Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
Bab 27


__ADS_3

Suara riuh ditumbulkan oleh Adora dan ketiga sahabatnya, padahal hanya mereka berempat tapi mengapa sangat ribut.


"Bisakah kalian para gadis-gadis tenang?" tegur Hassan yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Tidak!" jawab Adora dan Athena kompak.


"Haish," Hassan pasrah saja dengan tingkah dua orang itu.


"Anak-anak!" panggil nyonya Ufaira.


Mereka segera turun ke bawah di mana keberadan orang tua Hassan dan Adeeva. Walau berbeda agama, nyonya Ufaira dan tuan Aabid selalu menyambut kedatangan Adora, Arabella dan Athena. Mereka sudah dianggap anak sendiri di rumah itu.


Sejak kecil, mereka berempat sudah berteman tak heran jika sudah dianggap anak oleh orang tua masing-masing dari mereka.


Ketika asik bercengkrama di ruang tami, terdengar suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah. Athena langsung antusias menyambut calon suami sahabatnya, hmm lebih tepatnya dia ingin segera menggoda Adeeva.


"Hihi... aku tak menyangka bahwa Adeeva akan menikah duluan daripada kak Hassan yang masuh setia dengan status jomblo karatannya," ucap Adora meledek.


"Heh, tak tahu saja kau jika kakak sudah ada gadis yang kakak cintai," balas Hassan penuh kebanggaan.


"Hah?! siapa gadis beruntung itu kak?!" tanya Arabella antusias.


"Hng! biarlah jadi rahasia dulu, hahaha," sahut Hasaan dengan tampang tak bersalah setelah membuat adik-adiknya penasaran.


"Kakak pelit!" seru Adeeva tak mau terima.


"Terserah, kau fokus saja pada calon suamimu sana."


"Ummi...," rengek Adeeva memeluk lengan ibunya.


"Hassan!" dengan tatapan tajam nyonya Ufaira memberi peringatan pada anak sulungnya itu.


Hal ini sudah biasa bagi mereka, tak ada hari di mana Adeeva bisa tenang. Setiap hari ia harus diganggu oleh kakaknya satu itu, walau begitu keduanya saling menyayangi.


"Assalamualaikum!" terdengar salam dari beberapa orang.


"Waalaikumussalam," balas tuan Aabid dan istri serta kedua anaknya.


"Selamat datang," ini dari ketiga sahabat Adeeva yang non-muslim.

__ADS_1


Keempat gadis itu terpaku termasuk Hassan melihat calon suami Adeeva, pria dengan tubuh atletis memakai setelan jas berwarna abu-abu dengan corak kotak kotak ditambah kacamata yang menambah auranya sebagai seorang pengusaha membuat siapa saja diam tak berkutik.


"Lho! Noah!" mereka berlima berucap kompak membuat pria yang sedarj tadi menunduk mengangkat kepalanya dan terkejut.


"Kalian?!"


"Kalian ini! silahkan duduk dulu," tegur tuan Aabid mempersilahkan agar keluarga calon suami putrinya itu duduk.


"Jadi kalian saling kenal?" tanya nyonya Ratika, ibu dari Noah.


"Iya ma, Hassan dan Adora adalah dokter yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Wellington, di sampingnya lagi Arabella seorang artis, Athena adalah pengusaha sama sepertiku dan...," ia tak melanjutkan ucapnnya lagi ketika matanya bertemu dengan netra hazel milik Adeeva.


Mulut pria itu tiba-tiba bungkam melihat tatapan gadis cantik dengan balutan busana muslimah itu meneduhkan hati dan menentramkan jiwa.


"Dan Adeeva calon istrimu yang merupakan seorang pilot," lanjut Arabella dengan senyum tengilnya.


Wajah Adeeva dan Noah sama-sama merona, entah mengapa terasa malu. Padahal sebelumnya mereka adalah teman, tapi mengapa alurnya berubah jadi seperti ini?


Tawa semua orang meledak menyaksikan kedua insan yanh sedang memerah malu itu.


"Setelah dilihat secara langsung ternyata sangat cantik ya putri anda," puji nyonya Ratika.


"Dia sangat imut kan, Noah?" tanya Hassan mengejek.


"Hah?!" Noah gelagapan mendengar pertanyaan dari calon kakak iparnya itu.


"Kakak! berhenti mengekku!" Adeeva lantas melempar bantal sofa pada kakaknya, tapi meleset dan mengenai wajah Adora yang sedari tadi menyimak saja


"Adeeva...," suara kesal Adora terdengar.


"Ma-maafkan aku, aku permisi," tanpa menunggu balasan, Adeeva langsung meninggalkan ruang tamu sebelum si macan betina mengaum keras.


"Ke sini kau!" teriak Adora.


Semua orang yang menyaksikan itu juga tertawa untuk kedua kalinya. Noah bahkan tersenyum melihat wajah Adeeva yang sudah sejak lama membuatnya tertarik.


Setelah kejar-kejaran, Adeeva dan Adora kembali duduk. Kali ini mereka mulai serius karena sebentar lagi akan digelar pernikahan Adeeva dan Noah.


Setelah tahu siapa pasangan mereka masing-masing, tak ada pikiran untuk membatalkam perjodohan ini. Bahkan, keduanya memutuskan masuk ke jenjang yang lebih serius. Mungkin karena keduanya memang benar-benar jodoh.

__ADS_1


"Mmm, nyonya," panggil Adeeva pelan pada calon mertuanya.


"Iya, sayang ada apa? apa kau ingin sesuatu?" tanya nyonya Ratika.


"Bisakah pernikahan ini digelar secara sederhana, aku hanya ingin keluarga dan orang terdekat saja yang datang," keadaan hening setelah Adeeva habis berucap. "Tapi jika anda keberatan itu bukan masalah kok."


"Astaga! kukira apa, tenang saja, sayang. Karena ini pernikahanmu dengan putraku, maka keputusan akhirnya ada pada tangan kalian berdua, aku tak akan ikut campur," jawab nyonya Ratika yang tahu apa yang digelisahkan oleh Adeeva.


"Terima kasih," balas Adeeva malu-malu.


"Berterima kasih juga pada Noah, bukankah dia calon imammu?" sudah berkali-kali Adora dan kedua sahabatnya mendengar Adeeva yang terus curhat mengenai calon imamnya.


"Diamlah kau, urus saja calon suamimu!" marah Adeeva pada Adora.


"Dasar! aku belum punya!" sarkas Adora.


"Hmm... benarkah?" Adeeva memasang wajah curiga. "Lalu bagaimana dengan tuan Ed-" belum juga Adeeva menyelesaikan ucapannya, Athena sudah memyumpal mulutnya.


"Hahaha, Adeeva mulutmu ingin dibedah oleh dia?" ancam Athena.


Adeeva menggeleng kuat.


"Sudah sudah, ini sudah waktunya makan malam, mari maka bersama," ajak tuan Aabid.


Malam ini, akhirnya Adeeva dipertemukan dengan calon suaminya tanpa di sangka-sangka. rasanya sangat mendebarkan karena pria itu yang akan mendampinginya selama hidupnya, karena Adeeva sudah berjanji hanya akan menikah satu kali dalam hidupnya.


Adora, Arabella, dan Athena merasa iri sekaligus sedih karena Adeeva sudah mendahului mereka, apa mereka bisa menikmati waktu bersama lagi? di samping itu mereka merasa sangat bahagia karena wajah Adeeva yang berseri-seri, dia menemukan jodohnya.


"Jalanlah perlahan-lahan, jika sudah waktunya kita akan menyusul," ujar Adora pada kedua sahabatnya.


"Kau benar, pasti Adeeva senang sekali," timpal Arabella.


"Kuharap jodohku adalah orang yang kusukai," ini dari Athena.


Adora dan Arabella terkekeh mendengar doa yang dipanjatkan Athena, mereka juga berharap seperti itu.


...****************...


Sampai jumpa, jangan lupa vote, commet dan like ya🖐

__ADS_1


__ADS_2