
Langkah terasa berat bagi Aluna karena ia ingin mengunjungi Edward dan meminta maaf. Namun, ia ragu karena di ruangan Edward terdapat keluarganya yang membuat Aluna enggan masuk.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seseorang.
"K-kakak."
"Hmm," dehem orang itu.
Aluna menunduk dan berkata lirih, "aku ingin mengunjungi Edward dan minta maaf atas kesalahanku."
"Bagus juga jika kau sadar," tekan pria itu.
Tiba-tiba terdengar isak tangis dari Aluna, ia berusaha menahan tangis itu agar tak membuat Kakaknya kembali mengabaikannya.
Orang-orang yang berlalu lalang menatap pria itu garang karena telah membuat seorang gadis menangis.
"M-maafkan a-aku...," Aluna masih berusaha menahan air matanya untuk jatuh lebih deras lagi.
Pria itu kemudian membawa Aluna ke dalam pelukannnya, tangan kekarnya mengelys punggubg sang Adik.
"Ku mohon berhentilah menangis," suara pria itu yang tadinya dingin kini melembut.
Hal itu membuat Aluna kembali menangis, rasanya ia sangat merindukan pelukan dari Kakaknya ini. Entah sudah berapa lama mereka tak bersua setelah kecelakaan Edward waktu itu.
"Berhentilah menangis wahai gadis kecilku," jari-jemarinya menyeka pelan air mata sang Adik.
Setelah saling melepas rindu, Aluna pergi ke ruangan Edward di bantu oleh Kakaknya. Walau keluarga Edward menolak tegas Aluna bertemu dengan Edward tapi apa boleh buat jika Edward sudah angkat bicara.
Kini, ruangan milik Edward terasa sunyi karena dua makhluk di dalamnya masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Maafkan aku...," akhirnya Aluna mengatakan hal yang selalu membuatnya dihantui rasa bersalah.
"Memangnya apa kesalahanmu?" nada bicara Edward terasa dingin.
"A-aku...," Aluna kembali tak menyelesaikan ucapannya.
"Ya biar saja, aku juga perlahan-lahan sudah melupakanmu, jadi aku sudah memaafkanmu," ujar Edward yang tak sepenuhnya bohong.
Aluna mengangguk, bagaimanapun ia yang membuat Edward sakit seperti ini. Seharusnya ia tahu diri jika ia sudah mempunyai orang yang mencintainya dengan tulus tapi ia khianati begitu saja.
Cklek!
Adora masuk setelah mengucapkan permisi. Ia terkejut melihat wajah Aluna yang sedikit bengkak karena menangis dan Edward yang terlihat sedih.
"Apa aku salah masuk?" tanyanya.
"Ya, apa orang di luar tidak memberitahumu?" ini suara Edward.
Adora menggeleng pelan. "Sepertinya di luar tadi kosong tak ada keluargamu."
"Maaf menggangu waktumu, Edward, semoga kau cepat pulih dan datang ke acara pertunanganku sebagai Kakakku," setelah berucap seperti itu Aluna beranjak.
Tapi, sebelum itu, " Terima kasih, Dokter Adora dan jangan lupa datanglah."
"Sama-sama, aku pasti datang, " balas Adora dengan senyum merekah.
Selang beberapa menit setelah kepergian Aluna, Adora langsung melakukan pemeriksaannya pada Edward.
"Kau tak marah pada Aluna karena merebut kekasihmu?" tanya Edward.
"Haish, aku tak peduli dengan pria itu, aku masih punya Papa yang mencintaiku lebih tulus darinya," jawab Adora seadanya.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa melupakan pria itu secepat itu? beri tahu aku caranya," ujar Edward.
Adora tersenyum tengil. "Kau bisa bunuh diri maka kau akan melupakan semua itu, hahaha."
Edwrad memutar bola matanya malas menanggapi gadis seperti Adora. Gadis itu selalu membuatnya merasa emosi.
"Aku ragu sebenarnya kau Dokter atau bukan."
"Coba tebak," suruh Adora.
"Malas."
"Kau tak boleh malas untuk sembuh."
"Jika Dokternya kamu ya aku akan cepat mati bukan sembuh!"
"Ide bagus!"
Edward menghela napas kasar melihat tingkah Adora yang sangat suka mencari gara-gara dengannya, tak tahu waktu dan keadaan Edward.
"Apa kau akan datang ke pertunangan mereka?" cukup lama diam, akhirnya Edward angkat bicara.
"Ya, mereka mengundangku. Tak ada salahnya juga, aku datang dan merayakan cinta mereka," Adora menjede ucapannya. "Lalu kau?"
"Sepertinya aku akan datang, dia mengundangku sebagai Kakaknya," jawab Edward.
"Biarkan saja dia mencintai orang lain, lagi pula hal itu yang membuatnya bahagia," ucapan Adora membuat Edward tersenyum.
