
Edward melirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, dia sudah bekerja seharian penuh ini.
"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Aluna, mungkin seminggu yang lalu?" monolog Edward sambil berjalan keluar dari ruangannya.
Setelah beberapa menit kemudian, Edward sudah mengendarai mobilnya menuju ke apartemen Aluna. Tak lupa juga ia mengabari terlebih dahulu Ibunya bahwa ia akan pulang terlambat.
Dalam perjalanan, Edward menelepon sang kekasih namun tak ada jawaban dari seberang. Tiba-tiba ia merasa khawatir takut-takut Aluna sedang berada dalam bahaya.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Edward menegendarai mobilnya.
Lima belas menit kemudian, Edward sudah menepikan mobilnya dan segera pergi ke apartemen milik Aluna yang terletak di lantai empat.
"Kuharap kau baik-baik saja, sayang," ucap Edward.
Sesampainya di depan apartemen, Edward langsung masuk karena ia tahu kode apartemen milik Aluna. Entah kenapa firasatnya sangat buruk, ia langsung memanggil nama Aluna tapi tak ada sahutan sama sekali.
"Aluna!" panggilnya yang terakhir kali sebelum melihat sesuatu.
Di sisi lain, Aluna sedang asik bercengkrama dengan mesra bersama Charlie yang berkunjung ke apartemennya.
"Kau semakin hari semakin cantik saja, sayang," puji Charlie yang sedang asik memainkan rambut pirang Aluna.
Aluna yang mendengar itu tersenyum malu-malu dengan wajah bersemu merah.
"Bisakah kau jangan membuatku tersipu terus?" tanya Aluna sembari mencubit pinggang Charlie.
"Tapi itu kenyataan, kau tahu aku selalu merindukanmu sebelum kita bertemu setelah perpisahan waktu itu, aku juga tak menyangka kita bisa menjadi pasangan kekasih seperti ini," ujar Charlie panjang lebar.
"Aku juga sama, kuharap kita selalu seperti ini," timpal Aluna menyandarkan kepalanya di bahu Charlie.
Saat ini mereka sedang berada di balkon yang terletak di samping kamar Aluna.
"Mm, lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Edward?" tanya Charlie tiba-tiba.
Aluna tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba sang pacar, ia menoleh dan berkata, "Aku juga tidak tahu, sejujurnya aku sudah tak memcintainya karena di hatiku hanya ada kamu."
Prok prok prok
Suara tepuk tangan itu membuat keduanya terkejut lalu berbalik dan kembali di buat terkejut lagi oleh seseorang yang tak lain adalah Edward.
Edward tak menyangka ternyata Aluna bermain api di belakangnya, hatinya sakit karena ia masih ada rasa pada Aluna.
Namun, dengan teganya Aluna mengkhianati dirinya seperti ini. Sudah lima tahun mereka menjalin hubungan tapi ini balasan dari Aluna.
"E-Edward!" Aluna segera menghampiri Edward yang berdiri tak jauh darinya.
"apa?" tanya Edward denga nada dingin.
"Aku bisa jelaskan," tutur Aluna dengan raut wajah panik.
"Heh!" Edward menyeringai. "Apa yang ingin kau jelaskan? bukankah semua sudah jelas, kau berselingkuh dariku?"
Mendengar balasan dari Edward membuat Aluna terdiam mematung, ia kehabisan kata-kata menghadapi kemarahan Edward.
"Baguslah jika kau sudah tahu semua, kekasihku tak perlu menghabiskan tenaga untuk menjelaskan padamu," seru Charlie sembari merangkul bahu Aluna.
Melihat itu Aluna dirangkul mesra oleh Charlie membuat Edward panas di tempat, ia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Aluna melepas rangkulan Charlie dan berlari memeluk tubuh Edward. Edward dan Charlie sama-sama terkejut dengan tindakan tiba-tiba Aluna.
"Maafkan aku! aku tak bisa membohongi perasaanku, aku masih mencintai Charlie yang merupakan sahabat kecilku, maaf...," suara gadia itu terdengar bergetar.
"..." Edward hanya diam tak bicara, ia juga tak membalas pelukan Aluna.
"Terima kasih untuk selama ini," tutur Aluna dengan terisak lalu melepaskan pelukannya.
"Cih, baiklah," balas Edward dengan kecewa.
Ia kira pelukan yang diberikan oleh Aluna adalah pelukan karena Aluna masih mencintainya ternyata pelukan perpisahan setelah lima tahun menjalin hubungan.
Tanpa sepatah kata pun Edward meninggalkan apartemen Aluna dengan perasaa marah, kecewe, dan sedih bersampur menjadi satu.
Sedangkan, Aluna hendak menahan Edward akan tetapi, di cegah oleh Charlie.
"Apakah kau mencintainya?" tanya Charlie langsung.
"Bukan begitu--" belum juga Aluna menyelesaikan ucapannya, Charlie sudah menyanggah.
"Lalu mengapa kau ingin menahannya?"
Aluna menghapus air matanya lalu memeluk Charlie. "Kami pernah menjalin hubungan dalam waktu yang lama, aku hanya ingin menjelaskan hal ini secara rinci, aku sudah tidak mencintainya lagi, percayalah!"
