Cinta Dokter Cantik

Cinta Dokter Cantik
40


__ADS_3

"Nak... jangan keluar... bersembunyilah...," Robin menutupi tubuh mungil Adora dengan rerumputan dan menempelkan tangan penuh darahnya ke pipi gadis kecilnya.


Drngan tubuh bergetar netra biru gadis kecil itu mencium tangan ayahnya sehingga darah yang belum mengering menempel pada bibir kecilnya. Air mata jatuh berderai membuat hati ayahnya begitu pedih.


Robin mengecup semua inci wajah putri kecilnya dan berakhir di dahi, ia kecup dengan waktu cukup lama pertanda itu adalah krcupan terakhirnya.


Adora kecil menatap sendu punggung yang selalu tegap itu berjalan gontai karena luka di sekujur tubuhnya. Ia penasaran dengan keadaaan bundanya yang tadi diseret paksa oleh orang-orang berpakaian hitam dan berbadan kekar. Ia benci tubuh lemahnya yang tak bisa melindungi kedua orang tuanya.


"Ayah bunda semoga kalian baik-baik saja...," gumamnya memohon pada Tuhan.


Boneka penguin yang ia peluk dipeluklah dengan kuat. Gadis kecil berusia enam tahun itu meredam tangisannya, menumpahkan kekesalannya pada tanah yang tak bersalah.


BRAK


Adora berjengkit kaget ketika mendengar bunyi reruntuhan di belakangnya. Diberanikan dirinya untuk mengintip lewat celah semak-semak tempat ia bersembunyi.


Tangan mungilnya menutup mulut tak percaya dengan pemandangan di depan sana. Ayahnya tertindih sebuah dinding beton, terlihat sangat bahwa ayahnya merasakan sakit teramat sangat.


"Ayah...," gumam Adora.


Di depan ayahnya terdapat orang-orang yang sama seperti yang menyeret bundanya tadi. Mereka terbahak melihat rintihan yang keluar dari mulut ayahnya. Adora marah!


Berkat kegigihannya, Robin berhasil menyingkirkan dinding beton itu walau ia harus mengesot karena kakinya sudah tak bisa ia gerakan. Darah mengucur deras dari pelipis dan dahinya. Melihat tujuan ayahnya yaitu bundanya yang terletak tujuh meter darinya, tanpa belas kasihan orang-orang tadi menendang tubuh Robin. Tapi, demi istrinya Robin tetap berjuang menggapai istrinya.


Sedangkan Audette. Dijambak, diludahi, ditampar dan segala perlakuan kasar ia terima. Ia menggeleng tak berdaya melihat suaminya berusaha menggapai dirinya walau diinjak bak binatang.


'Robin...,' batin Audette menahan tangis.


Orang-orang tadi harus melawan anak buah Levithen yang baru saja tiba. Tentu saja mereka kalah jumlah karena Levithen tak tanggung-tanggung membawa pasukannya, mereka berani mengusik anak dan menantunya.


Ada secercah harapan melihat putrinya belum dalam keadaan parah. Akan tetapi, hal itu hanya bertahan beberapa detik karena pelaku yang menahan Audette menusuk-nusuk tubuh Audette seperti mainan. Ia tanamkan beberapa pisau di beberapa bagian tubuh Audette. Levithen menembakinya secara beruntun dengan mata memerah menahan tangis. Ia berlari menggapai harta karun yang ditinggalkan istrinya padanya. Dengan nyawa tersisa, Audette menyampaikan wasiatnya terkait putri kecilnya.

__ADS_1


Di depan mata Levithen putrinya meregang nyawa. Robin yang baru saja berhasil mendekat berteriak histeris ketika melihat istrinya sudah kembali ke sisi Tuhan.


"Daddy...," gumam Robin mulai tak terdengar.


"Tolong jaga Adora, katakan padanya bahwa ayah pengecutnya ini menyayangi dirinya, maafkan ayahnya karena tak bisa kembali padanya...," setelah selesai berucap, Robin menusuk dadanya menggunakan pisau.


Ia memang egois karena nyatanya ia tak bisa hidup tanpa Audette. Ia harap Adora selalu bahagia walau tanpa dia dan istrinya.


"Maaf Dora... ayah gagal...."


Adora menyaksikan semuanya tanpa terlewat satu pun. Ia merekam semuanya di memori berkapasitas kecil itu, tangannya mengepal erat melihat kekejaman mereka.


Dengan langkah lunglainya sebab ia sendiri juga terluka karena mobil yang ia tumpangi bersama keluarga kecilnya menabrak pohon. Levithen melihat cucu perempuannya berjalan mendekat sambil menyeret boneka penguinnya.


