
Pagi menyingsing meninggalkan embun yang tumpah ke tanah. Gadis itu, Adora terbangun dari tidur nyenyaknya.
Baru saja membuka mata, Samara sudah setia menunggunya di samping ranjang. Merasa tak enak ia langsung bangkit dan terduduk.
"Selamat pagi nona muda," ucap Samara penuh riang.
"Pagi," singkat.
"Saya sudah menyiapkan air untuk anda mandi, silahkan bersiap-siap dan temui beliau."
Adora dengan semangat bangkit lalu berlari ke kamar mandi membuat Samara ketar-ketir, bisa-bisa ia digantung karena membuat Adora terjatuh.
"Nona muda hati-hati!"
Dua puluh menit. Cukup begitu saja Adora sudah tampil cantik dengan setelan casual, ia segera turun ke lantai dua di mana ruang makan.
Sekedar informasi, rumah penculik ini seperti mansion megah bernuansa putih. Bak kastil yang ada di negeri dongeng. Bahkan Adora sendiri belum berjalan-jalan di sekitar mansion. Yang ia ketahui dengan melihat keluar jendela pemandangan asri.
Begitulah tampak mansion penculik, bahkan kediaman Wellington masih kalah dengan kediaman ini. Sebenarnya siapa pemilik mansion mewah ini?
Wajah Adora ditekuk karena menahan kesal, lagi-lagi ia merasa ditipu karena ia tak bisa melihat si penculik. Dengan alasan sibuk, entah itu alibi semata atau memang yang sebenarnya.
Ia dengan wajah murung membiarkan jari-jarinya yang lentik menari di atas meja makan, makanan sudah tersedia sedari tadi. Memang perutnya sudah meronta kelaparan, tapi ia masih penasaran.
Para pelayan di sana menatap khasatir pada nona muda mereka yang sedari malam tadi tak makan sedikit pun.
Jarum jam terus berdetak sampai waktu menunjukan pukul 12.00. Hebatnya Adora masih tetap, ia akan menunggu sampai penculik itu datang. Ia juga lupa membawa ponselnya di kamar, ada pelayan tapi ia malas berbicara.
Tak ada tanda-tanda bahwa penculik itu akan menemuinya.
"Atau apakah dia takut aku melukainya?" Adora bergumam.
"Tidak tidak! lalu apa sebenarnya tujuan dia menculikku!" akhirnya ia berteriak frustasi.
Pelayan di sana kelabakan, "Nona muda!"
"Haah...," entah sudah ke berapa kalinya, gadis berusia 26 tahun itu menghela napas.
Ia bosan, tapi ia harus menuntaskan tasa penasaran akan sosok penculik itu.
BRAK
Semua orang di dalam sana terkejut termasuk Adora yang tadinya duduk sambil menempelkan wajahnya ke meja makan itu langsung duduk dengan postur tegap. Kantuk yang melanda kini hilang begitu saja.
__ADS_1
Seorang parubaya yang ditaksir berusia 75 tahun berjalan dengan jas yang menempel sempurna di tubuhnya, jalannya sangat berwibawa membuat Adora terpukau. Aura pria itu tak sebanding dengan tuan besar Wellington.
Tunggu! apa yang dilakukan pria itu di rumah penculik ini? apakah ia juga diculik? Oh tidak! apakah sebenarnya penculik itu ingin mengambil organ dalam mereka berdua. Travelling sudah pemikiran gadis itu.
"Ka--" ucapannya terpotong dengan suara serempak yang berasal dari pelayan.
"Selamat datang tuan besar!"
"Tuan besar? Oh.... HAH TUAN BESAR?! BELIAU TUAN BESAR SI PENCULIK?!"
Kakek tua penuh wibawa ini penculiknya? Adora kira pria berusia sepantarannya atau setidaknya seperti Edward. Edward sedang apa ya?
"Siapkan makanan yang baru!" titah tuan besar tak terbantahkan.
Sambil menunggu, kakek tua itu menatap sendu gadis di sampingnya yang ia terima laporan bahwa belum makan sama sekali setelah tiba di mansionnya.
Setelah mendengar laporan bahwa gadis itu akan terus menunggu sampai makan siang membuat ia tak tega dan harus membuat gadis itu hilang rasa penasarannya.