Mendengar hal itu Charlir tersenyum menyeringai dan membalas pelukan Aluna.
'Heh! aku akan merebut semua milikmu, Edward Wellington,' batin pria itu.
Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, Edward yang dikhianati pergi ke diskotik. Ia ingin melampiaskan kemarahannya dengan mabuk-mabukan. Ia sudah tak perduli lagi dengan ucapan Ibunya yang melarang dirinya untuk menyentuh minuman keras.
Edward yang tegas dan gagah berani kini duduk di sofa dengan gelas berisi wine di tangannya. Imagenya sebagai seorang CEO telah runtuh di malam menyedihkan ini hanya karena patah hati.
Dengan langkah lunglai, Edward keluar dari diskotik padahal pelayan di sana sudah melarangnya karena ia sedang mabuk. Tapi, bukan namanya Edward jika tak keras kepala.
****
Adora baru saja selesai melakukan operasi terhadap pasiennya yaitu Edward.
"Bagaimana keadaan anakku?!" nyonya Bianca segera menghampiri Adora yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Beliau berhasil di selamatkan, tapi...," Adora menjeda ucapannya.
"Tapi apa, Dokter?!" tanya Yunifer.
"Beliau mengalami koma dengan jangka waktu tertentu, kami bahkan tidak tahu kapan beliau akan sadar," jawab Adora.
Nyonya Bianca langsung terduduk lemas mendengar bahwa putra tunggalnya mengalami koma. Hatinya bagai tertusuk sembilu ketika tahu bahwa putranya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Nyonya!"
"Ibu!"
"Bianca!"
Yunifer dengan sigap memapah tubuh Ibunya ke bangku yang ada di belakang mereka.
"Dokter, bisa ikuti saya," tanya salah seorang dari tiga sahabat Edward.
__ADS_1
"Tuan Ronan?" gumam Adora karena ia melihat dua orang yang sama seperti kembar.
"Mari, dokter," pria yang ternyata rekan kerjanya Bella mempersilahkan Adora.
Adora mengikuti mereka tanpa ragu, mungkin sahabat Edward, pikirnya.
Sesampainya di taman rumah sakit, Adora dipersilahkan untuk duduk di bangku lalu di susul Ronan.
"Perkenalkan saya Rowan dan saya adalah kakak kembar Ronan, kami adalah sahabat Edward," seorang pria berwajah sama dengan Ronan angkat bicara.
"Lalu tuan yang ini?" tunjuk Adora pada pria lainnya.
"Dia juga sahabat Edward, Noah," jawab Rowan.
Adora mengangguk mengerti dan bertanya tujuan mereka mengajaknya ke sini.
"Menurut informasi yang kami selidiki, apakah benar anda ada di lokasi kejadian?"
"Ya," jawab Adora singkat.
"Bisakah anda menjelaskan kepada kami?" tanya Rowan.
Adora pun menceritakan peristiwa tadi pagi dengan rinci, ia bahkan menceritakan bahwa ada yang mengincar Edward.
Tiga sahabat Edward itu saling bertatapan. "Siapa yang berani membunuh Edward?"
"Baiklah, terima kasih, Dokter. Anda boleh kembali bekerja," ucap Noah.
Adora pun pamit pergi dari sana dan pergi melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang Dokter.
Di taman rumah sakit itu masih tersisa tiga pria tadi. Mereka masih membahas tentang kecelakaan yang terjadi pada sahabat mereka.
"Bukankah ini terlalu mencurigakan?" tanya Noah.
Ronan dan Rowan sama-sama mengerutkan kening mereka.
"Maksudmu kecelakaan Edward adalah sebuah rencana?" tanya Ronan.
Noah mengangguk pelan. "Apakah ini ada hubungannya dengan pria itu?"
"Dia telah memilih lawan yang salah," timpal Rowan dengan seringaian licik.
****
"Nak, apakah kau tak rindu pada Ibu? apakah tidurmu sangat nyenyak?" tanya nyonya Bianca denan linangan air mata.
Sudah sebulan sejak Edward mengalami kecelakaan yang merenggut kesadarannya. Orang-orang di sekitarnya juga merasa sedih melihat Edward yang terbaring lemah bagaikan orang mati.
"Kakak ayo bangun!" panggil Zelleine mengusap pipi sang Kakak.
Kadang juga, Adora yang menjadi Dokter penanggung jawab Edward mengajak Edward bicara walau tak di respon sama sekali.
Cklek
Semua orang di ruangan itu menoleh dan mendapati Aluna dengan wajahnya yang suram. Aluna tak berani melanjutkan langkahnya ketika melihat tatapan dingin dari nyonya Bianca.
Nyonya Bianca sudah mengetahui kronologis kecelekaan putranya. Ia juga tak menyangka bahwa Aluna berani berselingkuh di belakangnya.
__ADS_1
Ia kecewa, seharusnya Aluna memberi tahu dari awal agar kejadian ini tak terjadi. Nyonya Bianca juga membatasi dirinya dengan Aluna.
"Untuk apa ka ke sini?" tanya Yunifer tanpa menoleh. "Bukankah kau penyebabnya, dasar!"