuk bahu si wanita dengan pelan.


"Anda tenang saja, semua biayanya sudah lunas semua, anda hanya perlu menemani anak anda dalam masa pemulihan," balas Adora dengan senyum.


Setinggi apapun derajat kita, kita tetap sama-sama manusia jadi untuk apa sombong akan status yang hanya sementara.


Begitulah Adora, ia menggunakan statusnya dengan baik sebagai Dokter dan putri dari seorang Pengusaha. Banyak orang yang sangat berterima kasih padanya akrrna kebaikan hatinya.


"Terima kasih, Dokter. Kuharap kau akan selalu berbahagia untuk selamanya," wanita itu berseru haru dengan tangisan yang terdengar pilu sehingga membangunkan anaknya yang satu lagi.


"Tentu, nyonya."

__ADS_1


Setelah dari situ, Adora pergi ke bagian administrasi untuk membayar biaya pengobatan anak dari wanita tadi.


"Anda sungguh sangat baik hati, Dokter," puji Dokter Anna yang sedang berbincang dengan beberapa pegawai administrasi.


"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai manusia, Dokter Anna," balas Adora.


"Haha, kau benar," seru Dokter lain.


Adora adalah panutan mereka yabga ada di rumah sakit ini. Ia berasal dari keluarga terpandang, ayahnya merupakan seorang Pengusaha, Ibunya mempunyai usaha sendiri membuat ia tak manja seperti kebanyakan anak yang lahir dari keluarga seperti dirinya. Hal itulah yang patut dibanggakan dari seorang Adora.


"Apakah berjalan lancar operasinya?" tanya Dokter Anna.


"Ya, syukurlah. Hmm, di mana putri kecilmu itu? sudah lama aku tak bertemu dengannya."


Dokter Anna adalah seorang single parents dari srorang anak. Ia ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang suami dikala suaminya sedang melaksanakan tugas menjaga perbatasan negara.


"Dia sedang bersekolah, seharian kemarin aku meraa sangat pusing karena ia sangat rewel," jawab Dokter Anna sembari menceritakan keluh kesahnya.


"Begitulah, anda harus sabar menghadapi anak dalam masa pertumbuhan seperti itu,"ujar salah seorang pegawai administrasi yag sudah tak muda lagi.


"Iya," balas Dokter Anna.


Adora menopang dagunga menatap mereka berdua bergantian lalu menghembuskan napas kasar.


Para pegawai rumah sakit yang mendengar keluhan Adora tertawa pelan. Dalam pikiran mereka, Adora hanya bekerja dan bekerja tak pernah berpikir untuk mencari pasangn.


"Makanya carilah suami!" seru Dokter Hassan menyentil dahi gadis yang sudah ia anggap adik itu.


"Haha, kau benar Dokter, lihatlah gadis ini sudah dewasa tapi belum mempunyai pasangan. Mungkin saja tuan Miller dan nyonya Miller sudah ingin menggendong cucu," seru Erika yang baru saja tiba.


"Carikan aku pasangan," pinta Adora dengan suara pasrah.


"Bagaimana dengan tuan Edward, Dokter?"


"Ya, kurasa anda berdua sangat serasi."


"Bagus juga, perpaduan yang begitu enak dipandang."


Adora kesal, mengapa harus pria itu yang di sebut. Ia sangat kesal mengenai pertemuannya dengan Edward kemarin. Pria itu terus-menerus menjahilinya sampai ia pernah terjatuh ke danau di dekat taman. Saat itu rasanya ia ingin menenggelamkan Edward di Palung Mariana saja.


"Ucapanmu benar sekali!" timpal Hassan.


"Kakak! aku sangat kesal pada pria itu!" rengek Adora.

__ADS_1


"Kau itu!" Dokter Anna menyentil dahi Adora pelan. "Kau itu selalu saja merasa kesal padanya, saat beliau kecelakaan saja kau bahkan berani memukulnya."


Mereka yang melihat wajah cemberut merasa gemas sendiri. Walau sudah berumur, tapi Adora tetap mereka anggap sebagai gadis kecil yang baru saja menginjak usia dewasa.


"Aunty!" teriak seseorang memeluk kaki Adora.


Adora kemudian menggendong gadis kecil itu dan menghujami pipinya dengan ciuman sayang.


"Apakah kau baru saja pulang sekolah?" tanya Adora pada anaknya Dokter Anna.


"Yup!"


"Hei, Mommymu di sini!" tegur Dokter Anna.


"Sepertinya kau sudah tak dianggap jika ada Adora, Dokter Anna," ujar Hassan.


"Huft, bagaimana aku harus menghadapi dua anak ini?" ucap Dokter Anna.


"Tenggelamkan saja!" seru Erika.


"Enak saja!" balas Adora dan Ellie kompak.


Ya, seperti inilah suasana rumah sakit ketika mereka berkumpul bersama. Semua topik mereka angkat sampai yang terperinci saja mungkin mereka menggosipkan lagi.


Karena sudah terlalu lama bercerita, Adora pamit pergi untuk berjalan-jalan di sekita rumah sakit. Sudah lama ia tak mengelilingi rumah sakit tempat ia bekerja.


Tiba-tiba ia melihat sebuket bunga mawar yang terletak di atas bangku seperti sengaja ditinggalkan. Karena dirasa tak ada yang punya, ia mengambilnya dan dibacanya surat yang tersimpan di dalam bunga.


*Untuk Adora-ku sayang


Maafkan aku...


Aku tak tahu bagaimana menghadapimu dan meminta maaf secara langsung padamu. Kuharap jika suatu saat kita bertemu kau bersedia memaafkanku karena kesalahanku mengabaikanmu selama ini.


Hiduplah dengan baik, Adora.


Dari orang yang sangat mencintaimu*


Dahi gadis itu mengernyit membaca surat yang tertuju padanya itu. Matanya melihat ke arah sekua arah namun tak mendapati orang yang membuatnya curiga.


"Sudahlah," Adora mengambil bunga itu lalu membawanya masuk ke ruangannya untuk dipamerkan kepada teman-temannya nanti.


****

__ADS_1


Mohon dukungannya🥰😘


__ADS_2