Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
36


__ADS_3

"Jadi begitu rupanya," Adora mengangguk mendengar cerita Edward.


"Iya, kau tahu aku hampir stres jika saja tidak bertemu denganmu, sayang," Edward merengek sambil menduselkan wajahnya di leher jenjang sang kekasih.


"Dasar buaya! kau menginap?" setelah mengejek Edward, Adora menidurkan kepalanya di pangkuan Edward.


"Ya, besok aku harus kembali atau tiga serigala di bawah akan melahapku mentah-mentah," jawab Edward.


"Jangan meledek mereka, Ed kau mau kubanting?" ancam Adora.


"Ke ranjang?" iseng Edward.


Adora meninju dada bidang itu dengan kuat sehingga membuat Edward sedikit terhuyung sambil menangis.


"Aku bercanda sayang," ucap Edward mengklarifikasi.


***



Adora memperhatikan penampilannya di cermin full body, dirasa sudah sempurna gadis berprofesi sebagai dokter itu segera turun karena pasti mereka sudah menunggunya.


"Maaf lama," ia tulus berucap.


"Tidak apa-apa sayang," keempat pria di sana berkata serentak membuat senyum tipis terukir di bibir merona si gadis.


Edward duduk di samping Adora, dengan telaten ia menaruh makanan ke piring Adora. Daging yang ada ia potong kecil-kecil lalu ditaruh ke piring kekasihnya.


"Terima kasih Ed," Adora tersenyum ceria.


"Sama-sama sayang, makanlah yang banyak," Edward mengelus rambut Adora sayang.


"Ekhm!" dehem Evander kesal.


"Kau sana cari pacar! mau sampai kapan menjomblo!" suruh Levithen pada cucu laki-lakinya.


"Mencari gadis yang baik hati itu susah, kakek," Evander mendelik kesal.


"Mau kucarikan?" tawar Adora menaik turunkan alisnya.


"Ayah setuju, Dora. Padahal aku ingin menggendong seorang cucu," Lucas ikut mendramatis suasana membuat gelak tawa penuh di ruang makan itu.


Edward masih tertawa, "Biar aku dan Adora saja yang memberikan ayah cucu?"


"Kerja dan cari uang yang banyak sana jangan menempeli Dora-ku!" marah Levithen walau tak terlalu.


"Uang ku sudah sangat banyak, tidak akan habis tujuh turunan, delapan tikungan, sembilan tanjakan, sepuluh belokan, dan seratus abad kemudian," cerocos Edward percaya diri.


"Sebelum menikah, poroti saja uangnya sampai habis, Dora. Biar tingkat kepercayaan diri itu sirna," kali ini Evander memang sangat kesal pada calon adik iparnya.

__ADS_1


"Jangan galak-galak kakak ipar, nanti tidak ada yang mau lagi denganmu," ledek Edward.


Lagi-lagi Edward mendapatkan korban kejahilannya yaitu kakak iparnya sendiri selain Zelleine.


Adora memukul lengan Edward pelan guna memberi kode bahwa pria itu fokus pada makanannya jangan terus menjahili kakak kesayangannya. Melihat hal itu Evander tersenyum puas sedangkan Edward cemberut.


Beberapa saat kemudian...


"Ayo petik yang merah itu, di sana!" teriak Adora dari bawah pohon.


Saat ini mereka sedang ada di taman belakang mansion Levithen yang begitu luas dan penuh dengan berbagai macam buah-buahan seperti Apel, anggur, langsat, pepaya, pisang dan zaitun. Memang sangat lokal kakek dari Adora dan Evander.


Adora suka itu, ia sangat suka dengan taman belakang mansion kakeknya ini yang memiliki pemandangan indah.


Sedangkan di atas pohon sana, Edward memetik apel sesekali setelah ia petik kemudian ia gigit. Dengan teganya ia melempar ke bawah membuat Adora merenggut kesal dan mencak-mencak tak terima.


"Issh Ed!"


"Hahaha," tawa Edward menggelegar.


Setelah memetik apel yang cukup banyak, keduanya duduk di bawah rindangnya pohon langsat dengan Edward yang tidur beralaskan paha Adora.


"Jadi kau hilang ingatan?" tanya Edward memainkan jari-jemari kekasihnya.


"Hmm, gara-gara mereka aku harus melupakan keluargaku yang lain," jawab Adora mengelus rambut Edward.


