
“Akhirnya selesai! Sekarang tinggal duduk dan menonton televisi saja,” ujar seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Adora.
Gadis itu baru saja memakai masker wajah di wajahnya, ia sama seperti para gadis pada umumnya yang selalu merawat kulit mereka, ia juga keseringan begadang makanya ia harus selalu rutin melakukan perawatan pada kulitnya.
Adora mengambil ponselnya di atas meja dan mencari kontak Charlie dan menelepon kekasihnya berniat untuk meminta maaf. Namun, seperti tadi siang si operator mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang berada dalam panggilan lain.
Hanya dengusan yang terdengar setelah suara dari operator tak terdengar lagi. Tiba-tiba saja pikiran Adora melayang jauh dan membayangkan bahwa kekasihnya sedang berselingkuh di belakangnya. Namun, segera ia tepis pikiran tak berguna itu dan lanjut menonton televisi.
Tak tahu saja gadis itu jika khayalannya itu memang terjadi. Yup, di waktu yang sama dengan tempat berbeda, Charlie sedang asik bermesraan dengan gadis yang sudah sangat lama ia rindukan. Siapa lagi kalau bukan Aluna, sahabat masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya.
“Apakah Edward tahu kau bersamaku?” tanya Charlie sembari mengelus bahu Aluna.
Kini, keduanya berada di pantai yang pernah dikunjungi oleh dia dan Adora beberapa bulan lalu. Pemandangan di sini memang sangat tepat untuk para pasangan yang ingin menghabiskan waktu bersama.
“Dia hanya tahu bekerja saja!” jawab Aluna dengan nada ketus.
Charlie tersenyum miring. Memang dari awal sejak tahu bahwa Aluna sudah memiliki pacar ia berniat merebut Aluna dari pacarnya yang tak lain adalah musuhnya. Dalam hatinya, Charlie berjanji akan merebut semua yang dimiliki oleh Edward.
“Seorang pria harus bertanggung jawab pada kekasihnya, tapi apa-apaan Edward itu?! Dia malah mementingkan pekerjaannya daripada pacarnya!” ujar Charlie.
Pria di samping Aluna itu sepertinya tengah menyindir dirinya sendiri. Ia menelantarkan pacar yang tergila-gila padanya dengan alasan pekerjaan tapi aslinya ia sedang berselingkuh dengan gadis lain.
“Kau benar, Edward memang selalu mengabaikanku,” balas Aluna yang menghela napas panjang.
Charlie mengambil kesempatan di dalam kesempitan dengan mengelus surai pirang Aluna. Di samping itu, Aluna juga merasa nyaman berada di dekat Charlie yang selalu ada di sisinya. Perasaan bersalah yang ia rasa kemarin malam bersama Edward terhempas begitu saja ketika ia sudah berada di sisi Charlie.
Selama beberapa bulan ini memang hanya Charlie yang selalu ada di sisi Aluna, Aluna juga merasa nyaman karena ia ditinggal oleh Edward untuk mengurus masalah cabang perusahaan keluarganya yang ada di luar negeri.
Tiba-tiba saja Charlie menangkup pipi Aluna dan menatap dalam iris mata berwarna biru itu. “Apa yang kurang darimu? Kau cantik dan berbakat, bahkan aku jatuh cinta pada pandangan pertama kita!”
Waktu terasa berhenti untuk Aluna, ia merasa jantungnya berdetak dengan kencang seolah akan keluar dari tempatnya sekarang. Apa Aluna baru saja bermimpi Charlie menyatakan cintanya secara langsung.
Aluna segera melepas tangan Charlie sebelum ia terlena lalu berkata, “jangan bercanda denganku, Charlie!”
Charlie tersenyum miring lalu menggenggam tangan Aluna dan membisikan sesuatu yang membuat Aluna merah merona.
“Aku tidak bercanda, sayang. Aku mencintaimu sejak dulu,” bisik pria berlidah buaya itu.
“K-kau!” Aluna segera menutup wajahnya karena malu.
“Kenapa? Apakah kau malu?” tanya Charlie dengan nada menggoda.
“S-siapa bilang?! Aku tidak malu,” Aluna memalingkan wajahnya ke arah lain.
