
Seorang gadis berpenampilan urak-urakan terbangun dari tidurnya karena cahaya mentari yang menembus masuk lewat cela-cela dinding tua itu.
Ia membuka matanya perlahan.
"Sssh, ini sangat menyakitkan," monolog gadis itu dengan suara lemah.
Tubuhnya yang semula putih dan mulus kini ternodai dengan luka sayatan dan lebam. Rambut yang selalu ia rawat kini juga sudah sangat berantakan, bibirnya membiru karena kedinginan.
Aluna merintih kesakitan, semalam Charlie menyiksanya dengan menyayat beberapa bagian tubuhnya menggunakan pisau. Pria itu tak punya hati padahal Aluna sudah menangis dan memohon agar ia dilepaskan.
Charlie tak mengindahkan rintihan gadis yang masih berstatus pacarnya itu, bahkan ia sangat menyukai rintihan itu dan terus membuat pisaunya menari-nari di tubuh Aluna.
"Mengapa aku sangat bodoh? mengapa aku harus percaya pada pria sepertimu?" ucap Aluna berlinang air mata.
Aluna terus menangis tersedu-sedu, ia sudah sangat bersalah pada Edward, hanya demi pria bejat seperti Charlie ia rela melepaskan Edward. Ia juga menyesal telah merebut kebahagiaan Adora waktu itu, andai saja ia tak pernah bertemu dengan Charlie maka sekarang ia bisa menikmati hari-harinya dengan tenang.
Brak
Aluna terkejut dengan tendangan pria brengsek di depannya itu. Siapa lagi kalau bukan Charlie. Pria itu datang dengan niat ingin melecehkan dan membunuh Aluna.
"Hahaha! hari ini hari terakhirmu membuka mata sayang, karena esok hari kau sudah tak bernapas," ucap Charlie dengan kejam.
Aluna tersenyum sinis menanggapi hal itu. "Kau pikir aku takut?"
"Mungkin sekarang belum saatnya, kau akam lihat nanti," senyuman licik terbit di bibir pria itu.
Srek
Aluna membulatkan matanya dikala Charlie dengan kasar merobek baju yang dipakainya. Bahkan, tatapan Charlie menyiratkan nafsu yang begitu membuncqh membuat Aluna merasa jijik dan takut.
"A-apa yang kau lakukan?!" tanya Aluna merknta-ronta ingin dilepaskan.
"Aku?" menunjuk dirinya sendiri. "Aku ingin membuatmu sengsara dengan begitu Edward dan ketiga temannya juga merasa kehilangan dirimu."
Betapa kejamnya Charlie, padahal ia tak tahu secinta apa Aluna padanya. Sudah sejak lama Aluna menantikan pertemuannya dengan pria itu tapi dengan gampangnya ia menghianati kepercayaan Aluna.
Dikala Charlie hendak mencium bibir Aluna, sebuah tendangan melayang di kepalanya dengan kuat membuat Charlie tersungkur.
Aluna yang saat itu menutup mata ketakutan dengan perlahan membuka mata dan melihat seseorang berpakaian serba hitam dan pisau belati di tangannya. Dia adalah Adora.
"A-adora," rasa takut yang begitu besar kini mulai sirna ketika melihat Adora dengan senyumannya.
__ADS_1
"Hai," muncul juga dua orang yang tak lain adalah Bella dan Athena.
Seulas senyum terbit di bibir Aluna, hati gadis itu merasa hangat. Selama ini ia tak pernah memiliki teman perempuan karena sifatnya yang manja dan sedikit kasar. Namun, sekalinya ia punya teman, mereka begitu menyayanginya walaupun tak diperlihatkan.
"Kalian!" Charlie bangkit dan hendak memukul Athena tapi Bella sudah kembali menerjangnya sehingga pria itu jatuh tersungkur.
"Beraninya kau mengincar adikku!" marah Bella yang kembali menendang perut Charlie.
Disisi lain, Adora melepas jaketnya lalu memakaikan pada Aluna. Dengan sayang Adora memeluk Aluna dan menepuk pela punggung gadis itu yang masih ada perasaan takut.
"Kami sudah ada di sini, kak."
Usia Aluna lebih tua satu tahun darinya maka ia sudah sejak lama menganggap Aluna sebagai kakak perempuannya. Bukankah itu tak salah juga.
