Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
41


__ADS_3

"Dora!"


Adora menoleh pada kakak cerewetnya yang sedari tadi mengomel tak jelas. Ingin sekali Adora menyumpal mulut yang terus bergerak itu tapi ia urungkan karena tak mau durhaka.


Berkat kegigihan keluarganya untuk menyemangatinya, Adora mulai pulih perlahan-lahan dari depresinya. Sekarang ia bisa beraktivitas seperti buasa walau masih dalam pantauan. Ia juga masih mengambil cuti, tak perduli dengan gajinya nanti. Lagi pula rumah sakit tempat ia berkerja tak bisa memecatnya, ia kan dokter dengan posisi penting.


Dan sekarang di ruang makan terdapat Adora, Evander, dan Tarissa. Tarissa tertawa pelan melihat mulut Evander tak berhenti mengoceh, sedangkan Adora memutar bola matanya malas. Jika Evander meletakan sayuran ke piring Adora maka Adora pindahkan ke piring kakak iparnya, Tarissa lalu tersenyum tak berdosa.


"Kau seorang dokter kenapa malas mengunyah sayuran, dik?" tanya Tarissa heran dengan pemikiran Adora.


Adora menggaruk tengkuknya sambil menyengir. "Aku malas mengunyah, hari ini aku hanya ingin memakan ini saja."


Dua pasangan sejoli itu menatap prihatin piring Adora. Yang biasanya penuh dengan serba-serbi makanan bercampur kini hanya berisi nasi dan satu ekor ikan goreng, terbilang sangat sedikit untuk Adora yang porsi makannya cukup besar.


"Haah...," Evander menghela napas gusar melihat adiknya.


"Kak bagaimana dengan perusahaanmu? apakah ada kesulitan dan jika ada aku bersedia membantu," ucap Adora di sela-sela mengunyah makanannya.


"Telan dulu ayo," Tarissa mengusap punggung adiknya itu.


"Perusahaan baik-baik saja."


Adora menatap Evander dan Tarissa berganti lalu menyeletuk. "Selesaikan yang mendesak lalu gelarlah pernikahan kalian, aku tak mau melangkahimu duluan."


"Seminggu lagi," dengan santainya Evander berucap membuat sang kekasih yang kini berubah status menjadi calkn istrinya tadi terbatuk-batuk. Adora segera meminumkan segelas air.


"Jangan bercanda Evan!!" gertak Tarissa.


"Siapa yang bercanda? aku serius lagi pula Adora merestui kita, lalu apa masalahnya di sini? orang tuamu? mereka bahkan menyuruhku menikahimu besok saat bertelponan tadi," cerocos Evander.


"Haishh... kakakmu kepala batu," pasrah Tarissa.


Adora hanya menahan tawa melihat wajah aneh yang dibuat Tarissa pada Evander. Evander acuh tak acuh dan lanjut menikmati makanannya tanpa terusik cubitan yang dilayangkan Tarissa.

__ADS_1


****


"Kakak!!!"


Tiga gadis kecil atau empat ya? Mata Adora memincing melihat kedatangan para bocah kematian. Ia semenjak tiga adik kembarnya berteman dengan Zelleine, keanggunan mereka seketika hilang bahkan Zelleine yang dilahirkan begitu anggun melakukan hal yang sama.


"Kakak, kaki merindukan kakak," Thania menghujami tubuh Adora dengan pelukan.


Adora membawa Thania ke pangkuannya. Saat ini mereka tengah berada di kamar Adora kediaman Devine.


"Datang bersama siapa?" tanya Adora pada yang tertua, Thalita.


Thalita yang asik berguling-guling bersama Thalia dan Zelleine menoleh, "Kak Edward."


Adora mendecakan lidahnya kesal. Padahal kekasihnya itu dilanda kesibukan, kemarin sekretarisnya mengadu pada Adora kalau bossnya itu asik berkeliaran padahal tumpukan berkas menganga di atas mejanya.


"Kalian bermainlah di sini, jika mengantuk tidurlah. Kakak ingin menemui kak Ed dulu," suruh Adora menurunkan Tania.


"Kak Dora! pukul saja kepalanya, kak Ed bandel!" seruan Zelleine dibalas dua jempol oleh Adora.