‘Jangan, Aluna! Dia sudah mempunyai pacar’, batin Aluna yang kehilangan senyumannya seketika ia sadar akan kenyataan yang begitu pahit. Padahal ia selalu menanti momen di mana Charlie menyatakan cintanya dan ia menerimanya.
“Pacarku itu mulai berubah, dia selalu menghilang tanpa kabar sepertinya aku sudah tidak berguna lagi untuk dia manfaatkannya atau mungkin sudah ada pria yang menjadi pacar barunya.”
Siapapun yang mendengar perkataan Charlie pasti merasa simpatik termasuk Aluna, namun, tak tahu saja dia bahwa Charlie tengah memutar balikan fakta tentang hubungannya dengan Adora.
Sungguh pria tak bermoral yang tidak tahu menghargai seorang perempuan. Bagai kata pepatah habis manis sepah dibuang, bukankah itu perumpamaan yang cocok dengan Adora yang menunggu dalam ketidak pastian.
****
Saat ini Adora sedang menikmati makanan yang baru saja diberikan oleh rekan kerjanya, baru saja tadi ia mengecek keadaan beberapa pasien yang sudah siap pulang hari ini setelah dirawat di rumah sakit. Karena kesibukannya hari ini membuat Adora merasa sangat lapar.
“Apakah pria itu tak memberimu kabar lagi?” tanya Dokter Hassan yang duduk di sampingnya.
Ya, keduanya kini sedang melaksanakan makan siang bersama beberapa pegawai rumah sakit. Memang momen ini adalah momen yang paling banyak menyimpan kenangan.
“Hmm, sudah seminggu lebih. Apakah dia terlalu sibuk?” jawab Adora sambil bertanya balik.
Seorang Perawat bernama Ferdinand angkat bicara setelah mendengar percakapan antara Adora dan Hassan. “Bagaimanapun itu sudah keterlaluan, Dokter. Ada tiga kemungkinan yang membuatnya kehilangan kabar.”
“Apa itu?” tanya Adora.
__ADS_1
“Yang pertama mungkin dia memang benar sibuk, yang kedua mungkin terjadi sesuatu padanya dan ketiga...,” ucapan Ferdinand terhenti seperti ragu mengatakannya.
“Dia bersama gadis lain!” tegas Erika yang baru saja sampai.
Adora terdiam dan melamun, sebenarnya ia memang mencurigai bahwa Charlie berselingkuh di belakangnya. Namun, rasa cintanya lebih besar sehingga membuatnya menepis rasa curiga itu.
Gadis mana yang tidak curiga jika pacarnya tidak memberi kabar sama sekali dengan jangka waktu yang lama. Adora takut patah hati karena ia pernah mengalaminya, saat itu ketika ia mengetahui bahwa kedua orang tua kandungnya tewas dalam perjalanan udara mereka. Di tengah kegundahannya ponselnya berbunyi.
Ting
Adora menoleh pada ponselnya yang menyala karena ada notif pesan yang masuk. Tanpa pikir panjang Adora membuka pesan dari Bella, ketika Adora melihat pesan yang berisi foto Charlie sedang berjalan bersama Aluna di lokasi syuting.
Bella_ku : Maaf... kami akan segera tiba di rumah Sudah waktunya kau pulang ‘kan?
Adora-manis :Tak apa-apa, aku menunggu kalian
Percakapan lewat ponsel itu dengan cepat selesai. Saat ini Adora merasa tak percaya jika Charlie benar-benar selingkuh darinya. Dalam sekejap dunianya runtuh, pria yang sangat ia cintai dan sangat ia percaya mengkhianati dirinya, lalu sebenarnya Adora ia anggap apa sampai berani berselingkuh.
Hassan menyadari raut wajah gadis yang sudah ia anggap Adiknya itu berubah setelah melihat ponselnya, ketika ia melirik ternyata foto seorang pria dan seorang gadis yang tak lain adalah Charlie dan Aluna. Hassan tahu bahwa saat ini Adora merasa terpukul dengan kejadian ini.
“Anda sudah selesai, Dokter?” tanya Erika pada Adora.
Gadis itu sudah siap-siap untuk pulang, walau bersedih ia tetap tersenyum agar orang di sekitarnya tidak merasa khawatir.
