Cinta Klasik Pemuda Desa

Cinta Klasik Pemuda Desa
Curahan hati Adzkan


__ADS_3


" Atha ... Kau di sini," jawabnya sambil tersenyum dan menatap ke arah jalanan di hamparan sana. Atha mendekat dan memegang pundak kakaknya sebentar.


" Apa yang sedang kamu pikirkan kak!" serunya sambil ikut menuju arah pandang kakaknya.


" Sedangkan memikirkan dia," jawabnya jujur kali ini. Jika sebelum-sebelumnya Adzkan lebih sabar dan tertutup kali ini dia tak bisa menutupnya kembali. Dia ingin mengutarakan pada adiknya mungkin memiliki solusi.


" Apakah sikap dia masih sama?" tanya Atha tanpa ragu. Adzkan mengangguk membenarkan hal itu. Bukan dia ingin menjelekkan istrinya tapi tak ada salahnya berbagi pikiran dengan pemuda yang di cintai oleh istrunya itu.


" Dia ingin memiliki anak Tha. Dia mengutarakannya tadi malam," jawab adzkan. Atha mengerutkan alisnya.


" Anak??? Apa itu artinya kakak tak memberikan dia nafkah bathin?" tanya Atha karena dia melihat ekspresi kakaknya yang nampak biasa saja.


" Aku tidak siap menjamahnya di saat dia saja masih memikirkan orang lain. Tidak mungkin bagiku untuk melakukan hal itu Tha," jawab Adzkan sambil menghela nafas. Atha mengnagguk paham. Tidak nyaman memang bagi suami jika istrinya masih terpaut akan hati orang lain di saat lelaki halal ada di hadapannya namun tak di hiraukan sama sekali.


" Jangan sering mengunjungiku kak. Biar dia ada waktu memikirkan dirimu," jawab Atha.


" Itu tidak mungkin Tha! Dia sendiri masih ingin terbelenggu dalam kisahnya sendiri. Mungkin dia menyesal telah mencampakanmu. Sekuat apapun aku membuat dia menyukaiku itu bahkan sangat mustahil. Jika saja aku tahu dia mencintaimu aku mungkin tak akan menikahinya. Saat ini semuanya sudah terlanjur. Aku bahkan menawarkan dia untuk meninggalkanku jika tidak bahagia," ucapan Adzkan seakan menohok di relung hati Atha.


" Kak ... Bukan seperti ini!" serunya. Adzkan hanya tersenyum getir.


" Aku tidak bisa Tha. Aku ingin marah pun tak bisa aku juga ingin protes tak bisa. Jadi aku sedang memikirkan bagaimana cara terbaik," jawab Adzkan dengan tersenyum. Atha malah bercanda di tengah - tengah keseriusan adzkan.


" Jangan katakan jika kamu akan memilih poligami kak! Sedangkan menjamahnya pun kamu tidak pernah," ucap Atha karena penasaran akan kakaknya.


" Jika itu perlu maka akan aku lakukan Tha," jawabannya begitu ambigu dan membuat hati Atha ambyar. Kakaknya yang begitu baik dan sabar saat ini dengan gamblangnya mengatakan bahwa dia akan berpoligami jika itu di perlukan untuk ke depannya. Kali ini Atha benar - benar di buat heran oleh sang kakak.


Perbincangan itu di dengar oleh Mayumi. Gadis itu adalah Putri angkat Azizah kakak Izdi. Mayumi yang telah lama memendam rasa pada adzkan merasa kaget saat pernikahan mereka tidak baik-baik saja. Dia mendengar sendiri bahwa adzkan akan melakukan poligami jika itu di perlukan. Mayumi yang masih mematung di tempat membuat kedua pemuda yang kini berbalik akan masuk ke dalam rumah kaget akan kehadiran mayumi yang nampak sedikit melamun.


" Mayumi ... ? Sedang apa di sini?" tanya adzkan sedikit tegas. Mayumi yang melamun jadi tersentak kaget.

__ADS_1


" Tidak ada Gus. Tadi hanya lewat saja," jawabnya agak gugup. Atha jadi menghela nafas. Meskipun mayumi adalah saudara mereka tapi mayumi bukanlah mahram karena dari segi nasab dia adalah orang lain.


" Permisi!" seru Adzkan dengan sangat dingin. Atha hanya menyungging senyum pada gadis itu tapi tidak dengan adzkan dia sudah berlalu.


Sikapnya kenapa masih dingin seperti itu? Bukankah dia sudah menikah harusnya tidak masalah jika menyapaku layaknya saudara sendiri. Dia selalu saja bersikap sangat dingin padaku dari dulu. Batin Mayumi.


Adzkan berjalan melewati kamar Atha. Dia kembali ke dalam kamarnya dan melihat Zahra terlihat sedang menangis tanpa suara. Adzkan mendekatinya.


" Kenapa menangis? Sudah ku katakan aku tidak akan memaksamu dalam hal apapun," ucapnya.


" Mas ... Beri aku seorang anak! Ummi pasti mempertanyakan hal itu padaku," pinta zahra sambil menangis.


" Zahra! Kamu pikir memberikan ummi cucu dan aku menggaulimu tanpa perasaan dan sebaliknya akan menjadi anak yang baik! Bukan itu yang aku mau Zahra. Jadi, tolong jangan egois. Aku bisa belajar mencintaimu asalkan kamu melupakan adikku itu," jawabnya dengan tegas. Zahra menatap Adzkan dengan sendu saat ini. Adzkan pergi ke kamar mandi karena sebentar lagi shubuhan.


...----------------...


Seusai sholat shubuh baik adzkan maupun Atha yang terbiasa lari pagi mereka pun memutuskan untuk pergi bersama. Sedangkan Mayumi yang terbiasa olahraga pagi pun berpamitan pada umminya untuk memutari kompleks bersama Zakiyah sang adik.


" Kak ... Kau baik-baik saja??" tanyanya dengan menatap kakaknya. Zakiyah tahu jika sang kakak itu memendam rasa untuk Adzkan putra dari pamannya.


" Tentu aku baik adikku sayang ... " jawabnya dengan senyum.


" Bang adzkan masih cuek padamu?" tanyanya. Mayumi mengangguk sempurna. Zakiyah yang masih berusia 18 tahun itu hanya menghela nafas.


Saat mereka asik mengobrol tiba-tiba kaki mayumi terpeleset batu kecil sehingga membuat pergelangan kakinya terkilir.


" Ahh ... Astaghfirullah!" teriaknya. Zakiyah membantu mayumi untuk duduk.


" Kakak! Kok bisa toh. Ini gimana kalau gak bisa jalan," resah Zakiyah. Mayumi hanya meringis kesakitan.


" Tenang dulu dek! Duduk bentaran aja di sini ya. Gapapa ya?" tanya mayumi. Zakiyah mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Saat Zakiyah memijat pelan pergelangan kaki Mayumi ada suara yang mereka kenali dan menyapanya.


" Sedang apa kalian di sini!?" tanya Adzkan dengan tegas. Karena mereka perempuan khawatir tidak aman.


" Abang ... ! Ini bang kaki kak May terkilir," jawabnya dengan menunjukkan wajah bingung. Adzkan memegang pucuk kepala Adiknya itu dengan pelan sambil tersenyum.


" Untuk apa kamu pergi keluar Za?" tanya Adzkan menatap adiknya.


" Kami sedang olahraga pagi bang," jawabnya sambil menggandeng adzkan.


" Kita pulang sekarang!" ajak adzkan. Sedang Atha mengamati.


" Kamu baik-baik saja May?" tanya Atha menelisik mayumi yang terlihat kerepotan untuk berdiri.


" Kaki mayumi terkilir kak!" seru Zakiyah pada Atha. Adzkan sedikit melirik Kaki mayumi. Tanpa banyak bicara dia segera menundukkan dirinya. Adzkan tanpa ragu memegang pergelangan kaki Mayumi yang menggunakan kaos kaki. Dia berani memegang kaki gadis itu karena dia memakai penghalang. Saat Adzkan memegang bagian yang terkilir.


" Ashhhhhh .... " ringisnya dengan menutup mata rasanya ngilu sekali. Adzkan menatap Gadis bercadar itu. Sejauh ini baik adzkan maupun Atha tak pernah tahu bagaimana wajah mayumi. Karena dia tak pernah mengumbarnya.


" Tahanlah sedikit saja. Aku akan membantumu!" seru Adzkan sambil mendapatkan anggukan persetujuan dari Mayumi.


Atha dan Zakiyah saling berpandangan. Setahu mereka adzkan sangatlah menjaga jarak dengan mayumi. Entah kenapa? Semenjak dulu adzkan memang menghindarinya.


Setelah adzkan membantu mayumi. Dia melirik gadis itu memejamkan matanya menahan sakit agar tidak berteriak.


" Bisa jalan sendiri??" tanya adzkan. Namun mayumi belum menjawab Zakiyah sudah menyahut.


" Biar Zakiyah bantu bang!!" seru adiknya itu adzkan pun mengangguk. Serta mengajak Atha berjalan di belakang mereka berdua.


Tumben kakak perhatian pada Mayumi??? Batin Atha.


Likeeeee donggg yaaaa.

__ADS_1


__ADS_2