Ditataplah tajam seorang pria dengan tampilan santai, kaos oblong dan celana diatas lutut. Adora mengangkat sebelah alisnya saat menyadari bahwa Edward tak berangkat ke kantor pantas saja sekretaris pria itu tadi menangis mengadu padanya.


"Oh kau sudah datang, Dora," Tarissa berujar membuyarkan lamunan Adora. "Berbincanglah, kakak akan ke kamar dulu, capek."


Adora mengecup pelan pipi Tarissa sebelum gadis itu pergi.


Edward menampilkan senyumnya yang manis dan menggoda iman pada sang kekasih yang duduk memangku kaki.


"Sayang kau marah?"


"Hmm," dehem Adora memejamkan matanya sambil bersandar pada sofa.


Memilih mengabaikan pertanyaan dan eksistensi Edward. Adora tak mau menatap wajah menyebalkan itu, ia kesal.

__ADS_1


Tak mendapat jawaban membuat Edward yakin seratus persen kalau gadis di depannya ini kesal. Ia tebak pasti sekretaris sialannya itu mengadu pada Adora sehingga Adora mencueki dirinya. Awas saja dia!


Edward tanpa aba-aba menggendong tubuh Adora ala bridal style membawanya ke gazebo yang ada di taman belakang. Adora malas berdebat membiarkan saja.


Edward meletakan dagunya di ceruk leher Adora, menghirup aroma lavender yang menguar dari tubuh kesayangannya. Aroma yang membuat nyonya Bianca menaruh pikiran positif dan rasa perhatiannya pada Adora.


Lagi-lagi Adora membiarkan sampai dirasanya benda kenyal nan sexy milik Edward mulai menjelajahi secara sembarangan di lehernya. Merasa geli, Adora mendorong kepala Edward menjauh. Menjewer telinga Edward san meneceramahinya panjang lebar. Pria itu diam, ceramahan Adora masuk telinga kanan keluar telinga kiri, fokusnya pada bibir gadisnya.


Tanpa aba-aba Edward mencium bibir yang menjadi candunya itu kemudian **********. Untunglah keadaan di sana sepi tak ada orang karena Edward sudah mengatur strategi. Tangannya meraba-raba perut rata Adora yang sedikit terekspos karena ciuman panas mereka. Mata Adora melotot ditengah-tengah ciuman mereka.


"Ugh... berhenti...," pintanya dengan nafas satu dua.


Edward tertawa pelan dan dibisikan sesuatu ke telinga Adora, "Tenang saja, kita akan melakukannya setelah menikah."


Adora mengelus rambut kekasihnya sayang. Dalam keadaan masih di pangkuan Edward. Adora bermanja-manja dengan pacarnya yang ia abaikan selama beberapa hari keterpurukannya.


"Maafkan aku sebab melupakanmu," bisik Adora.


"Tidak apa-apa sayang. Aku merasakan kesedihan yang sama denganmu juga, mereka adalah orang terpenting bagimu dan aku juga," ujar Edward mencium setiap inci wajah Adora.


"Berhenti mengambil kesempatan dalam kesempitan!"


"Ku dengar kak Evan akan menikah seminggu lagi," Edward mengalihkan pembicaraan karena tak mau diomeli lagi.


"Iya, alasannya ia tak mau aku terlambat menggelar pernikahanku dan juga karena ia sudah ingin sekali memperistri kak Tissa," celetuk Adora.


"Kakak menyebalkanmu itu sangat menyayangimu."


"Ya aku juga sangat menyayanginya, andai waktu bisa kuputar maka akan kuubah takdir kejiku."


"Bukankah berkat takdir keji itu kau menemukan berbagai macam pelajaran dalam hidupmu. Takdir hanya berjalan sesuai kehendak Tuhan, kita sebagai manusia hanya boleh menerimanya dengan lapang dada agar derita terasa manis," nasehat Edward membekas di hati Adora.


"Kita tak tahu apa yang terjadi ke depannya. Ayo lakukan yang terbaik sampai maut menjemput. Mungkin pahit di awal tapi manis akan selalu menantk di akhir."

__ADS_1


Adora memeluk tubuh tegap itu dan menumpahkan tangisnya. Ia rasa memilih Edward sebagai pasangan hidupnya nanti tidak akan merugikan dirinya. Ia yakin Edward orang yang tepat membimbingnya menuju ke versi terbaik dirinya sendiri yang ia sendiri tak ketahui. Miris tapi begitulah kenyataannya.


****


__ADS_2