"Anda benar penculik itu?" tanya Adora dengan takut-takut.
Dia mengangguk, "Ya."
"Sebenarnya apa mau anda menculik saya?" tanyanya kembali dan langsung pada intinya.
"Kau akan tau nanti setelah beristirahat," berucap seperti itu sambil mengelus rambut Adora dengan sayang.
"Ayo makan!" suruh kakek itu ketika makanan sudah dihidangkan kembali.
Adora tak perlu capek-capeh menjaga imagenya, pada dasarnya memang ia tak suka menjaga imagenya jika sedang makan. buktinya saja ia menghabiskan tiga piring sekaligus membuat para pelayan di sana terperangah.
Kemana semua makanan itu pergi? perut sekecil itu bisa menampung berapa banyak makanan? hebat sekali nona muda mereka.
Lain halnya dengan si pria yang tersenyum senang karena Adora makan dengan lahap. Ia bahkan menyuruh untuk Adora agar menambah porsinya.
"Akhirnya...," ucap Adora bersandar ke sandaran kursi.
"Bagus, makanlah dengan banyak. Kamu pasti tidak banyak makan karena pekerjaanmu beberapa hari belakangan," ucap pria itu kembali mengelus surai Adora.
Tak berbohong, Adora merasakan nyaman saat tangan pria itu menyentuh rambutnya. Rasa familiar menjalar dari tangan pria itu, rasanya tidak asing.
Sambil menikmati elusan di kepalanya, mata gadis itu terasa berat.
"Ayo kakek antar ke kamar," ajak pria itu.
"Kakek? hmm," tak menolak, Adora menurut saja lagi pula ia semakin merasa ngantuk.
__ADS_1
Sesampainya di kamar mewah itu, pria itu menidurkan tubuh Adora lalu menarik selimut sampai dada. Tak lupa ia sempatkan mencium dahi si gadis.
Adora yang sangat mengantuk tak perduli lagi dan langsung tidur begitu saja mengundang senyuman lebar pria itu.
Cklek
Baru saja pintu ditutup, pria tua itu dibuat terkejut dengan sosok asistennya yang penuh peluh.
"Tuan," anak muda di depannya menggeram kesal.
"Jangan di sini, kesayanganku sedang tidur," ia menepuk beberapa kali bahu asisten kebanggaannya.
Memilih menghela napas pasrah dan menuruti kemauan pria tua yang sialnya sudah ia anggap kakek sendiri.
***
"Bagaimana kakek akan memberitahukan pada Adora?" tanya anak muda yang diketahui bernama Evander Atarah.
Tuan besar itu menyesap kopinya dengan hikmat, "Entahlah."
"Jangan bercanda kakek! Seharusnya sebelum kakek menculiknya kakek sudah menyiapkan hati," kesal anak muda itu tak habis pikir.
"Dia sangat mirip dengan bundanya kan?"
Evander mengangguk sambil menatap bingkai besar yang berisi seorang wanita cantik dengan senyum lebar yang sangat manis.
"Ya, dia mirip bibi," gumaman itu terdengar.
"Di mana ayahmu?"
"Ayah? Mungkin sedang menyiapkan hadiah untuk keponakannya," jawab Evander judes.
Sejak kedatangan keponakan kesayangannya, Evander sampai sudah tak dianggap anak oleh sang ayah. Miris sekali.
Tuan besar a.k.a Levithen Devine sudah tau bagaimana pemikiran ayah dan anak yang sudah melayaninya sejak dulu. Bahkan, ia sangat menyayangi keduanya seperti anak dan cucunya apalagi ia kehilangan satu-satunya peninggalan sang istri sekaligus cahayanya.
Mengingat tragedi itu membuat hatinya tersayat begitu dalam, ia bodoh dan sangat bodoh karena tak bisa menyelamatkan putrinya tepat waktu. Penyesalan seakan tak berhenti menerornya sepanjang waktu.
"Kakek sudah tua jangan terlalu banyak pikiran, itu tidak baik," ucap Evander.
Levithen berdecak, "Jangan mengatakan aku tua dasar bocah."
"75 tahun itu masih muda?" Evander mendelik.
"Tidak, itu sudah bau tanah," seseorang menimpali perkataan Evander, Lucas Atarah, ayah Evander.
__ADS_1
"Kalian berdua!"
***