"Terima kasih...," ucap gadis itu sebelum ia mulai menutup matanya.
"Aluna," panggil Adora pelan.
Tak terdengar sahutan dari gadis itu, Adora segera memberi kode pada seseorang yang tak lain adalah Noah memasuki ruangan itu dengan pelan.
"Bawalah Aluna keluar dari sini, Adeeva sudah menunggu di bawah!" titah Adora.
Noah dengan sigap menggendong tubuh Aluna yang sudah lemah dan penuh luka. Ia segera berlari keluar dari gedung tua itu dan melihat mobil Adeeva yang pintunya terbuka.
"Mereka sedang melakukan pembersihan," jawab Noah.
Adeeva paham dan mengangguk saja lalu mulai menyetir mobil membiarkan Noah yang sedang memangku kepala Aluna.
Di tempat lain, Adora dan sahabatnya menghajar anak buah Charlie dengan sadis. Ketiganya tak pandang bulu dan langsung menjatuhkan mereka.
"Jangan pernah mengusikku jika kau tak ingin dicabik-cabik, bukankah kau tahu prinsipku?" tanya Adora dengan mata sinis.
"Cih!" Charlie bangkit dan dengan segera mencengkram dagu adora lalu menatap mata gadis itu.
Kemudian, ia berbisik di telinga Adora dengan suara serak, "Aku masih mencintaimu."
Amarah Adora mulai meledak-ledak kembali dan menendang harta kesayangan Charlie sehingga pria itu meringis tak berdaya di lantai.
"Jangan pernah mengatakan hal itu! kau bahkan hanya debu di mataku, jangan bermimpi terlalu tinggi!" seru Adora dengan tatapan mata sinis.
Adora lengah sehingga sebuah pisau melesat jauh tertancap di dinding. Seorang wanita dengan pakaian kurang bahan terlihat marah karena melihat boss sekaligus teman ranjangnya itu terkulai di lantai.
__ADS_1
"Dasar kau ******!" teriak wanita itu sambil berlari dengan memgang pisau.
Hampir saja pisau itu mengenai Adora untungnya ada Edward yang langsung menarik tangan Adora sehingga Adora berada di pelukan Edward sedangkan wanita itu langsung dibabat habis oleh Athena.
"Aku tak ada urusan denganmu! jangan ikut campur!" bentak wanita itu.
"Kau mau melukai kesayanganku dan kau bilang tak ada urusan?!" balas Athena.
Dengan ganas Athena mulai mencincang tubuh wanita itu yang sudah ia kalahkan itu. Bella menepuk jidatnya melihat tingkah sang adik yang sudah seperti psikopat.
"Mmm, apa itu adikmu, nona Bella?" tanya Rowan sedikit takut.
"Ya, sifatnya memang seperti itu," jawab Bella.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Athena berjalan mendekat pada sang kakak.
"Mendekatlah!" suruh Bella.
Dengan patuh Athena mendekat pada kakaknya membiarkan kakaknya membersihkan wajah dan tangannya yang penuh dengan bercak darah.
Beralih pada Adora dan Edward yang masih berpelukan. Setelah sadar Adora langsung melepaskan dirinya dari pelukan Edward.
"Terima kasih," ucap Adora yang masih dalam keadaan canggung.
"Ya, sebelum itu sebaiknya kita urus dulu para hama ini," ujar Edward.
Benar saja, bala bantuan dari pasukan Charlie telah datang. Adora langsung mengangkat pistolnya dan memgarahkan pada Charlie.
Dorr
Adora tersenyum sinis ketika melihat Charlie sudah tewas di tangannya, ia merasa sangat senang bisa membalasakan dendamnya karena sakit hati waktu itu.
Matanya kembali menatap garang para pria bertubuh kekar yang bersiap menyerang mereka. Adora mulai mengangkat senjatanya dan membidik kepala seorang dari mereka.
Dorr dorr dorr
Tiga tembakan kembali terdengar dan menewaskan tiga orang dalam 30 detik dan itu semua ulah dari Adora.
Edward yang melihat itu tersenyum tipis dan mulai melakukan aksinya setelah melihat Adora. Mereka berenam mulai bergulat dengan para pria itu. Bagi mereka itu hanya masalah kecil yang tak butuh waktu lama untuk diselesaikan.
****
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤗