
"Haaah," sudah berulang-ulang, Adora terus merasa bosan. Hari ini adalah hari libur bagi Adora, jadi, sekarang ia sedang rebahan di ranjangnya.
Ternyata bermalas-malasan di rumah itu membosankan, ia ingin pergi jalan-jalan tapi siapa yang ia ajak? Adeeva yang sibuk mempersiapkan pernikahannya satu minggu lagi, Arabella sedang sibuk menjadi brand ambassador perusahaan Athena.
Ia rasa ia melupakan sesuatu yang penting hari ini, tapi apa? apa yang mengganjal?
Karena merasa terlalu bosan, Adora bangkit dan mencari mamanya yang sedari tadi kelihatan setelah sarapan berasama.
"Mama!" panggil Adora ke sekian kalinya.
Tak ada jawaban sama sekali membuat Adora kesal. Di mana mamanya sampai panggilannya tidak terdengar. Ia berusaha sabar dan pergi memeriksa ke seluruh rumah.
Setelah memeriksa ternyata tak ada seorang pun di rumah, "Mereka semua kemana?"
Bukannya papa dan adik-adiknya libur tapi mengapa mereka tidak kelihatan bahkan bibi di rumahnya tidak kelihatan, apa mereka mengerjaiku? pikir Adora.
Ia pergi ke bagasi, mungkin saja mobil mama dan papanya ada di sana. Namun, hasilnya nihil.
"Arggh! kemana semua orang, di mana pula sahabat kampretku ini?!" teriak Adora kesal membanting dirinya di sofa ruang tamu.
Ting tong!
Adora segera bangkit dan membuka pintu untuk tamunya.
Cklek!
Tak ada orang hanya sebuket bunga mawar merah, dan sepucuk surat bertuliskan,
Hai, Adora-ku sayang.
Bagaimana kabarmu? kuharap gadis kecilku selalu baik. Aku ingin bertemu denganmu, namun rasanya aku malu berhadapan denganmu. Aku tak punya keberanian, aku merasa bersalah padamu. Aku sudah tak bisa menahan kerinduanku padamu. Tak lama lagi kita akan bertemu, aku harap kau bisa menikmati waktu bersamaku saat itu.
Dari,
Orang yang menyayangimu
Adora mengerutkan dahinnya membaca surat itu, ia melihat buket bunga itu sesuai dengan bunga favoritnya yaitu, mawar merah sama dengan ibu kandungnya.
Entah mengapa Adora tersenyum lalu menghirup aroma mawar yang semerbak itu.
"Aku akan menantikan pertemuan ini," gumamnya lalu masuk ke dalam rumah.
Dari tempat yang tak jauh, seseorang sedang mengamati Adora. Senyumnya mengembang saat melihat Adora yang senang dengan pemberiannya. Rasa rindu yang tersimpan di hati terasa tumpah ruah membuat orang itu meneteskan air matanya.
Sudah sejak lama ia mengamati sosok Adora, ia begitu menyayangi Adora tapi ia takut berhadapan langsung denganAdora, takut dibenci.
"Sampai jumpa, gadis kecil."
...****************...
Sudah sangat lama, Adora berjalan-jalan di mall tanpa membeli apapun. Ia hanya berjalan seperti orang linglung. Karena tak tahu pergi kemananya keluarga dan sahabatnya membuat ia merasa bosan lalu memutuskan pergi ke mall hendak berbelanja. Namun, masih sama rasanya bosan.
Ketika asik melamun, Adora dikejutkan dengan langkah seseorang yang seperti mengikutinya dari belakang. Dengan cepat ia melihat ke belakanh tapi tak ada orang mencurigakan.
__ADS_1
"Apa hanya perasaanku saja?" gumamnya lalu melanjutkan perjalanannya.
Adora pergi ke sebuah cafe dan memesan makanan di sana. Apa begini rasanya kehilangan? hampa sekali, begitu pikir Adora.
Mata Adora menangkap beberapa anak kecil sedang bermain kejar-kejaran dan dengan tawa mereka membuat Adora merindukan masa kecilnya bersama ketiga sahabatnya.
"Kalian ke mana?" wajah Adora bertambah murung.
Waktu berlalu sampai kini waktu sudah menunjukan pukul 19.00. Cukup lama ia menikmati waktu sendirian di luar membuat ia merindukan rumahnya, dalam hati kecilnya ia berharap kedua orang tua dan adik-adiknya sudah pulang.
Adora bersenandung indah menikmati pemandangan malam, angin bertiup menghempaskan rambutnya ke belakang. Seakan semua masalah ikut terhempas bersamaan dengan rambutnya.
Dalam waktu singkat, Adora telah sampai di rumahnya. Akan tetapi, rumah itu masih sama dengan keadaan awalnya. Tak ada orang di dalamnya membuat Adora ingin menangis saja. Ia terduduk di depan dapur hendak menangis.
Brugh!!
Adora terkejut mendengar suara seperti ada yang terjatuh, arah suara itu dari halaman belakang membuat Adora segera berlari ke sana dengan jantung berdebar kencang.
Hening dan tak berpenghuni.
"Hiks...," air mata gadis itu mulai menetes karena tak mendapati siapapun di sana. "Mama! papa! kalian dimana? hiks... aku sendirian... hiks...."
"Pfft!"
Adora menghentikan tangisnya dan mencari suara lelaki yang sedang menahan tawa. Ia tak perduli lagi dengan imagenya sebagai seorang dokter, yang ia mau hanya bertemu dengan keluarganya.