"Ya, dia pasti bahagia," ucap Edward.
"Aluna itu gadis baik, dia selalu mengunjungimu saat kau masih belum sadar, ia sering menangis diam-diam ketika melihatmu, kadang aku juga melihat dia membawa bunga untukmu, dia merasa menyesal telah membuatmu terluka."
"Ya, aku bersyukur untuk itu," balas Edward.
"Ah, selamat pagi nyonya!"
Nyonya Bianca menyapa Adora yang sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Apa kau sudah lama di sini?" tanya nyonya Bianca.
"Belum lama."
Setelah sedikit terlibat perbincangan diantara mereka, Adora pamit untuk pergi. Pekerjaannya di hari ini juga selesai membuatnya merasa lelah tapi puas.
Ia kemudian pergi ke parkiran dan bersiap pulang ke rumahnya.
****
Saat ini Adora sedang berkumpul bersama sahabatnya di rumah Bella dan Athena. Tujuan mereka ke sini juga dengan tujuan menumpang makan karena Maminya Bella dan Athena sangat memanjakan mereka.
"Anak-anak!" panggil Mami Catalina.
"Iya, Mami!" mereka langsung berbaris rapi di depan Mami Catalina.
"Hahaha, kalian masih sama seperti saat kecil. Bagaimana kabar kalian hari ini?"
"Sangat baik! kalau Mami?" jawab Adora dan Adeeva.
"Mami juga baik, bagaimana dengan keluarga kalian?"
"Sangat baik!"
__ADS_1
"Hmm, baguslah, kalian ke kamar saja nanti makanannya menyusul," suruh beliau.
"Terima kasih, Mami," jawab mereka serempak.
Setelah Mami Catalina berlalu, Bella dan Athena berkelahi tentang berkumpul di kamar siapa. Tentu saja dengan tekanan dari seorang Kakak, Bella tampil sebagai pemenangnya.
"Hahaha, ayo berkumpul di kamar Athena!" seru Bella bersemangat.
"Ayo buat kamar Athena berantakan!" timpal Adora dan Adeeva.
"Huaaa, papi!" rengekan Athena terdengar ke seluruh penjuru rumah.
Seorang pelayan menghampiri nona mudanya dengan khawatir.
"Apakah anda baik-baik saja, nona?" tanyanya.
"Hmm," Athena mengangguk lalu berlari ke kamarnya sebelum tiga makhluk di dalamnya membuat kerusakan yang sangat parah.
Dan baru beberapa menit saja, kamar milik Athena langsung terbengkalai membuat si pemilik merengek tak terima.
"Haha, lihat wajah itu!" tawa Adora mengudara begitu saja menyaksikan wajah Athena.
"Papi!!"
Sebagai seorang Kakak, Bella pun juga ikut menertawakan sang Adik. Athena kesal dan mengejar mereka semua sampai rumah megah milik keluarga Ramona itu terdengar sangat bising.
"Papi pulang!" seru seorang pria parubaya.
"Papi!"
"Paman!"
"Astaga, anak-anak. Kalian sudah tumbuh dengan baik, ya."
"Yup," mereka mengangguk antusias.
Setelah saling melepas rindu, acara makan siang di kediaman megah Ramona pun dimulai. Di sepa-sela makan mereka, suara tawa terdengar.
"Apakah kau sudah punya pengganti, Adora?" tanya tuan Ramona.
"Belum, paman. Sekarang aku ingin menyendiri dulu," jawab Adora.
"Hei bukankah ada tuan Edward dan sahabatnya, kau pilih yang mana?" seru Adeeva bertanya.
"Hmm, tuan Edward terlalu gila, jika tuan Ronan tak buruk juga," terlihat Adora dan Athena saling melirik dengan senyuman miring.
"Jangan ambil tuan Ronan!" tiba-tiba Bella berseru kesal.
Mami Catalina dan tuan Ramona terkejut dengan respon dari anak sulung mereka yang bisa dibilang tak biasa.
"Dia terpancing," ucap Athena dengan senyum puas membalas Kakaknya.
Mendengar hal itu Bella akhirnya merasa malu karena secara tidak sengaja ia mengakui bahwa ia menyukai Ronan.
"Apakah anak sulungku sudah jatuh cinta?" tanya Mami Catalina dengan haru.
"Iya, Bibi. Bibi kenal dengan pria yang sering bermain film dengan Bella, kan? itu dia orangnya!" ucap Adeeva.
"Ah, ternyata dia, sepertinya dia cocok untukmu, Bella," ujar tuan Ramona yang ikut menggoda anaknya.
"Papi!" kini gantian Bella yang merengekkarena digoda.
__ADS_1
Suasana makan siang itu terasa begitu ceria karena empat gadis yang telah tumbuh dewasa itu. Rasanya masa muda kembali terasa.