Diraihnya pisau dari tubuh bundanya yang sudah tak bernyawa. Binar matanya menghilang tersisa hanya kekosongan. Levithen terheran-hera. dengan aksi cucunya yang menggenggam pisau. Ingin menghentikan tapi terlambat ketika pisau itu menancap ke perut pelaku pembunuhan itu sampai-sampai gagang pisau itu tak terlihat bahkan tangan mungilnya itu ikut tenggelam ke dalam perut.


Tanpa perasaan Adora mencabut tangannya, darah muncrat keluar membasahi wajah imutnya.


Levithen terperangah tapi tak bisa menggerakan tubuhnya. Gadis sekecil itu sangat mendominasi suasana, orang-orang kakeknya bahkan tak berkutik. Tak sampai di situ ia mengambil psitol yang tergeletak tak jauh darinya, dengan dua tangannya ia berhasil menembaki mayat tadi. Tak ada ketakutan bahkan jeritan, tersisa hanya perasaan balas dendam akan kematin tragis kedua orang tuanya.


Sejak saat itu sisi kelam Adora bermunculan sampai akhirnya ia kehilangan ingatannya.


****


"Hiks... Tuhan begitu tega!" raungnya kembali kala sederet ingatan menghujami memorinya.


"Tuhan!! mengapa takdirku hanyalah penderitaan! puaskah Kau setelah menjatuhkanku ke jurang ini!"


BRAK


Adora menoleh dengan tampang amburadul, di sana Adeeva dan beberapa orang penting baginya berdiri. Nafas Adeeva memburu melihat kekacauan.

__ADS_1


Selama beberapa hari ini mereka semua menginap di sini untuk melihat keadaan Adora. Mereka pikir dengan membiarkan gadis itu sendiri maka ia akan membaik tapi malah ia semakin kacau. Adeeva tak akan menoleransi lagi.


Dibawalah Adora ke pelukannya membiarkan gadis itu menangis histeris. Hari mereka yang melihat berdenyut apalagi Evander yang juga merasa kehilangan.


Tarissa, kekasihnya mengelus bahu Evander berusaha menenangkan Evander yang berada di titik terendahnya saat ini.


Dirasa Adora sedikit tenang, Adeeva bersama Athena dan Arabella membantu gadis itu membersihkan dirinya. Mereka berpindah ke ruangan lain tepatnya kamar Audette, pemandangan diluar kamar Audette memang cocok untuk menenangkan pikiran sedangkan kamar Adora dibereskan karena seperti kapal pecah.


"Tuhan jahat padaku," ujar Adora tersenyum miris.


Adeeva mengelus rambut panjang itu sambil tersenyum. Ia tatap ke depan, di bawah ranjang terdapat Athena dan Arabella. Hanya mereka berempat di kamar itu.


"Dalam agamaku, Tuhan-ku Allah tidak jahat bahkan ia begitu baik. Ia mengampuniku ketika aku bermaksiat, ia tidak memberi penderitaan padaku tapi memberikan ujian yang selalu menempa hatiku. Tuhan tidak selamanya jahat hanya kita saja yang salah menafsirkan kehendak-Nya," ucapan Adora berhasil membuat Adora menunduk dalam-dalam.


"Aku jahat, Deeva. Aku jahat karena menghakimi Tuhan-ku sendiri, aku jahat sangat jahat...," Adora menatap mata Adeeva yang begitu menenangkan.


"Kau memang jahat!" Athena mendengus kesal lalu memeluk erat pinggang Adora.


"Diam kau!" seru Arabella memukul bibir adik kembarnya.


"Adora aku mohon jangan seperti ini lagi. Aju tak sanggup," pinta Arabella memang benar adanya.


Ia tak suka Adora yang selalu ceria mengalami depresi seperti ini.


"Bagaimana kalau aku sakit di saat kau seperti ini?" tanya Athena memelas. Menurutnya, punya sahabat dokter itu sangat mwnguntungkan tidak usah keluar uang banyak.


Akhirnya senyum yang sempat hilang kini terbit membawa cahaya mentari di hati mereka. Tubuh kurus itu dihujami pelukan oleh ketiga sahabatnya.


"Tuhan dan agamamu sungguh indah?" bisik Adora pada Adeeva.


"Mau melangkah bersamaku?" Adeeva mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Di akhir cerita mungkin aku akan kembali pada yang seharusnya," balasnya.


Tak tahu akhir yang mana yang gadis itu maksudkan. Selalu ada akhir jika sudah ada awal.


__ADS_2