"He pencuri! jangan mengejekku!" seru Adora yang masih mau menangis.
Tiba-tiba rangkaian lampu yang tadi tidak kelihatan karena gelap gulita kini bersinar terang, kelap-kelipnya menghiasi malam penuh bintang dan cahaya rembulan.
Sorak-sorakan terdengar dari seluruh penjuru membuat Adora berdiri. Ia tak tahu apa yang terjadi saat ini.
Keluarganya, sahabatnya,keluarga sahabatnya, keluarga Edward dan sahabatnya. Suasana sangat ramai membuat Adora harus menghentikan tangisnya sebentar.
"Mama? papa?" ucapnya sebelum kembali menangis kembali.
Ia berlari memeluk kedua orang tuanya dan menangis sejadi-jadinya. "Dari tadi kalian kemana? apa kalian tidak tahu kalau aku kesepian? aku khawatir kalianenghilang. Jika kalian menghilang bagaimana nasibku?"
Beberapa orang tertawa mendengar penuturan Adora yang maish terisak. Wajah gadis yang selalu tersenyum ceria itu sembab.
"Selamat ulang tahun, Adora!"
Suara dari semua orang itu membuat Adora kembali dibuat terkejut. Jadi, ini alasan mereka meninggalkan dirinya sendiri, mereka menyiapkan kejutan ulang tahunnya. Padahal dirinya sendiri pun lupa kalau hari ini ia genap 26 tahun.
"Sekarang kau sudah sangat dewasa, putriku. Kuharap kau bisa menjadi yang terbaik dari dirimu," ucap tuan Gerry memeluk tubuh Adora.
"Mama juga berharap semua kebaikan selalu terlimpahkan untukmu," timpal nyonya Emily.
"Selamat ulang tahun kakak, kami selalu menyayangi kakak selamanya," ucap Thalia mewakili saudara-saudaranya.
Air mata Adora semakin mengalir, ia kira ia akan ditinggalkan ternyata tidak. Rasanya sangat menyenangkan mendapatakan hadiah doa dari orang tersayang.
"HAHAHA!"
__ADS_1
Dengan terpaksa Adora menahan tangis lalu berbalik mengejar dua orang tengil yang menertawakannya yang sedang menangis tersedu-sedu, dua orang itu adalah Edward dan Athena.
"Kasihan sekali," tawa Athena meledak.
"Aku baru pertama kali melihat wajah cengengnya, hahaha!" timpal Edward.
"Sini kalian!" Adora mengejar mereka.
Ia menggelitiki keduanya sampai keduanya meminta untuk berhenti. Pemandangan ini sama seperti anak-anak di taman kanak-kanak.
"Adora, apa kau ingin kumakan kuemu?" tanya Arabella yang sudah tak sabar mencicipi kue buatan Yunifer.
Yup, kue ulang tahun Adora itu dibuat langsung oleh Yunifer. Yunifer mengelola toko kue yang ia dirikan dengan uangnya sendiri, ia juga suka membuat kue. Makanya ketika mendengar Adora akan berulang tahun dari Edward membuat dirinya dengan antusias menyiapkan kue it.
"Haish... jangan menunggu lagi, ayo habiskan!" seru Aluna dengan gembira.
"Hey!!!" Adora tak terima, ia berlari dan mendorong kedua gadis itu sampai tersungkur. "Jangan menyentuh kueku sebelum diriku!"
"Kalau begitu, sebaiknya kau membuat permohonan dulu karena banyak serigala lapar yang menantikan kuemu," ucap tuan Aabid.
Adora mengangguk dan menatap sinis sahabatnya yang sudah tergiur dengan kue berukuran besar itu.
Adora memejamkan matanya lalu berbisik di dalam hati, 'Kuharap semua akan bahagia.'
Adora meniup lilin dengan angka 26 itu, rasanya har ini adalah hari paling bahagia baginya, semua orang berkumpul hanya untuk merayakan dan mensyukuri kelahirannya. Namun, Ada yang kurang darinya, ayah dan bundanya yang telah pergi untuk selamanya, sudah 20 tahun ia merayakan ulang tahunnya tanpa dua orang terkasih itu.
Malam yang terang benderang ini menjadi saksi di mana Adora merasa sangat bahagia dibanding tahun- tahun lalu. Kini ada tambahan orang-orang yang menyayanginya.
'Aku ingin serakah untuk kali ini saja, biarkan aku menikmati semua kebahagiaan ini,' senyum merekah di bibirnya melihat sem orang yang tampak bahagia.
"Kau bahagia?" tanya Edward duduk di samping Adora.
"Ya, aku tidak akan melupakan malam ini," balas Adora menatap wajah Edward.
'Ternyata pria kurang ajar ini tampan juga,' Adora menatap lama wajah tampan itu lalu tersenyum.
"Ada apa? ada sesuatu di wajahku?" meraba wajahnya.
"Tidak," jawab Adora sembari tersenyum lalu kembali menatap ke depan.
Sekian lama mereka termenung dalam pikiran masing-masing, sampai teman-teman mereka bergabung duduk bersama menikmati malam mereka.
"Anak-anak! ayo makan malam!" seru nyonya Bianca pada para anak muda itu.
Bagai anak kecil, mereka saling kejar-kejaran membuat si kembar dan Zelleine yang masih bocah harus mengalah.
"Sebenarnya siapa yang paling kecil di sini?" tanya Laskara, adik Noah.
"Entahlah, aku ragu," balas Thalita.
...****************...
Maaf baru update🙏🙏
__ADS_1