"Tentu saja, ayah Cas keceplosan saat mengobrol kemarin. Mereka sepertinya tidak ingin aku tahu lalu bersedih."


"Kau gadis kuat!"


"Terima kasih."


****


Seorang wanita berparas cantik terus-terusan menggelitiki gadis kecilnya yang sedari tadi tertawa terpingkal-pingkal.


"Hah rasakan ini, siapa suruh mengejek bunda," ledek wanita yang menyebut dirinya bunda itu.


"Haha... bunda... maaf... hahaha... Dora tidak mengulangi lagi hahaha," gadis kecil itu berusaha lepas dari cengkeraman sang bunda.


"Terima ini putriku," ia semakin gencar menggelitiki perut mungilnya yang agak berisi itu.


Gadis kecil itu berusaha mundur sampai tak sadar di belakangnya terdapat tembok. Dengan gerakan cepat sang bunda meletakan tangannya ke belakang kepala putrinya agar tak terbentur.


"Astaga tangan bunda pasti sakit," anak itu peka langsung mengambil tangan yang digunakan untuk melindungi kepalanya, dengan telaten ia meniup-niup tangan itu berharap agar sakitnya hilang.


Audette, dia menatap gemas putri kecilnya lalu membawa Adora ke pangkuannya. Diciumlah pipi tembem anaknya bertubi-tubi sampai si anak mendorong kuat wajah bundanya.


"Bunda hentikan, Dora kegelian," marah Adora kecil. Bukannya takut Audette malah merasa gemas sangat gemas.

__ADS_1


"Nyanyikan sebuah lagu untuk bunda sayang," pinta Audette.


Adora mengangguk semangat, dengan tubuh mungil dan tinggi yang tak sampai 80 cm itu ia mulai berdiri dan bersiap-siap mengeluarkan suara emasnya. Maklumlah ia baru berusia empat tahun.



"Bunda yang cantik... bunda milik Dora... bunda sayang dora~" entah lirik lagu dari mana yang ia dapatkan, suara cemprengnya mengalun indah membuat beberapa orang yang baru tiba menahan senyum dan kegemasan mereka ingin sekali mencubit pipi itu.


"Dora punya ayah Robin yang tampan... kakek Levi yang bandel, ayah Cas dan kak Evan... Dora punya semua~" dengan tubuh yang berlenggak-lenggok khas anak kecil itu, Adora berhasil menyelesaikan debut pertamanya di depan keluarga.


"Bunda HORE!!" ia berteriak kesenangan.


Prok prok prok


Tepukan tangan ia dapati ketika ia sudah melompat ke pelukan sang bunda. Ia menoleh melihat asal suara tepukan itu.


Dengan wajah sumringah ia berlari menghampiri suami dari bundanya yang sudah merentangkan tangannya.


"Ayah!!!"


"Hati-hati sayang kau bisa terjatuh," tegur Robin pelan sambil mencium dahi putri kecilnya.


"Ayah lama sekali pulang, Dora kangen," gadis kecil itu merengek kecil sambil mendusel-dusel di dada bidang sang ayah yang masih berbalut kemeja biru.


"Ayah juga kangen kepadamu," balas Robin tak tahan untuk menghujami pipi tembem anaknya.


"Ayah Rob aku ingin menggendong Dora," Evander menarik-narik ujung kemeja ayah Robnya.


Dengan dijaga-jaga oleh Robin dan Lucas, Evander kecil menggendong tubuh mungil adik kesayangannya.


"Kakak habis pulang sekolah, iya?" ia memeluk leher kakaknya mesra.


"Iya, kakak tidak bisa fokus belajar karena teringat adik kecil kakak," seru Evander.


"Benarkah?"


"Iya."


Setelah itu keduanya saling bergenggam tangan menuju ke ruang makan membuat para orang dewasa menatap gemas anak berusia empat tahun dan delapan tahun itu.


"Hiks...," Adora terbangun dari mimpinya, lebih tepatnya ingatannya yang mulai pulih secara berangsur-angsur setelah waktu itu diserang bertubi-tubi.


"Bunda ayah," gumamnya tak karuan.


Duduk sambil memeluk lututnya, Adora menatap ke luasnya malam dengan bulatan terang di langit sana.


"Bulan bagaimanakah kabar ayah dan bunda?" monolognya dengan nada bertanya pada bulan yang diam membisu.


****

__ADS_1


__ADS_2