
Hari ini adalah hari dimana Flo sudah bisa menghirup udara segar di rumah. Senyumnya merekah seakan tak peecaya saat ini dia sudah menjadi Mom's 3 baby. Atha pun yang menjadi sosok ayah muda itu nampak menikmati tanpa rasa canggung sama sekali.
Persiapan acara kedatangan 3 cucu izdi itu di gelar secara meriah. Bukan ingin menghamburkan uang namun berupaya mensyukuri nikmat Allah dengan berbagi kepada sesama.
" Dek ... Maaf ya sementara di kamar dulu nanti jika acara sudah mulai abang ajak turun," ucap Atha sambil tersenyum.
" Iya bang," jawabnya menimpali.
Sebelum keluar Atha berbisik pada istrinya.
Thank you sayang ... Sudah memberikan aku putra-putra sekaligus putri yang lucu. Sehat selalu untukmu sayang. Love you Flo. Bisiknya kemudian melipir keluar kamar. Flo hanya menggelengkan kepala saja saat suaminya itu terlihat kekanakan.
Saat Atha berada di bawah dan semua orang sibuk tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendapati si Dannis sedang memgobrol dan bersenda gurau bersama keluarganya. Ekor matanya terus menatap Dannis dengan intens. Sebab sudah lama tak terdengar kabar tentangnya semenjak hari itu saat dia datang ke rumah ini.
" Eh, itu Atha! Sini nak ... Ini ada temanmu. Sudah lama dia tidak kemari katanya. Tadi mau kami panggilkan kamu dia bilang nanti sajaa," ucap salah satu saudara pada Atha.
Atha mendekat sambil menatap Dannis dengan tatapan sedikit mengintimidasi mantan kekasih istrinya itu. Kenapa pemuda itu tiba-tiba hadir di saat hari bahagianya dan terkesan mendadak.
" Assalamualaikum gus!" serunya dengan panggilan berbeda.
" Waalaikumsalam ... Sudah lama Mas Dannis? Atha pun merubah panggilannya.
" Lumayanlah ... Keluargamu baik sekali mengajakku mengobrol. Oh, iya maaf ya selama berteman denganmu jika aku agak kurang sopan. Aku baru tahu jika kamu putra seorang Kyai," ucapnya membuat Atha mengernyitkan alis.
" Apa hubungannya mas dengan kita. Itu hanya status belaka tidak ada sangkut pautnya," jawab Atha tenang dan duduk di depan Dannis. Keluarga yang tadi menemani Dannis sekarang kembali bergabung dengan keluarga yang lain yang sibuk. Dannis terkekeh entah kenapa.
" Ada apa mas?" tanyanya dengan dingin. Dannis tersenyum sinis.
" Apakah tidak boleh berkunjung untuk mengucapkan selamat pada kalian!" serunya kini merubah aura wajahnya yang nampak dingin pula tak seramah tadi.
__ADS_1
" Boleh saja ... Tapi istriku belum bisa banyak bergerak mas untuk saat ini. Dia baru selesai operasi," jawab Atha tidak mengurangi rasa sopannya sama sekali. Dannis tersenyum dan mengangguk paham.
" Tentu bertemu denganmu saja sudah cukup. Tapi jika boleh ijinkan aku bertemu dengan putra putri kalian!" pinta Dannis. Entah kenapa dengan pemuda itu. Tapi Atha menepis semua keraguannya pada Dannis mengingat selama dia berteman dAnnis sangatlah baik.
" Baiklah ... Sebentar lagi biar Nani yang membawanya kemari," ucapnya. " Nikmatilah suguhannya mas mereka sudah menyajikannya untukmu," ucap Atha dengan senyum. Dannis mengangguk.
" Bolehkah aku menanyakan kabar Daniah?" tanya Dannis. Atha menatap kakak kelasnya itu dengan tatapan bingung.
" Ada apa dengan Daniah? Aku tidak begitu mengikuti perkembangannya mas. Dia sudah bersama keluarganya itu sudah cukup bagiku karena dia hanyalah seorang teman," jawab Atha dengan sedikit penjelasan.