“Ya, sudah saatnya aku pulang, lagipula jadwalku untuk hari ini sudah habis,” jawab Adora dengan senyuman khasnya.
“Baiklah, hati-hati di jalan,” tukas Hassan.
“Tentu saja, kalau begitu sampai jumpa!”
“Sampai jumpa, Dokter!”
Di luar rumah sakit, Adora sedang menunggu taxi yang tadi baru ia pesan. Tak butuh waktu lama taxinya tiba, kemudian ia naik. Selama perjalanan Adora hanya termenung memikirkan kenangannya bersama Charlie selama tiga tahun berpacaran, ia tersenyum miris meratapi itu semua.
“Nona kita sudah sampai,” tegur supir taxi yang ia tumpangi.
“Hmm, baiklah,” Adora keluar setelah membayar.
Gadis itu menghela napas panjang lalu masuk ke dalam rumah yang disambut oleh sang Mama dan keempat sahabatnya. Ia tersenyum samar lalu memeluk Mamanya. Sungguh menyakitkan ketika kita harus tersenyum untuk menutupi kesedihan kita, itu yang dirasakan oleh Adora saat ini.
“Mama, kami naik ke atas dulu, ya,” ujar Adora.
Nyonya Emily mengelus surai panjang sang putri dan mengangguk. “Iya.”
Wanita parubaya itu juga mengetahui bahwa putri sulungnya sedang tidak baik-baik saja. Ia akan menunggu anaknya itu menceritakan keluh kesahnya padanya.
Kelima gadis manis dan cantik itu segera pergi ke kamar Adora. Sesampainya di kamar Adora, air mata yang sedari tadi tertampung di pelupuk mata kini jatuh menghujami pipinya yang mulus itu. Saat ini pertahanan Adora sudah runtuh, rasanya sangat sakit ketika kita dikhianati oleh orang yang kita percaya dan sangat kita cintai.
Dengan segera ketiga sahabatnya memeluk Adora. Pelukan itu sedikit mengobati rasa sakit yang dirasakan oleh Adora seolah pelukan yang diberikan oleh sahabatnya itu tersalurkan sebuah semangat untuk tetap berdiri menghadapi rintangan.
“Aku tak menyangka dia setega itu padaku... hiks... hiks,” ucapnya sambil sesunggukan.
Bella mengelus punggung sahabatnya itu,
“Menangislah.”
“Aku sangat mencintai dirinya tapi... hiks... dia mengkhianatiku dengan cara seperti ini! Jika... hiks... dia sudah tak mencintaiku maka katakan saja jangan berselingkuh di belakangku!”
Walau lewat kata-kata dan air mata, Adora melampiaskan semua kesedihannya, kegelisahannya, semua rasa menyakitkan yang tengah bersangkar di hatinya. Ia keluarkan semua, ternyata tanpa kabar selama seminggu terbalaskan dengan kabarnya yang sedang bersama dengan perempuan lain.
Athena menangkup wajah Adora yang sudah sembap. “Pria seperti itu tidak pantas membuatmu menangis, air matamu itu sangat berharga.”
Di tengah tangisannya, Adora tersenyum. ‘Untuk apa aku bersedih hanya karena pria brengsek itu, bukankah aku punya banyak orang yang menyayangiku.’
“Ya! Aku terlalu berharga!” seru Adora tiba-tiba.
__ADS_1
Ketiga sahabatnya menahan tawa melihat wajah Adora yang berapi-api lalu tangannya terkepal ke atas. Adora memang berbeda dengan gadis lain yang lebih memilih menangisi orang yang menyakiti mereka berhari-hari, Adora sudah bertekad untuk tidak bersedih hanya untuk pria itu.
“Semua orang yang pernah jatuh pasti sangat hebat karena di saat ia jatuh ia tak berpikir untuk menyerah, ia akan kembali berdiri dengan gagahnya melawan semua penghalang di depannya,” kata-kata dari Adeeva membuat semangat Adora untuk bangkit kembali meluap-luap.
Adora menyeka air matanya dengan kasar lalu menyeringai, “yeah, aku gadis hebat! Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini!”
“Adora kami telah kembali!” seru ketiga sahabatnya.
“Aku selalu menjadi Adora yang kalian kenal,” sahut Adora memeluk ketiga sahabatnya. “Tapi aku akan bermain cantik terlebih dahulu,” seringaian licik terbit di bibirnya.
Cklek
Nyonya Emily membuka pintu kamar sang putri, sedari tadi dia sudah mendengar semuanya. Ibu mana yang tidak khawatir melihat putrinya berbeda dari biasanya. Adora memeluk sang Mama dengan erat, kali ini dengan senyuman bukan dengan tangisan.
“Aku tidak akan kembali lagi padanya,” ujarnya.
Adora tahu bahwa Mamanya menguping pembicaraan mereka, ia memaklumi itu karena ia tahu Mamanya sangat menyayangi dirinya sampai tak mau ia terluka. Tangan sang Mama bergerak mengelus surai coklat milik Adora dengan senyuman yang membuat siapa saja merasa teduh hatinya.
“Mama tahu putri Mama adalah gadis hebat, jangan menyerah untuk hal-hal yang membuatmu merasa tersakiti,” ucap beliau.
“Ya, itu pasti!”
“Kemarilah!” suruh nyonya Emily pada ketiga gadis yang menatap mereka.
Ketiga sahabat Adora berhambur ke pelukan nyonya Emily yang sudah menjadi orang yang menempati hati mereka sejak dulu. Persahabatan mereka begitu erat. Begitulah ketika salah satu dari mereka sedang merasa berduka cita maka yang lain datang membawa rasa suka cita.
Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, prinsip dari persahabatan mereka yang selalu mereka pegang teguh sampai akhir hayat mereka.
****
Adora menatap pantulan dirinya di cermin. Bibirnya mengulum sebuah senyuman manis, tentu saja ia senang karena ia sangat cantik. Dress berwarna merah dengan high heels yang berpadu dengan warna dressnya. Rambutnya ia sanggul ke atas menambah aura cantiknya.
“Aku sudah siap,” monolognya. “Tunggu aku pria brengsek.”
Adora berpamitan pada keluarganya lalu pergi menaiki mobilnya menuju ke tempat tujuannya. Malam ini, Adora akan bermain cantik sesuai dengan janjinya pada para sahabatnya. Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu, Adora berpura-pura masih mencintai Charlie membiarkan pria itu bahagia terlebih dahulu bersama selingkuhannya.
Sedangkan Charlie tidak sadar dan masih berpikir bahwa Adora masih mencintainya. Kenyataannya gadis yang ia permainkan akan mencabik-cabiknya suatu hari nanti yang pasti bukan sekarang.
Selama setengah jam berkendara akhirnya Adora sampai di sebuah restoran ternama di San Fransisco. Ia masuk ke dalam dengan gaya elegannya yang membuat semua pengunjung restoran menatapnya kagum.
“Dengan nona Adora?” tanya seorang pelayan.
“Ya,” jawab Adora singkat.
“Mari saya antar,” tawar pelayan itu dan diangguki oleh Adora.
Kini, Adora telah sampai di sebuah ruangan yang sudah ia booking sebelumnya. Di sana sudah ada Charlie yang diam menunggu kedatangan gadis yang masih berstatus pacarnya.
“Kau boleh pergi!” suruh Adora pada pelayan yang mengantarnya tadi.
“Baik nona!”
Charlie yang mendengar suara Adora menoleh, ia terpesona dengan Adora yang tampil sangat cantik malam ini. Untuk pertama kalinya juga, Charlie merasa bahwa Adora sangat cantik bahkan melebihi Aluna sekalipun.
“Apakah kau menunggu lama, sayang?” tanya Adora.
“T-tentu saja tidak, aku baru saja tiba,” jawab Charlie sedikit gugup.
“Baguslah,” jawab Adora.
Charlie masih saja menatap gadis cantik di depannya. “Kau ingin pesan apa, sayang?”
“Tunggulah sebentar lagi, ada seseorang lagi yang aku undang,” balas Adora dengan senyumannya yang manis.
Harapan Charlie untuk makan malam romantis kini sirna karena ucapan Adora, ia kira mereka hanya berdua saja tapi masih ada orang lain, siapakah orang itu? Ia bertanya-tanya.
__ADS_1