" Dia saat ini mengikuti kemana-mana Tha. Kasihanilah aku! Dia sangat terobsesi padamu itu sangat menggelikan sekali. Dia datang untuk bekerja udi perusahaanku tapi yang dia lakukan malah menggangguku setiap harinya. Membuatku sibuk dengan pertanyaan agar membantunya. Tidakkah kamu ingin meringankan bebanku? Aku sendiri sedang berupaya move on dari Istrimu. Tapi dia datang merusak semua planningku," keluh Dannis sehingga membuat mata Atha membola. Jadi dia malah datang kemari ingin menyampaikan bahwa Daniah sampai di sana.
" Mana mungkin dia ke sana mas?? Darimana dia tahu perusahaanmu?" tanya Atha tak percaya.
" Mana ku tahu dia mengerti dari siapa? Bukankah dia gadismu harusnya kamu tahu sepak terjangnya, kalian sudah lama bersama," protes Dannis nampak kesal. Atha hanya menggeleng dan menghela nafas berat.
" Maafkan dia mas. Anak itu memang agak kekanakan," ucapnya dengan nada bersalah.
" Atha!!! Mana bayi-bayi mungilku!" teriaknya dengan Childishnya dan tanpa raaa malu karena dia sedang ada tamu. Zea berlari dengan cepatnya sehingga menabrak kaki seseorang.
Duk.
" Astaga ... Sorry ... Sorry ... ! Gak sengaja. Atha ... Kenapa gak bilang kalau ada orang," lirih Zea yang malu udah seperti kereta api tak mau berhenti.
" Lah ... Kan kamu yang main lari-lari kayak di lapangan sepak bola saja," jawab Atha dengan menggelengkan kepala. Dannis jadi tersenyum melihat mereka berdua beradu argumen. Sakit sih kaki Dannis tapi gapapa-lah saudara Atha ini terlihat hamble. Dia suka.
" Gapapa ... Orang kakinya gak patah juga. It's never mind nona. I am fine," ucap Dannis sambil tersenyum dan di balas senyuman oleh Zea dengan melipat tangannya.
" Untung dia baik sama kamu. Udah sana! Jangan jelalatan ... Masuk sana bawa baby - baby itu kemari temanku mau tengok," ucap Atha. Zea mengangguk tanpa bersuara san langsung masuk saat itu juga.
" Siapa Tha?" tanya Dannis.
__ADS_1
" Kembaranku! Memangnya gak sama?" tanya balik Atha.
" Gak begitu nampaknya maka dari itu aku nggak ngeh," jawabnya dengan terkekeh.
" Makanlah dulu mas sambil menunggu baby datang!" seru Atha. Dannis memgangguk dan mengambil suguhan untuk merasakannya.
...----------------...
Atha meninggalkan Dannis di ruang tamu bersama salah satu baby dan Zea di sana. Karena istrinya menelpon harus menyusui salah sati dari baby-nya.
" Kamu bener saudara kembar Atha?" tanya Dannis membuka suara.
" Iya ... Maaf ya tadi gak sengaja benturin lutut kamu ke meja," jawabnya dengan tak enak hati. Kok ya kesan pertama bar-bar sekali.
" Kan tadi udah di bilangin gak masalah nona cantik. Ya sudah berarti dong clear," jawabnya santai. Zea mengangguk paham.
" Sedikit bar - bar sorry agak beda dari Atha maaf ya! Heheh beda itu indah soalnya," jawabnya nyengir kuda sambil terkekeh.
" Hahahah ... Kamu ini ada - ada saja. Kenalin Dannis!" serunya sambil mengulurkan tangan. Namun Zea melipat tangannya di dada.
" Maaf ya! Aku Zea ... " Jawabnya dengan tersenyum. Ya , Dannis paham.
" Oke Zea ... Bolehkah aku menggendongnya!" tunjuk Dannis pada baby girl yang berada dalam gendongannya.
" Tentu ... Wait ya! Aku taruh di troller-nya dulu baru kamu ambil," jawabnya yang baru saja mengangangkat keponakannya.
" Oke ... " jawabnya dengan senyum.
Mana mungkin aku bisa marah pada Flo. Bahkan dia memilih suami yang lebih baik dariku. Meskipun usia Atha di bawah kami setidaknya dia mumpuni dalam hal pernikahan. Perempuan - perempuan di dekat Atha pun begitu menjaga dirinya. Mungkin inilah alasan papi Rangga lebih memilih Atha daripada aku.
Likeeeee.
__ADS_1